Gema Suara Perempuan Ditinggalkan Ibu (1)

Dikisahkan oleh Alimah Fauzan*

Tanyakan pada perempuan mana pun yang kehilangan ibunya, tak dapat dipungkiri bahwa ia berubah. Bahkan boleh dibilang mengalami perubahan besar akibat kematian itu. Sama seperti sebelumnya ketika kehidupan perempuan yang dicintainya itu memengaruhi hidupnya. (Motherless Daughters)

Meskipun kematian ibu tak dapat dihindarkan seperti datangnya malam, tak ada buku lain yang dapat menyampaikan pesan tentang pengaruh yang terus bertahan akibat kehilangan tak ternilai ini. Buku ini berjudul “Motherless Daughters”, tentang gema suara perempuan yang kehilangan ibu. Ini penjelajahan yang sangat berani ke dalam sebuah perjalanan yang mengubah kehidupan seorang perempuan. Bagaimana kehadiran uluran tangan yang penuh perhatian dapat membentuk identitas seorang perempuan. Mengapa melewati bersama tahun-tahun terakhir kehidupan ibunya, mengingatkan seorang anak perempuan tentang masa perpisahan yang sangat indah. Bagaimana hubungan-hubungan di masa kini dipengaruhi oleh kehilangan di masa lalu. Apa yang dapat diperbuat perempuan yang tidak mendapat perhatian ibu untuk menuntut hubungan baik dengan garis keturunan keluarga pihak ibu. Bagaimana cara memahami dukacita: bukan sebagai perlintasan, tapi sebagai perjalanan yang terus berlanjut.

Buku ini ditulis Hope Edelman (mungkin salah satu dari kompasianer sudah ada yang pernah membacanya). Hope Edelman mempunyai gelar sarjana di bidang jurnalisme dari Northwestern University dan gelar Master di bidang penulisan kreatif nonfiksi dari University of Iowa. Semua artikel dan esainya muncul dalam sejumlah besar penerbitan. Ia menerima penetapa Notable Book of The Year dari New York Times dan Puschart Prize untuk karya nonfiksi kreatif. Saat ini ia menjabat sebagai anggota staf dosen pembantu dalam program MFA di Antioch University-LA. Ia tinggal bersama suami dan kedua putrinya di Topanga Canyon, California.

Meski buku pertama diterbitkan lebih dari satu decade lalu, Motherless Daughters—Anak-anak Perempuan tanpa Ibu, masih tetap dinantikan para perempuan dari segala usia untuk mendapatkan pengertian dan kenyamanan ketika ibu mereka meninggal, buku yang akan terus mereka baca. Disusun berdasarkan wawancara dengan ratusan orang yang bertahan setelah kehilangan ibu, buku ini merefleksikan pengalaman pribadi penulis terhdap dampak yang terus berlanjut dari kehilangan ibu. Setelah menikah dan menjadi ibu dari beberapa anak, Hope Edelmen akhirnya memahami pengaruh kehilangan ibu yang berubah dari waktu ke waktu serta pengaruhnya dalam membuka hubungan baru.

Ditinggalkan Ibu Menjadi TKW

Gema Suara Anak Perempuan Ditinggalkan Ibu (1)Di tengah hingar bingar malam tahun baru 2011, aku dipertemukan buku itu di Gramedia Cirebon. Setelah sekian lama mencari buku yang bisa menjawab kegelisahanku. Buku ini juga benar-benar meginspirasiku, terutama di tengah prosesku menuliskan pertemuan-pertemuanku dengan anak-anak perempuan yang ditinggalkan ibunya menjadi tenaga kerja wanita (TKW).

Saya adalah bagian dari perempuan-perempuan itu. Saya juga masih di tengah-tengah mereka. Mereka sama denganku sama-sama memiliki ‘mimpi’-nya. Menyaksikan dari tahun ke tahun bagaimana anak-anak perempuan itu beranjak dewasa. Termasuk bagaimana mereka melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ibunya, menjadi TKW. Bagaimana mereka berkali-kali dipedaya dan bahkan terjebak dalam perdagangan orang (trafficking). Mereka masih menahan kewarasanku yang nyaris ‘gila’. Untuk terus merasakan apa yang tak ingin kurasakan. Seperti pertemuanku dengan Sri dan Indah (bukan nama sebenarnya).

Sri (15) asal Indramayu. Ia adalah anak perempuan yang ditinggalkan ibunya menjadi TKW dan bapaknya yang menikah lagi sejak ia masih sangat kecil dan tinggal bersama keluarga bibinya. Ia pernah berjuang keluar dari salah satu tempat prostitusi di Tangerang. ”saya selalu yakin, bisa keluar dari tempat itu.” Demikian, untuk kali ke sekian dia meyakinkan diri bahwa kesempatan itu masih ada. Satu bulan sebelum pertemuanku dengannya, dia masih tersekap dan tersiksa bertubi-tubi di salah satu tempat prostitusi itu. Kendati begitu, detik-detik jelang pembuktian keyakinannya, dia tak segan-segan meyakinkan sejumlah teman yang senasib dengannya, dan mengajak mereka untuk keluar dari tempat prostitusi itu. Keyakinannya yang tak pernah redup untuk lepas dari jerat perdagangan orang (trafficking). Namun, entah rantai apa yang mengikat teman-temannya. Bujukannya untuk keluar bersama-sama melalui ruang bawah tanah, pun sia-sia.

Awalnya Saya sempat ragu apakah Sri bersedia menemuiku dan berbagi pengalamannya denganku. Namun tidak lama kemudian, akhirnya Sri datang ditemani bibinya. Perawakannya mungil, tutur katanya tegas dan terkontrol. Selama beberapa jam dan berdebar-debar menunggunya, akhirnya dengan suara terbata, dia menuturkan pengalamannya saat terjebak trafficking. Dalam setiap tuturnya, saya menangkap ketegaran dan kemauan kuatnya untuk keluar dari jebakan itu.

Di usianya yang belum cukup umur, Sri telah dijual oleh bibi-nya (adik dari Ibunya). Awalnya, Sri diiming-imingi kerja di sebuah pabrik roti dengan gaji besar. Namun siapa sangka bibi-nya malah menyerahkannya pada orang lain. Ya, Sri dijual untuk dijadikan sebagai perempuan penghibur di diskotik Tanggerang.

“Akhirnya saya ditempatkan di asrama yang menyatu dengan gedung diskotik, katakanlah asrama bagi para mucikari. Diskotik itu ditutup dengan gerbang yang cukup besar, sehingga tidak sembarangan bisa keluar masuk. Apalagi dijaga ketat oleh para penjaga berbadan besar,” katanya dengan ekspresi wajah yang menampakkan kesedihan. tak gentar akan ancaman di asrama itu, Sri dikurung selama beberapa hari. Karena ketika mendengar akan dipekerjakan sebagai pelacur, Sri tak henti-hentinya memberontak dan berusaha kabur dari tempat itu. Meskipun lagi-lagi usahanya selalu gagal.

“Pada saat ditawarkan untuk bekerja, saya hanya diberitahu bahwa saya akan diantar bekerja di pabrik roti, tetapi tenyata saya akan dijual di sebuah tempat prostitusi,” tutur Sri ketika. Di asrama, Sri berkenalan dengan perempuan bernama Poppy. Dari Poppy pula Sri mengetahui bagaimana cara lari (kabur) dari prostitusi itu. Jika mau kabur, menurut Poppy ada jalan keluar di ruang bawah tanah. “Semacam got, tapi itu juga percuma, karena akan semakin disiksa,” kenangnya.

Sehingga, lanjut Sri, mau tak mau Poppy terpaksa bekerja sebagai pelacur. Berbeda dengan Poppy, Sri bertekad untuk tetap keluar dari tempat prostitusi itu. Sri juga selalu menolak melayani tamu lelaki hidung belang. ”Ketika saya ditawar-tawarkan pada beberapa tamu, saya selalu menolak. Karena saya hanya ingin jadi pelayan diskotik, bukan perempuan yang melayani lelaki. Tetapi ditolak oleh mami dan saya dipukulin lagi.”

Pernah suatu ketika Sri mencoba kabur, dengan bantuan sejumlah tamu yang bersimpati padanya. Namun lagi-lagi gagal. Akhirnya Sri kembali lagi bekerja. ”Tetapi setiap ada tamu, saya tidak bisa melayani, melainkan mengajaknya mengobrol sehingga kebanyakan dari mereka simpati pada saya. Meski memang ada beberapa di antaranya malah menyiksa saya karena tidak mau diajak berhubungan badan,” ungkap Sri.

Kendati tidak ada pilihan untuk tidak melayani lelaki, bukan berarti niatnya untuk kabur menjadi redup. Upaya kabur terus dilakukannya, meskipun lagi-lagi dia harus menerima siksaan karena selalu tertangkap basah. Bahkan siksaan terakhir yang diterimanya, membuat matanya buta selama beberapa bulan. ”Di malam hari saat terakhir saya disiksa, saya kembali mencoba kabur setelah semua orang di tempat itu terlelap. Sebelum kabur, saya juga berusaha untuk membantu teman-teman yang senasib dengan saya. Bahkan sebagian uang saya diberikan untuk mereka agar mereka memiliki ongkos pulang. Namun, mereka semua tidak ada yang bersedia diajak kabur. Sehingga dengan berat hati dia harus kabur sendirian melewati ruang bawah tanah.

”Perjalanan ruang bawah tanah harus saya tempuh selama satu jam. Ruangan itu baunya seperti bau mayat-mayat,” ujar Sri yang saat itu hanya berbekal tang atas pemberian salah seorang pelayan mau membantunya.Tepat pukul 07.00, Sri berhasil keluar dari gedung diskotik. Kantor Polisi terdekat pun menjadi sasaran tujuannya. Sayangnya, Sri malah dipertemukan dengan orang-orang yang telah menjualnya, yakni kerabat dari ibunya. Namun dia menolak untuk pulang. Akhirnya dia meminta

diantarkan kepada orang tua angkatnya yang dainggap masih menyayanginya. Dari mereka, Sri pun dirawat di rumah sakit selama beberapa hari hingga kembali sehat. Setelah kejadian itu, Sri lebih memilih diam dan mengikhlaskan semuanya.

Bersambung di bagian 2 (kelanjutannya dibaca di Suara Perempuan Ditinggalkan Ibu (1) )

=====

*Tulisan ini berdasarkan review Alimah Fauzan tentang buku berjudul “Motherless Daughters” dan dilengkapi pengalaman pribadinya dalam melakukan pendampingan kasus trafiking dan buruh migran. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di blog pribadinya dan kompasiana tahun 2012.

About Perempuan Berkisah 174 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply