Prospek Pelibatan Perempuan dalam Rehabilitasi Hutan

Kegiatan penanaman sistem tumpang sari yang menyertai pelaksanaan rehabilitasi hutan disambut dengan baik masyarakat sekitar hutan. Pada kegiatan inilah perempuan banyak mencurahkan waktunya. Mereka melakukan gotong-royong mulai dari kegiatan penanaman, penyiangan dan pemanenan. Sesungguhnya, sistem kerja gotong-royong sudah lama hilang dalam kehidupan mereka karena sudah sekian lama mereka tidak memiliki lahan. Gotong-royong disamping bermakna mempererat hubungan kekeluargaan juga menghemat biaya dan mempercepat pekerjaan. Di samping itu sistem ini juga memungkinkan suami bekerja di bidang usaha lain seperti berdagang atau menjadi buruh.

Dikisahkan oleh Asmanah Widiarti dan Chiharu Hiyama*

 

Ibu Tika sangat senang karena tanamannya tumbuh subur. Tiap hari dia dengan bangga memandangi pohon mahoni yang ditanamnya. Ibu Tika adalah satu dari ratusan perempuan yang terlibat dalam program rehabilitasi hutan dengan model PHBM (Pengolahan Hutan Bersama Masyarakat) yang diselenggarakan di Desa Citarik, Sukabumi Jawa Barat. PHBM yang dimulai tahun 2001 disambut antusias oleh warga setempat, khususnya di kalangan perempuan karena mereka akan punya lahan garapan tumpang sari.

Kini, kawasan itu telah mulai rimbun. Tapi, ada yang menyedihkan dan membuat mereka mengeluh. “Kami tak punya kegiatan lagi,” kata Ibu Tika. Keluhan lain, “Kami tak memperoleh penghasilan lagi,” kata Ibu Tinah. Ibu Tika yang berumur mendekati 60 tahun, bercerita dengan pelan mengisahkan, dulu “leuweung” (artinya hutan dalam bahasa Sunda) di sini lebat bahkan kami takut masuk kawasan
hutan”. Hingga terjadilah kejadian yang tidak mungkin dilupakannya. Entah siapa provokatornya, tahun 1998 masyarakat nekat melakukan penyerobotan hutan, mengakibatkan hutan gundul dan tanahnya kering kritis. Udara menjadi panas dan susah air.

JpegSelama tiga tahun, program PHBM telah berjalan dan menjadi kegiatan yang menyenangkan dan menghasilkan uang tambahan bagi Ibu Tika dan penduduk miskin lainnya di kawasan itu. Pada saat menggarap lahan tumpang sari, ibu-ibu ramai ke kebun, istilah baru untuk “leuweung”. Tiap hari puluhan pikul pisang di angkut dari kebun. Kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama, pohon pisang yang menjadi andalan penghasilan terserang penyakit. Tanaman padi dan palawija tidak bisa ditanam karena pohon mahoni sudah mulai besar dan rimbun sehingga menutupi sinar matahari. Ibu Tika juga bertanya tentang bibit. Pertanyaan ini muncul karena Perhutani pernah berjanji memberikan bibit buah-buahan untuk masyarakat. Namun sampai sekarang janji tersebut tidak pernah ditepati. Sesungguhnya, sumbangan kaum perempuan desa dalam program PHBM ini cukup besar baik pada keberhasilan tanaman rehabilitasi maupun pada penghasilan keluarga.

 

Perempuan Desatak Cuma Pintar di Dapur?

Dewasa ini perempuan bukan hanya sebagai pekerja rumah tangga yang seringkali tidak dianggap produktif. Perempuan di keluarga miskin umumnya justru berperan produktif dalam menyumbang pendapatan keluarga dengan berbagai pekerjaan, misalnya menjadi buruh tani upahan.

Peran perempuan dalam menyumbang ekonomi keluarga tidak dapat dianggap ringan khususnya yang bekerja pada kegiatan rehabilitasi hutan. Kegiatan rehabilitasi hutan sering identik dengan kegiatan laki-laki karena dianggap cukup berat. Anggapan ini membuat peran perempuan kurang diperhitungkan dalam kegiatan rehabilitasi hutan. Padahal pada tahap pelaksanaan di lapangan perempuan memegang peranan cukup penting.

Rehabilitasi hutan di Jawa, di lakukan oleh Perhutani dengan model PHBM. PHBM mempunyai dua tujuan yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat dan keamanan hutan. Pengembangan PHBM didasari oleh kenyataan bahwa hutan dikelilingi desa-desa dengan penduduk yang tergolong miskin.

JpegDesa Citarik letaknya kurang lebih 5 km ke arah Pelabuhan Ratu dari kota Sukabumi. Jika kita melewati jalan raya tidak akan menduga bahwa di belakang jalan tersebut terdapat perkampungan kumuh. Hasil pengamatan penulis pada pelaksanaan PHBM di Desa Citarik, Kabupaten Sukabumi, menunjukkan bahwa porsi perempuan dalam kegiatan rehabilitasi hutan sangat signifikan yakni sekitar 40 %. Perempuan secara spesifik terlibat hampir pada setiap tahap pelaksanaan PHBM, mulai dari pembersihan lahan, penanaman dan pemeliharaan tanaman, tidak terkecuali pekerjaan itu sifatnya berat atau ringan. Beberapa perempuan bahkan mampu mengerjakan sendiri kegiatan tersebut, baik karena statusnya sebagai kepala keluarga atau menggantikan suaminya yang bekerja di tempat lain.

Kegiatan penanaman sistem tumpang sari yang menyertai pelaksanaan rehabilitasi hutan disambut dengan baik masyarakat sekitar hutan. Pada kegiatan inilah perempuan banyak mencurahkan waktunya. Mereka melakukan gotong-royong mulai dari kegiatan penanaman, penyiangan dan pemanenan. Sesungguhnya, sistem kerja gotong-royong sudah lama hilang dalam kehidupan mereka karena sudah sekian lama mereka tidak memiliki lahan. Gotong-royong disamping bermakna mempererat hubungan kekeluargaan juga menghemat biaya dan mempercepat pekerjaan. Di samping itu sistem ini juga memungkinkan suami bekerja di bidang usaha lain seperti berdagang atau menjadi buruh.

Pengalaman Desa Citarik juga memperlihatkan bahwa perempuan memiliki peran yang cukup besar dalam rehabilitasi hutan khususnya dalam dua hal penting yaitu keberhasilan tanaman rehabilitasi dan pelestarian lingkungan. Tingkat ekonomi keluarga masyarakat desa sekitar hutan umumnya rendah. Penduduk biasanya berstatus sebagai buruh tani atau petani dengan lahan sempit kurang dari seperempat hektar. Pendapatan mereka lebih kecil dari Rp 125.000 per bulan. Kesempatan kerja juga terbatas karena selain tingkat pendidikan yang
rendah, juga diperparah dengan kondisi sarana transportasi yang sulit. Di Desa Citarik hanya ada alat transportasi ojeg motor untuk keluar masuk desa.

Adanya kegiatan rehabilitasi hutan dengan model PHBM telah menjadi sumber mata pencaharian baru bagi mereka. Meskipun jika dihitung dengan analisis usaha tani belumlah memberi manfaat ekonomi secara nyata, namun ada manfaat sosial yang bisa diperoleh, seperti memberikan kesempatan kerja dan masyarakat merasa memiliki ‘kebun’(hak menggarap)

 

Alokasi Waktu Perempuan dan Laki-laki

Sumbangan perempuan pada total pendapatan keluarga dari kegiatan PHBM di Desa Citarik adalah 12,5 %. Kegiatan PHBM sendiri, dua tahun yang lalu, dapat memberikan kontribusi sebesar 32% atau sekitar Rp 650.000, per tahun untuk keluarga. Pendapatan ini tanpa memperhitungkan curahan tenaga keluarga. Dari jenis kegiatan penduduk, yaitu kegiatan bereproduksi, produktif dan sosial, perempuan mengalokasikan waktu masingmasing 5 jam per hari untuk kegiatan reproduksi dan produktif, sementara lakilaki mengalokasikan waktu 7 jam untuk kegiatan produktif dan kurang dari satu jam per hari untuk kegiatan reproduksi.

Dari sini nampak bahwa perempuan mempunyai beban yang lebih berat sehingga keadilan gender belum terwujud. Hasil penelitian Pujiwati (1990) dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menjelaskan di daerah pedesaan Jawa semakin miskin rumah tangga maka akan semakin tergantung pada pendapatan perempuan. Keterlibatan perempuan sebagai tenaga kerja produktif akan berkontribusi pada ekonomi keluarga. Selanjutnya akan meningkatkan kemandirian, kemampuan perempuan dalam mengambil keputusan dan status perempuan dalam keluarga dan masyarakat.

Perempuan juga dihargai Keputusannya 

Dalam banyak kultur, perempuan sering dijauhkan dari peran kepemimpinan dan pengambilan keputusan, baik di tingkat rumah tangga, desa maupun tingkat nasional (Rahayu, 2001). Demikian juga dalam budaya patriarki (budaya yang juga dianut oleh suku Sunda), suami lebih dominan dibandingkan anggota keluarga lainnya. Dalam kenyataannya, tidak berarti perempuan mempunyai kedudukannya lebih rendah. Perempuan tetap mempunyai kekuatan dan pengaruh dalam proses pengambilan keputusan keluarga. Kedudukan laki-laki dan perempuan dalam mengambil keputusan memang berbeda demikian juga dalam kegiatan PHBM ini. Laki-laki mempunyai peran lebih besar dibanding perempuan, tapi keputusan tersebut diambil setelah melalui proses diskusi.

Demikian juga menurut hasil penelitian Suharjito dan Sarwoprasodjo (1996) menemukan bahwa pada keluarga petani getah pinus dan petani hutan rakyat mempunyai pola sama dalam pengambilan keputusan. Di Desa Citarik ditemukan perempuan berpikiran maju yang memutuskan sendiri untuk mengikuti program PHBM meskipun tidak mendapat persetujuan dari suaminya. Mereka menjadi peserta yang cukup berhasil melakukan rehabilitasi hutan. Tentu saja ini menepis anggapan bahwa perempuan lebih emosional, kadang irasional, tidak produktif, dan tidak bisa menjadi pemimpin.

Jpeg

Sayangnya peran perempuan dalam mengambil keputusan di lingkungan keluarga tidak berlaku juga dalam tataran lingkungan masyarakat. Dalam pertemuan atau rapat-rapat desa, pengambil keputusan adalah para laki-laki. Persamaan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam akses dan kontrol atas sumberdaya lahan, juga tidak diikuti dalam kegiatan-kegiatan pengembangan diri. Kegiatan penyuluhan dan pelatihan hanya dihadiri laki-laki, sehingga kaum perempuan tidak memperoleh tambahan pengetahuan.

“Sebetulnya kami ingin hadir pada pertemuan dan penyuluhan,” kata Ibu Tinah yang ingin membentuk kelompok tani perempuan.
Laki-laki dan perempuan saling sepakat.

Alasan perempuan bekerja pada lahan PHBM diantaranya karena terbatasnya kesempatan bekerja di luar sektor pertanian. Sementara suami belum memberikan penghasilan yang memadai untuk kebutuhan rumah tangga. Di sisi lain suami telah banyak mencurahkan waktunya untuk beragam kegiatan produktif, maka dengan dia ikut membantu pekerjaan di kebun, suami bisa kerja di tempat lain.

Suami Ibu Tika misalnya, tetap bekerja sebagai pedagang ikan keliling di desa. Perempuan tidak menganggap keikutsertaan mereka dalam kegiatan PHBM sebagai beban berat. Mereka melaksanakannya atas kesadaran sendiri tanpa ada paksaan dari suami dan dilakukan tanpa mengganggu tugas perempuan sebagai ibu rumah tangga. Bagi perempuan, adanya program PHBM menciptakan kegiatan di luar rumah yang menyenangkan karena bisa gotong- royong dan berbagi hasil dengan tetangga. Masih menurut Pujiwati (1990) bahwa Beban kerja bagi perempuan pedesaan seringkali tidak terlalu dipermasalahkan dan tidak dianggap beban melainkan sebagai hobi, dan didorong rasatanggung jawab pada keluarga.

Pembagian kerja laki-laki dan perempuan pada kegiatan PHBM dinilai masyarakat Citarik sudah layak. Perempuan diberi tanggung jawab kegiatan produktif yang lebih ringan karena perempuan harus mengurus rumah tangga. Demikian juga kaum perempuan menyadari perlunya membantu kegiatan produktif agar suami bisa kerja di tempat lain.

Pembagian kerja dalam keluarga nantinya tidak lagi mempermasalahkan status gender, dan akan menuju kesejajaran laki-laki dan perempuan dalam berbagai sisi kehidupan. Perubahan tersebut memang tidak bisa berjalan cepat karena ada bagian dari budaya yang perlu dirubah. Keadilan gender hanya bisa terjadi jika perempuan juga diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri, misalnya mengikuti pelatihan-pelatihan. Semakin tinggi pengetahuan perempuan dalam pengelolaan lahan akan dapat meningkatkan kontribusi mereka dalam program PHBM.

Banyak Manfaatnya bagi Perempuan

Meskipun perempuan tidak banyak mempunyai peluang pelatihan danpenyuluhan, tetapi pengetahuannya cukup baik tentang konservasi sumberdaya alam. Tanggung jawab keberhasilan PHBM walaupun lebih banyak tertuju pada laki-laki, namun dalam kenyataannya menjadi tanggung jawab kaum perempuan. Demikian juga manfaat yang dirasakan adanya PHBM, bagi laki-laki dan perempuan hampir sama ( Gambar 1).

Jpeg

Jpeg

Manfaat positif yang hanya diungkapkan laki-laki, bertambah wawasan khususnya pengetahuan bertani dan berorganisasi. Dan yang hanya diungkapkan perempuan;1) Senang bisa gotong-royong karena meningkatkan rasa kekeluargaan dengan tetangga. 2) Lebih berani, karena sekarang sering ke luar rumah dan punya kontribusi pada pendapatan keluarga. Menyadari peran perempuan cukup banyak pada pelaksanaan PHBM dan peningkatan ekonomi keluarga maka perlu meningkatkan pengetahuan dan mencari alternatif usaha, agar tetap bisa berkontribusi. Perlu pengembangan pola tanam yang bernilai ekonomis agar hasil bisa dinikmati kaum miskin secara kontinu. Dengan adanya manfaat positif bagi laki-laki dan perempuan, maka diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan PHBM di masa akan datang.

Ingin tetap berperan dalam pembangunan.Kegiatan rehabilitasi hutan tidak hanya memiliki aspek pelestarian lingkungan, tetapi juga memberi sumbangan pada perbaikan penghasilan rumah tangga, khususnya bagi keluarga miskin yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Namun sayang sekali kegiatan rehabilitasi yang dikemas dalam model PHBM dalamperencanaan belum melibatkan kaum perempuan. Hal ini mengakibatkan kepentingan perempuan pada kegiatan tumpang sari terbatas waktunya. Setelahempat tahun kegiatan tumpang sari tidak dapat dilanjutkan, pohon kayu–kayu sudah tumbuh besar dan lahan stop memberikan penghasilan pada kaum miskin.

Pola tanam tumpang sari pada kegiatan rehabilitasi hutan perlu diperluas dengan jenis tanam yang bisa memberi sumbangan lebih banyak lagi bagi penghasilan keluarga. Oleh karena itu PHBM mestinya dirancang sedemikian rupa agar kaum miskin secara berkelanjutan memperoleh manfaat ekonomi. Pengembangan PHBM mestinya sinergi dengan program pemerintah daerah dalam pengentasan
kemiskinan.

Pelaksanaan PHBM di lapangan khususnya di Kecamatan Pelabuhan Ratu, Sukabumi saat ini masih banyak kendala dan belum dilaksanakan sesuai dengan apa yang tercantum dalam nota kesepahaman. Sehingga masih belum berpihak pada kepentingan kaum miskin. Jangan pula terjadi sebaliknya pemerintah dibantu merehabilitasi hutan oleh kaum miskin.

Ucapan Terimakasih: Penulis menyampaikan terimakasih kepada masyarakat Desa Buniwangi dan Citarik, Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi yang telah menjadi inspirasi tulisan ini. Juga kepada teman-teman Tim Latin Sukabumi, Sodara Dayat, Adji dan Asep yang telah banyak terlibat dalam penggalian data di lapangan. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada CIFOR atas dukungan pendanaan untuk kegiatan ini.

====

Keterangan Penulis: 

Asmanah Widiarti yang akrab disapa Asmanah, lahir di Sumedang, 27 Januari 1959 ini menyelesaikan studi Program S1 dan S2 di Institut Pertanian Bogor. Sejak 1982 hingga sekarang ia bekerja sebagai peneliti bidang Social Forestry di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.

Chiharu Hiyama, lahir di Jepang pada tanggal 18 Mei 1970. Memperoleh gelar sarjana di bidang pertanian pada tahun 1993 di Universitas Tsukuba dan gelar master pada tahun 1995 di universitas yang sama. Pada tahun 2003, Chiharu menyelesaikan studi masternya di bidang pembangunan dan pengelolaan lingkungan (Environmental Management and Development) pada The Australian National University, Australia. Pernah bekerja sebagai Rural Development Officer untuk proyek JICA di Nepal pada tahun 1997 – 1999, menjadi konsultan untuk IHC (Institute for Himalayan Conservation) pada tahun 2000. Sejak September 2003 hingga September 2005, Chiharu menjadi salah satu fellow peneliti di CIFOR dengan melakukan penelitian tentang gender dan keragaman hayati di Indonesia.

Tulisan ini adalah salah satu pengalaman Asmanah dan Chiharu dalam mengorganisir masyarakat dengan judul yang sama, ditulis dalam buku kumpulan pengalaman pengorganisasian warga “Dari Desa ke Desa Dinamika Gender dan Pengelolaan Kekayaan Alam”, tahun 2007 terbitan Center for International Forestry Research (CIFOR).

About Perempuan Berkisah 172 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply