Ketika Emas Tak Lagi Bersinar

“Emas makin ngalih kami dapatkan. Amun kawa kami dibari pang bibit tanaman gasan behuma (Emas semakin sulit untuk kami dapatkan. Kalau bisa, kami diberi tanaman buat bertani)”

Dikisahkan oleh Aida Rahmah*

Di bawah teriknya matahari, seorang perempuan tua sibuk menusukkan sekop ke tanah berair di areal penambangan emas tradisional Desa Batu Butok, Kalimantan Timur. Usianya, 65 tahun. Dia mencangkul tanah dan menaruhnya ke pendulangan hingga penuh. Setelah penuh, mulailah dia mengayak pendulangan untuk mendapatkan butir-butir emas. Kegiatan Itu dilakukannya berulang kali.

“Sudah sepuluh tahun lebih saya melakukan ini,” katanya. Dia biasa bekerja dalam kubangan air berlumpur dari pagi hingga siang, kadang sampai sore hari. Tapi, uang yang dia peroleh tak menentu, bahkan cenderung merosot.

“Emas makin ngalih kami dapatkan. Amun kawa kami dibari pang bibit tanaman gasan behuma (Emas semakin sulit untuk kami dapatkan. Kalau bisa, kami diberi tanaman buat bertani)”, katanya dalam bahasa setempat. Ibu tua ini mengaku punya sedikit tanah yang bisa digarap.

Namun, harapannya tak terpenuhi hingga dia meninggal. Perempuan tua itu meninggal karena kecelakaan saat menyeberang jalan raya di depan rumahnya. Cucunya, berumur 13 tahun, mewarisi harapan itu. Sang cucu mengikuti program pendampingan yang dilakukan Yayasan Padi Indonesia untuk membantu masyarakat setempat mencari mata pencaharian alternatif yang ramah lingkungan.

Desa Penambang Emas

12895426_10206066683489741_577334093_nDesa Batu Butok terletak di Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. Jaraknya 175 km dari Balikpapan, bisa ditempuh dalam empat jam, yakni satu jam berlayar dengan kapal motor dan tiga jam berkendaraan lewat darat. Sebagian besar warganya hidup dari menambang emas tradisional, di samping bertani, berternak ikan nila, atau berjualan di rumah. Walaupun terletak di daerah yang kaya sumberdaya alam, termasuk emas, penduduk desa ini tergolong menderita.

Penduduk memang masih dapat makan dua kali sehari, atau memiliki rumah yang bisa melindungi mereka dari hujan dan panas. Tapi, mereka tak mampu memenuhi kebutuhan sandang secara memadai. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Badan Pusat Statistik Kalimantan Timur mengkategorikan Desa Batu Butok sebagai desa miskin.

Sejak 30 tahun lalu, kandungan emas Desa Batu Butok telah menarik para pendatang, termasuk dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Bersama penduduk setempat, para pendatang itu mengusahakan penambangan emas dengan teknologi sederhana, tanpa alat berat dan tanpa zat kimia (merkuri). Pada awalnya, hasil penjualan emas mampu memperbaiki ekonomi masyarakat. Mereka dapat mencukupi kebutuhan sandang dan pangan dengan cukup. Meski
begitu, karena harganya yang murah, penghasilan dari emas ini tidak banyak mengubah kesejahteraan masyarakat secara umum. Hanya penduduk yang mempunyai mesin pendulang yang memperoleh keuntungan besar.

Mereka bisa memiliki pesawat televisi, antene parabola, kendaraan bermotor, genset, lemari es, dan kebutuhan lainnya. Sementara itu, para pekerja pendulang umumnya tetap miskin. Secara ekologis, penambangan emas ini telah merusak lingkungan. Para penambang membabat dan membuka hutan, serta meninggalkan lubang-lubang besar bekas penambangan. Kegiatan itu juga telah mencemari air sungai.

Penduduk tidak tahu cara memperbaiki lahan bekas penambangan yang rusak. Akibatnya, daerah garapan petani terus menyusut karena para pemilik tanah biasanya tergoda untuk cepat mendapatkan hasil dengan membuka pertambangan emas di kebun mereka.

Membuka Ladang di Hutan

12939613_10206066683369738_2026762882_nKini, menambang emas tradisional bukan lagi primadona bagi penghasilan warga desa ini. Emas yang didapatkan terus berkurang. Beberapa tempat bahkan telah habis sama sekali emasnya. Sementara penghasilan terus berkurang, risiko pendulang emas bertambah karena harus naik-turun kubangan galian yang makin dalam.

Beberapa warga mulai melirik cara lain mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga. Hal ini mendorong mereka berkumpul bersama untuk mencari solusi bagi masalah yang dihadapi. Akhirnya terbentuklah suatu kelompok tani yang cukup besar dan beranggotakan laki-laki dan perempuan. Mereka mulai merencanakan membuka ladang di hutan adat. Pada hari yang disepakati, dan biasanya Jum’at, saat libur dari mendulang emas, mereka mulai membersihkan lahan yang akan mereka garap.

Selain membersihkan lahan yang akan dipakai untuk menanam, mereka juga membagi-bagi lahan kepada para anggota. Luas tanah biasanya disepakati antara satu sampai dua hektar per keluarga. Mereka juga tetap melakukan aktivitas bertani di lahan yang mereka telah miliki. Penduduk menanam sayur-sayuran, jahe, bahkan juga padi. Padi yang dihasilkan dalam satu musim dapat memenuhi kebutuhan beras keluarga untuk enam hingga 12 bulan.

Sejak Desember 2004, Yayasan PADI Indonesia yang berkantor di Balikpapan, Kalimantan Timur, mulai melakukan pendampingan masyarakat di lapangan. Yayasan PADI merasa perlu membantu masyarakat Batu Butok melalui proses belajar untuk perubahan yang lebih baik. Dalam pendampingan ini dilakukan kegiatan-kegiatan bersama masyarakat, terutama yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan akibat penambangan emas tradisional.

Tujuan yang ingin dicapai adalah mencari sumber pendapatan baru yang ramah lingkungan. Yayasan PADI menyelenggarakan sejumlah program yang dapat meningkatkan kapasitas masyarakat melalui beberapa pelatihan, seperti pelatihan kelompok swadaya masyarakat dan wanatani (agroforestry) dengan budidaya karet. Para pelatih datang dari berbagai kalangan, termasuk staf pemerintah dari Dinas Kehutanan dan Dinas Pertambangan dan Dinas Pertanian Kabupaten Pasir. Selain pelatihan, Yayasan PADI mencoba untuk memberikan bantuan berupa bibit durian,
rambutan, karet, jahe, sayuran, serta bibit ayam dan ikan Nila guna mendorong dan memotivasi penduduk desa untuk bertani dan tidak lagi melakukan penambangan emas.

Selain mendampingi masyarakat dalam memonitor pengelolaan bibit, fasilitator juga memfasilitasi pertemuan-pertemuan kampung setiap bulannya. Masyarakat akhirnya bisa menyusun proposal bantuan bibit karet yang diajukan kepada Bupati Kabupaten Pasir dan Dinas Kehutanan setempat.

Karet menjadi pilihan masyarakat karena dinilai lebih menguntungkan secara ekonomis, karena pohon karet bisa menghasilkan getah sampai berumur 50 tahun. Sedangkan umur ekonomis kelapa sawit hanya 25 tahun saja. Hingga akhir 2005, program pendampingan ini masih berjalan. Menurut penulis, hal positif dari pendampingan ini antara lain:
Meningkatkan komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat, misalnya dengan mempertemukan para pejabat Pemerintah Kabupaten Pasir, Dinas Kehutanan serta Dinas Pertambangan dengan masyarakat. Selain itu juga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat melalui pelatihan-pelatihan; Meningkatkan pengetahuan generasi muda (mulai dari siswa sekolah dasar sampai sekolah menengah atas) tentang bahaya menambang emas secara tradisional; Meningkatkan komunikasi sesama anggota masyarakat melalui pertemuan-pertemuan kampong untuk membahas masalah-masalah yang mereka hadapi.

Bagaimanapun juga terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan ke depannya, antara lain tentang tanah adat. Meskipun lahan yang akan dibuka untuk ladang dan kebun karet merupakan lahan tak tergarap, tapi masyarakat asli mengklaim hutan itu tanah adat mereka. Kondisi ini menghambat proses pembebasan lahan untuk ladang baru karena tidak semua penduduk asli bersedia berbagi dengan pendatang. Penduduk asli meminta adanya kompensasi berupa uang jika lahan adat akan dikelola oleh pendatang.

Hikmah

Cerita masyarakat Desa Batu Butok di atas menggambarkan fenomena bagaimana masyarakat pedesaan harus bertahan hidup. Pengelolaan sumberdaya alam yang tidak ramah lingkungan terbukti tidak bertahan lama, tidak menjamin masa depan. Selain kerugian atas rusaknya lingkungan, masyarakat juga tidak mendapatkan penghasilan yang mencukupi. Masyarakat desa tersebut kini harus memikirkan masa depan mereka, mencari sumber pendapatan baru. Peran pendampingan dari LSM dan pemerintah bisa membantu masyarakat memecahkan permasalahan masyarakat. Usaha-usaha ini akan membuat masyarakat berdaya jika dilakukan dalam kerangka pembelajaran bersama. Pengalaman dari desa kecil di pedalaman Kalimantan ini mungkin bisa mengilhami daerah lain yang mempunyai kondisi serupa. []

*Aida Rahmah lahir di Balikpapan pada 17 Oktober 1971. Setelah Lulus SMA di Balikpapan, penulis melanjutkan pendidikannya di D3 Informatika di Sekolah Tinggi Informatika dan Komputer Indonesia (STIKI) Malang, Jawa Timur. Setelah tamat, penulis kembali ke daerah asalnya dan terlibat dalam Proyek Reintroduksi Orangutan, The MoF-Tropenbos Kalimantan Project, Wanariset Samboja hingga 2001. Lajang yang menyukai dan menyayangi orang utan ini, sejak Oktober 2004 bergabung dengan Yayasan PADI Indonesia, Balikpapan. Tulisan ini adalah salah satu pengalaman pendampingannya di Balikpapan yang telah dibukukan bersama kumpulan tulisan lain yang berjudul “Dari Desa ke Desa: Dinamika Gender dan Pengelolaan Sumber Daya Alam”, tahun 2007.

sumber gambar atas : detiktravel

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment