Ketika Perempuan Membangun Budaya Kolektif Melalui Koperasi Desa

Gerakan penyadaran masyarakat yang massif tentang eksplorasi geothermal dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat, telah menyadarkan masyarakat desa tentang betapa rentannya kehidupan mereka. Keberanian tersebut juga mendorong para ibu di desa Sagarahiang dalam merintis sebuah koperasi. “Cakrabuana”, demikian nama koperasi itu. Koperasi yang berani mendobrak pakem formalitas demi kepentingan anggota. Hal inilah yang menjadi pelajaran penting bagi kita. Banyak dari kita tidak berani atau gagal mengembangkan koperasi karena di awal telah disibukkan oleh aturan formal struktur organisasi dan manajemen koperasi. Selain aturan formal, kekhawatiran juga sering terjadi karena ketiadaan modal, legalitas, dan megikuti aturan-aturan formal lainnya dalam berkoperasi. Kita justru melupakan modal utama berdiri dan berkembangnya suatu koperasi yakni “keberanian”.

Dikisahkan oleh : Farida Mahri*

Waktu itu pukul tujuh malam, seorang ibu muda dengan menggendong anaknya yang masih bayi datang ke rumah Ibu Nia di kampung Ciarca, Desa sagarahiang, Kabupaten Kuningan. Ibu Nur, namanya. Ia bertandang di malam hari hanya untuk menyetorkan tabungan mingguan ke koperasi. Sudah dua tahun ia menabung di koperasi Cakrabuana. Koperasi tingkat desa yang dirintis oleh empat orang ibu dari kampung tersebut. “Saya senang bisa menabung di koperasi ini, sangat bermanfaat buat keluarga saya,” kata ibu Nur.

Ibu Nur adalah satu dari tiga ratus lima puluh anggota koperasi yang tersebar di desa Sagarahiang dan desa Puncak, Kabupaten Kuningan. Awalnya hanya warga desa Sagarahiang yang menjadi anggota koperasi, namun di tahun kedua koperasi berjalan, warga dari desa Puncak yang bersebelahan dengan desa Sagarahiang mengajukan diri untuk bergabung. Keempat ibu ini tidak pernah menduga sebelumnya bahwa koperasi ini semakin maju dan berkembang. Tidak pernah terlintas dibenak mereka untuk dapat melakukan suatu hal yang luar biasa melampui bayangan mereka sendiri.

Bermula dari Penolakan Rencana Eksplorasi Geothermal hingga Merintis Koperasi

Desa Sagarahiang termasuk wilayah kecamatan Darma kabupaten Kuningan. Desa ini terlelak lereng Ciremai berada di koordinat 60 53’ 46.83’’ LS 1080 26’59.15‘’BT dengan ketinggian 700 Mdpl. BPS mencatat penduduk desa Sagarahiang di tahun 2013 berjumlah 3.830 jiwa dan sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani sayuran. Jarak dari kota Kuningan ke desa ini sekitar 10 km dan membutuhkan waktu sekitar 40 menit dengan angkutan desa.

Tahun 2014, masyarakat di kawasan lereng Ciremai berjibaku untuk menolak rencana pemerintah untuk mengeksplorasi energi panas bumi (geothermal) yang akan dilakukan oleh perusahaan asing berbasis di Inggris yakni Chevron. Perempuan dan laki-laki turun ke jalan untuk berdemonstrasi menolak rencana tersebut. Masyarakat kawasan Ciremai khawatir bahwa eksplorasi akan merusak ekosistem di kawasan Ciremai terutama soal ketersediaan air untuk lahan pertanian mereka. Kegiatan eksplorasi geothermal akan menghabiskan cadangan air yang ada di kawasan lereng Ciremai, padahal para petani sayuran ini sangat membutuhkan air untuk penghidupan mereka.

Berawal dari masalah Chevron ini beberapa elemen masyarakat tergerak untuk melakukan gerakan pemberdayaan masyarakat. Saat itu saya beserta seorang rekan saya memutuskan untuk ikut andil membantu gerakan masyarakat ini. Kami berinisiatif untuk memulainya dari desa Sagarahiang karena sudah lebih dulu kenal dengan para aktifis di desa tersebut.

Pemanfaatan Hasil Sumber Daya Alam

Setelah pertemuan informal terpisah dengan ketua Badan Perwakilan Desa Sagarahiang dan beberapa ibu di rumah Kang Iman, begitu kami memanggilnya, akhirnya kami menyepakati untuk mengadakan pertemuan di mesjid kampung Ciarca. Pertemuan ini diselenggarakan guna membahas strategi pemberdayaan masyarakat.

Pada pertemuan ini hadir sekitar tiga puluh orang dan sebagian besar adalah perempuan. Kami berupaya memetakan berbagai masalah baik masalah yang sudah dirasakan masyarakat maupun potensi masalah yang muncul jika geothermal jadi di eksplorasi berikut opsi-opsi penyelesainnya. Kami juga membahas dan mempertimbangkan satu kegiatan yang dirasa paling mungkin dilakukan untuk mempertahankan logistik masyarakat dalam menghadapi berbagai perubahan. Akhirnya peserta yang hadir menyepakati untuk memanfaatkan hasil sumber daya alam di Sagarahiang menjadi produk olahan, yakni pisang untuk dijadikan sale pisang.

Pada pertemuan kedua untuk membahas teknis pembuatan sale pisang tersebut, jumlah yang hadir menyusut drastis menjadi lima orang. Seorang ibu mengatakan ia sudah ke rumah-rumah warga dengan menembus hujan dan becek, tetapi warga tidak tertarik, bahkan ada selentingan kabar yang mengatakan warga tidak tertarik karena pertemuannya tidak ada uangnya. Saat itu, kelima ibu yang hadir tampak putus asa. Melihat itu saya tegaskan mereka untuk bersabar dan yakin jika ini berhasil warga akan ikut bergabung tanpa diminta. Modal pertama mereka sebesar lima ratus ribu rupiah hasil urunan lima orang ibu yang bersepakat untuk aktif, namun dalam perjalanan salah seorang iu mundur karena punya maalah kesehatan. Akhirnya hari demi hari bergulir, mereka mempraktekkan pembuatan kripik pisang sekaligus memasarkannya didampingi oleh rekan kami yang punya keahlian di bidang bisnis.

Sale pisang dipasarkan ke toko-toko kecil di kampung dan desa yang lain. Namun demikian produksi kurang maksimal karena cuaca di Sagarahiang tidak mendukung. Desa Sagarahiang bercuaca dingin karena berada di lereng gunung Ciremai, sementara untuk produksi sale pisang mereka harus menjemur pisang yang sudah diiris-iris paling tidak selama lima hari. Menyadari keadaan ini kami berembug strategi lain untuk memberdayakan masyarakat setidaknya agar punya kekuatan secara ekonomi karena rata-rata warga Sagarahiang hanya petani penggarap atau hanya memiliki lahan yang kecil.

Ibu-ibu berkeinginan membuat koperasi tetapi bukan koperasi simpan pinjam, karena mereka sudah pernah melihat koperasi simpan pinjam yang tidak berkembang karena pinjaman macet. Kemudian saya mencari berbagai informasi tentang koperasi dan akhirnya kami memutuskan untuk belajar di Serikat Paguyuban Petani Qaryah Tayyibah (SPPQT) di Salatiga.

Pertemuan di SPPQT Salatiga difasilitasi oleh seorang staf SPPQT. Pertemuan tersebut memberi ide bagi ibu-ibu untuk merintis koperasi yang dinamakan Koperasi Cakrabuana. Koperasi ini bertujuan menerima tabungan dan memasok kebutuhan sembako anggotanya sekaligus, namun tetap meneruskan produksi hasil olahan sendiri. Anggota diwajibkan menabung seminggu sekali tanpa batasan jumlah dana yang disetorkan.

Anggota juga dapat memesan sembako utamanya beras, minyak goreng, gula dan kopi. Koperasi akan membeli barang pesanan di grosir dan kemudian disalurkan ke anggota. Anggota dapat membeli pesanan tersebut dengan harga lebih murah dari harga di warung-warung di kampung Untuk pejualan sembako ini awalnya ada tentangan dari warung-warung sekitar, tetapi ibu Nining menjelaskan bahwa koperasi tidak menjual secara eceran, bahkan warung bisa membeli dengan harga murah di koperasi untuk dijual lagi. Dengan penjelasan ini para pemilik warung memahami dan tidak lagi berkeberatan.

Koperasi tidak takut merugi karena tidak menyetok barang, barang dibeli berdasarkan pesanan. Demikian pula produk olahan sale pisang dibuat hanya berdasarkan pesanan dan ditambah dengan produk lainnya, yaitu serbuk minuman jahe instan. Dengan strategi baru ini lambat laun anggota koperasi bertambah.

Berbekal Keberanian

Ibu-ibu di Sagarahiang ini memberikan saya banyak pelajaran perihal menjaga prinsip utama dari koperasi tanpa terjebak oleh aturan-aturan formal mengenai koperasi. Pada awalnya sebagaimana koperasi pada umumnya kami berdiskusi untuk mengenakan simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela pada anggota. Namun ternyata sistem ini memusingkan bagi ibu-ibu baik pengurus maupun anggota. Akhirnya disepakati koperasi hanya mewajibkan simpanan sukarela, berapapun jumlahnya tetap diterima namun wajib menabung seminggu sekali.

Koperasi Cakrabuana berani mendobrak pakem formalitas koperasi demi kepentingan anggota, hal inilah yang menurut saya menjadi pelajaran penting bagi kita. Banyak dari kita tidak berani atau gagal mengembangkan koperasi karena di awal telah disibukkan oleh aturan formal struktur organisasi dan manajemen koperasi. Selain aturan formal, kekhawatiran juga sering terjadi karena ketiadaan modal, legalitas, dan megikuti aturan-aturan formal lainnya dalam berkoperasi. Kita justru melupakan modal utama berdiri dan berkembangnya suatu koperasi yakni “keberanian”.

Munculnya keberanian ibu-ibu ini terdorong oleh kuatnya penolakan terhadap rencana eksplorasi geothermal. Gerakan penyadaran masyarakat yang massif tentang eksplorasi geothermal dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat membuat mereka punya kesadaran baru mengenai betapa rentannya kehidupan mereka. Keberanian ini semakin diperkuat dengan adanya dukungan dari pendamping. Pengalaman mereka belajar di SPPQT juga memberikan imajinasi tentang koperasi dan semakin membuat mereka yakin untuk merintis koperasi.

Membangun Kepercayaan

Para penggerak koperasi menyadari betul koperasi tidak akan berjalan tanpa anggota. Mereka berupaya membangun kepercayaan warga agar mau menjadi anggota koperasi. Setiap pengurus diberi tugas untuk sosialisasi mengenai koperasi ini kepada para tetanggaya satu persatu. Kepercayaan anggota terhadap koperasi ini dijaga penuh oleh pengurus. Pada awal produksi sale pisang, pengurus rela menanggung ongkos kerugiannya. Bagi pengurus yang terpenting adalah kepercayaan anggota, tabungan terjaga dan ada hasil usaha.

10363862_10152394167085743_3902738947462678461_n
Pertemuan anggota koperasi

Di pihak lain ada dorongan masalah sosial ekonomi di masyarakat. Di desa banyak orang terjerat hutang dari bank keliling. Bank keliling seringkali beroperasi di kampung-kampung dengan nama koperasi padahal mereka adalah rentenir. Bank tersebut meminjamkan uang kepada masyarakat dengan kisaran bunga sebesar 20 persen perbulan dari total pinjaman. Cara kerja bank keliling ini meresahkan masyarakat. Dengan adanya koperasi berangsur-angsur masyarakat memilih menabung dari ada meminjam. Mereka memilih menjadi anggota koperasi meskipun koperasi Cakrabuana tidak melayani peminjaman.

Mulai tahun 2015 koperasi dapat memfasilitasi anggotanya untuk beternak kambing dengan sistem bagi hasil. Sistem bagi hasilnya adalah 2:1, yakni dua untuk anggota dan 1 untuk koperasi dari kambing yang telah cukup umur dan berhasil dijual. Koperasi juga memfasilitasi pembelian barang-barang rumah tangga yang dibutuhkan baik oleh anggota maupun non anggota. Untuk anggota koperasi mengambil keuntungan 25% dari harga barang, sementara untuk non anggota sebesar 50%, dengan pembayaran dicicil perbulan selama 5 bulan. Koperasi juga sudah dapat memberikan pinjaman untuk pembayaran biaya rumah sakit jika anggotanya membutuhkan.

“Untuk biaya rumah sakit kami memberikannya bahkan tanpa harus ada kelebihan pembayaran. Kami tidak memberikan pinjaman bentuk uang khawatir macet. Kami juga ingin membiasakan anggota untuk lebih bijaksana dalam menggunakan uangnya”

Setiap awal bulan puasa koperasi memberikan tabungan beserta sisa hasil usaha kepada anggota sebesar 5% dari jumlah tabungan meraka masing-masing. Setelah semua anggota mendapatkan haknya, barulah pengurus mendapatkan insentif sebagai pengurus yang besarnya bergantung dari sisa uang yang ada setelah penyisihan untuk Kas Koperasi.

Di tahun 2016 ini mereka ingin memulai usaha peternakan sapi dengan sistem bagi hasil bagi anggota koperasi di desa Puncak yang memang sudah punya keahlian beternak sapi. Mereka juga ingin menambah pengurus mengingat warga dari desa lainnya juga ingin bergabung menjadi anggota, namun koperasi masih kekurangan SDM untuk mengelolanya. Hingga saat ini koperasi belum berbadan hukum dan tidak mempunyai kantor. Namun demikian tanpa melakuan promosipun warga berdatangan bergabung menjadi anggota. Warga sendiri yang menyebarkan informasi mengenai koperasi ini dari mulut ke mulut, bahkan menyetorkan tabungan ke rumah pengurus. Koperasi Cakrabuana terus melaju dengan modal kepercayaan anggota dan masyarakat, meskipun belum ada dukungan dari pemerintah setempat.

10402759_10152394165455743_1194126752294116760_n
Proses Collaborative Learning di rumah ibu Ani, anggota koperasi.

Membangun Kolektivitas Masyarakat

Arifin Sitio dan Halamoan Tamba (2001) dalam bukunya yang bertajuk Koperasi: Teori dan Praktik menyebutkan pengertian Koperasi menurut Moh. Hatta adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong-menolong. Semangat tolong menolong tersebut didorong oleh keinginan memberi jasa kepada kawan berdasarkan prinsip seorang buat semua dan semua buat seorang.

Moh. Hatta bapak Koperasi Indonesia ini menekankan pentingnya prinsip tolong menolong. Namun demikian koperasi sesungguhnya yang dicanangkan oleh Moh Hatta sulit sekali berkembang di Indonesia apalagi di jaman sekarang ini. Di jaman globalisasi dengan merajanya sikap mental individualistis, setiap orang berlomba mencari keuntungan material atas keterlibatannya dalam berbagai hal. Budaya tolong menolong sudah semakin luntur. Oleh karenanya pembentukan dan perkembangan koperasi bukanlah hal mudah. Bahkan di desa bahkan bermunculan praktek rentenir berkedok koperasi simpan pinjam.

Lalu bagaimana dengan koperasi Cakrabuana? menurut saya, kehebatan ibu-ibu koperasi Cakrabuana ini adalah menemukan dan menempatkan tolong menolong sebagai tujuan koperasi bukanlah sebagai dasar terlebih dahulu. Tolong menolong jutru muncul kemudian, bahkan mungkin mereka belum menyadari itu. Dasar pembentukan koperasi Cakrabuana bukanlah tolong menolong tetapi keberanian bertindak dan ketekunan membangun kepercayaan. Dengan dasar itulah koperasi ini semakin berkembang, dan anggotanya semakin bertambah. Semangat gotong royong lebih merupakan dampak dari upaya berkoperasi, dan dengan demikian menguatkan semangat kolektivitas bermasyarakat.

Kolektivitas sering diartikan sebagai tolong menolong, gotong royong dan kebersamaan. Secara konseptual, Durkheim memberi pengertian kolektifitas terkait dengan norma-norma dan sentimen-sentimen yang sama dalam suatu masyarakat yang membentuk suatu sistem tertentu. Secara lebih popular Durkheim mengembangkannya sebagai representasi atau ide kolektif, yang mengacu baik pada konsep kolektif maupun kekuatan sosial. Walaupun contoh yang diberikan berupa simbol-simbol agama, mitos-mitos, dan legenda-legenda, namun maknanya mengacu pada wujud kepercayaan, norma, nilai kolektif yang dijadian acuan penyesuaian diri dan gambaran dari diri masyarakat (George Ritzer, Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan terakhir Postmodern, 2012). Praktik sosial koperasi dapat menjadi kekuatan sosial untuk menjadi acuan koletif mengenai nilai ekonomi, sosial, dan politik sekaligus.

Ibu-ibu ini melalui koperasi dengan keberanian yang dimiliki oleh para penggerak koperasi ini secara internal, mampu mengembangkan kepercayaan masyarakat sekaligus rasa percaya diri untuk membangun norma-norma, dan nilai dalam mengelola keuangan bersama. Kolektivitas yang dibangun tidak hanya mengacu pada bentuk kegiatan seremonial misalnya sumbangan untuk acara pernikahan atau sunatan, namun lebih bermakna kesepatan-kesepakatan norma mengenai menabung dan mengelola keuangan bersama untuk kehidupan. Dengan kata lain melalui koperasi ini pula, para perempuan berhasil membangun kembali kolektivitas masyarakat dalam mengelola kehidupannya yang mulai hilang digerus oleh budaya individualistis. Di masa mendatang bukan tidak mungkin mengelola pembiayaan kesehatan, pendidikan, penguatan pertanian dan kegiatan masyarakat yang lain dapat difasilitasi oleh koperasi ini. []

===========

Keterangan Penulis:

http://www.haguetalks.com/user-files/uploads/cache/Farida-mj2yksen2bd3gvurxkkgizoo0h1b80s1vz0v71vr42.jpg
Farida Mahri

Farida Mahri merupakan seorang konsultan community development. Ia juga sebagai salah satu pendiri Yayasan Wangsakerta. Yayasan Wangsakerta yang didirikannya bersama rekan-rekannya mempunyai visi mewujudkan masyarakat yang cukup pangan, cukup energi, cukup informasi, dan mampu menentukan diri sendiri. Dia juga pernah bekerja sebagai deputi rektor di ISIF Cirebon, juga beberapa NGO di antaranya American Center for International Labor Solidarity (ACILS) dan Search for Common Ground (SFCG), Yayasan Pulih, IDEA Yogyakarta dan Aji Yogyakarta. Keterlibatannya di dalam forum internasional antara lain menjadi pembicara di acara Hague Talk, Den Hague, Belanda tahun 2015 dan Narasumber dalam workshop Jurnalisme dan Trauma dii Bangkok, Thailand tahun 2008 dan presenter makalah di Konferensi Perempuan dan Gender di Bangkok, Thailand tahun 2003.

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  • 145
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    145
    Shares

Leave a comment