Perempuan Mematung di Saung Kami (1)

Dikisahkan oleh Farida Mahri*

Siapa perempuan itu? Saat itu, yang terbayang di kepalaku adalah  perempuan yang kebingungan mencari makan buat anak-anaknya yang banyak, sementara penghasilan suami tidak seberapa, air sulit di dapat, tanahpun tidak punya, dan lain-lain.  Kampung Karangdawa terletak di Desa Setupatok, berbatasan dengan Kotamadya Cirebon. Kampung yang meranggas karena sulitnya air meski terletak di dekat waduk Setupatok. Kampung yang ditinggalkan warganya untuk merantau mencari rejeki. Tanah-tanah kering dan sudah menjadi milik orang kota.

gadis-danau-laut-tawar-salah-satu-karya-lukis-putra-gara

Sore itu, aku dan seorang rekan mengunjungi lahan yang menjadi laboratorium belajar Wangsakerta*. Sampai di tempat, kami segera memarkir motor. Terlihat dua motor lainnya sudah terparkir, motor milik rekan-rekan kami. Dari kejauhan, aku melihat ada seorang perempuan duduk di saung, tempat berkumpul kami.  Dia duduk membelakangi pintu masuk saung. Rambutnya pendek dan agak ikal. Dia memakai baju model dress jaman dahulu. Perawakannya seperti perempuan berumur empat puluhan. Dia diam saja, ketika kami mendekat. Tidak menyapa, dan tatapannya lurus ke depan. Mungkin orang gila, pikirku.

Dengan penuh rasa sedikit khawatir, kami memutuskan langsung ke bagian belakang lahan. Kami menemukan teman-teman kami yang sedang menyangkul akar rumput.

“Siapa itu pak?” tanyaku pada seorang rekan.

“Orang gila, biarin saja,” jawab temanku singkat.

Hujan turun, kami berenam segera berlari menuju saung untuk berteduh. Perempuan itu tetap di saung, dan mematung.  Di saung, kami duduk bersantai dan bersenda gurau sambil menunggu hujan reda. Seorang temanku berusaha mengajak perempuan itu bicara.

“Bu, namanya siapa?” Beberapa pertanyaan lain kami lontarkan.

Namun perempuan itu tetap dalam kebisuannya. Matanya menatap jauh ke depan, Entah apa yang dipikirkannya.

Di tengah senda gurau kami, tiba-tiba perempuan itu berkata, “aku mau pulang” dan tangannya memberi isyarat mengajak sembari siap beranjak dari tempat duduknya. Kami spontan menanggapi, “nanti aja bu, nunggu hujan reda”. Namun dia kembali diam.

“Ibu rumahnya di mana? di Karangdawa?” tanyaku. Perempuan itu menganggukkan kepala, lalu kembali duduk, diam dengan tatapan kosongnya.  Beberapa menit kemudian datang dua orang perempuan paruh baya. Mereka menerobos hujan dan menggendong kayu. Sepertinya habis mencari kayu bakar. Seorang di antaranya mendekat “hayo pulang?” katanya kepada perempuan yang mematung itu. Sementara perempuan itu tetap diam.

“Siapa dia bu?” tanyaku. Lalu mengalirlah cerita singkat dari si ibu yang kira-kira dapat kusimpulkan begini:  Perempuan ini adalah penduduk kampung sebelah (Karangdawa). Ia sudah sebelas tahun gila, sudah berobat kemana-mana tidak juga sembuh, Obat-obatan dibuangnya. Ia punya suami dan anak yang banyak.  Satu pertanyaan terakhir sempat kulontarkan sebelum si ibu berhasil mengajak perempuan itu pulang.

“Kenapa ia gila bu?” tanyaku lagi.

“kurang makan,” jawab si Ibu.

Jawaban yang menghentakku, membuat ngilu hatiku. Kurang makan, adalah bahasa orang kampung yang menggambarkan kemiskinan yang di derita.

Saat itu, yang terbayang di kepalaku adalah  perempuan yang kebingungan mencari makan buat anak-anaknya yang banyak, sementara penghasilan suami tidak seberapa, air sulit di dapat, tanahpun tidak punya, dan lain-lain.  Kampung Karangdawa terletak di Desa Setupatok, berbatasan dengan Kotamadya Cirebon. Kampung yang meranggas karena sulitnya air meski terletak di dekat waduk Setupatok. Kampung yang ditinggalkan warganya untuk merantau mencari rejeki. Tanah-tanah kering dan sudah menjadi milik orang kota.  Perempuan yang mematung di saung itu, akhirnya mau diajak pulang oleh dua perempuan tetangganya. Dia beranjak dari balai di saung, tanpa kata-kata. (Bersambung Perempuan Mematung di Saung Kami 2).

====

Keterangan Penulis:

http://www.haguetalks.com/user-files/uploads/cache/Farida-mj2yksen2bd3gvurxkkgizoo0h1b80s1vz0v71vr42.jpg
Farida Mahri (sumber: http://www.haguetalks.com/speaker/farida/)

Kisah nyata, singkat dan ringan ini baru bagian 1 dari tulisan Farida Mahri berdasarkan pengalamannya saat berproses dengan para pegiat Wangsakerta. Sebagai pengantar di tulisan berikutnya atau bagian ke-2. Farida Mahri adalah merupakan salah salah satu pendiri Yayasan Wangsakerta. Yayasan Wangsakerta yang didirikannya bersama rekan-rekannya mempunyai visi mewujudkan masyarakat yang cukup pangan, cukup energi, cukup informasi, dan mampu menentukan diri sendiri.

*Wangsakerta dimaksudkan untuk menjadi tempat belajar dan pangkalan bagi kelompok-kelompok masyarakat, lembaga pendidikan dan lembaga kebudayaan dalam hal pembangunan kapasitas, berjaringan melalui mobilisasi sumberdaya masyarakat untuk pemberdayaan masyarakat itu sendiri serta melakukan kerja perubahan sosial secara partisipatif dengan menumbuhkan kesadaran kritis-emansipatoris melalui pendidikan dan pengorganisasian sosial. Dia juga pernah bekerja sebagai deputi rektor di ISIF, Cirebon, juga di LSM baik interasional maupun nasional di antaranya sebagai di American Center for International Labor Solidarity (ACILS) dan Search for Common Ground (SFCG), Yayasan Pulih, IDEA Yogyakarta dan Aji Yogyakarta. Ia juga bekerja sebagai konsultan riset dan evalusi program untuk isu gender, buruh migran, trafiking dan isu terkait lainnya. Keterlibatannya di dalam forum internasional antara lain menjadi pembicara di acara Hague Talk, Den Hague, Belanda tahun 2015 dan Narasumber dalam workshop Jurnalisme dan Trauma dii Bangkok, Thailand tahun 2008 dan presenter makalan di Konferensi Perempuan dan Gender di Bangkok, Thailand tahun 2003. Saat ini masih terlibat di IDEA Yogyakarta sebagai anggota Badan Pekerja, mengajar di salah satu perguruan tinggi (PT) di Cirebon, dan yang paling utama adalah kegiatannya sebagai koordinator umum di Yayasan Wangsakerta Cirebon.

===

sumber gambar 1: http://lintasgayo.co/

 

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
About Perempuan Berkisah 106 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply