Sundari: Kades Perempuan Pertama di Daerah Transmigran

Saya terkadang berpikir, piagam-piagam saya itu begitu banyak untuk apa? Lah wong saya hanya mengabdi di desa dan di lahan sendiri, saya cuma petani. Tapi sekarang setelah saya menjadi lurah, saya merasakan bagaimana piagam-piagam itu begitu berharga. Itu adalah bukti kepercayaan masyarakat kepada saya.

Dikisahkan oleh Alimah Fauzan*

dscn2812
Siti Sundari (Gambar: Alimah Fauzan)

Di balik kabut itu, bebukit itu, gegunung itu, juga pepohonan di hutan itu, selalu ada harapan untuk hidup. Hal yang sama diyakini mereka, para transmigran. Begitu pun bagi Sundari, perempuan asal Rembang, Jawa Tengah ini bahkan telah memahaminya sejak kecil. Tepatnya sejak kedua orang tuanya membawanya ke sebuah desa yang kini bernama “Tirta Kencana”, salah satu desa di Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Propinsi Jambi. Sebuah desa di antara perkebunan karet dan sawit. Desa yang kini dipimpinnya sebagai lurah perempuan pertama di desanya. Termasuk di tingkat kecamatan Rimbo Bujang, dia satu-satunya lurah perempuan dan pertama di kecamatan.

Siti Sundari, demikian nama lengkapnya, bahkan tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menjadi seorang kepala desa (Kades) atau lurah. Bukan hanya dirinya, keluarganya pun tidak pernah membayangkan dan mengijinkannya. Dia dipilih oleh warga dan mendapat banyak dukungan baik moril maupun materil. Ketika calon lurah yang lain habis-habisan mengeluarkan kekayaannya sebagai modal menjadi lurah, Sundari malah mendapatkan dukungan modal dari banyak pihak, bahkan dari luar desanya.

Perempuan kelahiran Rembang tahun 1967, mulai beradaptasi dengan lingkungan di tengah hutan karet saat berusia 10 tahun, tepatnya tahun 1977. Itu lah kali pertama dia menginjakkan kaki di desa transmigrasi.

dscn2817“Dulu kondisi di rumah saya dilingkari hutan, hanya ada 12 rumah di desa ini. Saya ingat, banyak sekali kera hitam datang setiap saat ke rumah kami. Kera-kera itu memakan buah atau merusak tanaman. Kera-kera itu kini sudah berkurang, kasihan sebenarnya karena saat itu mereka diburu, dipukuli, dibunuh, dipotong-potong, bahkan ada warga yang memasaknya juga. Kera itu menangis.” kenangnya pelahan tentang kondisi 38 tahun silam. Kondisi di mana belum ada listrik, hanya lampu teplok dengan minyak tanah yang dibawa dari Jawa.

Sehari-hari dia dan keluarganya memakan nasi dari beras yang dijatah pemerintah. Namun orang tuanya telah membawa minyak goreng dari Jawa untuk berjaga-jaga, 1 botol kecil minyak tuah. Sementara alat dapur, sabun, minyak goreng, ikan asin, sudah dijatah pemerintah sesuai jumlah keluarga.

“Kalau habis jatah, banyak orang balik ke Jawa. Kalau bapak saya terbiasa miskin, jadi tetap bertahan. Kalau kerja sampai ke Tebo pulang malam, jalan kaki tapi tidak menghasilkan uang. Kerjanya menebas hutan, setiap minggu ada saja yang tertimpa pohon dan meninggal dunia. Untungnya dulu bapak/keluarga sudah ada rumah dan sumur,” paparnya.

Orang-orang transmigran itu tangguh gak tangguh harus tangguh, lanjutnya. Bapaknya saat itu bekerja sebagai penebang kayu kecil-kecil, lalu diborong oleh pemborong. Sementara ibunya berkebun. Jika habis jatah untuk belanja, maka bapak merantau.

“Selama 3 bulan berkebun, kami baru menghasilkan padi. Tapi hanya padi gogo, jadi sulit untuk menjualnya. Jika sudah begitu, sehari-hari kami hanya barter dengan tetangga, kalau punya uang sedikit beli, tapi kalau tidak ya barter.”

Satu-satunya Perempuan di Sekolah

dscn5479
Siti Sundari memberi sambutan dalam sebuah kegiatan di desa

Kini Sundari adalah Kades pertama dan satu-satunya di desanya, desa Tirta Kencana, dan di kecamatan Rimbo Bujang. Namun pengalaman menjadi perempuan pertama dan satu-satunya, bukan hanya saat ini dia rasakan, dulu ketika masih di sekolah dasar (SD), dia juga satu-satunya murid perempuan pertama di kelasnya. Setiap pagi, teman-temannya yang semuanya laki-laki akan dengan setia menunggunya untuk berangkat bersama jalan kaki ke sekolah.

Kini Sundari telah menyelesaikan pendidikannya hanya di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Sejak kecil, Sundari bercita-cita menjadi guru agama. Namun karena belum bisa meraih gelar sarjana, maka keinginan menjadi seorang guru agama masih menjadi impian.

“Saya merasa harus punya perbedaan, paling tidak ilmu saya harus bermanfaat. Saya harus bisa mengamalkan ilmu saya. Saya ingin ilmu saya bermanfaat. Saya ingin kuliah, meskipun anak sudah SMA dan kuliah, saya ingin sekali kuliah. Karena tidak bisa kuliah, maka saya mencari ilmu dari masyarakat. Mengikuti banyak kegiatan dan memberdayakan masyarakat. Jadi apapun yang saya lakukan, saya niatkan untuk mencari ilmu,” kenang Sundari yang mengaku akan menghadiri wisuda putrinya yang kuliah di Semarang jurusan Kebidanan.

“Saya terkadang berpikir, piagam-piagam saya itu begitu banyak untuk apa? Lah wong saya hanya mengabdi di desa dan di lahan sendiri, saya cuma petani. Tapi sekarang setelah saya menjadi lurah, saya merasakan banyak manfaatnya,” ungkap Sundari.

 

 

Menjadi Kades Perempuan Pertama

Sebagai desa transmigran yang notabene berasal dari Jawa, warga desa Tirta Kencana memiliki latar belakang agama yang sangat kuat sampai saat ini. Faktor ini, menurut Sundari, berpengaruh pada pola pikir warganya dalam memilih seorang pemimpin. Termasuk keluarga besarnya yang pernah tidak merestui dirinya sebagai calon kepada desa. “Perempuan kok jadi pemimpin.” setidaknya demikian pernyataan yang selalu dilontarkan kedua orang tuanya dan keluarga besarnya. Kendati demikian, dia masih memiliki suami yang sangat mendukung pilihannya hingga saat ini.

dscn2826
Papan nama di depan rumah Sundari, Kades Tirta Kencana.

“Selama ini sejumlah Kades di desa Tirta Kencana adalah seorang laki-laki. Namun dalam masa kepemimpinan mereka, sering sekali mereka diturunkan oleh warga di tengah kepemimpinannya. Sebabnya banyak hal, mungkin karena kekecewaan warga pada pemimpin laki-laki, lalu warga beralih pandangan ke pemimpin perempuan,” papar Sundari.

Tidak heran, begitu banyak warga di desa maupun di kecamatan yang begitu mendukungnya. Bahkan untuk modal kampanye, ada saja yang mau meminjamkan uangnya. Banyak dukungan dari kecamatan dan warga.

“Saat itu saya berkeinginan menghidupkan kembali program pemberdayaan dan pembinaan untuk para ibu dan perempuan di desa Tirta Kencana, selain itu adalah di bidang pembangunan berkelanjutan, bidang kesehatan dan keagamaan,” jelas Sundari menyinggung sekilas tentang visi dan misinya.

 

 

Kondisi perempuan

dscn2891

Di Tirta Kencana, sebagian besar perempuannya bekerja di ladang, di ranah domestik, dan menjadi aktifis sosial di desanya. Sundari sendiri telah terbiasa dengan kondisi di desa, program-program di desa, dan sejumlah kegiatan di desa. Karena dia juga perna aktif menjadi pendamping program-program pembangunan, pemberdayaan, dan pembinaan di desanya. Dan di pertangahan tahun 2012, Sundari telah dilantik sebagai Kades Tirta Kencana.

Siti Sundari (49 tahun), seorang ibu 4 (empat) anak, seorang petani, dan seorang Kades Perempuan Pertama di desa Tirta Kencana, didukung dan dipilih oleh warga. Sebelumnya, dia menjadi sekretaris PKD. PKD dan Kader Pemberdaya Desa. Cari makan susah. Dulu, kalahiran anak pertama tahun 1990-an, jalannya becek, licin. Suaminya pernah bekerja sebagai mandor di PT Perkebunan Nusantara 6. Namun kini suaminya sudah pensiun dan hanya fokus mengurus perkebunan keluarga.

Untuk percepatan peningkatan kesejahteraan petani atau masyarakat di daerah, pemerintah di era Orde Baru memang memiliki program mengharuskan masyarakat untuk melakukan transmigrasi, dari pulau satu ke pulau lainnya untuk mengembangkan komoditas, salah satunya kelapa sawit. Disadari, mengadu nasib menjadi transmigran ke luar pulau tak cukup dengan modal nekat saja. Melakukan transmigrasi memerlukan perhitungan yang matang, keberanian, keuletan, kegigihan, dan kesabaran.

Kini, para transmigran yang bertahan telah memetik buah dari kerja kerasnya. Buah dari keberanian dan kesabarannya. Dan saya telah menyaksikan bagaimana mereka telah mapan, bahkan anak cucu mereka telah meraih pendidikan tinggi dengan kepemilikan lahan yang sangat luas dan menguntungkan. Pengalaman ini saya saksikan di desa Tegal Arum dan desa Tirta Kencana, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo.

 

 

Keterangan Penulis:

 

*Alimah Fauzan adalah gender specialist di Institute of Education Development, Social, Religious and Cultural StudiesInfest (Infest) Yogyakarta. email: alimah.fauzan@gmail.com; alimah@infest.or.id.

About Perempuan Berkisah 174 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply