Kebun Sayur “Selamat Datang” Mama Maryam

Dikisahkan oleh Kelly Mayasari*

Satu hal yang saya pelajari dari Mama Maryam mengenai adat adalah bagaimana kita harus mengakar, memiliki sikap melestarikan adat, dan bersikap selalu membawa pesan-pesan orang tua adat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Adalah sosok Mama Maryam, inisiator kebun sayur  ‘Selamat Datang’ sekaligus kebun sayur terapung, yang kini menjadi model percontohan (prototype) untuk pemanfaatan lahan bagi rumah warga yang tidak memiliki lahan pekarangan.

Sekitar awal tahun 2016, tepatnya dimulai 30 Januari 2016, saya berada di Kampung Sekar, bagian penting dari daerah Petuanan Raja Pik-pik Sekar. Kampung ini adalah salah satu petuanan raja di Distrik Kokas, Kab. Fak-fak, Papua Barat. Awalnya memang tidak ada rencana untuk mengunjungi salah satu tokoh perempuan yang menjadi rekomendasi oleh Kepala Kampung, karena beliau merupakan satu-satunya perempuan yang dituakan dari marga Serbunit yang juga memiliki hak berbicara dalam setiap pertemuan adat di wilayah Petuanan Raja Pik-pik Sekar. Sepertinya butuh satu sesi khusus untuk membahas Petuanan Raja dan adat yang ada di Distrik Kokas.

Di sini saya akan lebih banyak bercerita mengenai sosok perempuan bernama Mama Maryam Serbunit serta karyanya untuk lingkungan sekitar. Dia salah satu tokoh perempuan adat yang berasal dari marga Serbunit tadi, kiprahnya patut diapresiasi karena sangat menginspirasi. Sayangnya saya belum bisa memperlihatkan gambar Mama Maryam, demi menghargai sosok beliau. Namun kebun-kebun cantiknya tak lupa saya suguhkan dalam tulisan ini.

Di mana bumi berpijak di situ langit dijunjung

  Panggilan ‘mama’ di Papua sudah tidak asing di telinga kita semua, sebutan bagi sosok ibu di daerah Indonesia timur. Acapkali saya mendengar banyak saran dari orang yang sering ke Papua untuk memanggil ibu-ibu di sini dengan panggilan ‘mama’ biar lebih akrab dan lebih mudah diterima oleh mereka katanya. Tetapi saya tidak langsung mencobanya, ini seperti eksperimen sosial (social experiment) bagi saya. Ya, setidaknya untuk mengukur diri bagaimana tingkat adaptasi terhadap lingkungan baru.

Awalnya saya tetap memanggil para ibu yang saya temui dengan panggilan ‘ibu’ dan hasilnya mereka tetap akrab dan menerima saya dengan hangat. Setelah saya menyadari ada sesuatu yang membuat saya ‘klik’, baru kemudian saya memanggil mama. Sama halnya dengan saya, awalnya mereka pun memanggil saya dengan sebutan ‘ibu’. Saat itu saya masih menahan diri untuk tidak mengungkap diri saya yang memang belum menjadi ibu-ibu, selain bahwa sapaan ibu terkesan tua bagi saya. Seiring kebersamaan kami, akhirnya kami pun sama-sama menemukan sapaan yang membuat kami ‘klik’. Misalnya, saya disapa ‘mbak’ dan terkadang saya juga mendengar panggilan ‘kakak’, sehingga membuat saya merasa hangat seakan tengah mengobrol dengan saudara.

Kejadian tersebut membuat saya berpikir kembali mengenai bagaimana kita menempatkan diri untuk bisa diterima orang lain dengan meniru kebiasaan mereka. Dalam beberapa teori sosiologi dan teori etnografi, terus terang saya lupa teori yang mana, kalau tidak salah disebutkan oleh Peter L Berger mengenai dialektika fundamental (Obyektivitas, Internalisasi dan Eksternalisasi). Tetapi teori ini pada praktik dan pemaknaannya terkadang bisa berbeda-beda, tergantung kondisi dan situasinya. Pada saat itu saya merasa tengah berada di tempat yang belum pernah saya kunjungi, rasanya seperti kamu harus seperti mereka agar diterima. Mungkin dalam beberapa kesempatan, iya. Tetapi saat itu saya seperti tidak menjadi diri saya ketika harus melakukan sesuatu yang menyenangkan orang yang ‘akan kita hadapi’ agar mau menerima kita, apa adanya.

Menurut saya, apa adanya itu lebih kepada bagaimana kita menampilkan diri kita seperti apa adanya kita, bukan apa yang dikehendaki orang lain. Pada dasarnya, “dimana bumi berpijak di situ langit dijunjung”. Bagi saya, nasionalisme sudah mendarah daging, bukannya berlebihan, tetapi sejak dalam kandungan ibu saya senang sekali mendengarkan pidatonya Pak Tri Sutrisno. Jadi yang tertanam di benak saya ketika itu, kita sama se-Indonesia. Menanamkan pikiran bahwa kita datang dengan niat baik-baik, menempatkan diri dengan memahami siapa yang kita temui dan dimana keberadaan kita pada saat itu. Hasilnya, kita semua akan baik-baik saja.

Perempuan adat pelestari lingkungan

index
Gambar 1. Lahan terapung milik Mama Maryam yang menghadap dermaga.

Rumah Mama Maryam Serbunit hanya berjarak 1-2 rumah sebelah tidak jauh dari rumah kepala Kampung Sekar. Saya berbincang dengan beliau yang ditemani dengan anaknya yang masih berusia PAUD yang aktif dan seringkali ikut dalam perbincangan kami. Pada awalnya saya membicarakan mengenai apa yang Kepala Kampung bicarakan tentang beliau sebelumnya. Seperti ingin mendapatkan jawaban atas konfirmasi, ternyata dengan raut malu-malu beliau meng-iya-kan apa yang saya tanyakan. Beliau bercerita mengenai marga Serbunit terlebih dahulu sembari memperlihatkan kepada saya foto lama yang tergantung di dinding ruang tamunya. Sebelah kanan merupakan Kakek buyutnya dan yang sebelah kirinya adalah ayahnya, kemudian foto keluarga termasuk Mama Maryam.

Mama memiliki dua kakak laki-laki, namun keduanya sudah tiada. Saudara dari garis keturuan bapak dan ibunya masih ada tetapi tidak tinggal di Kampung Sekar, sehingga menurutnya secara otomatis beliau-lah yang menjadi pewaris marga Serbunit yang memiliki hak tanah sekaligus juga dengan hak berbicara dalam pertemuan adat di Petuanan Raja Pik-pik Sekar. Beliau bercerita awalnya keberadaan perempuan dalam sebuah pertemuan adat tidak terlalu dianggap, hanya sebagai pelengkap saja, sepintas saya teringat dengan Margareth Thatcher sang Iron lady. Pelahan beliau mulai memberanikan diri untuk tampil dan berbicara di setiap pertemuan karena menurutnya, ia memiliki hak untuk berbicara, kenapa diam saja. Sederhana tapi apa yang diucapkan Mama Maryam sangat mengena, ya, beliau punya hak, tidak ada alasan lain untuk diam saja.

Narahubung Mama-mama di kampung

Karena seringnya menghadiri pertemuan adat dan berbicara di depan umum, Mama Maryam menjadi sosok yang tidak diragukan, terlebih dengan power-nya sebagai tokoh perempuan adat (ini penilaian dari sudut pandang saya) tetapi ketika hal ini dikonfirmasi kepada beliau, beliau menolaknya, bukan karena itu. Menurutnya, bagaimana beliau sekarang adalah sudah digariskan leluhur. Beliau merasa terpilih secara spiritual untuk menjadi ‘narahubung’ bagi mama-mama di kampung tersebut. Terlihat dari bagaimana Mama Maryam berbicara, bercerita, dan berdialog ketika ditanya mengenai adat dari marga Serbunit, beliau memberikan jawaban yang bijak.

Hak berbicara yang diberikan dari Petuanan Raja Pik-pik Sekar dalam setiap pertemuan adat menurutnya sama dengan marga-marga yang lain, termasuk juga dalam urusan hak tanah, akan tetapi menurut beliau jika ditanya lebih lanjut mengenai hak tanah, beliau lebih menyarankan saya bertanya kepada Warnemen atau tokoh tetua marga yang lain yang lebih mengetahui.

Inisiator kebun sayuran “Selamat Datang” dan kebun sayuran terapung

2
Gambar 2. Lahan terapung milik Mama Maryam yang menghadap dermaga.

Satu hal yang saya pelajari dari Mama Maryam mengenai adat adalah bagaimana kita harus mengakar, memiliki sikap melestarikan adat, dan bersikap selalu membawa pesan-pesan orang tua adat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selain sebagai tokoh perempuan adat, Mama Maryam juga merupakan seorang ‘aktivis lingkungan’. Bukan seperti aktivis yang selama ini kita ketahui melalui media sosial, tetapi seorang yang aktif dalam kegiatan lingkungan. Hobi Mama Maryam yang senang dengan berkebun memberikan banyak pengaruh dalam lingkungan sekiar beliau dan juga lingkungan kampung. Beliau menginisiasi program kebun sayur untuk Kampung Sekar dengan nama ‘Selamat Datang’.

Letak kebun sayur ini awalnya berada di atas tebing perbukitan, karena kondisi geografis Kampung Sekar yang tidak begitu mendukung dengan dataran berbukit dan bertebing, karena menurut Mama Maryam setiap mama-mama yang akan berkebun harus naik dahulu melalui tebing terlebih dahulu, dimana untuk dapat naik ke tebing tersebut harus melalui jalan yang agak licin ketika hujan sehingga sangat beresiko untuk dilalui. Dari situ kemudian Mama Maryam mengajukan program kebun sayur mendapatkan lahan dari kesepakatan tanah adat yang ada sehingga bisa dicapai oleh para mama yang juga tertarik dengan kegiatan berkebun sayur. Selain memberikan aktivitas fisik dan berolah raga sehingga badan menjadi lebih sehat dan menguntungkan karena hasil sayuran dari berkebun tersebut dapat dijual langsung di rumah ataupun dibawa ke pasar.

Distrik Kokas sendiri memiliki program pemanfaatan lahan pekarangan produktif yang bekerja sama juga dengan penyuluh pertanian dari Dinas Pertanian. Setiap kampung mulai memanfaatkan program tersebut dengan mulai mengubah lahan pekarangan mereka menjadi lahan produktif. Termasuk juga kebun sayur ‘ Selamat Datang’. Permasalahan yang sering ditemui Mama Maryam selain pengadaan bibit unggul yang jarang juga masalah dari hewan ternak (sapi, ayam, kambing, dan bahkan babi hutan) yang berkeliaran dan tidak dikandang milik warga lain memakan tanaman sayuran milik warga, karena tanaman sayuran di kebun sayur tidak dipagar.

3
Gambar 3. Lahan terapung milik Mama Maryam.

Sama halnya ketika pemanfaatan lahan pekarangan produktif, lahan pekarangan rumah warga yang tidak dipagar juga dimakan hewan ternak yang berkeliaran, jika tidak dimakan, tanaman sayur seringkali juga dirusak. Permasalahan gangguan hewan ternak tadi membuat Mama Maryam berpikir bagaimana caranya agar lahan tanaman sayur tidak lagi diganggu, kemudian Mama Maryam membuat lahan terapung atau kebun sayur terapung. Jujur, saya terkejut dengan ide yang Mama ceritakan, tetapi beliau dengan senang hati mengajak saya ke belakang rumahnya untuk menunjukkan kebun sayur terapung miliknya. Rumah milik Mama dari depan tampak seperti rumah biasa yang berada di pinggir dermaga, tetapi saya tidak menyangka ternyata rumahnya menyambung sampai ke dermaga.

Kebun sayur  ‘Selamat Datang’ masih tetap berjalan dengan menambahkan pagar pembatas di sekeliling lahan kebun atas bantuan dari program kampung. Sedangkan kebun sayur terapung milik Mama Maryam menjadi model percontohan (prototype) untuk pemanfaatan lahan bagi rumah warga yang tidak memiliki lahan pekarangan. Mama menambahkan hasil dari kebun sayur “Selamat Datang” yang semula swadaya menjadi keuntungan bersama dengan menjual ke Pasar Sosar dan Pasar Sekar.

Selain itu, hasil sayur dari pemanfaatan lahan pekarangan sendiri dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari juga dapat dijual di depan rumah untuk menambah pendapatan keluarga. Pada waktu itu saya melihat masih ada tumpukan sayur pare karena hari sudah siang dan sore nanti beliau ada acara jadi pare dibawa masuk kembali ke dalam rumah. Menanam sayuran di daerah ini memang baik, pasalnya di pasar jarang sekali ada sayuran. Sekalipun ada yang paling sering ditemui adalah daun singkong dan kangkung. Penanaman sayur seperti yang dilakukan Mama Maryam ini memberikan banyak manfaat bagi orang lain, termasuk musafir seperti saya yang sudah kangen sekali dengan pare. Akhirnya saya memutuskan membeli beberapa pare yang dihargainya Rp 5.000,-/biji.

Sosok Mama Maryam terus membayangi saya ketika pulang. Mama mengajarkan saya banyak hal. Tidak ada alasan untuk tidak bisa menanam sayuran dimana saja, selama ada kemauan dan kegemaran. Pemandangan laut yang indah saja belum cukup memenuhi isi perutmu, masih perlu adanya penghijauan dari sayur mayur. Satu lagi yang hamper terlewatkan, Mama Maryam bukan hanya seorang yang peduli dengan lingkungan tetapi juga dengan kesehatan. Kesehatan anak-anak terutama, beliau sangat ingin anak-anak balita di kampungnya gemar memakan sayur meskipun daerahnya tergolong daerah susah sayur sebelum adanya kegiatan kebun sayur, hal tersebut agar anak-anak tumbuh menjadi generasi yang sehat dan cerdas. Terimakasih Mama Maryam, seorang ibu yang ramah, mengakar, dan peduli.[]

========================

12828563_10205653325040210_4783790844619539729_o*Tentang Penulis: Kelly Mayasari adalah Sarjana Sosiologi UGM. Mbak Kelly, demikian sapaan akrabnya, mulai terjun dalam dunia penelitian sosial sejak kuliah, dan sangat antusias dengan kegiatan lapangan sejak tahun 2012. Pengalaman lapangan menjelajah setiap daerah di Indonesia mengajarkan banyak ilmu mengenai kehidupan. Selain menelusuri Provinsi DIY sendiri provinsi lain yang pernah dikunjungi adalah Jawa Barat(Cirebon, Bandung, Sukabumi, Garut, Kab. Bandung), Jawa Tengah (Brebes, Banjarnegara, Solo, Semarang), Jawa Timur (Probolinggo), Sumatera Selatan (Musi Banyuasin), Jambi (Kab. Tebo), NTB (Lombok Timur),  Papua Barat (Babo-Bintuni, Fak-fak). Selain dari menjelajahi daerah secara langsung juga sering menjadi transcripter yang memberikan wawasan menelusuri daerah lain melalui hasil rekaman wawancara dari banyak daerah lain termasuk Kalimantan, Sulawesi, dan NTT. Hingga hari ini masih menekuni dunia penelitian, dan bercita-cita menjadi seorang peneliti terbaik di Indonesia.

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •