Ternyata, Gumelem Kulon Kaya Sumber Mata Air

dsc_0216

Gumelem Kulon adalah salah satu desa di Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegera. Desa ini termasuk desa dengan padat penduduk dan beragam profesi. Gumelem Kulon saat ini memiliki jumlah pendudukan mencapai 10.414  orang. Desa Gumelem Kulon terbagi menjadi dua yaitu wilayah atas dan bawah. Hampir 3/2 jumlah penduduk tinggal di bagian atas dengan bukit-bukit yang curam sedangkan bagian bawah terletak di kaki bukit. Untuk dapat sampai ke bagian atas, perlu melewati jalan berbatu yang cukup terjal selama kurang lebih 60 menit jika mengendarai sepeda motor. Bagian atas unggul dengan lingkungannya yang masih sangat hijau dan asri. Sedangkan di bagian bawah terdapat sentra batik tulis dan juga pemandian air panas. Berikut adalah beberapa aset sumber daya alam (SDA) Gumelem Kulon yang ditulis oleh ibu Tursiyem, salah satu perempuan warga Gumelem Kulon yang kini aktif menjadi Ketua Kelompok Perempuan “Nira Sari”.

SUMBER DAYA ALAM GUMELEM KULON

Ditulis oleh Tursiyem*

Gumelen Kulon terdiri dari 2 macam persawahan dan perkebunan. Antara lain: Sawah, sawah di Gumelem Kulon hanya terdapat di 4 wilayah RW. Luas sawah di Gumelem Kulon adalah 104,9 ha terdiri dari sawah Bengkok dan sawah masyarakat. Sawah di Gumelem Kulon baisanya ditanami padi dan jagung sebagai tanaman utama sedangkan sayur mayur hanyalah tanaman sampingan. Biasanya masyarakat menanam padi 2 kali dalam setahun, itu pun terkadang kesulitan pada musim kemarau karena sebagian sawah berfungsi sebagai sawah tadah hujan, dan irigasi di Gumelem Kulon masih belum mencukupi.

Kebun. kebun di Gumelem Kulon sangat luas yaitu terdiri dari kebun kelapa, cengkih, kopi, kapulaga, dan lain sebagainya. Perkebunan di Gumelem Kulon yang paling luas adalah perkebunan yang ditanami pohon kelapa. Jika dihitung dalam satu desa terdapat 60.077 pohoon kelapa, jika dalam satu pohon meghasilkan satu ons gula, maka dalam sehari menghasilkan 6007 kg gula, itulah penghasilan masyarakat Gumelem Kulon yang berasal dari nira pohon kelapa. Namun, banyak sekali masalah yang dihadapi seperti, harga gula ditingkat petani fluktuatif, pohon kelapa yang sudah tua kurang produktif, petani yang terbelenggu oleh sistem panjar oleh tengkulak, dan prasaran jalan yang kurang baik, sehingga biaya ekonomi tinggi, dan kesejahteraan belum maksimal. Selain tanaman kelapa juga terdapat pohon cengkih. Jika terhitung terdapat 9320 pohon cengkih berproduksi dan 26270 pohon cengkih muda.

Dalam satu pohon cengkih menghasilkan kira-kira 2 kg cengkih perpanen, jadi dalam sekali panen menghasilkan 18.640 kg cengkih. Namun, banyak sekali kendala dalam perolehan hasil karena pohon cengkih tidak tentu berproduksi setahun sekali, dan harga cenderung fluktuatif. Selain kelapa dan cengkih di Gumelem Kulon juga terdapat tanaman kopi dan kapulaga. Biasanya tanaman ini berada disela-sela tanaman pohon kelapa dan cengkih. Jadi selain kelapa dan cengkeh masyarakat juga memperoleh hasil tani berupa kopi dan kapulaga. Walau harga kopi dan kapulaga tidak tentu tetapi sangat membantu perekonomian masyarakat Gumelem Kulon.

Perhutanan. Di desa Gumelem Kulon terdapat lahan hutan negara seluas 44 hektar. Hutan itu berada di RW 5, 8, dan 9. Selama ini hutan negara ditanami pohon pinus. Namun selain pohon pinus juga terdapat tanaman tumpang sari seperti, kapulaga, jahe, singkong, dan kunyit. Selain hutan negara di Gumelem Kulon terdapat hutan masyarakat, di hutan masyarakat terdapat tanaman kayu seperti albasia, mahoni, sonokeling, dan jati. Selain tanaman kayu tersebut masyarakat juga selalu memanfaatkan lahan secara tumpang sari. Jadi selain tanaman kayu juga terdapat tanaman jahe, kunyit, laos, ganyong, singkong, tales, ubi jalar, cabe, gude, dan sebagainya.

Sebenernya masyarakat sudah sangat kreatif dalam memanfaatkan lahan. Namun, kadang banyak sekali kendala seperti kurangnya pupuk, lahan kering, kurangnya pengetahuan dalam bertani, dan kurangnya pengetahuan dalam mengolah hasil tani, sehingga produksi hasil tanaman kurang memadai dan hasil tanaman dijual dalam bentuk baku atau asli, belum melalui proses pengolahan sehingga pengaruh positif perekonomian masyarakat masih kurang. Di hutan masyarakat terdapat tanaman bambu, hampit di setiap wilayah RW terdapat tanaman bambu. Tanaman bambu sangatlah penting bagi masyarakat Gumelem Kulon karena selain sebagai bahan baku rumah juga bahan baku kerajinan.

