Perempuan Mematung di Saung Kami (2)

Dikisahkan oleh Farida Mahri*

Pada suatu waktu kami melihat seorang perempuan yang badannya kotor, pakaian compang-camping dan berbicara sendiri di jalanan. Anak saya bertanya, ada apa dengan dia mama? Pertanyaan itu saya jawab dengan singkat “dia gila”. Namun ketika anak saya bertanya lagi, “mengapa dia menjadi gila? pertanyaannya hanya dapat saya jawab dengan berbagai kemungkinan penyebab. Petanyaan tersebut kembali tergiang saat saya bertemu dengan perempuan yang mematung di saung Wangsakerta. Mengapa perempuan itu menjadi gila?

Perempuan antara Kemiskinan dan Gangguan Jiwa

Gila menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sakit ingatan atau orang yang kurang beres ingatannya), atau sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal)  atau suatu keadaan yang disebabkan karena menderita tekanan batin yang sangat berat. Sementara dunia medis menggunakan istilah gangguan jiwa atau gangguan mental emosional untuk situasi ini.

Di tahun 2015, media banyak melansir berita perihal meningkatnya jumlah  penderita gangguan jiwa di Indonesia. Hasil  riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan Kementerian kesehatan tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan adalah sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas  atau  sekitar 14 juta orang.  Sedangkan, prevalensi gangguan jiwa berat, seperti schizophrenia adalah 1,7 per 1000 penduduk atau sekitar 400.000 orang.

Di Jawa Barat jumlah penderita gangguan jiwa di Jawa Barat naik sekitar 63% . Data Riskesdas 2013 menyebutkan, pasien gangguan jiwa ringan hingga berat di Jabar mencapai 465.975 orang naik signifikan dari 2012 sebesar 296.943 orang. Sejumlah hasil studi menunjukkan lebih banyak perempuan mengalami gangguan kejiwaan dibanding laki-laki.

Daniel Freeman Ph.d. seorang profesor dalam bidang psikologi dari Universitas Oxford  mengatakan bahwa perempuan memiliki risiko depresi, gangguan panik, fobia, insomnia, gangguan stres pasca trauma, serta gangguan pola makan. lebih tinggi ketmbang laki-laki. Beberapa pakar menyakini depresi pada perempuan ini disebabkan oleh tiga faktor yakni 1) biologis 2) psikologis dan 3) lingkungan.

Faktor biologis dan  psikologis berjalinkelindan menyebabkan terjadinya depresi pada perempuan. Perempuan mengalami mensturasi dan melahirkan yang mempengaruhi perkembangan horman hingga mempengaruhi situasi emosinya. Sementara faktor ketiga yakni lingkungan meliputi sistuasi sosial budaya, politik dan ekonomi  menyangkut pandangan-pandangan terhadap perempuan, peran dan tanggungjawabnya. Pertanyaannya kemudian lingkungan seperti apa yang membuat banyak orang mengalami gangguan jiwa?

Apabila kita hubungkan berbagai data yang menggambarkan situasi  sosial di tahun 2013 misalnya, kita dapat melihat pada tahun tersebut angka kemiskinan melonjak. Data BPS di tahun 2013 meunjukkan Jumlah penduduk miskin pada September 2013 sebesar 28,55 juta orang atau 11,47 persen, dibandingkan Maret 2013 meningkat 480 ribu orang terbesar di pulau Jawa, kemudian Sumatera, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Papua serta Kalimantan. Data tersebut membuat saya menyakini bahwa kemiskinanlah yang memicu peningkatan jumlah penderita gangguan jiwa. Kemiskinanlah yang  menjadi penyebab utama gangguan jiwa yang diderita perempuan.

Dalam pandangan konservatif  perempuan ditempatkn di ranah domestik yakni berperan sebagai pengelola, pelaksana dan pelayan dalam rumah tangga bagi suami dan anak termasuk mengelola uang yang diberikan suami untuk kebutuhan keluarga. Perempuan tidak mencari nafkah  sebagai ciri peran publik yang disematkan pada laki-laki. Pada saat kondisi ekonomi memadai dan stabil, perempuan dapat dengan mudah menjalani perannya. Namun demikian ketika keadaan ekonomi tidak memadai  ia kesulitan menjalani perannya, sementara suami tidak otomatis dapat turut serta mengambil peran domestik. Situasi ini  lambat laun menjadi tekanan batin perempuan dan terus menumpuk tanpa penyelesaian hingga ia mengalami gangguan jiwa.

perempuan-termenungPerempuan Paling Rentan Terdampak Kemiskinan

Di sisi lain dalam suatu keluarga miskin perempuanlah yang paling terkena dampak kemiskinan dan yang paling miskin. Mengapa demikian, karena hingga saat ini bersekolah hingga ke jenjang tinggi dan bekerjabagi perempuan masih sering dianggap tidak penting. Padahal untuk bekerja atau berusaha di sektor-sektor dengan penghasilan memadai membutuhkan penguasaan ilmu yang cukup. Bekerja untuk menghasilkan uang juga masih menjadi domain laki-laki. Di lain pihak perempuan  harus cukup pandai mengelola keuangan rumah tangga untuk mencukupi kebutuhan keluarga termasuk untuk mencukupi kebutuhannya sebagai perempuan misalnya pemenuhan hak kesehatan reproduksi.

Dalam keluarga miskin, perempuan juga rentan mendapatkan  kekerasan dari suami. Suami yang stress karena kesulitannya mencari nafkah seringkali melampiaskan kemarahannya pada isteri. Dengan demikian kita dapat membayangkan rumitnya kehidupan perempuan. Perempuan desa yang tidak memiliki aset tanah untuk usaha, tidak punya ketrampilan, suami kerja serabutan dan anak banyak, kebingungan setiap hari. Ia dilanda cemas setiap hari dan akhirnya menjadi depresi berat, dan tidak lagi dapat mengelola kesadarannya.

Lalu bagaimana kita mencegah kegilaan ini? Segala upaya tidak dapat dilepaskan dari tanggungjawab pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan. Segala program penanggulangan kemiskinan yang dilaukan pemerintah dari tingkat pusat hingga desa perlu mempertimbangkan aspek gender, yakni melihat seberapa jauh program-program tersebut meningkatkan harkat dan martabat hidup orang baik laki-laki dan perempuan. Intervensi program perlu melihat terlebih dahulu seberapa jauh kemiskinan di derita secara spesifik antara laki-laki dan perempuan beserta dampaknya hingga bisa mengatur strategi intervensi program dengan kuantitas dan kualitas yang seimbang antara laki-laki dan  perempuan.

Disahkannya UU Desa tahun 2014 pada dasarnya memberi peluang yang sangat besar bagi pemerintah khususnya pemerintah desa untuk membuat program penanggulangan kemiskinan terhadap perempuan dengan lebih strategis. Dengan adanya UU ini dimungkinkan peningkatan peran masyarakat khususnya perempuan dalam pembangunan desa mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan. Dengan demikian perempuan bisa ikut andil dalam memetakan situasi rumah tangga, menyangkut kepemilikan, masalah, kebutuhan, tantangan dan potensi pemenuhan kesejahteraannya. Namun demikian apakah pemerintah langsung dapat melihat masalah ini dan mengambil peran untuk mengatasinya, itu juga belum tentu. Upaya pencegahan gangguan jiwa ini perlu menjadi upaya kita bersama yang peduli pada kemanusiaan. Akhirnya munculnya gangguan jiwa pada perempuan dan laki-laki dapat di cegah. []

====

Keterangan Penulis:

http://www.haguetalks.com/user-files/uploads/cache/Farida-mj2yksen2bd3gvurxkkgizoo0h1b80s1vz0v71vr42.jpg
Farida Mahri (sumber: http://www.haguetalks.com/speaker/farida/)

Ulasan ini merupakan lanjutan dari pengalaman nyata Farida Mahri dalam Perempuan Mematung di Saung Kami 1, dari kisahnya yang singkat dan ringan. Farida Mahri merupakan salah satu pendiri Yayasan Wangsakerta. Yayasan Wangsakerta yang didirikannya bersama rekan-rekannya mempunyai visi mewujudkan masyarakat yang cukup pangan, cukup energi, cukup informasi, dan mampu menentukan diri sendiri.

*Wangsakerta dimaksudkan untuk menjadi tempat belajar dan pangkalan bagi kelompok-kelompok masyarakat, lembaga pendidikan dan lembaga kebudayaan dalam hal pembangunan kapasitas, berjaringan melalui mobilisasi sumberdaya masyarakat untuk pemberdayaan masyarakat itu sendiri serta melakukan kerja perubahan sosial secara partisipatif dengan menumbuhkan kesadaran kritis-emansipatoris melalui pendidikan dan pengorganisasian sosial. Dia juga pernah bekerja sebagai deputi rektor di ISIF, Cirebon, juga di LSM baik interasional maupun nasional di antaranya sebagai di American Center for International Labor Solidarity (ACILS) dan Search for Common Ground (SFCG), Yayasan Pulih, IDEA Yogyakarta dan Aji Yogyakarta. Ia juga bekerja sebagai konsultan riset dan evalusi program untuk isu gender, buruh migran, trafiking dan isu terkait lainnya. Keterlibatannya di dalam forum internasional antara lain menjadi pembicara di acara Hague Talk, Den Hague, Belanda tahun 2015 dan Narasumber dalam workshop Jurnalisme dan Trauma dii Bangkok, Thailand tahun 2008 dan presenter makalan di Konferensi Perempuan dan Gender di Bangkok, Thailand tahun 2003. Saat ini masih terlibat di IDEA Yogyakarta sebagai anggota Badan Pekerja, mengajar di salah satu perguruan tinggi (PT) di Cirebon, dan yang paling utama adalah kegiatannya sebagai koordinator umum di Yayasan Wangsakerta Cirebon.

===

sumber ilustrasi: nanang

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.