Bertahan Saat Hidup Semakin Sulit

“Sudah tiga hari ini keluarga kami tidak makan ikan. Sulit mencari ikan bahkan untuk lauk”.
(Sariah 45 th, perempuan kampung nelayan Semalah, Taman Nasional Danau Sentarum)

Pengalaman ini dikisahkan oleh Seselia Ernawati (2007)*

12421297_10205943067639422_1399691646_n  Danau Sentarum, Kalimantan Barat merupakan wilayah hamparan banjir terunik di dunia. Memiliki kandungan lapisan gambut purba berumur 20 ribu tahun yang kaya keanekaragaman hayati. Pontianak, ibu kota provinsi Kalimantan Barat diuntungkan dengan keberadaan kawasan ini sebagai juru atur air. Danau Sentarum juga merupakan tulang punggung industri perikanan bagi Kalimantan Barat. Namun, nasibnya kini terancam. Wim Giesen dan Julia Aglionby, peneliti asal Belanda dan Inggris dalam bukunya berdasarkan penelitian tahun 1993-1997 menuliskan bahwa Danau Sentarum menghasilkan hingga 13.000 ton ikan pertahun.

Danau Sentarum menjadi sumber penghidupan sekitar 6500 nelayan yang tersebar di 39 kampung, terutama pada saat danau mengering di musim kemarau. Kini delapan tahun kemudian, ikan sebagai primadona penghasilan warga menurun drastis. Bahkan untuk makan sehari-hari pun susah. Penduduk merasakan kemerosotan kualitas lingkungan Danau Sentarum, tempat mereka hidup.

Seperti Sariah, perempuan dari Dusun Semalah, para perempuan lain di dusun itu mengeluh serupa. Mereka mengatakan sulit menemukan ikan Belida (Notopetrus chitala H.B), yang dulu biasa mereka pakai membuat temet (kerupuk basah yang menyerupai pempek Palembang). Ikan Arowana (Scleropages formosus), yang dulu banyak berkeliaran di danau itu, kini hanya dapat dinikmati di akuarium atau tempat penangkaran.

Kedua spesies tadi hampir tak pernah ditemukan lagi di danau dan sungai di kawasan itu. Warga setempat, khususnya perempuan sebagai pengelola rumah tangga, merasa dirugikan karenanya. Muka air sungai naik dan turun lebih cepat, sulit diduga. Hujan semalam saja dapat membuat permukaan air naik sampai dua meter lebih tinggi dari biasanya,lalu segera turun dalam beberapa jam saja. Jika tak ada hujan, muka air sungai berkurang sampai beberapa hari. Bahkan airnya berbau.

Fluktuasi debit air yang cepat itu disebabkan oleh berkurangnya hutan akibat kebakaran dan penebangan di dalam maupun kawasan penyangga Danau Sentarum. Volume air menjadi sulit diprediksi, disertai kerusakan hutan. ‘Kiamat’ sedang pelan-pelan melanda Danau Sentarum, sebuah kawasan yang dikenal memiliki ekosistem terunik di dunia.

Taman Nasional Danau Sentarum, Paru-Paru Kalimantan

12674592_10205943067559420_698263925_nTerletak di kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Danau Sentarum merupakan tipe ekosistem hamparan banjir terluas yang masih tersisa dalam kondisi baik di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Kawasan ini terdiri atas sekumpulan danau musiman berwarna hitam kemerahan yang dihubungkan aliran sungai. Dari banyak penelitian yang dilakukan, Danau Sentarum dinyatakan sebagai wilayah hamparan banjir terunik di dunia.

Kawasan ini punya kandungan gambut purba berumur 20.000 tahun, yang kaya akan keanekaragaman hayati. Terdapat sekitar 250 spesies ikan, 10% di antaranya hanya terdapat di Danau Sentarum. Sekitar 250 spesies burung, 143 spesies mamalia, seperempatnya hanya ada di Danau Sentarum. Tiga jenis buaya, dan lusinan tumbuhan yang juga hanya ada di Danau Sentarum. Belum lagi fungsi hidrologis yang dimiliki.

Bagai spon yang menyerap air, gambut di Danau Sentarum menerima tumpahan air dari Sungai Kapuas pada musim hujan dan banjir, kemudian menyimpannya dalam mangkuk cekungan danau, ketinggian air dapat mencapai 12 m. Dilihat dari ketinggian Danau Sentarum tampak seperti hamparan danau luas tertutup air, dengan pulau-pulau berhutan yang umumnya tergenang. Saat musim kemarau, danau melepaskan air ke Sungai Kapuas secara perlahan-lahan sehingga air danau semakin surut.

Saatnya air danau kering, terlihat aliran sungai yang dangkal dan genangan disana sini. Jika kekeringan berlanjut, permukaan danau terlihat retak-retak. Danau Sentarum sejak tahun 1981 berstatus Cagar Alam, setahun kemudian berubah status menjadi Suaka Margasatwa. Belakangan, tahun 1999 Danau Sentarum dinyatakan sebagai Taman Nasional. Tidak hanya itu, Danau Sentarum menjadi satu dari dua kawasan Ramsar di Indonesia karena dipandang sebagai kawasan hamparan banjir yang penting, bukan saja bagi Indonesia tapi juga kehidupan dunia internasional.

Karenanya, kabupaten Kapuas Hulu, tempat danau ini berada mendeklarasikan diri sebagai kabupaten konservasi sejak satu Oktober 2003. Danau Sentarum juga menjadi bagian dari proyek besar yang dinamakan The Heart of Borneo.

Ratusan tahun sebelum dinyatakan sebagai kawasan lindung, Danau Sentarum telah dihuni oleh masyarakat dari Suku Melayu dan Suku Iban. Mereka hidup dengan menggantungkan diri pada alam. Sekalipun Danau Sentarum dianggap layak menjadi kawasan konservasi di Kalimantan Barat, hingga kini belum dapat menjamin kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Berkurangnya jumlah tangkapan ikan mengurangi pendapatan para nelayan, bahkan pada saat panen raya. Kegiatan yang disebut masyarakat setempat labuh zakat ini, tak menghasilkan ikan sebanyak dulu lagi. Tujuh tahun lalu saat musim kemarau mereka masih bisa menangkap satu perahu seharian, sekarang setengahnya pun susah.

“Jika kami hanya mengharapkan ikan, 10 tahun lagi kami akan kelaparan. Saya tidak akan mampu menyekolahkan anak-anak”, kata Sabli (35 th) kepala dusun tetangga, Semangit. Demikian pula budidaya Ikan Toman (Channa micropeltes) dalam keramba. Nelayan mengeluh ikan banyak mati saat air bangar. Bukan hanya itu, kualitas air yang memburuk juga menyebabkan diare dan penyakit kulit bagi penduduk terutama saat musim kemarau.

Penyebab berkurangnya ikan tidak berdiri sendiri. Hampir seluruh nelayan danau membudidayakan ikan Toman yang membutuhkan pakan ikan-ikan kecil cukup banyak. Hal ini juga satu penyebab berkurangnya ikan di Taman Nasional Danau Sentarum. Belum lagi pertambahan populasi yang mencari nafkah dengan mengandalkan ikan. Mereka mencari pakan Toman menggunakan jaring rapat (warin) untuk menangkap anak ikan. Bayangkan saja, jika dalam sehari seribu ekor ikan Toman dalam satu keramba berukuran satu kg dapat makan 40 kg anak ikan.

Jumlahkan berapa banyak anak ikan mati dalam setahun. Masalah perikanan ini tak hanya berdampak pada laki-laki, sebagai pengelola dapur perempuan terkena dampak juga. Mereka bertanggung jawab menyediakan makanan yang baik bagi keluarga. Dengan cara alami mereka mencari jalan untuk tetap dapat menghidupkan dapur rumahnya.

Kegiatan Riak Bumi

Yayasan Riak Bumi berdiri 2000. Namun awal pendampingan dimulai sejak 1992 saat dilakukan oleh Overseas Development Administration (ODA). Tiga orang yang kemudian membentuk Yayasan Riak Bumi, sesudah berakhirnya proyek ODA bekerja di bawah payung Yayasan Dian Tama.

Berakhirnya proyek bersama Yayasan Dian Tama 2000, tidak lantas menghentikan kegiatan pendampingan di Danau Sentarum. Tahun 2000 terbentuklah Yayasan Riak Bumi. Sampai sekitar tahun 2004, Riak Bumi memiliki fokus kegiatan pada penguatan ekonomi melalui upaya mencari pendapatan alternatif dan pemberdayaan hukum adat masyarakat di Taman Nasional Danau Sentarum.

Perhatian Riak Bumi terhadap masalah gender, dimulai tahun 2005. Bermula dari kegiatan pelatihan “Gender dan Keanekaragaman Hayati” di Muara Bungo, Jambi 2004, dengan bantuan dana dari CIFOR (Center for International Forestry Research). Riak Bumi melakukan penelitian gender dan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Danau Sentarum. Salah satu kampung yang diteliti adalah Dusun Semalah.

Melalui percakapan sehari-hari, diskusi bersama masyarakat dan pengamatan langsung, penelitian ini dilalui. Beberapa kali diskusi dilakukan dengan memisahkan kelompok laki-laki dan perempuan, agar mereka bebas mengemukakan pendapat. Pertemuan-pertemuan ini bukan yang pertama untuk perempuan. Melalui kegiatan pendampingan, para perempuan pengrajin sering berdiskusi untuk membahas persoalan kerajinan keranjang rotan. Penguatan kelompok pengrajin rotan merupakan salah satu upaya mencari pendapatan alternatif.

Semalah, Surga Yang Hilang “Sekarang kami lebih banyak bergantung dari kebun dan ladang, karena mencari dan memelihara ikan lebih tidak pasti” (Ratna, 33 th). Perjalanan ditempuh dua jam dengan menggunakan sampan bermotor 15 pk dari muara Sungai Leboyan, Taman Nasional Danau Sentarum. Semalah merupakan kampung nelayan keempat dari hilir Sungai Leboyan.

Kondisi alam yang berbukit-bukit, dataran rendah, sungai dan danau, menjadikan masyarakat yang berdiam di tepi sungai ini mengandalkan ikan sebagai pendapatan utama. Madu lebah hutan, ladang, hasil kebun dan sesekali kerajinan keranjang rotan menjadi pendapatan tambahan masyarakat.

Warga Semalah tinggal di rumah-rumah panggung yang tiang tonggaknya sering terendam air. Tiap rumah dihubungkan ke sebuah jembatan panjang yang juga berfungsi sebagai jalan dusun. Dusun ini berpenduduk 218 jiwa, mayoritas Suku Melayu. Perempuan hampir 50% dari penduduk dusun itu. Meski perempuan memperoleh akses untuk memanfaatkan sumber daya alam, tidak demikian dalam pengambilan keputusan untuk pengelolaannya. Perempuan tidak pernah dilibatkan dalam pertemuan-pertemuan kampung, rapat priau untuk madu, rapat nelayan maupun pemanfaatan lahan bersama, sekalipun ia adalah perempuan kepala keluarga.

Padahal bukan saja bertanggung jawab pada urusan rumah tangga, perempuan turut berperan mendukung ekonomi keluarga. Perempuanlah pemeran utama di ladang dan kebun. Membantu suami mencari dan memelihara ikan juga bagian mereka.

Ancaman Mengintai

Tahun 2004, bagian hutan lindung Semalah ditawar cukong kayu lokal. Dianggap sebagai sumber uang, melalui pertemuan kampung yang hanya dihadiri laki-laki, warga desa sepakat menerima walau dengan perdebatan alot. Namun, belakangan mereka mengakui penebangan kayu ini tidak menambah kesejahteraan, hanya memperkaya segelintir orang.

Awalnya, melalui banyak pertemuan antar kampung, Semalah dikenal sebagai kampung nelayan Melayu yang ingin mempertahankan keutuhan hutan mereka. Namun maraknya penebangan hutan, kebutuhan akan uang tunai menjadi dorongan kuat bagi masyarakat Semalah untuk menebang hutan. Setahun terakhir sebelum penebangan hutan dihentikan pemerintah tahun 2005, mereka akhirnya turut menebang hutan. Walau hasilnya tidak membantu ekonomi keluarga secara menonjol.

Yang tersisa, bekas lahan penebangan. Ini menyebabkan bukan saja kerusakan alam, beresiko pula bagi keutuhan keanekaragaman hayati di hutan dan Danau Sentarum. Akhirnya mengancam masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar
Danau Sentarum.

Berladang, Mata Pencaharian Baru

12674115_10205943067199411_280990216_nSetelah para cukong pergi, warga setempat memutuskan memanfaatkan lahan bekas penebangan hutan menjadi kebun karet. Lahan dibagi 66 kapling, masing-masing selebar 30 tombak (1 tombak sekitar 1,5 m) untuk tiap keluarga, memanjang ke arah kaki Bukit Semalah. Tiap keluarga dapat mengolah sesuai kemampuan.

Sementara menunggu waktu tanam dan pengumpulan bibit karet, para perempuan menggarapnya untuk ladang dan kebun dengan harapan menutupi belanja dapur sehari-hari. Pada awalnya hanya tujuh keluarga yang membuka ladang, saat ini ada 70 keluarga turut menggarapnya.

Hanya sedikit perempuan Semalah yang pernah berladang. Mereka memang tidak mempunyai tradisi berladang selama ini. Untuk membuka ladang baru, mereka harus belajar dari awal perihal berladang. Penambahan mata pencarian ini bahkan membuat beberapa dari mereka pergi mengunjungi kerabat Suku Dayak Iban di kampung lain untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan menggarap lahan.

Jauhnya lahan ladang baru ini bukan halangan bagi mereka. Memerlukan satu jam bersampan mesin 15 pk, dilanjutkan berjalan kaki sekitar dua jam untuk sampai di lokasi. Belum lagi jauhnya sumber air bersih dari ladang baru, sekitar dua jam berjalan ke kaki Bukit Menyukung. Sering mereka harus membawa bekal air setiap kali ke ladang. Namun demi manfaat jangka panjang, mereka mau melakukan pekerjaan berat ini.

“Jika menanam karet di tanah sendiri,” kata Ibu Salma salah satu warga desa, “Hasilnya bukan saja untuk kami, tapi juga untuk anak cucu. Nanti kami juga bisa lihat hutan karet.”

Beberapa laki-laki membantu keluarga menebang kayu untuk persiapan membuka ladang, menugal dan merontokkan padi. Namun secara keseluruhan perempuanlah yang paling banyak mengurusi ladang. Hasil panen tiap tahun bisa mencapai 600 kula atau sekitar 1.500 kg. Meski tidak menjual hasil padi, panen padi bisa untuk keperluan makan keluarga dalam setahun.

Sayur-mayur hasil kebun juga menjadi konsumsi keluarga. Berbagai jenis hasil kebun dihasilkan, dari jagung, labu, timun, kacang panjang dan sayuran lainnya ditanam di sana. Kelebihannya dijual di Semalah atau kampung berdekatan. Sehingga tidak pun memiliki banyak uang, hasilnya dirasakan sangat membantu perempuan dalam pengeluaran sehari-hari keluarga. Ini perkembangan yang unik bagi Suku Melayu. Sejak dulu di wilayah Danau Sentarum, Suku Ibanlah yang menjadikan perladangan sebagai pekerjaan utama.

Selain banyak wilayah Kampung Melayu yang berada di perairan danau, wilayah kampung yang memiliki lahan kering lebih sering mengolahnya untuk berkebun. Biasanya hanya beberapa keluarga saja yang berladang. Di Semalah pada awalnya hanya tujuh keluarga yang berladang dari 87 kepala keluarga yang ada.

Kerajinan Tangan Pembuka Jalan Menuju Pengorganisasian

Sejak lama perempuan memanfaatkan waktu luang untuk membuat perabotan rumah tangga dari bahan rotan dan tikar pandan. Rotan masih cukup mudah ditemukan di wilayah mereka. Keahlian turun-temurun ini juga menjadi sumber pendapatan tambahan mereka.

Sejak tahun 1995 melalui proyek bantuan ODA, kegiatan pemasaran hasil hutan bukan kayu turut dilakukan. Termasuk produk-produk dari Semalah. Yayasan Riak Bumi melanjutkan memfasilitasi kegiatan ini setelah proyek ODA selesai. Dalam pertemuan–pertemuan bersama pendamping dari Yayasan Riak Bumi mereka menentukan bentuk-bentuk kerajinan yang akan dihasilkan. Riak Bumi kemudian juga turut membantu memasarkan produk-produk mereka itu, seperti keranjang-keranjang kecil dari rotan dan tikar.

Namun permasalahan pemasaran turut menjadi kendala kelancaran pemesanan. Perlu ada strategi baru yang digunakan dalam sistem pemasaran. Misalnya berhubungan dengan dinas pemerintah terkait. Harga yang lebih tinggi dibanding dengan harga di pulau Jawa turut mempengaruhi penjualan kerajinan ini.

Harga yang lebih tinggi ini disebabkan produk yang mereka hasilkan adalah kegiatan sampingan dan penentuan harga juga dibandingkan dengan kondisi pengeluaran mereka, seperti harga BBM yang tinggi di wilayah ini. Belum lagi transportasi yang cukup mahal untuk mencapai Semalah dari ibu kota provinsi, Pontianak.

Namun di lain sisi, ada hal positif yang dapat diperoleh dari kegiatan ini. Meskipun perempuan tidak dilibatkan dalam kebanyakan pertemuan “laki- laki”, mereka dapat leluasa menyampaikan pendapat pada pertemuan dengan sesama perempuan dalam kegiatan anyaman. Ini menjadi dasar bagi perempuan untuk mulai berorganisasi.

Dalam kegiatan pendampingan, mereka mulai menyampaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Dari permasalahan yang ada, mereka bersama-sama mulai merumuskan masalah apa yang paling mendasar dan paling mungkin bisa diatasi. Kegiatan-kegiatan ini belum menghasilkan banyak. Perjalanan masih panjang. Masih banyak upaya dan dukungan yang diperlukan untuk mencapai sebuah gambaran ideal dari perempuan yang berdaya dalam masyarakat juga dalam pengelolaan sumberdaya alam. Namun jika terus ditekuni bukan tidak mungkin jalan yang tampaknya gelap, lama kelamaan semakin terang seperti semburat matahari yang muncul perlahan namun pasti dari timur.

Dari pengalaman perempuan Semalah ini, kita melihat bahwa suku tradisional memiliki mekanisme bertahan hidup akibat perubahan lingkungan yang mengancam kehidupan mereka. Mereka mencari alternatif sumber ekonomi baru. Sesuatu hal yang dianggap biasa namun menjadi sangat bermanfaat saat keadaan sulit. Secara umum Suku Melayu di kampung ini kurang melibatkan perempuan dalam mengambil keputusan publik. Padahal perempuanlah yang sebenarnya kelak akan banyak mengerahkan waktu dan tenaga di ladang itu. Tentu perubahan ini akan lebih positif dan produktif jika dapat memaksimalkan keterlibatan perempuan.

Sumber: Bertahan Saat Hidup Semakin Sulit ditulis oleh Seselia Ernawati, dari buku “Dari Desa ke Desa Dinamika Gender dan Pengelolaan Kekayaan Alam”, hal: 51-59, diterbitkan tahun 2007)

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment