Menengok Kebun Toga Perempuan Teluk Singkawang

Dikisahkan oleh Alimah Fauzan*

 

Tanaman obat keluarga (Toga) itu ada di setiap dusun di desa Teluk Singkawang. Pada perayaan kemerdekaan RI ke-71, Toga yang dikelola perempuan pembaharu desa Teluk Singkawang mendapat penghargaan PAKARTI UTAMA III dalam lomba pemanfaatan hasil Toga setingkat kabupaten Tebo tahun 2016

 

Mengenal Keunikan Desa Teluk Singkawang

IMG_20160805_184555
Lapangan Desa Teluk Singkawang, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo. (Alimah Fauzan,  5 Agustus 2016).

Kali pertama mendengar tentang desa Teluk Singkawang, kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, di Provinsi Jambi, adalah bahwa masyarakatnya berbahasa Melayu. Selebihnya, hal-hal tentang desa Teluk Singkawang saya dapatkan berdasarkan pengalaman saya sendiri ketika tinggal selama dua hari di desa Teluk Singkawang. Tepatnya pada tanggal 4-6 Agustus 2016. Saat itu, tengah malam di hari pertama tiba di Teluk Singkawang, saya menyaksikan hewan-hewan ternak seperti Sapi dan kerbau, tengah berkeliaran di kampung termasuk di jalan-jalannya. Saat itu saya menyaksikan langsung dari mobil. Lalu pada pagi hari, tiba-tiba di depan rumah warga tempat saya menginap, ada Sapi masuk ke depan halaman tepat depan kaca jendela kamar. Begitupun sepanjang jalan raya di desa Teluk Singkawang, kotoran hewan ternak entah sapi, kerbau, atau kambing, berserakan di jalan. Ternyata memang hewan-hewan ternak di desa ini memang sengaja dibiarkan saja atau dilepas berkeliaran di kampung.

Menurut para ibu di desa Teluk Singkawang, konon pembiaran hewan ternak berkeliaran di kampung bukan hanya persoalan agar mudah mendapat makanan. Namun ada kekhawatiran warga, jika hewan-hewan ternak tersebut dikurung atau tidak dibiarkan jalan-jalan sekitar kampung, maka babi hutan akan turun ke kampung. Awalnya saya memang sempat heran dengan sapi yang bebas berkeliaran di desa. Karena di desa saya sendiri selama ini hanya menyaksikan ayam, mentok atau hewan ternak berukuran kecil saja yang biasa dibiarkan ke sekitar kampung. Bahkan di desa tertentu, sudah ada peraturan desa (Perdes) terkait hewan ternak yang hanya boleh dikandang dan dilarang dilepas berkeliaran di kampung. Namun kondisi setiap desa memang berbeda, tidak bisa disama ratakan satu desa dengan desa lainnya. Termasuk desa Teluk Singkawang dengan keunikan desa dan warganya.

Selain tentang hewan ternak di Teluk Singkawang, di hari kedua, pada pagi harinya saya menemukan pasar yang saat itu masih sepi. Ternyata pasar desa itu bernama Pasar Betuah. Pasar Betuah ini hanya ramai seminggu sekali di hari Minggu. Pasar Betuah adalah tempat dimana para petani karet desa Teluk Singkawang menjual hasil bertani karetnya. Pasar Betuah juga memiliki los-los atau semacam kios pasar dengan nama-nama yang unik dan menarik. Seperti Los Partisipasi, Los Transparansi, Los Keberpihakan Kepada Orang Miskin, Los Sehat, dan nama menarik lainnya. Menurut perangkat desa Teluk Singkawang, Habibi Kami, Pasar Betuah ini dibangun dari dana daerah (cost sharing) pada tahun 2004 melalui Program Pengembangan Kecamatan (PPK), yang sekarang bernama PNPM Mandiri Perdesaan. Sedangkan nama-nama kios di pasar Betuah yang unik itu, diberinama berdasarkan kesepakatan pemerintah desa dan warga melalui musyawarah desa (Musdes) yang saat itu difasilitasi oleh PPK.

Yang juga membuat mata saya terfokus dan berhenti saat berjalan-jalan di desa Teluk Singkawang, adalah banyaknya ladang khusus Toga yang telah diberinama tersendiri. Setiap dusun, nama Toganya berbeda. Sekali lagi, saya yang belum pernah menyaksikan ladang Toga di desa saya sendiri, lagi-lagi terpukau dengan adanya Toga di desa ini yang terkelola dengan baik.

Tanaman Obat Keluarga (Toga) di Desa Teluk Singkawang

Tanaman obat keluarga atau yang populer disingkat Toga adalah tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat. Taman obat keluarga pada hakekatnya adalah sebidang tanah, baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan. Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat disalurkan kepada masyarakat, khususnya obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Budidaya tanaman obat untuk keluarga (Toga) dapat memacu usaha kecil dan menengah di bidang obat-obatan herbal sekalipun dilakukan secara individual. Setiap keluarga dapat membudidayakan tanaman obat secara mandiri dan memanfaatkannya, sehingga akan terwujud prinsip kemandirian dalam pengobatan keluarga.

14123377_120300000078786208_599146864_o

 

14087463_120300000078135803_1243543124_o

Di desa Teluk Singkawang, setiap dusun memiliki Toga sendiri-sendiri. Kendati demikian, letak ladang Toga masing-masing dusun saling berdekatan di pinggir jalan desa. Seperti ladang Toga Harum Sari dan beberapa nama Toga dusun lainnya. Toga ini dikelola oleh perempuan pembaharu desa Teluk Singkawang melalui program yang dilaksanakan oleh Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di desa Teluk Singkawang.

Di Indonesia, pemanfaatan tanaman sebagai obat-obatan telah berlangsung ribuan tahun yang lalu. Pada pertengahan abad ke XVII seorang botanikus bernama Jacobus Rontius (1592 – 1631) mengumumkan khasiat tumbuh-tumbuhan dalam bukunya De Indiae Untriusquere Naturali et Medica. Meskipun hanya 60 jenis tumbuh-tumbuhan yang diteliti, tetapi buku ini merupakan dasar dari penelitian tumbuh-tumbuhan obat oleh N.A. van Rheede tot Draakestein (1637 – 1691) dalam bukunya Hortus Indicus Malabaricus. Pada tahun 1888 didirikan Chemis

14067867_1249892471750623_124468803353091014_o

Pharmacologisch Laboratorium sebagai bagian 14123360_120300000077445163_1563367981_odari Kebun Raya Bogor dengan tujuan menyelidiki bahan-bahan atau zat-zat yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan yang dapat digunakan untuk obat-obatan  Selanjutnya penelitian dan publikasi mengenai khasiat tanaman obat-obatan semakin berkembang.

Begitupun di desa Teluk Singkawang, Toga sangat bermanfaat bagi warga di desa. Meskipun hewan ternak di sana dibiarkan bebas memakan rumput dan tanaman, namun kebun Toga yang dipelihara dengan baik dan dipagar bambu tetap tumbuh dan terawat dengan baik. Tidak heran jika pemeliharaannya mendapatkan penghargaan dalam perayaan kemerdekaan RI ke-71. Toga yang dikelola perempuan pembaharu desa Teluk Singkawang mendapat penghargaan PAKARTI UTAMA III dalam lomba pemanfaatan hasil Toga setingkat kabupaten Tebo tahun 2016.

 

 

 

 

Pemanfaatan Tanaman Obat (TOGA)

14152120_120300000077870390_1271275486_o

Toga dapat dimanfaatkan sebagai obat. Bagian tanaman terdiri dari bagian daun, kulit batang, buah, biji, bahkan pada bagian akarnya. Contohnya seperti Daun dewa (Gynura Segetum), dapat mengobati muntah dara

h dan payudara bengkak. Seledri dapat Mengobati tekanan darah tinggi. Belimbing dapat mengobati tekanan darah tinggi. Kelor dapat mengobati panas dalam dan demam. Daun bayam duri dapat mengobati kurang darah. Kangkung dapat mengobati insomni. Saga (Abrus precatorius) dapat mengobati batuk dan sariawan, dan lain sebagainya.

 

Perawatan tanaman obat

Tanaman yang dipelihara di pekarangan rumah tidak memerlukan perawatan khusus, baik sebagai bumbu dapur atau bahan obat. Perlakuan khusus dalam budi daya tanaman obat dilakukan dalam skala usaha, dengan tujuan untuk memperoleh kualitas dan kuantitas hasil yang optimum. Kegiatan pemupukan dan pengandalian hama penyakit tanaman perlu dilakukan. Kegiatan ini sangat erat hubungannya dengan penggunaan bahan kimiawi yang terkandung dalam pupuk atau pestisida. Pemakaian bahan kimiawi dapat mencemari lingkungan, baik tanah maupun air, dan yang paling berbahaya residu yang dihasilkan akan terakumulasi dalam produk tanaman yang dihasilkan. Untuk itu, perlu diperkenalkan sistem budi daya yang tidak tergantung pada bahan-bahan kimia. Sistem ini dikenal dengan istilah pertanian organik. Dalam budi daya tanaman obat dapat dimanfaatkan pupuk organik untuk menambah unsur hara mineral yang dibutuhkan tanaman. Pupuk organik yang digunakan di antaranya adalah pupuk kandang, bokhasi, kompos, humus, sampah dapur, dan serasah daun. Selain itu, sebagai bahan pengendali hama penyakit tanaman, dapat dimanfaatkan pestisida alami yang terdapat di sekitar rumah, seperti tanaman babadotan (Ageratum conyzoides), sirsak, lantana, dan daun tembakau.

====

*Tulisan ini dikisahkan oleh Alimah Fauzan berdasarkan pengalamannya berkunjung di  desa Teluk Singkawang serta dilengkapi keterangan tentang Toga dari artikel di https://id.wikipedia.org/wiki/Tanaman_obat_keluarga.

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.