Ketidakadilan Gender

Ketidakadilan gender yang mewujud dalam lima bentuk ketidakadilan gender, berkaitan dengan relasi laki-laki dan perempuan secara personal maupaun relasi perempuan dan negara secara struktural.

  1. Pencitraan (stereotype)

Setereotipe merupakan pencitraan negatif positif terhadap individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan fakta empiris dan menimbulkan ketidakadilan

Stereotipe terhadap perempuan, mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan. Misalnya, citra negatif tugas perempuan mengurusi rumah tangga, menjadikan perempuan menghadapi halangan-halangan sosial: akses pendidikan terbatas, kontrol terhadap sumberdaya lemah, tidak memungkinkan menjadi pemimpin. Perempuan dalam stereotipe positif dianggap kaum sosial sehingga lebih cocok pada kerja sukarelawanan, bukan kerja profesional.

Pencitraan negatif juga menimbulkan terjadinya standard nilai yang berbeda. Ketika laki-laki marah dianggap tegas, perempuan marah dianggap emosional dan tidak mampu menahan diri. Laki-laki memukul perempuan dianggap pendidikan, perempuan memukul laki-laki dianggap tidak beradab.

2. Kekerasan (Violence)

Kekerasan merupakan tindakan atau serangan terhadap perempuan atau laki-laki akibat dari cara pandang yang keliru. Kekerasan berbasis gender ini terdiri dari 1. Kekerasan fisik misalnya, memukul, menendang, melukai dengan senjata, sampai tingkat membunuh], 2. kekerasan psikis misalnya, mencaci, menghardik, menghina, melecehkan.

3. Menelantarkan atau membiarkan sehingga tidak terpenuhinya hak dasar.

4. kekerasan seksual misalnya, pelecehan seksual sampai ke perkosaan.

Pelaku kekerasan bisa bersifat individu [misalnya, suami, ayah, anak], lembaga sosial [misalnya, partai politik, lembaga pendidikan], dan negara [misalnya, melalui kebijakan-kebijakan, aparat keamanan, dll].

5. Subordinasi (kelompok /kelas kedua)

Subordinasi merupakan ketimpangan karena relasi posisi yang tidak setara.Akibatnya ada yang berada dalam posisi dominan dan kelas satu dan kelas kedua dalam kehidupan sosial. Perempuan dan keluarga miskin menjadi kelas kedua dalam strata sosial. Laki-laki merasa lebih penting dan dianggap memiliki kedudukan peran yang lebih tinggi dibanding perempuan. Akibat adanya kelas sosial yang berbeda (subordinasi) mengakibatkan perempuan mendapatkan halangan-halangan dalam mengekspresikan kepentingan dan kemampuannya dalam menjalankan kehidupan sosial. Perempuan dan kelompok miskin lebih banyak menempati kelas kedua karena tidak memiliki aset atau ekonomi yang baik.

6. Peminggiran (Marginalization)

Peminggiran berbasis gender atau penelantaran secara ekonomi, adalah sebagai tindakan-tindakan yang mengakibatkan terbatasnya akses ekonomi dan menjadikan perempuan mengalami berbagai ketergantungan dan kemiskinan. Karenanya peminggiran mengakibatkan perempuan masuk dalam jebakan pemiskinan yang luar biasa.

Peminggiran juga menjauhkan akses perempuan dari sumber-sumber ekonomi misalnya mendapatkan kredit untuk modal usaha, akses pajak yang tidak adil, sistem tanggungan asuransi yang berbeda, dan keputusan status kerja yang bersifat ganda.

Misalnya, ada pekerjaan yang mensyaratkan jika perempuan sudah menikah harus mengundurkan diri, sementara laki-laki ketika sudah menikah justru harus mendapatkan pekerjaan.

7. Beban Ganda (Double Burden)

Beban ganda merupakan situasi perempuan mengalami beban berlebih dalam menjalani kehidupan sosialnya. Karena anggapan perempuan bertugas mengurus rumah tangga, akibatnya, perempuan yang bekerja atau mengurus urusan sosial tetap harus bertanggungjawab menyelesaikan urusan rumah tangga. Laki-laki atau suami malu mengerjakan urusan domestik karena dianggap kerjaan perempuan.

Beban ini semakin berlebihan, manakala perempuan juga melakukan pekerjaan yang menghasilkan dana atau kerja produktif. Sebab seluruh urusan rumah tangga tetap menjadi tanggung jawab perempuan, dan laki-laki tak mau berbagi tugas di rumah tangga.

*Penulis: Mukhotib MD, ditulis dalam bahan modul “Gender” yang ditulisnya.

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment