Pergolakan Pemikiran Politik Perempuan: Saya “menjadi” tidak takut!

Saya mengenalnya melalui sebuah novel terjemahan berjudul Woman at point Zero atau Perempuan di Titik Nol. Buku yang tidak sengaja saya temukan di rak penjual toko buku di dekat kampus UIN Ciputat awal tahun 2012. Sampul berwarna merah dengan gambar seorang perempuan yang duduk jongkok di sudut dalam penjara. Saya ingat alasan ketertarikan saya memilih buku itu, hanya karena beberapa waktu sebelumnya saya memang sedang concern menulis pemberitaan soal prostitusi. Saya anggap buku itu sebagai salah satu bahan menulis. Bukan karena Nawal el Saadawi. Dan melalui tokoh Firdaus, saya mulai mengenal Nawal, perlahan, berfikir dengan keras terhadap semua pernyataan yang ia ungkapkan. Saya, perempuan dengan umur 20 tahun. Tidak pernah mencoba memahami siapa saya sebagai seorang perempuan. Tetapi membaca apa yang dituliskan oleh Nawal el-Saadawi telah mampu membungkam mulut saya tanpa perlawanan. Dengan segala kedangkalan berfikir yang saya miliki. Ya, Firdaus adalah pelacur perempuan yang menolak dijajah pria. Perempuan yang lebih memilih menjadi pelacur daripada istri yang diperbudak suami. Berikut kutipannya:

“Saya tahu bahwa profesiku ini telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri. Sang perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur bebas daripada seorang istri yang diperbudak.”

Nawal el Saadawi, perempuan dengan segala kegilaan berfikirnya adalah sosok perempuan yang menunjukkan pada dunia bahwa ia telah menciptakan beragam karya untuk mengajak mereka (baik perempuan ataupun laki-laki), bersama-sama terlibat dengan apa yang ia lihat dengar dan rasakan dalam hidupnya. Pemikirannya mampu menghantarkan setiap manusia yang membaca tulisannya kepada sebuah keberanian tak terduga. Bahwa ia telah menyatakan, menulis adalah sebuah pengorbanan. Dan dengan jelas pula menegaskan, eksistensi seorang manusia dilihat dari apa yang ia tuliskan.

Pertemuan kembali dengan buku kumpulan esainya telah membangkitkan kenangan membaca pemikirannya dalam konteks yang lebih luas lagi. Kumpulan esainya dalam “Pergolakan Pemikiran Politik Perempuan” dibuka dengan pemikiran soal kesenian dan kreatifitas, dilanjutkan soal perempuan, pemikiran dan kebudayaan dan ditutup dengan soal politik. Saya akan memfokuskan pembahasan pada bagian pembuka. Dimana Nawal dalam esainya telah mengkaitkan antara proses kreatif dengan pemberontakan dalam kehidupan perempuan Mesir. Menyoroti apa yang ia amati soal langkah awal pergerakan perempuan disana. Ia mengajak kita untuk berani mempertanyakan kembali hal-hal yang pernah dilarang untuk diajukan di masa kanak-kanak. Saya pun pernah dituduh meragukan keberadaan Tuhan ketika saya mengajukan pertanyaan, siapa itu Tuhan? Dimana Dia? Bagaimana wujudnya? Akibatnya, secara terus-menerus saya menjaga pertanyaan yang saya ajukan. Pengalaman lain ketika saya menjadi penyebab perdebatan di kelas saat sedang berdiskusi. Seorang guru Bahasa Indonesia memarahi saya sebagai seseorang yang kepandaiannya hanya mengkritisi saja tanpa melihat hasil karya yang saya buat. Saya yang melihat hal itu sebagai bagian dari proses keberanian saya berbicara di depan umum, dianggap sebagai seseorang yang “banyak bicara”. Berbeda dengan Nawal yang justru menginginkan kelas yang dia ajar dibangun dengan suasana diskusi yang penuh dengan perdebatan bahkan pertentangan. Termasuk, mengkritisi karya yang ia buat.

Sama halnya yang dialami oleh Nawal, saya pun sering mengolah rasa dengan menonton kegiatan-kegiatan kesenian terutama soal perempuan. Tetapi tidak seperti Nawal saat menonton pertunjukkan teater berjudul Eye Shadow, yang pada akhirnya bersepakat bahwa teater ini tidak memberikan solusi bagaimana perempuan keluar dari penderitaannya untuk mewujudkan mimpi-mimpinya dan ambisi-ambisinya dalam kehidupan. Ia keluar dari gedung teater dengan hati yang sangat berat. Pernyataanya, teater ini berhasil dalam satu sisi, namun gagal dalam sisi pemikiran. Saya tidak pernah merasakan seperti yang ia rasakan. Bahkan cenderung menerima keadaan yang ditampilkan dalam pertunjukkan. Tidak ada perlawanan apalagi bicara ambisi. Kenyataannya, saya seperti dibentuk untuk menjadi seperti itu. Diam, tak melawan.

