AMBON MANISE 3: Mata Rumah dan Penguasaan Lahan

Ini hanya kukenal di Pulau Buru. Meskipun di pulau lain ada praktek serupa, tetapi akhirnya runtuh oleh pemilikan individu. Ya, mata rumah dan penguasaan lahan. Penguasaan lahan secara tradisional memiliki tiga jenis: pertama pemilikan pribadi (private land), kedua pemilikan bersama (communal land), dan kepemilikan kelembagaan adat (customary land). Konsep ini hanya dikenal di luar Jawa, khususnya di Pulau Buru. Bagian ini membahas tentang pola penguasaan lahan di Pulau Buru.

Dalam pandangan orang Buru, bumi, laut dan langit beserta isinya adalah milik Tuhan dan manusia diberi karunia hanya untuk memanfaatkannya dan tidak kuasa untuk memilikinya. Mandat dari Tuhan itu dipercayakan kepada Raja sebagai orang yang memiliki kearifan tertentu dalam tata adat, kecerdasan, dan kemampuan mengendalikan wilayah dan masyarakat, serta berhubungan dengan pihak lain. Mereka dipilih secara turun temurun pada marga (clan) tertentu dan tidak bisa dipertukarkan, Artinya jabatan Raja akan menjadi warisan abadi, begitupun dengan jabatan-jabatan lain di bawah raja yang lekat dengan suku klan sejak awal. Inilah yang disebut kepastian penguasaan (determinasi politik) pada penguasaan sosial dan wilayah sumberdaya secaa istimewa.

Pola seperti disebutkan di atas menjadi jawaban atas kemungkinan persengketaan pada masa depan dari waktu ke waktu yang diselesaikan dengan mekanisme tata kelola sengketa adat, dengan puncaknya adalah sumpah adat untuk perkara yang sangat rumit.

Mata rumah adalah istilah yang dipakai untuk membuat pola penguasaan lahan tinggal dan areal kebun budidaya pangan bagi keluarga awal yang menempati wilayah ini. Nama laki-laki yang menjadi keluarga awal dijadikan rujukan sebagai mata rumah. Keluarga yang timbul dari keluarga itu akan mengikuti jalur bapak (patrilinial) untuk masuk dalam suku tertentu dan mengelola sumberdaya yang menjadi hak keturunan mata rumah. Itu seperti kita memasang patok untuk sejumlah tempat rumah secara berjejer pada jarak tertentu, kemudian lahan yang dibelakangnya itulah yang menjadi hak keluarga itu dan keturunannya untuk secara bersama-sama menumpukan kehidupan pada pengelolaan sumberdaya yang ada di sana. Tidak ada penguasaan pribadi, dan hanya ada dalam penguasaan bersama (komunal).

Kehidupan pribadi orang buru lebur dalam sistem sosialnya dalam hal pengelolaan sumberdaya alam dengan berpayung pada penguasaan mata rumah dan lahan yang dikuasainya. Berbeda dengan di Jawa, setiap keluarga hadir dengan pemilikan lahan secara perorangan tanpa mempedulikan siapa mata rumah pendahulunya. Apakah keuntungan dan kelebihan dari sistem penguasaan lahan di Buru dan Jawa?

Bersambung ke AMBON MANISE 4: Antara Gadis Kayeli dan Jejaka Fogi

===

* Tulisan berdasarkan pengalaman Lalita Isvara saat berkunjung ke Ambon Manise. Tulisan ini merupakan catatan perjalanan kritisnya selama di Ambon. Namlea, August 24, 2016. Edisi: jelajah negeri.

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
About Perempuan Berkisah 106 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply