Mendobrak Ketabuan

cropped-12735656_10205728475234746_122324489_n.jpgLaki-laki dan perempuan seharusnya membebaskan dirinya dari prasangka-prasangka dan ide- ide konyol yang sudah mendarah daging itu. Sudah saatnya masyarakat berhenti memperlakukan perempuan sebagai jenis kelamin nomer dua.

Ditulis oleh Liem Freddy*

Sosok perempuan yang berdiri sebagai seorang pemimpin, beberapa dekade terakhir ini, memang semakin banyak dan semakin tidak aneh lagi terdengar. Tidak hanya dalam lingkungan keluarga, organisasi, institusi pemerintahan, militer, dan lain-lain. Bahkan sejarah mencatat ada begitu banyak perempuan hebat yang terlibat dalam kancah perpolitikan.

Kaum perempuan kini tak lagi dibatasi “hanya” boleh memimpin kaumnya saja, tapi juga termasuk memimpin kaum laki-laki. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa diskriminasi dan budaya patriarki masih menjadi isu yang menakutkan bagi kaum perempuan. Contohnya pada level perusahaan, kita sering mendengar istilah “manajemen dapur” yang menyindir kebijakan-kebijakan perusahaan yang dipimpin oleh perempuan. Contoh lain adalah ketika beberapa Ulama mengecam keras pencalonan Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden Republik Indonesia.

Agama kerap kali muncul sebagai momok paling menakutkan dalam perjuangan kesetaraan hak laki-laki dengan perempuan. Pada Agama Islam misalnya, ada ayat Al Qur’an yang mengatakan, “Kaum Laki-laki adalah Pemimpin bagi Kaum Wanita” (QS. An Nisaa’: 34). Ada juga tertulis dalam Hadist, “Tidak akan bahagia suatu kaum apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita” (HR. Bukhari no. 4425). Dan masih banyak ayat-ayat lain yang menulis hal serupa. Bagi kaum perempuan, apalagi yang beragama Islam, tentu saja keberadaan ayat-ayat tersebut adalah halangan yang mustahil dapat didobrak.

Perempuan dalam Catatan Sejarah

Plato (427 SM – 347 SM), dalam bukunya Republik, berpendapat bahwa seorang pemimpin seharusnya mengatur negara berdasarkan akal. Dan dengan demikian, maka kaum perempuan bisa saja memerintah sama efektifnya seperti laki-laki, asalkan mendapat kesetaraan dalam bidang pendidikan dan terbebaskan dari kewajiban rumah tangga. Dalam bukunya yang lain, Hukum, Plato juga menulis bahwa negara yang tidak mendidik dan melatih kaum perempuan itu seperti orang yang hanya melatih tangan kanannya saja. Atas sumbangsihnya tersebut, Plato diyakini sebagai filsuf pertama yang menulis tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Ada korelasi yang unik mengenai Plato dengan Athena. Kata “Athena“ sendiri mengacu pada dua hal: Kota Athena, tempat Plato tinggal, dan Dewi Athena, yang adalah dewi kebijaksanaan, strategi dan perang. Dalam salah satu dialognya, Kratilos, Plato memberi pendapat mengenai asal-usul nama Athena. Menurutnya, nama Athena berasal dari Atheonóa (’Aθεονόα), yang berasal dari kata theos, yang berarti ‘dewa’ atau ‘dewi’. dan nous yang berarti ‘pikiran’.

Etimologi tersebut menunjukkan asal-usul Athena sebagai dewi kebijaksanaan. Banyak pendapat yang mengatakan Plato menulis kesetaraan laki-laki dan perempuan terinspirasi dari Dewi Athena. Tapi ada pula yang berpendapat lain. Plato mungkin saja melihat Dewi Athena sebagai perwujudan dari sosok perempuan pemimpin yang ideal.

Sosok Dewi Athena kini digunakan sebagai simbol Angkatan Laut Wanita di Amerika Serikat. Athena juga digambarkan pada medali penghargaan yang diberikan pada perempuan yang mengabdi dalam Pasukan Cadangan Angkatan Darat Wanita. Dan ada banyak Universitas di seluruh dunia yang menjadikan Dewi Athena sebagai lambang Universitasnya.

Ada filsuf lain yang sejaman dengan Plato dan juga adalah seorang penulis drama, Aristophanes, yang juga sangat mendambakan sosok perempuan pemimpin. Aristophanes adalah penulis kisah fiksi yang terkenal, Lysistrata, yang hingga saat ini masih kerap dimainkan di atas panggung drama. Lysistrata dikisahkan sebagai seorang perempuan pemberontak yang berani. Agar para lelaki berhenti berperang, Lysistrata menghasut para istri untuk melakukan mogok seks. Dan upayanya berhasil. Jika kita mengikuti definisi Hersey dimana kepemimpinan adalah usaha untuk mempengaruhi individual lain atau kelompok, maka Lysistrata tentu saja termasuk seorang perempuan pemimpin. Pemimpin yang sangat berani tentunya.

Di Indonesia, Kisah Lysistrata dimainkan oleh WS Rendra pada zaman pemerintahan Orde Baru. Filsuf Yunani setelah Plato dan Aristophanes adalah Aristoteles (384 SM– 322 SM). Aristoteles punya pendapat yang berbeda dengan Plato. Menurutnya, wanita adalah “Pria yang belum lengkap”.

Dalam hal reproduksi, wanita bersifat pasif dan reseptif, sedangkan pria itu aktif dan produktif. Karena itu, anak hanya mewarisi sifat-sifat dari pria yang berperan menyumbang bentuk, sedangkan wanita perannya hanya menyumbang substansi saja. Pendapat Aristoteles ini jelas keliru. Kekeliruan ini membawa dampak berkepanjangan karena pengaruh Filsafatnya diwarisi sepanjang abad pertengahan, dimana budaya Patriarki berkembang luas dan bebas.

Pada periode akhir abad pertengahan, adalah John Locke (1632-1704), seorang filsuf empirisme dari Inggris, yang mencoba mempertanyakan kembali peran laki-laki dan perempuan dalam pemikiran-pemikiran kritisnya. Pandangannya bahkan memberi pengaruh besar pada John Stuart Mill dalam memperjuangkan isu-isu kesetaraan laki-laki dan perempuan.

Dalam teori empirisme-nya, John Locke berpendapat, bahwa semua pikiran dan gagasan kita berasal dari sesuatu yang telah kita dapat dan kumpulkan melalui indra. Sebelum manusia pernah merasakan sesuatu, maka pikirannya ibarat kertas yang masih kosong. Lebih lanjut dalam penguraian teori empirisme-nya itu, John Locke mengatakan bahwa anggapan bahwa perempuan lebih lemah dari laki-laki merupakan hasil pemikiran manusia.

Dan tentu saja anggapan itu bisa dan seharusnya diubah. Dan pada titik inilah, sejarah mencatat tolak kebangkitan kaum perempuan di Eropa. Lalu Simone de Beauvoir, dalam bukunya yang berjudul The Second Sex menentang kepercayaan akan adanya sifat dasar laki-laki ataupun perempuan, yang seringkali hanya merendahkan perempuan.

Menurutnya, laki-laki dan perempuan seharusnya membebaskan dirinya dari prasangka-prasangka dan ide- ide konyol yang sudah mendarah daging itu. Sudah saatnya masyarakat berhenti memperlakukan perempuan sebagai jenis kelamin nomer dua.

Saat ini di Indonesia, masih banyak terjadi kasus-kasus diskriminasi terhadap perempuan. Dan sungguh disayangkan, agama yang seharusnya memandang semua ciptaan Tuhan adalah sama, justru yang kerap kali menjadi batu sandungan bagi perempuan yang menuntut adanya kesetaraan. Padahal jika kita mau melihat ke belakang, sejarah perkembangan Islam juga mencatat sosok seorang perempuan yang mendapat restu memimpin tidak hanya pada kaum perempuan saja, tetapi juga boleh memimpin kaum laki-laki, yaitu Rabi’ah Al-Adawiyah, seorang Sufi perempuan dari tanah Arab.

Ketika Agama dianggap tidak lagi relevan dengan kemajuan zaman, di mana hak laki-laki dan perempuan adalah setara, mungkin ada baiknya jika Agama itu dimitoskan saja. Sama seperti ketika Xenophanes memitoskan Dewa-Dewi Yunani pada zamannya. Atau seperti ketika Nietsczhe Menyerukan kematian Tuhan. Tapi semua itu akan menjadi percuma jikalau kaum perempuan sendiri tidak memiliki keberanian keluar dari tekanan dan diskriminasi. Perempuan selamanya akan menjadi objek dari laki-laki. Perempuan selamanya akan menjadi jenis kelamin nomer dua.

Perempuan di Tanah Jawa

Keberanian-keberanian seperti itulah yang seharusnya dimiliki oleh perempuan Indonesia ketika memperjuangkan hak-haknya yang dikebiri. Dan satu hal yang harus diingat dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan: Dobrak ketabuan!

Sejarah di tanah Jawa mencatat ada begitu banyak perempuan yang berani. Salah satu contoh adalah Retna Kencana atau lebih dikenal dengan panggilan Ratu Kalinyamat. Setelah kematian suaminya di tangan Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat melakukan pertapaan tanpa busana di Gunung Danaraja. Dalam masa pertapaannya itu, Ratu Kalinyamat berhasil mengecoh Raden Hadiwijaya atau Jaka Tingkir untuk berperang dan membalaskan dendam suaminya kepada Arya Penangsang. Tindakannya berhasil mengubah sejarah hingga menjadi cikal-bakal berdirinya Kerajaan Mataram. Lalu jangan lupakan R.A Kartini dengan tulisan-tulisannya yang menggugah dunia.

*Liem Freddy, penulis tinggal di Bandung. Tulisan Liem ini telah diangkat dalam Jurnal Bhinneka Edisi 13 “PEREMPUAN PEMIMPIN” EDISI DESEMBER 2012.

Kisah Lainnya...

Leave a Reply