Beberapa waktu lalu, seorang teman, yang biasa dipanggil penyair kampus, tidak sengaja meninggalkan beberapa lembar kertas yang berisi pembahasan soal pro kontra sastra wangi. Selembar kertasnya berisi soal pidato penyair ternama Taufik Ismail, yang dengan tegas mengatakan bahwa sastra wangi merupakan bagian dari sastra selangkangan. Nawal dalam esainya yang berjudul, Perempuan dan Kritik Sastra, menilai bahwa para kritikus ini tidak menilai hasil-hasil karya seni dari ukuran pengaruh yang ditimbulkan pada manusia. Mereka menggunakan standar ukur semi-akademis dan profesional yang kaku. Di Indonesia sendiri, standar seperti itu bisa dilihat dari perdebatan esai yang ditulis oleh Hudan Hidayat sebagai penggagas Memo Indonesia merespon apa yang disampaikan oleh Taufik Ismail dalam pidatonya di Gerakan Syahwat Merdeka. Dalam sebuah esainya, “Sastra yang Hendak Menjauh dari Tuhannya”, yang dimuat di harian Jawa Pos, sastrawan muda itu menyatakan seperti berikut ini.

“Nakal” dan”‘santun”, “pornografi” atau “suara moral”, “gelombang syahwat” seperti kata Taufik Ismail, ternyata bersandar pada-Nya jua dalam scenario nasib manusia dan takdir dunia. Budaya “kekerasan” itu telah ditandaskan Tuhan sebagai nasib manusia dan takdir dunia. Turunlah kamu semuanya. Sebagian dari kamu akan berbunuhan satu sama lain…(QS 2 ayat 30). “Berbunuhan”, bagi saya adalah nasib manusia dan takdir dunia. “Berbunuhan” bisa dirujuk pada semua yang diteriakkan Taufik Ismail. Kata-kata saling “membunuh” ini, dalam sastra, menemukan bentuknya pada pelbagai cerita yang seolah “menjauh” dari Tuhannya. Sastrawan akan membuat kisah, dengan “pornografi” sebagai sampiran, bukan inti cerita. Pornografi diletakkan sebagai pintu ke dalam makna yang lebih luas, di mana keluasaannya akan mengatasi scene pornografi. Cerita bergaya Nick Carter, kata Taufik Ismail, telah meruyak ke dalam sastra. Tapi, saya belum pernah menemukannya. Lagi pula, apa yang salah? Bukankah “pembaca” dewasa akan menerobos “ketelanjangan” Adam dan Hawa di surga, dalam dua versinya.

Hal itu langsung di respon oleh Taufik Ismail dalam harian yang sama ia menuliskan beberapa tahap acara yang mesti dilaksanakan oleh Hudan Hidayat dan kawan-kawan, salah satunya,

Tahap keempat, undanglah seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka berkumpul melakukan show of force seminggu di ibu. Komponen itu terdiri dari pembajak-pengedar VCDDVD porno, redaktur majalah cabul, bandar-pengguna narkoba, produsendistributor-pengguna alkohol, penulispengguna situs seks di internet, germopelaku prostitusi, dokter spesialis penyakit kelamin, dokter aborsi, dan dokter psikiatri. Bikin macam-macam acara sosialisasi. Penulis FAK beramai-ramailah baca karya di depan publik dengan peragaannya. Mintakan pelopor penulis Angkatan FAK Ayu Utami dan Djenar Mahesa Ayu tampil lebih dahulu baca cerpen. Lalu adakan promosi buku kumpulan cerpen dan novel FAK dengan diskon 40 persen. Catatlah bagaimana reaksi publik. Tarik kesimpulan. Dalam evaluasi terakhir sehabis tahap keempat, tim dokter psikiatri akan menentukan diagnosis terhadap para pasien penulis Angkatan FAK, sampai seberapa parah sindrom patologis kejiwaan mereka. Terutama dalam kasus klinis nymphomania, overproduksi kelenjar hormon kelamin dan obsesi genito-philia, yaitu cinta berlebihan pada alat kelamin, termasuk adiksi pada onani-masturbasi.

Nawal menegaskan hal seperti ini akan berpulang kepada perbedaan peran dalam kehidupan, dan perbedaan struktur perempuan dari laki-laki serta perbedaan perhatian. Semua itu kembali kepada kondisi sosial, politik dan sejarah. Dan bukan karena alasan-alasan biologis ataupun naluri. Apalagi jika dinyatakan bahwa selalu ada unsur kapitalisme dalam sebuah karya sastra. Saya berkaca kembali dengan apa yang ditulis oleh Nawal dalam esainya Kebutuhan yang Dinamis, bahwa :

Jika seorang perempuan berbicara tentang agama, maka pandangannya itu ditanggapi secara lebih peka dari pandangan laki-laki tentang hal yang sama. Begitu pula jika dia membahas persoalan gender, maka akan mereka lebih peka menilai apa yang ditulisnya. Apa yang terjadi dalam bidang agama dan gender juga terjadi dalam bidang politik. dan untuk menghancurkan perbedaan ini hingga ke akarnya, aku memegang pena dan menulis.

Dan dengan penuh keyakinan saya tegaskan bahwa keberanian saya memuncak untuk tak lagi takut berbicara soal apa yang menjadi kebingungan saya selama menumpang di dunia ini. Seperti di akhir buku yang dibaca Nawal, berdiam diri dan membungkam adalah kematian. Tulisan ini telah mengembalikan kepadaku kehidupanku sesungguhnya. Saya bersepakat dengan hal itu. (Li)

====

sumber: Kalyanamitra

Kisah Lainnya...

Leave a Reply