Sungai. Di Gumelem Kulon memiliki sungai yang cukup panjang. Jika ditelusuri di Gumelem Kulon hanya terdapat satu sungai yaitu sungai Gumelem. Di sungai Gumelem di wilayah atas kondisi air masih sangat jernih. Namun jika di wilayah bawah sudah agak berbeda karena sebagian kecil masyarakat memulai membuang sampah sembarang sehingga sungai terlihat kotor. Sungai Gumelem selain terdapat material batu dan pasir juga dimanfaatkan sebagai irigasi. Jadi masyarakat Gumelem Kulon sangatlah bergantung pada sungai Gumelem. Namun karena perubahan iklim yang tidak tentu, kondisi sungai pada saat ini memprihatinkan. Jika 3 hari saja tidak hujan debit air sudah berkurang, saluran irigasi pun tidak maksimal.

Mata Air. Desa Gumelem Kulon memiliki banyak mata air antara lain Blawong, Kali Duwur, Sabuk Janur, Banyu Urip, Tletek, Njoa, Sawangan, Karet, Bacak, Gintung, Kali Waru, Kali Wuni, Kali Gondag, Sumur Beji, Kali Suren, Curug Gasar, Bagoran, dan Keong.

Blawong, mata air Blawong terletak di wilayah RW 8. Mata air ini sudah dimanfaatkan sebagai saluran PAM. Masyarakat yang memakai saluran PAM ini tidak hanya masyarakat Gumelem Kulon, tetapi juga masyarakat Gumelem Wetan. Pemanfaatan mata air blawong ini melalui sistem alir bukan sistem sedot sehingga lebih banyak digunakan oleh masyarakat bagian bawah dibandingkan oleh mayarakat RW 8.

Mata air Jlupang, Kali Duwur, Sabuk Janur, dn Banyu Urip. Mata air tersebut diatas adalah mata air yang berada di RW 5. Selama ini pemanfaatan air lebih mudah digunakan oleh warga masyarakat yang rumahnya lebih rendah dari mata air tersebut, sedangkan warga yang rumahnya lebih tinggi dari mata air mengambil (mengangkut) air dengan menggunakan ember.

Keong, mata air ini terdapat di RW 6. Seperti halnya mata air lainnya, mata air keong ini lebih mudah dimanfaatkan oleh masyarakat yang rumahnya lebih rendah dari mata air dibandingkan masyarakat yang berada diwilayah atas. Pada musim kemarau, mata air ini tidak pernah kering, namun hanya debit airnya saja yang berkurang.

Tletek, mata air ini berada di wilayah RW 10. Seperti halnya mata air lainnya, mata air keong ini lebih mudah dimanfaatkan oleh masyarakat yang rumahnya lebih rendah dari mata air. Namun masyarakat RW 10 sangat beruntung karena meskipun musim kemarau masyarakat RW 10 tidak pernah kekurangan air.

Bacak, Gintung, mata air ini terletak di wilayah RW 9. Walaupun pemanfaatannya tidak berbeda dengan mata air lainnya, masyarakat Rw 9 ini tidak pernh kekurangan air minum. Sat musim kemarau tiba, masyarakat RW 9 harus turun ke sungai untuk mencucci pakaian.

Gintung, Kali Waru, Kali Wuni, Kali Gondag, mata air ini berada di wilayah RW 2. Mata air ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat Rw 2, terlebih pada musim kemarau karena sumur-sumur gali milik warga kering sehingga mereka beralih ke mata air diatas tersebut.

Sumur Beji, Kali Suren dan Bagoran, mata air ini terletak di wilayah RW 4. Dari ketiga mata air ini tidak ada yang kekeringan saat musim kemarau. Sumur Beji merupakan sumur yang paling religi diantara dua sumur lainnya. Konon Sumur Beji ini merupakan sumur peninggalan wali. Debit air Sumur beji ini sangat besar. Meskipun sepuluh orang sekaligus memakai/mengambil airnya secara bersamaan debit airnya tidak akan berkurang. Didekat Sumur Beji terdapat sebuah pohon beringin besar yang usianya sudah ratusan tahun. Warga tertua di RW 4 pun melihat pohon beringin ini berdiri tegak dari dulu, bahkan mungkin pohon ini sudah berumur ribuan tahun. Itulah uniknya Sumur Beji di Rw 4. Menurut orang-orang zaman  dulu, jika mencuci muka ataupun mandi di Sumur Beji maka akan awet muda dan lancar rezekinya. Mudah-mudahan tidak hanya omongan belaka namun bisa menjadi kenyataan. Aamiin.

Material Pasir dan Batu

Material pasir dan batu tidak hanya terdapat di Sungai tetapi juga terdapat dilahan lainnya, seperti kebun dan lahan pegunungan. Di desa Gumelem Kulon terdapat banyak titik tanah yang mengandung pasir. Masyarakat biasanya mengambil pasir untuk keperluan bangunan rumah, jalan, dan lain sebagainya. Sungguh besar karunia Tuhan bagi masyarakat desa Gumelem Kulon. Itulah aset SDA di Desa Gumelem Kulon. Sungguh bangga menjadi masyarakat Gumelem Kulon. Begitu banyak aset yang dimiliki, marilah kita jaga, lestarikan dan manfaatkan sebaik-baiknya.

Terimakasih.

*Tursiyem adalah salah satu ibu rumah tangga di desa Gumelem Kulon. Kini aktif sebagai Ketua Kelompok Perempuan “Nira Sari” desa Gumelem Kulon. Tulisan ini berdasarkan hasil pemetaan aset dan potensi Sumber Daya Alam (SDA) di desanya. Dia menarasikan aset dan potensi ini setelah melakukan indentifikasi aset, wawancara mendalam, dan observasi yang dilakukan di desanya. Pemetaan Aset dan Potensi merupakan salah satu materi pembelajaran di Sekolah Perempuan yang diselenggarakan oleh Infest Yogyakarta pada Maret-Desember 2015.

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.