AMBON MANISE 2: Petuanan dan Gadis Kayeli

Dikisahkan oleh Lalita Isvara*

Bagi masyarakat Pulau Buru, sebelum mereka memiliki Namlea sebagai ibukota Kabupaten Bu, penyebutan Kayeli memberi makna yang luar biasa. Perasaan serba indah, mewah, terpandang, penuh kehormatan, serba mudah, apa apa tersedia, adalah makna dan perasaan yang dilekatkan pada Kayeli.

Kayeli adalah kota tua yang dipakai oleh Portuges untuk mengendalikan pengumpulan dan pengiriman rempah-rempah dan Pulau Buru dan pulau-pula kecil di sekitarnya.Ketika Portugis bangkrut, Belanda menggantikan bisnis dan penguasaan wilaayah ini dengan menaklukan para Raja Marga yang jumlahnya mencapai 13 raja yang tersebar dari pantai sampai gunung, dan kemudian hendak menaklukan hati merek dengan membuat semacam wisma, yang menjadi tempat tinggal mereka saat harus hadir dalam rapat-rapat koordinasi yang dilakukan oleh Belanda,

Tak ayal lagi, saat Portugis menjadikan wilayah ini hanya untuk gudang gudang barang rempah, kini menjadi kota yang memberikan otonomi kecil bagi para raja untuk mengurus rumah tangga kecilnya. Di sanalah biasanya orang dari marga yang ingin bertemu rajanya diterima. Disanalah rakyat dijami, diberi hiburan kota, dan berganti susanan pemandangan.

Mereka yang biasanya berpakaian seadaannya, saat di Kayeli mereka mandi dan makan serta tidur lebih teratur, sehingga menjadi berubah penampilan saat kembali ke desa menjadi tampak lebih mengkilat , harum, dan pakaian yang lebih bersih, setengah formal, berbeda saat kembali ke desa asal di pedalaman atau tepi pantai. Gadis Kayeli tiba-tiba menyeruak menjadi citra baru perempuan ideal yang diimpikan oleh para putra raja.

Ini tak ubahnya saat sebagaian masyarakat petani melihat kota Trowulan sebagai ibukota Majapahit, serta Kartasura (kini pindah ke Solo) menampilkan kota yang dengan para perempuan yang cantik, ramping, harum , lemah gemulai, tutur katanya halus dan setengah meggoda dengan renyah tawanya, menjadi citra baru masyarakat bahkan semacam menjadi standar bahwa gadis cantik seperti Putri Solo.

Begitulah Gadis Kayeli, yang menjadi penggenap kesenganan para Kepala Marga (Petuanan) lebih banyak tinggal di kota daripada mengurus adat dan wilayah adatnya di masa penjajahan Belanda. Kemegahan Kayeli usai Belanda pergi kemudian runtuh dan digantikan oleh Namrole, sebagai kota pelabuhan kecil di tepi laut Banda dengan gelombang yang besar dan hanya ceruk kecil ini yang bisa didarati; dan Namlea di sebelah utara.

Namlea kemudian menjadi kota dengan pesona baru sebagai ibukota Kabupaten Buru di sebalah utara, dan pada April 2009 dimekarkan menjadi 2 Kabupaten, menjadi Kabupaten Buru Selatan yang beribukota di Namrole. Sejak jaman dulu hingga 2008 tak ada jalan darat antara dua kota itu, barulah 2009 jalan rintisan dibangun, di saat di Jawa jalan aspal sudah puluhan kali diaspal ulang.

Begitulah kemolekan Kayeli, gadis dan petuanannya, ditingalkan orang yang beralih pandang ke Namlea dan Namrole, sebagai pusat puat pesona baru, dari hanya bisa ditembus laut, kini bisa mulai dituju dengan darat dan udara, karena keduanya bersaing membangun bandar untuk bisa didarati pesawat komersial dari Ambon dan Makasar serta Ternate.

Bersambung ke AMBON MANISE 3: Mata Rumah dan Penguasaan Lahan

===

* Tulisan berdasarkan pengalaman Lalita Isvara saat berkunjung ke Ambon Manise. Tulisan ini merupakan catatan perjalanannya selama di Ambon.

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
About Perempuan Berkisah 106 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply