Mama Sugeng: Saya Hanya Ingin Desa Kami Cepat Maju

Dikisahkan oleh Catur Budi Wiati*

“Saya hanya ingin desa kami cepat maju. Desa kami jauh tertinggal dibanding desa lain,” kata Mama Sugeng, perempuan asal Desa Transmigrasi Bantuas, sekitar 22 km dari Samarinda.

Meski telah lebih berusia 14 tahun, Desa Bantuas Transmigrasi nampak miskin dan tak terurus. Sekitar 350 keluarga yang menempati tidak memiliki kepala desa. Ketertinggalan Desa Transmigrasi Bantuas menggerakkan Mama Sugeng (43 tahun). Perempuan yang aslinya bernama Siti Fatimah ini tergolong unik di tengah budaya patriarki desa-desa di Indonesia. Di banyak tempat termasuk Indonesia, sejak lama tertanam pemahaman perempuan hanya memiliki lingkup domestik saja.

Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, banyak penelitian menunjukkan perempuan memegang peranan penting dalam keberhasilan pembangunan masyarakat desa. Mama Sugeng adalah salah satu bukti hidup dari fenomena itu. Ia berperan dalam dua hal serius yang umum terjadi di berbagai pelosok Indonesia, yaitu membantu percepatan pembangunan desa tertinggal dan kerusakan lingkungan.

12516275_10205977592622525_814397740_nDesa yang gersang dan terbuka Gersang dan terbuka adalah kesan pertama yang terlihat, bila kita mengunjungi Desa Transmigrasi Bantuas. Kanan-kiri jalan menuju desa itu dipenuhi hamparan lahan alang-alang. Kesan gersang makin jelas, bila kita melihat satu-satunya sungai yang mengalir membelah pemukiman desa, airnya sangat surut dan berwarna cokelat. Bila datang musim hujan, air sungai yang keruh karena membawa tanah, meluap dan membanjiri ladang-ladang di sekitarnya.

Akibat penebangan, kebakaran dan perladangan berpindah, areal Desa Transmigrasi Bantuas sebagian besar menjadi padang alang-alang. Menurut Mama Sugeng, lahan tidur sudah ada jauh sebelum desanya dibangun.

“Padang alang-alang muncul karena perladangan berpindah. Dulu, kami juga melakukannya, tetapi berhenti setelah kami jadi warga transmigrasi,” ujar Mama Sugeng. Perladangan berpindah banyak terdapat di Bantuas, setelah kebakaran hutan pada 1997/1998 melanda kawasan ini.

“Padang alang-alang juga makin banyak setelah penebang liar menjarah kayu yang ditinggalkan perusahaan kayu PT Bengen Timber,” tambah Senen (53), suami dari ibu beranak lima ini.

Pemanfaatan padang alang-alang untuk kawasan transmigrasi, seperti Desa Transmigrasi Bantuas, adalah kebijakan Departemen Transmigrasi. Kebijakan ini merupakan bagian dari Letter of Intent (nota kesepakatan) yang ditandatangani pemerintah Indonesia dengan IMF (International Monetary Fund) pada 1999.

Salah satu dari kesepakatan itu adalah menghentikan sementara perubahan hutan menjadi permukiman dan ladang melalui pelepasan kawasan hutan. Akibat kurangnya pembinaan dari pengelola (Departemen Transmigrasi), ditambah dengan banyaknya hama babi, pertanian lahan kering di Desa Transmigrasi Bantuas tidak berjalan baik.

Untuk menghidupi keluarga, banyak warga terpaksa meninggalkan desa mereka untuk menjadi buruh upahan di desa tetangga. Banyak warga pendatang asal Jakarta, Jawa Tengah dan Lombok tidak kuat bertahan di pemukiman transmigrasi tersebut. Posisi mereka akhirnya banyak digantikan masyarakat sekitar seperti dari Samarinda, Sangasanga dan
Bantuas sendiri.

Ngaji dan Yasinan menjadi Proses Awal

12884494_10205977593222540_2094948170_n
Mama Sugeng

Seringnya perkelahian antar warga saat desa baru dibuka mendorong Mama Sugeng berbuat sesuatu. Banyak warga masih terpengaruh ego kedaerahan asal masing-masing. “Orang sering berkelahi karena jiwa mereka kosong. Mereka mengaku Islam tapi baca Alquran aja gak bisa,” katanya mengenang. Matanya menerawang seolah gambaran masa lalu melekat jelas di benaknya. Jika jiwa tenang, orang tidak mudah tersinggung dengan ucapan orang lain,” katanya.

Berangkat dari kenyataan itu, Mama Sugeng yang biasa hanya mengajar ngaji untuk anak sendiri, ingin menularkan kemampuannya kepada orang lain. “Meski artinya tidak tahu, baca ayat-ayat Alquran bisa membuat jiwa tenang,” jelasnya. Mama Sugeng berharap dengan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, ketenangan dapat tercipta.

Mama Sugeng membagi kelas ngaji menjadi dua karena banyak anak yang ingin belajar. Anak usia 5–10 tahun dikelompokkan di kelas pertama, anak usia 10 tahun ke atas dikelompokkan di kelas kedua. Anak-anak dari kelas pertama diutamakan lebih dahulu belajar. Cara ini dilakukan agar saat anak-anak yang besar ngaji, mereka tidak diganggu anak-anak yang lebih kecil. Tujuan yang lain, anak-anak yang besar dan sudah pintar ngaji dapat membantu mengajari anak-anak yang lebih kecil.

Mama Sugeng berusaha agar kegiatan mengajar mengaji tidak mengganggu suami dan anak-anaknya. Karena itu, ia mengajar ngaji hanya malam hari yaitu pukul 19.00-21.00 WITA. Biasanya, saat itu Mama Sugeng telah menyelesaikan pekerjaan rutin rumah tangganya.

“Suami dan anak-anak sangat mendukung. Jika saya sibuk, mereka juga menjadi terbiasa mengerjakan sendiri semua pekerjaan yang biasa saya lakukan,” jelasnya.

Kegiatan Berdampak pada Perbaikan Sikap Mama Sugeng tak sekadar mengajar ngaji. Ia juga memikirkan cara membantu perekonomian keluarga yang dialami hampir seluruh warga saat itu. Mama Sugeng mendorong anak-anak mencari uang dengan mengumpulkan sayur-sayuran, seperti kangkung, genjer atau pakis hutan, yang banyak tumbuh di sekitar desa. Sayur-sayuran tersebut kemudian dijual, dengan cara dititipkan kepada warga yang hendak menjual hasil pertaniannya ke pasar. Selain itu, anak-anak mendapat uang dari upah membantu membersihkan ladang atau kebun milik warga lain. Hasilnya ditabung dengan sistem arisan sebesar Rp 250,- per orang yang ditarik seminggu sekali.

Mama Sugeng kemudian melanjutkan arisan uang ke arisan membersihkan pekarangan. Ide ini muncul, saat ia melihat banyak pekarangan rumah warga tidak terawat karena kesibukan bertani. Anak-anak diajak membersihkan pekarangan rumah mereka secara bergantian setiap minggu pagi saat libur sekolah. Sekaligus, menanam tumbuhan obat yang berguna untuk kebutuhan keluarga, seperti jahe, kunyit, serai, kumis kucing dan lain-lain.

Pelajaran positif yang diperoleh anak-anak kemudian ternyata juga menumbuhkan keinginan beberapa perempuan dewasa untuk belajar ngaji. Namun karena jumlah perempuan yang belajar ngaji terus bertambah, Mama Sugeng kemudian mengajak mereka melakukan yasinan. Kegiatan ini dilakukan setiap Jumat siang pukul 14.00 WITA. Tidak seperti pengajian umumnya, dibanding membaca Surat Yasin, aktivitas belajar ngaji lebih mendominasi pertemuan. Ini karena hampir semua perempuan yang hadir belum pintar ngaji.

Banyak kesulitan dihadapi Mama Sugeng untuk mempertahankan kegiatan yasinan di Desa Transmigrasi Bantuas. Agar para perempuan rajin mengikuti yasinan, Mama Sugeng mengundang seorang ustad untuk rutin datang berceramah.

Di belakang hari, ceramah ustad terbukti mampu memikat para perempuan untuk rajin mengikuti yasinan. Kehadiran seorang ustad ternyata sangat berarti. Banyak hal bermanfaat yang dipelajari. Sedikit demi sedikit, ceramahnya berhasil merubah perilaku para perempuan. Bermula dari perubahan cara berbicara dan berbusana, perubahan sikap juga terjadi yakni menjadi lebih saling menghargai. Yang menarik, perubahan ini kemudian secara perlahan juga menular kepada para suami dan anak-anak mereka.

Penuh inisiatif Kegairahan ngaji dan yasinan boleh saja meningkat, tapi dukungan dari kepala desa kurang. Itu dapat terlihat dari terbengkalainya atap mushola yang rusak. “Dulu, kepala desa di sini orangnya kurang mempedulikan warga. Makanya kami tidak mengharapkan bantuan beliau untuk memperbaiki mushola,” kata Mama Sugeng.

Mama Sugeng kemudian mencari pihak lain yang dapat membantu memperbaiki mushola. Dari orasi seorang anggota DPRD Samarinda saat berkampanye untuk salah satu partai di desanya, ia mengetahui Pemerintah Kota Samarinda menyediakan dana khusus untuk pembangunan sarana umum. Dana ini dapat dikeluarkan jika warga membuat pengajuan dana dalam bentuk proposal.

Proposal dibuat Mama Sugeng bersama perempuan lain dengan dukungan tokoh-tokoh masyarakat. Mereka membuat proposal sederhana untuk pembuatan mushola yang baru. Isinya, menyebutkan informasi siapa yang mengajukan, maksud pengajuan dan besarnya dana yang diajukan. Di halaman terakhir proposal, Mama Sugeng dan empat perempuan lain yang mewakili desa itu membubuhkan tanda tangan. Dia juga meminta kepala desa, sebagai pimpinan setempat yang bertanggung jawab, turut menandatangani proposal.

Proposal tersebut mendapat tanggapan positif. Pemerintah Kota Samarinda.bersedia memberikan dana sebesar Rp 5.000.000 untuk pembangunan mushola. Meski jumlah tersebut hanya cukup untuk membeli bahan bangunan, pengalaman ini menggugah Mama Sugeng dan kelompok yasinan membuat dua proposal lain. Pertama, mereka mengusulkan pembuatan jalan alternatif yang lebih dekat untuk anak sekolah. Kedua, mereka mengusulkan pembangunan TK Alquran di sebelah mushola. Kedua proposal ini sudah disampaikan ke Pemerintah Kota Samarinda, tetapi belum mendapat tanggapan sampai sekarang.

Penghijauan ala Mama Sugeng

12899961_10205977593022535_1837268421_nPermasalahan lingkungan ternyata juga tidak luput dari perhatian Mama Sugeng. Permasalahan akibat alang-alang, memunculkan ide konservasi di benaknya. Sebagai usaha awal, Mama Sugeng menanam petai di lahan tidur miliknya. Ia memperoleh bibit tanaman ini dari tetangganya. Dari penyuluh pertanian setempat Mama Sugeng mengetahui petai atau Parkia speciosa Hassk cocok untuk penanganan alang-alang. Tapi, kebakaran kemudian menghanguskan semuanya.

Usaha ini kemudian diulangnya kembali, tetapi kebakaran kembali menjadi permasalahan. Karena kebakaran sering terjadi, Mama Sugeng mempunyai ide baru untuk menangani padang alang-alang, yaitu menanam biji karet (Hevea braziliensis) bersamaan saat menanam biji padi. Ide ini bisa menghemat waktu dan tenaga karena dilakukan sekaligus saat ia membantu suaminya berladang. Agar tidak terlalu rapat, jarak tanam biji karet lebih jauh dari jarak tanam padi.

“Biji padi kami tanam dengan jarak sekitar 1 langkah (30 cm). Sedang karet ditanam dengan jarak 2 depa (3 m),” kata Mama Sugeng. Untuk memudahkan saat penanaman, kedua tempat benih diikatkan Mama Sugeng di pinggang. Sehingga saat menugal, tangan kirinya yang bertugas menaruh biji di lubang dapat dengan lincah bergerak.

Walau demikian penghijauan dengan cara ini tidak terlalu berhasil. Pertama, karena biji karet susah tumbuh. Dari sekitar 10 biji karet yang ditanam, hanya sekitar – 4 biji yang tumbuh. Lagipula karet yang tumbuh agak menyulitkan saat memanen padi. “Harus hati-hati agar tidak merusak anakan karet,” jelas Mama Sugeng.

Kedua, tanaman karet juga sangat rentan terhadap kebakaran. Batang padi yang kering sesudah dipanen mudah sekali terbakar. Kebakaran sulit dicegah karena pengawasan tidak dilakukan seketat saat padi masih tumbuh. Karena susahnya menanam biji karet, Mama Sugeng mencari alternatif lain, yaitu menanam anakan karet. Jika mempunyai cukup waktu, ia mencari anakan karet yang sudah cukup tinggi di sekitar desanya. Anakan karet mudah ditemukan, karena dulu desa ini termasuk kawasan penghasil karet lokal.

Seperti yang umum dilakukan orang, anakan karet dipindahkan Mama Sugeng dengan cara mencongkel dari tanah. Untuk mengurangi risiko kematian, pencongkelan diupayakan tidak memotong banyak akar dan hanya dilakukan saat musim hujan datang.

“Cara ini lebih berhasil ketimbang dengan biji, tapi jarang saya lakukan karena memerlukan banyak waktu dan tenaga,” kata Mama Sugeng.

Meski padang alang-alang yang berhasil ditanami karet tidak terlalu luas, upaya Mama Sugeng merehabilitasi areal ini mendapat perhatian warga. Kepedulian mereka terhadap keberadaan alang-alang meningkat. Banyak warga kemudian mengikuti upaya Mama Sugeng. Meski cara dan jenis tanamannya berbeda, semangat Mama Sugeng telah memotivasi warga untuk tidak menyerah terhadap masalah alang-alang.

Menghadapi Dilema: Emas Hitam atau Kerusakan Lingkungan Hadirnya sebuah perusahaan tambang di Desa Transmigrasi

12674350_10205977592902532_624764780_nMama Sugeng dan masyarakat juga dihadapkan pada permasalahan baru, yaitu kehadiran sebuah perusahaan tambah batubara (CV. Bara Sakti) setahun terakhir ini (2005). Meski perusahaan tersebut menawarkan uang ganti rugi yang besar, tapi kehadirannya juga membawa permasalahan lain yaitu kerusakan lingkungan.

CV. Bara Sakti sejak setahun terakhir telah memulai penambangan batu bara di Bantuas. Perusahaan ini memegang izin kuasa pertambangan batu bara skala kecil  100 ha dari Walikota Samarinda. Sejauh ini, CV. Bara Sakti telah menambang seluas kira-kira 50 ha.

Semula banyak warga Desa Transmigrasi Bantuas menyambut positif kehadiran CV. Bara Sakti. Warga menganggap kehadiran perusahaan ini bagai dewa penyelamat di tengah sulitnya kehidupan. Uang ganti rugi sebesar Rp 25 juta per ha diberikan untuk lahan yang diserahkan kepada perusahaan. Bila sesudah ditambang warga masih menginginkan tanahnya kembali, perusahaan menawarkan ganti rugi sebesar Rp 20 juta per hektar.

Cukup lama warga baru menyadari penambangan batu bara juga membawa dampak negatif. Kesadaran baru muncul saat beberapa warga mengaku gagal panen karena ladangnya kebanjiran. Air yang mengalir di lahan-lahan yang terkupas menyebabkan sedimentasi sungai. Terlebih kawasan yang dikupas dekat sungai. Akibatnya terjadi pendangkalan aliran sungai, dan tidak mampu menahan air saat hujan.

Warga juga meragukan janji Pemerintah Kota Samarinda yang hendak membangun perkebunan kelapa sawit di lahan bekas tambang. Pembangunan perkebunan kelapa sawit di areal bekas tambang batubara saat ini memang sedang dijajaki Pemerintah Kota Samarinda, dan sejauh ini baru sampai tahap survei dan penelitian. Karena hasilnya belum ada, warga masih meragukan rencana ini.

Karena itu warga menyampaikan keluh kesah mereka kepada kepala desa. Warga berharap kepala desa dapat menjembatani kepentingan warga dan perusahaan tambang. Sayangnya keluh kesah warga tidak mendapat tanggapan positif dari kepala desa. Isu yang berkembang di antara warga menyebutkan kepala desa tidak mampu berbuat banyak karena sudah menerima uang diam dari perusahaan tambang. Pasifnya kepala desa kembali mendorong Mama Sugeng bertindak. Ia mendorong tokoh-tokoh masyarakat untuk menggagas pertemuan desa. Pertemuan ditujukan untuk membahas masalah yang dihadapi warga. Untuk itu, selain kepala desa, pertemuan juga mengundang perwakilan dari pihak perusahaan tambang.

Perjuangan warga belum berakhir. Walau dalam pertemuan disepakati CV. Bara Sakti akan melakukan pengerukan sungai, hingga sekarang janji tersebut tidak pernah dilaksanakan. Warga berencana akan menggagas pertemuan desa kembali dan memaksa perusahaan tambang untuk membuat kesepakatan dalam bentuk tertulis.

Pelajaran yang dapat diambil

Perjuangan Mama Sugeng membuktikan bahwa setiap perempuan, terlepas dari tinggi rendahnya pendidikan, sanggup melakukan sesuatu hal yang besar jika mau berbuat. Pengalaman Mama Sugeng juga menambah bukti adanya peran perempuan dalam keberhasilan pembangunan desa. Melalui kegiatan ngaji dan yasinan, ia menggerakkan perempuan untuk peka terhadap permasalahan di sekitarnya, seperti padang alang-alang dan pencemaran akibat penambangan.

Hadirnya CV. Bara Sakti, perusahaan tambang di Desa Transmigrasi Bantuas membuat Mama Sugeng dan warga lain dihadapkan pada dua dilema, mendapatkan uang lebih banyak atau rusaknya lingkungan yang selama ini menjadi sandaran hidup mereka.

Peningkatan pendalaman agama Islam yang diperoleh dari kegiatan mengaji, yasinan dan majelis ta’lim dapat menyatukan warga Desa Transmigrasi Bantuas dan membuat warga dapat menjalani kehidupan yang lebih tenang. Perjuangan Mama Sugeng membuktikan adanya inisiatif lokal yang mampu menggerakkan perempuan di sekitarnya untuk berperan aktif dalam pembangunan desa. Inisiatif seperti ini perlu didukung pemerintah dan pihak lain dalam rangka mempercepat pembangunan desa tertinggal.

*Catur Budi Wiati, lahir di  Magelang, 8 September 1973.  Lulusan dari Fakultas Kehutanan, Universitas Lambung Mangkurat ini sejak tahun 2000 berkarier sebagai peneliti bidang perhutanan sosial di Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kalimantan Samarinda. Beberapa tulisan ilmiahnya tentang pengelolaan hutan secara tradisional telah dipublikasikan oleh Departemen Kehutanan. Tulisan ini adalah salah satu pengalamannya dalam mengorganisir masyarakat dengan judul asli “Perempuan Pembaharu Desa”, ditulis dalam buku kumpulan pengalaman pengorganisasian warga “Dari Desa ke Desa Dinamika Gender dan Pengelolaan Kekayaan Alam”, hal. 112-119., tahun 2007.

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
About Perempuan Berkisah 106 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply