Perempuan dan Wayang

Dikisahkan oleh Lalita Isvara*

“Ora patut, cah wadon nonton wayang nganti wengi. Arep dadi apa sesuk yen gedhe!”

 

Begitulah larangan Ibuku saat aku hendak nonton wayang di malam hari. Dunia luar rumah pada malam hari menjadi begitu rawan bagi perempuan dalam pandangan ibuku. Aku yang masih kanak kanak hanya bisa menahan rasa. Begitu Ibu tidur, aku memakai sarung menyilenap pergi dari rumah, menyusul ayah yang turut menjadi tim keamanan desa, lalu aku duduk menikmati tontotan menyimak lakon digelar hingga ketemu alur pokok sambil membaca ceritanya.

Sengaja mengambil tempat agak remang, hingga tidak begitu dikenali dan sembari mencari dimana posisi ayah dalam bertugas, dan segera meranggeh tangganya minta dibelikan gembus, atau kacang goreng untuk sekedar menahan lapar di dingin malam pagelaran wayang pada tengah malam di musim kemarau.

Begitu beratnyakah seorang anak perempuan seperti saya hanya untuk menikmati tontotan di arena publik pada malam hari, hanya untuk menambah wawasan politik dan seni serta sastranya?

helen-dalang03-700x400
ilustrasi: pos kota

Seni Pagelaran Semakin Terpinggirkan

Seni pagelaran wayang kulit dalam 20 tahun terkahir ini dikepung oleh ancaman baik dari dalam maupun luar. Kegagalan menghadapi ancaman tersebut akan menempatkan wayang kulit teronggok dalam barisan warisan sejarah yang kehilangan keluwesaannya untuk bangkit sebagai bagian kebudayaan dan proses pembangunan.

Ancaman dari dalam berupa 1) lambannya proses kaderisasi dan kritik internal dunia perwayangan beserta SDM dan peralatan pendukungnya, 2) lambannya modifikasi isi dan kontekstualisasi pesan perwayangan dengan tantangan kekinian dan ke depan, 3) sulitnya memainkan tokoh tokoh baru ke dalam bingka tersambung dengan cerita pakem perwayangan (Mahabarata dan Ramayana), 4) tidak adanya jalur dan upaya terstruktur untuk membina hubungan dan konsultasi dengan para peminat dari berbagai golongan pemirsa.

Sedangkan ancaman dari luar berupa 1)banyaknya ragam pilihan hiburan pandangan dengar yang lebih fleksibel bagi masyarakat, 2) murahnya harga untuk mendapatkan tayangan dengan lakon yang sama yang dikemas secara digital (compact disk), maupun file elektroik di situs berbayar ataupun sukarela, 3) berkembangnaya produksi paket hiburan yang lebih kaya variasi penggarapan, lebih efisien dan murah yang bisa dijangkau masyarakat luas, 4) tidak adanya dukungan kebijakan yang mencoba melindungi dan meningkatkan daya ungkapan (kompetensi ekspresi) dan daya saing (kompetisi)seni perwayangan agar adaptif terhadap tantangan dan perubahan jaman.

Kondisi demikian akan meminggirkan wayang sebagai tradisi lokal yang kian terpasung oleh proses pembangunan itu sendiri. Keterpasungan wayang akan juga semakin memojokan kaum perempuan dari sarana akses akan hiburan yang bisa dijangkau di tingkat lokal pada ruang publik yang juga dekat bagi anak-anak.

Terbatasnya Tokoh Wayang Perempuan

Sebenarnya terlahir sebagai perempuan atau laki-laki tidaklah memilih dan tinggal terima jadi (taken for granted). Ruang dan waktu pun diciptakan untuk manusia baik laki-laki maupun perempuan. Namun demikian, masyarakat manusia membuat tradisi dan pertunjukan wayang yang lebih memberi ruang untuk hiburan kaum laki-laki untuk pementasan utamanya, dan perempuan lebih sebagai sosok pembantu (cangik dan limbuk), maupun penghibur (pesinden). Sedangkan tokoh-tokoh perempuan yang adapun (meksipun perempuan seperti Dewi Sinta, Srikandi, Sembadra, Arimbi, Drupadi,) semuanya disuarakan dan ditafsirkan serta disosialisasikan dengan cara pandang (perspektif) laki-laki dalang yang menjadi kunci dalam pertunjukan wayang, yang sebagian dipegang oleh laki-laki.

Perempuan tampil dan dicitrakan sedemikian rupa sebagai serba gemulai, halus, lembuat, tidak bisa berpikir panjang, nangisan (panyandra atau stereotype), dengan penempatan pada ruang yang lebih banyak di rumah atau belakang (spatial division in the domestic affairs), dan tidak perlu terlibat dalam pengambilan keputusan strategis negara (public and legislative area), dan lebih mendampingi kepala negara saat usai dari persidangan untuk kepentingan makan bersama (bojana andrawina) di tamansari, atau siap melayani (raja /laki-laki) saat hendak bepergian perang atau berburu atau bersemedi.

Begitulah dalam pewayangan perempuan tidak memiliki ruang untuk membangun citra diri (konstruksi kepribadian) yang merdeka, dan lebih banyak dikungkung oleh sistem dan pandangan hidup yang didominasi oleh dunia laki-laki (patriarchal).

Apakah memang benar bahwa perempuan itu tidak bisa membentuk dunianya sendiri, dan harus selalu menjadi bayang-bayang pada dunia yang dicipta kaum laki-laki? Sampai kapan? Mengapa itu bisa terjadi?

Perempuan Digambarkan Sebagai Objek Birahi?

Perempuan memiliki kebutuhan praktis dan kebutuhan strategis untuk hidup secara layak dan bermartabat. Pemenuhan kebutuhan praktis memperbaiki kondisi, sedangkan pemenuhan kebutuhan strategis memperbaiki posisi perempuan. Mana yang lebih penting antara kondisi dan posisi bagi perempuan?.

Ketika dalam pengasingan, Drupadi mengatur siasat agar putra pendawa selamat selama 12 tahun di hutan Wanamarta, agar kendali atas Hastinapura bisa kembali dan penyamaran tidak terbongkar.
Drupadi menugaskan Bima menjadi juru sembelih di pasar hewan dipanggil Jagal Bilowo, Arjuna menjadi pengajar tari putri istana dengan panggilan Kedhini, Puntadewa menjadi juru tanda keluar masuk pasar dengan panggilan Wijakangka, Nakula Sadewa menjadi pelatih militer dengan sebutan Pinten Tangsen.

Woro Srikandi maju ke perang Baratayuda untuk menandingi keahlian memanah Pendita Durna yang juga guru memanah Pendawa dan Kurawa. Tetapi sejumlah tokoh wayang perempuan juga menjadi penggoda handal, Betari Durga menjadi perusak ulung dan pembuat kekacauan dunia pewayangan.

Ada diperdebatkan apakah wayang itu bebas nilai atau memihak? Sebagian menganggap bebas nilai tergantung dalang yang memimpin pertunjukan. Tetapi apakah si dalang bebas nilai? Ataukah dia juga punya pandangan nilai berdasar agama, filsafat serta budaya tertenu yang terkerangka dalam pikiran dan kesadarannya.

Begitulah, terdapat penuangan watak (karakterisasi) disematkan kepada wayang perempuan berdasarkan pada pencitraan atas nilai nilai agama, filsafat dan budaya tertentu.

Dalam banyak pertunjukan, sejumlah wayang disusun berderet, namun tokoh perempuan tidak ikut dijejer dan baru dikeluarkan pada saat diperlukan. Tidak pernah ada penjelasan untuk ini. Padahal banyak tokoh pria dijejer tetapi juga tidak dimainkan.

Akhirnya lakon yang menggambarkan judul, alur cerita, dan tokoh yang terlibat di alur utamalah yang tampil. Lakon rabi atau kawinnya tokoh kesatria tertentu banyak dipakai saat tanggapan pernikahan, kemudian lakon paju (tandang dan gugurnya) tokoh tertentu digelar pada acara tetakan (sunat atau khitan anak laki laki) untuk menanamkan nilai seorang laki laki sejati. Kelahiran perempuan tidak banyak menjadi lakon utama. Perempuan muncul sebagai ikutan atas menikahnya tokoh krsatria tertentu.

Dalam Ramayana, perempuan menjadi obyek rebutan untuk pemenuhan nafsu birahi pria raksasa hingga ia mengutus tim penculik yang kemudian menjadi kegemparan di Alengka yang diporandaksm oleh pasukan kera. Kesetiaan Shinta kepada Rama dan Trijatha (perempuan pembantu setia Shinta) diceritakan sebagai simbol kesetiaan perempuan pada laki laki, tetapi juga harus bernjuang membela diri dari tuduhan tak suci atau tak perawan lagi, karena lamanta berpisah dan tinggal dengan pria lain.

Perempuan sering tidak diceritakan secara utuh, dan lebih tampil sebagai penghias indahnya karir para pria, tanpa kuasa membuat kisah heroik untuk dirinya sendiri dalam memenuhi kebutuhan praktis dan strategisnya.

Naif dan terkungkung sedemikian rupa tanpa dibekali kemampuan untuk menolong diri sendiri.

Perempuan memiliki lebih banyak pembatas untuk bisa menikmati tontonan dan pembelajaran dari pertunjukan wayang. Perempuan memang terlibat dalam pertunjukan wayang namun masih lebih pada peran menghibur dan cenderung pada percakapan-percakapan yang menyinggung aroma seksualitas dan pencitraan perempuan yang menjadi pengindah suasana panggung. Alasan bakat dan keahlian serta peran yang bisa dimainkan menjadi alasan mengapa perempuan cenderung menjadi aksesoris pada pertunjukan wayang kulit. Tetapi apa hubungan yang perlu dibangun untuk perbaikan bersama dalam pertunjukan wayang kulit?

Wayang sebagai media fisik tidak bisa berbicara sendiri kecuali pada apa yang visual. Hidupnya pertunjukan wayang disulut oleh 3 hal penting: 1) lakon (judul) yang dipilih, 2) suasana musik gamelan pengiring yang kompak dan terkendali, 3) anta wacana sebagai bentuk dialog antar tokoh wayang yang disuara dan gerak yang dilakukan oleh dalang yang memainkan.

Dalang dan Cara Pandang Lelaki

Dalam melakukan itu, seorang dalang akan dipengaruhi oleh pesan penanggap, serta cara pandang dia tentang dunia, dan juga tentang cara pandang dia tentang hubungan yang menunjukan keadilan perempuan dan laki-laki di tingkat keluarga, organisasi, masyarakat, dan Negara.

Pada masa era pemerintahan Presiden Soeharto, banyak menggunakan wayang untuk media sosialisasi kebijakan dan rencana pembangunan dalam rangka perbaikan ketimpangan antara kesempatan berperanserta dalam pembangunan dilakukan melalui strategi Women in Development (WID), dimana ada perempuan dalam pembangunan (perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi). Meskipun strategi ini telah membantu perempuan hadir dalam rapat dan organisasi di desa, namun belum menyentuh pada persoalan ketidakadilan gender yang lebih banyak dirasakan oleh perempuan. Strategi ini kemudian dikembangkan menjadi Gender and Development (GAD), dimana yang disoal adalah pola relasi (hubungan) antara perempuan dan laki-aki dari segi keadian kedudukan,tanggungjawab, kewenangan, peran, ruang lingkup beraktualisasi diri, serta mendapatkan manfaat dari perencanan, proses dan hasil serta dampak pembangunan.

Strategi GAD berlangsung di era setelah Pak Harto, namun demikian masih sangat disayangkan, karena wacana keadilan dan kesetaraan gender lebih banyak dikuasai oleh aktifis pengembangan masyarakat (NGO/LSM) daripada oleh pengambil kebijakan Negara. Di samping itu, tidak tersedia data pilah yang bisa menunjukan kesenjangan antara perempuan dan laki-laki sebagai dasar perumusan kebijakan, program dan anggaran yang responsive gender. Pada masa Pemerintahan KH Abdurrahman Wahid, maka dikeluarkan Inpres No.9 Tahun 2000 tentang Pengarus Utamaan Gender (PUG) yang mewajibkan para pengambil kebijakan dan perencana program pembangunan harus mengetahui, melek, dan peka, serta bertanggungjawab terhadap ketimpangan (ketidakadilan dan kesetaraan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan) serta harus bisa melakukan analisis ketimpangan gender sebelum mengambil kebijakan dan merumuskan program serta anggaran pembangunan.

Pentingnya Membedah Sudut Pandang Dalang Wayang

Dalam dalam pertunjukan wayang diharapan memiliki perspektif pemberdayaan masyarakat dan analisis ketimpangan relasi gender antara perempuan dan laki-laki. Namun seringkali bagi sejumlah dalang memberikan respon yang ringan bahwa mereka adalah pekerja seni, yang mendapat penghidupan dari mendalang. Mereka khawatir jika pesan-pesan pembangunan terlalu banyak, pakeliran akan membosankan dan terlalu teknis, dan mendapatkan serangan dari para penonton berupa cemoohan atau ancaman gertak sambal tidak ditanggap lagi karena mengancam kemapanan posisi dan kenyamanan kaum laki-laki dalam hirarki dan tata sosial serta pengelolaan sektor ekonomi. Sebagai contoh ketika pekerjaan menyiangi rumput di sawah dengan curahan waktu yang sama, dan keahlian teknis yang sama dilakukan oleh perempuan dan laki-laki, tetapi masyarakat membayar kaum perempuan leboih rendah dari laki-laki.

Dalang wayang diminta untuk membedah itu, optimum yang bisa dilakukan hanyalah menghimbau. Karena apa yang disampaikan oleh dalang hanyalah input, sedangkan proses lebih lanjut oleh masyarakat, mau mengubah keadaan ini atau tidak dengan cara yang mereka sepakati. Tidak mudah memang bagi perempuan untuk mengintervensi sedi pertunjukan wayang sebagai media sosial komunikasi public.

Di samping karena akses dan kontrol yang terbatas pada pertunjukan wayang, juga kuatnya penerimaan sosial pada keadaan yang sudah dianggap sebagai sewarjarnya (jamak lumrah) seakaan sudah kodrat, bawaan dari lahir dan tak bisa diubah. Meskipun seperti perbedaan upah tadi hanyalah kesepakatan di masyarakat yang bisa diubah berdasar musyawarah bersama. Tetapi dalang wayang tak kuasa untuk memperjuangkan hal kecil ini, apalagi untuk mengubah persoalan yang lebih besar pada tingkat kebijakan Negara. Karena pertunjukan wayang mulai kehilangan idealisme sebagai pembawa aspirasi rakyat, tetapi lebih sebagai corong pengeras kebijakan pemerintah dan bisnis.

Dan perempuan selalu tertinggal dalam percaturan dunia pewayangan. Tetapi selalu ada harapan untuk adanya perubahan lebih baik, karena tidak satu lakilakipun di dunia ini yang tidak terlahir dari perempuan, dan mendamba adanya perubahan sistem yang lebih adil bagi perempuan untuk turut terlibat dalam perencanaan, proses, monitoring – evaluasi, dan pemanfaatan hasil dan dampak pembangunan . Karena perempuan bukan warga kelas dua, tetapi ada warga Negara yang menikmati kemudahan-kemudahan bukan sebagai perempuan.

===

*Lalita Isvara TW, lahir di Gombong 30 Agustus 1990. Pernah belajar di Program Studi Hubungan International UMY, dan menjadi tenaga free lance untuk Program Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari bersama Alliansi Pengelola Hutan Rakyat Lestari (APHRL) di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tinggal di Wonogiri – Jawa Tengah. Kisahnya yang lain dapat di baca di bagian Ambon Manise 1, Ambon Manise 2, Ambon Manise 3.

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment