Peran Gender

Istilah gender dimaknai pembedaan perempuan dan laki-laki, bukan pemberian Tuhan, melainkan hasil dari proses sosial, dikembangkan secara sosial atau konstruksi sosial, berbeda-beda di setiap tempat dan di setiap zaman.

Pembedaan gender tidak bersifat tetap atau baku, melainkan bisa berubah-ubah dan bisa dipertukaran antara perempuan dan laki-laki sesuai nilai-nilai sosial dan adat istiadat yang berkembang dalam kehidupan.

Contoh Gender: Laki-laki: dianggap kuat, rasional, cerdas, gagah, tanggung jawab, dan menjadi pemimpin. Perempuan: dianggap lemah lembut, emosional, pasrah, sabar, teliti, dan cengeng.

Peran gender sebagai hasil konstruksi atas perempuan dan laki-laki terbagi menjadi tiga wilayah, kerja reproduktif, kerja produktif, dan kerja reproduktif komunitas.

Kerja Produktif

Mencakup peran dalam produksi barang dan layanan untuk konsumsi dan perdagangan (bertani, nelayan, karyawan, wiraswasta, dll). Kerja produktif terkait upaya mendapatkan sumber pendapatan dan kesejahtaraan kehidupannya. Perempuan dan laki-laki selayaknya mendapatkan hak yang sama dalam produksi, namun seringkali banyak peluang pekerjaan produktif lebih mudah diakses oleh laki-laki, dibandingkan perempuan. Kerja produktif perempuan pun seringkali tidak mendapatkan penghargaan yang setara dengan laki-laki. Pendapatan perempuan sering disebut pendapatan tambahan, walaupun jumlahnya lebih besar.

Kerja Reproduktif

Mencakup kerja-kerja terkait hak reproduktif yakni melahirkan, mengasuh anak hingga membesarkannya. Di kerja ini juga dikaitkan dengan urusan pengelolaan rumah tangga dan pemenuhan kebutuhan sehari hari.

Kerja reproduktif sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia, meskipun sering dianggap sebagai kerja yang tidak memberikan pendapatan ekonomi. Perempuan yang menjadi ibu rumah tangga bekerja mengurus segala urusan rumah tangga, mengurus anak tapi tidak mendapatkan penghargaan yang setara dengan hasil kerjaannya.

Dalam komunitas miskin, kerja reproduktif biasanya dikerjakan perempuan, hanya dihargai sangat rendah dan memakan waktu banyak. Kerja reproduktif biasanya selalu menjadi tanggung jawab perempuan dan anak perempuan dalam keluarga.

Kerja Komunitas

Mencakup kegiatan sosial, layanan sosial misalnya posyandu, upacara-upacara sosial, kegiatan kemajuan komunitas, partisipasi dalam kelompok dan organisasi sosial.

Tipe kerja ini jarang dipertimbangkan dalam analisa ekonomi komunitas.

Kerja komunitas dihitung sebagai kerja kerelawanan, meski sangat penting bagi pengembangan spiritual dan budaya masyarakat. Perempuan dan laki-laki bisa terlibat dalam kerja komunitas ini, walaupun pembagian kerja secara gender tetap terlihat dengan jelas. Di kegiatan sosial komunitas, banyak melibatkan partisipasi perempuan, namun senantiasa perempuan tidak mendapatkan penghargaan yang setara dengan kontribusinya.

Pembedaan gender mengakibatkan terjadinya ketidakadilan dalam masyarakat, tindakan diksriminatif terhadap perempuan dalam berbagai proses sosial. Kondisi yang timpang seperti ini, disebut sebagai budaya patriarkhi, yaitu budaya yang memberikan hak-hak istimewa terhadap laki-laki dalam kaitannya dengan perempuan. Ketidakadilan yang diakibatkan ketimpangan antara laki-laki dan perempuan disebut ketidakadilan gender.

*Penulis: Mukhotib MD dari salah satu bahan materi modul “Gender” yang ditulisnya.

Kisah Lainnya...

Leave a Reply