Nursiyah: Kades Peduli Perbaikan Layanan Kesehatan

12782559_10205760864404455_1936829893_n

Dikisahkan oleh Ibu Nursiyah Wahab, Kades Bontomaranu.

Saya menjadi seorang pemimpin perempuan desa, tidak berarti merebut hak laki-laki. Saya menjadi seperti sekarang ini (kepala desa) karena ada konsep, strategi, program yang disusun dan program itu kita laksanakan, modal saya menjadi kepala desa berawal dari banyaknya ibu hamil yang meninggal dunia waktu melahirkan.

Itu tantangan bagi saya, sehingga kita beranikan diri bekerjasama dengan bidan desa dan dukun. Kita sosialisasi langsung ke ibu hamil agar tidak melahirkan di rumah dan harus rutin memeriksanakan kesehatannya selama mengandung . Dengan kegiatan ini maka dalam satu tahun angka kematian ibu hamil dan melahirkan berkurang. Selanjutnya kami juga melakukan pendidikan kesehatan reproduksi pada para remaja putri, dan banyak sekali yang tertarik.

Hampir satu tahun saya aktif sosialisasi langsung ke masyarakat. Maka sewaktu menjelang pemilihan kepala desa banyak perempuan yang mendorong saya untuk maju sebagai calon. Alhamdulillah dengan dukungan para ibu-ibu dan remaja puteri saya terpilih sebagai kepala desa. Program kerja utama desa kami adalah memperbaiki pelayanan publik kesehatan, khususnya untuk perempuan dan anak-anak. Jumlah perempuan di desa saya lebih banyak dibanding laki-laki, jadi dengan memperhatikan kebutuhan mereka maka para perempuan tersebut pasti akan mendukung saya.

(Sumber: Disarikan dari cerita Ibu Nursiah Wahab, Kepala Desa Bontomaranu, Takalar, dalam “Lokakarya dan Konsultasi Naskah Buku Pintar, Komik, Poster, dan Film” yang diselenggarakan FPPD-ACCESS TAhap II, Denpasar, 9-10 September 2013. Dalam buku Buku “Perempuan dalam Pembangunan” )

Kisah Lainnya...

Leave a Reply