LADANG

Kebanyakan cara pengobatan/penyebarannya dengan memakai diesel, tapi yang nyemprot tidak pakai masker sebagai penutup hidung. Karena itu faktor kesehatannya tidak terjamin. Kami selalu berharap ada solusi yang bisa membantu, agar kesadaran warga masyarakat tumbuh, mungkin dengan mengadakan sosialisasi ke tingkat dukuh-dukuh yang ada di desa Jatilawang, agar mereka mampu dan bisa menggunakan pupuk organik.

Kami tinggal di desa terpencil, di sekitar kami dikelilingi oleh pegunungan. Di desa ini, kehidupan masyarakatnya penuh dengan kedamaian, kehidupannya masih diwarnai dengan kegotong-royongan dan kerukunan nama desa kami yaitu desa Jatilawang. Mata pencaharian utama adalah pertanian. Pertanian meliputi kentang, wortel, cabe, loncang, kol dan sebagainya. Cara bercocok tanam masih menggunakan alat-alat tradisional, belum memakai peralatan modern.

Di desa kami tidak mengenal musim, karena apa saja yang kami tanam yaitu berupa sayuran. Semua menghasilkan dan tumbuh dengan subur.

Cara penggarapan ladang yaitu pertama-tama kita cangkul. Lalu kita buat petakan sesuai dengan apa yang kita tanam, misalnya penanaman kentang kita buat sekat sekitar 70 cm tinggi 30 cm, di atas sekat tersebut diberi mulsa. Mulsa adalah plastik yang sudah diberi lubang, di dalam mulsa dikasih cm atau biasa disebut pupuk kandang, urea, KCL, dan ponska. Setelah lahan siap lalu benih kentang ditanam di dalam lubang plastik tersebut.

Setelah kurang lebih 15 hari, mulai disemprot dengan obat, setelah agak tinggi tumbuhnya dikasih acir. Acir adalah bumbu yang dibuat sekitar tinggi 80 cm, lebar 1 cm. Kegunaan acir ini sebagai tempat sandaran pohon kentang dengan cara diikat dengan tali rafia. Itulah proses penanaman kentang di desa kami.

Tanaman kentang, kol, cabe, tomat dan lain-lain di desa kami selalu menggunakan obat insektisida dan fungsida secara berlebihan, terutama kentang. Kalau musim penghujan pengobatan bisa sampai 28x, tetapi kalau kemarau cukup kurang lebih 12 x pengobatan. Karena pengobatan menggunakan obat kimia, pegunungan yang dulunya indah sudah tercemar polusi.

Kebanyakan cara pengobatan/penyebarannya dengan memakai diesel, tapi yang nyemprot tidak pakai masker sebagai penutup hidung. Karena itu faktor kesehatannya tidak terjamin. Kami selalu berharap ada solusi yang bisa membantu, agar kesadaran warga masyarakat tumbuh, mungkin dengan mengadakan sosialisasi ke tingkat dukuh-dukuh yang ada di desa Jatilawang, agar mereka mampu dan bisa menggunakan pupuk organik.

Desa Jatilawang adalah desa yang selalu dimanja dengan alam, karena hasil pertanian yang melimpah. Karena itu minat warga desa kami untuk menyekolahkan anak mereka ke pendidikan yang lebih tinggi, sangat kurang. Terutama di tingkat perdukuhan, karena prinsip mereka”buat apa sekolah, toh tidak sekolah pun juga kaya”.

Hasil pertanian di desa Jatilawang dipul dan dibawa oleh pedagang ke Jakarta, dengan harga pasaran. Yang tidak bagus dijual di pasar lokal Jatilawang. Itulah sekilas desa Jatilawang yang kita tempati dan kita banggakan.

*****

Jpeg
Ibu lindawaty, sedang menulis tentang perkebunan di desanya.

Tulisan ini adalah hasil tulisan tangan Lindawaty, salah satu peserta Sekolah Perempuan dari desa Jatilawang, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara. Ini adalah tulisan pertamanya tentang desanya, terutama tentang perkebunan yang ada di desanya. Di Sekolah Perempuan yang diselenggarakan oleh Infest Yogyakarta, salah satu yang dipelajari peserta adalah tentang bagaimana mereka mampu menarasikan pembanguann di desanya, khsusunya aset dan potensi di desanya. Sebelumnya, mereka telah belajar tentang gender dasar, membedah Undang-Undang Desa untuk mengetahui posisi perempuan dalam pembangunan di desanya, Identifikasi mimpi desanya, Identifikasi Aset dan Potensi Desa, Membuat Peta Desa serta rangkaian materi pembelajaran lainnya.

About Perempuan Berkisah 172 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply