Inspirasi Pemberdayaan Perempuan Bermula dari Sebuah Madrasah

Sebuah bangunan madrasah mampu menjadi sarana dari munculnya ide-ide perempuan desa. Banyak pikiran-pikiran baru perempuan Kota Baru Santan muncul dengan berkumpul di madrasah tersebut. Hanya dengan obrolan-obrolan ringan seputar kehidupan yang mereka rasakan maka inspirasi perempuan Kota Baru Santan mengalir begitu deras.

Dikisahkan oleh Tommy Erwinsyah*

KOTA BARU SANTAN: DESA DI TEPI HUTAN

d

Perjalanan ke Kota Baru Santan dari Bengkulu ke Muara Aman, Lebong pada umumnya melewati Curup, Rejang Lebong. Namun sejak tahun 2004, akses jalan menuju Kota Baru Santan dapat juga dijangkau melalui Giri Mulya, Bengkulu Utara. Dari Bengkulu lewat Curup menuju Muara Aman memakan waktu 5 jam perjalanan, sejauh kira-kira 78 km.

Jalan lintas dari Curup ke Muara Aman melewati banyak tikungan yang berliku-liku dan jurang dalam yang menganga di bibir jalan itu. Sepanjang perjalanan terlihat hutan yang cukup lebat, termasuk Taman Nasional Kerinci Seblat yang luasnya 113.512 ha, Hutan Lindung dan Suaka Alam 24.358,24 ha yang berada di kiri dan kanan jalan penghubung itu. Alat transportasi umum utama dari Bengkulu menuju Muara Aman adalah bis. “Harga tiket bis dua puluh lima ribu rupiah tiap orang,” ujar Indra Jaya tokoh pemuda yang tinggal di Kota Baru Santan.

Dari Muara Aman ke Kota Baru Santan memakan waktu tempuh setengah jam. Angkutan desa tidak ada yang ke sana. Satu satunya alat transportasi menuju ke desa tersebut adalah ojeg motor dengan tarif lima ribu rupiah. Kota Baru Santan termasuk bagian wilayah Lebong Atas, Bengkulu. Desa ini terletak di tepi hutan lindung Bukit Resam yang melintang dari Barat ke Timur. Luas wilayahnya 1.450 ha. Wilayah desa Kota Baru Santan merupakan dataran tinggi dengan ketinggian 579 meter di atas permukaan laut. Terdapat tiga sungai yang melintasi desa ini. Sungai Dingin dan Sungai Pelabi yang bermuara di Sungai Anten. Sungai-sungai itu bermanfaat sebagai air minum, mencuci dan mandi. Walaupun sebenarnya air yang mengalir di sungai sudah tidak layak lagi dikonsumsi karena masyarakat juga membuang dedak (kotoran padi) dan sampah rumah tangga di sungai tersebut.

KOTA BARU SANTAN DAN KETURUNAN RAJA MAJAPAHIT

a

Menurut penuturan M. Ali Rahman (90 tahun) tokoh adat yang pernah menjadi pasirah (setaraf camat) di Suku Sembilan, Kota Baru Santan merupakan pusat budaya Suku Sembilan. Konon seorang bernama Tuan Biku Sepanjang Jiwo, salah satu putra raja Kerajaan Majapahit menjelajahi Sungai Ketahun, Lebong untuk pergi ke kerajaan Pagaruyung. Di tengah perjalanannya, Tuan Biku terpisah dari rombongannya (Erwinsyah. 2006).

Tuan Biku lalu terus berjalan menyusuri sungai itu. Dalam perjalanannya, Tuan Biku bertemu dengan masyarakat yang menetap di tepi Sungai Ketahun. Masyarakat di pinggir sungai itu dipimpin oleh seorang yang bergelar Ajai (Raja) Bintang. Karena Tuan Biku lebih sakti dari Ajai maka masyarakat memilih Tuan Biku sebagai pemimpin mereka.

Pada masa kepemimpinannya, Sang Biku membuat aturan hukum yang akhirnya tertuang dalam Undang-undang Suku Sembilan. Undang-undang itu bertujuan agar masyarakat hidup rukun, aman, dan damai tanpa perselisihan. Undang-undang itu tidak saja mengatur hubungan antar manusia dalam masyarakat, tapi juga mengatur puak (hubungan manusia dengan alam). Undang-undang itu menjadikan masyarakat arif dalam menjaga dan memanfaatkan taneak imbo (hutan rimba) yang mengelilingi wilayah Suku Sembilan.

“Ia warisan nenek moyang kami (taneak tanai utan piadan nenek moyang keme),” tutur M. Ali Rahman (90 tahun) salah satu tokoh adat Suku Sembilan mengenang nasehat kakeknya. Sambil menghirup kopi yang ditanamnya sendiri, kakek yang selalu berlogat Rejang ini menjelaskan, Suku Sembilan hanya boleh mengelola ladang di tanah dan hutan marga. Meskipun tanah dan hutan marga berfungsi sebagai wilayah hutan, keduanya memiliki perbedaan. Tanah marga sebagai wilayah yang pengelolaannya dilakukan penduduk yang bermukim paling dekat jaraknya dengan tanah itu. Penduduk lain tidak boleh mengelolanya. Kepemilikan wilayah itu bersifat perorangan.

Lain halnya dengan hutan marga. Semua penduduk dalam masyarakat Suku Sembilan boleh mengelolanya. “Jadi, hak kepemilikan hutan marga bersifat komunal,” jelas tokoh Suku Sembilan yang bergelar pasirah (camat) ini. Wilayah tanah marga berada di Bukit Resam, sedangkan hutan marga berada di Ketenong, Muara Ketayu dan Tambang Sawah. Kota Baru Santan sendiri memiliki luas 1.300 ha yang terletak di Bukit Resam, di jajaran Bukit Barisan. Dengan ketinggian 579 meter di atas permukaan laut tanaman kopi tumbuh subur di sana. Di sini terdapat 800 ha ladang kopi. Kopi yang ditanam di Kota Baru Santan ini berjenis robusta (Coffea robusta).

Menurut Center Policy for Agro Studies (CPAS) dalam situsnya (www.cpas.or.id) tanaman kopi dapat tumbuh pada suhu bertemperatur 210 hingga 240 Celsius dengan ketinggian 400 hingga 700 m. Tanaman kopi ini menjadi salah satu tanaman andalan Kota Baru Santan. Selain kopi, tanaman yang diusahakan oleh masyarakat Kota Baru Santan adalah padi dengan luas 300 ha. Tiga sungai yang melewati Kota Baru Santan menyediakan air yang cukup baik untuk sawah mereka.

“Selain kopi, masyarakat bertani sawah,” sambung kakek yang memiliki cucu 15 orang itu. Sawah berada di lahan yang berjarak kira-kira 100 m di belakang pemukiman penduduk. Laki-laki lebih banyak bekerja di ladang kopi sedang perempuan di sawah. Dulu, sang Biku menarik pajak 0,7 % hasil kopi dan 0,1 % hasil padi. Pajak itu masuk ke kas Suku Sembilan. Pajak berguna untuk membangun berbagai fasilitas Suku Sembilan seperti jalan, balai pertemuan dan kebun bersama. “ Dengan begitu, Suku Sembilan menikmati kehidupan tanpa kurang suatu apa,” ujar Zainal Abidin mantan Gindei (kepala desa) yang 14 tahun lalu pensiun memimpin Kota Baru Santan.

BERGURU PADA ALAM

Alam dijadikan guru oleh masyarakat Kota Baru Santan. Hubungan dengan alam memberikan pengaruh terhadap tatanan kehidupan masyarakat. Kearifan dalam mengelola alam menjamin kelangsungan hidup anggota masyarakat. Kearifan yang diwariskan dari generasi ke generasi tersebut dijelaskan dalam bentuk-bentuk larangan, pantangan dan tabu-tabu. Misalnya, mereka dilarang membunuh bermacam binatang seperti, rusa, harimau dan elang. “ Binatang-binatang itu merupakan penunggu hutan. Apabila dibunuh akan mengakibatkan malapetaka,” jelas Indra Jaya.

Selain terdapat larangan membunuh binatang, mereka juga tidak boleh menebang pohon sembarangan. Pohon-pohon besar yang tumbuh berfungsi sebagai sumber air. Apabila menebang pohon itu maka mereka wajib mengganti dengan jenis pohon yang sama. “Pohon itu sumber kehidupan, bukan saja kita yang memanfaatkan pohon itu tapi mahluk lain juga,” ungkap Indra Jaya.

Sebagian besar masyarakat yang hidup dari bertani, tidak boleh bekerja saat hujan sementara cuaca panas. Menurut kepercayaan Suku Sembilan, kondisi seperti itu merupakan pertanda buruk seperti terjadinya kecelakaan misalnya terluka atau terjatuh. Di samping itu, tidak boleh memasuki hutan saat hujan panas tersebut karena pada saat itu dipercaya raja hutan (harimau) sedang berkeliaran atau sedang keluar dari kerajaannya.

PEREMPUAN DAN SAWAH

Hampir 95 % perempuan Kota Baru Santan menggarap sawah. Sawah di Kota Baru Santan terdiri dari 200 ha sawah air hidup yang sepanjang tahun mendapatkan air dengan pematang-pematang yang tertata apik. Selain itu terdapat kira-kira 100 ha sawah

bentar langit yang hanya mengandalkan air hujan. Masyarakat Kota Baru Santan tidak lagi menanam padi lokal yang panen setahun sekali. Sejak 1984, mereka menanam padi bibit unggul. Masa panennya, tiga sampai empat bulan. Sekali panen hampir setengah ton beras dihasilkan dari lahan setengah ha. Harian Kompas edisi 13 Juli 2003 menyebutkan, Lebong memperoleh pendapatan asli daerahnya (PAD) dari retribusi padi sebesar Rp 60 juta per tahun.

Sedangkan kopi dan nilam dari retribusinya hanya Rp 10 juta saja per tahunnya. Selain petani penggarap sawah, kelompok arisan turut serta dalam menggarap sawah. Kelompok ini terbentuk melalui pengajian rutin setiap Jum’at sore. Di samping pengajian rutin, merekapun ikut bergotong-royong menggarap sawah. Keikutsertaan mereka dalam bergotong-royong atas permintaan petani pemilik sawah. Mereka membantu menyemai bibit, menanam benih, memupuk, dan memanen. “Dengan pekerjaan ini kita mendapat sepertiga bagian dari hasil panen. Bagian itu masuk ke kas arisan,” ungkap Nis, salah satu anggota arisan yang memiliki satu putra.

BENCANA MELANDA

Departemen Kehutanan menetapkan status hutan lindung Bukit Resam pada tahun 1982. Penetapan ini membuat masyarakat Kota Baru Santan marah. Mereka mengakui tanah marga Bukit Resam sebagai tempat berladang, bukan sebagai hutan lindung. Walaupun Departemen Kehutanan melarang memasuki hutan lindung ini, namun sekitar 350 laki-laki peladang kopi tetap saja pergi ke sana. Sembunyi-sembunyi tapi pasti, mereka masuk ke wilayah lindung tersebut.

“Ini terkait dengan tanggung jawab sebagai suami. Ini pilihan terbaik agar anak dan istri bahagia,” ujar Nasrun bapak empat anak yang sehari-harinya menggarap 2 ha ladang kopi. Pilihan itu beresiko tinggi. Departemen Kehutanan bisa langsung memvonisnya sebagai “perambah hutan”. Hutan lindung Bukit Resam tetap menjadi ladang kopi para petani. Pada 1997 harga kopi membumbung tinggi. Harga jual kopi berkisar antara 18.000 rupiah sampai Rp. 20.000 rupiah tiap kilogramnya.

Toke (bandar pengumpul) lokal ambil bagian sebagai penampung hasil panen kopi yang berharga itu. Saat itu Bukit Resam seperti pasar yang ramai dikunjungi para pembeli dan pedagang. Naiknya harga kopi menyebabkan mereka lupa akan nilai-nilai luhur dalam menjaga hutannya. Ladang kopi mereka diperluas dari hanya 1,5 hingga 2,5 ha. Ini dilakukan mengingat 18 juta rupiah untuk tiap tonnya dapat mereka peroleh dari hasil penjualan kopi. Para peladang kopi berduyun-duyun bekerja di ladang-ladang kopi. Tak ketinggalan turut serta para istri. Bahkan anak-anak mereka yang baru pulang dari sekolah langsung pergi ke ladang, ikut membantu orang tuanya.

Keadaan ini tidak berlangsung lama. Pada tahun 1999 harga kopi anjlok ke level terendah pada kisaran 2.000 rupiah hingga 3.000 rupiah tiap kilonya. Harian Kompas edisi 18 Agustus 1999 menyebutkan, petani kopi di Indonesia mulai menjerit ketika harga kopi hanya 2.500 rupiah tiap kilonya. Harian Sinar Harapan edisi 17 Juli 2003 menyebutkan, naik turunnya harga kopi dunia ditentukan oleh bursa kopi di London dan Inggris. Tak terkecuali harga kopi di Indonesia.

Di Lebong, untuk 1 ha ladang kopi menghasilkan 500 kilogram biji kopi. Walaupun kondisinya begitu, tetap saja masyarakat Kota Baru Santan mempertahankan ladang kopi mereka. Dalam kebuntuan hidup itu, nilam (Pogostemon cablin Benth) menjadi dewa penyelamat pendapatan mereka. Nilam bersaing ketat dengan kopi. “Usia 9 bulan, siap panen,” ujar Hanafi yang sehari-hari ke Bukit Resam bekerja di ladang. Harga jual nilam yang cukup stabil di kisaran 225.000 rupiah tiap liternya semakin membuat petani kopi jatuh hati pada komoditas baru ini.

Tetapi Nilam bukan tidak membawa masalah. Nilam yang berharga itu membuat tanaman kayu di Bukit Resam habis. Tanah longsor pun seringkali terjadi. “ Nilam sangat rakus, ia tidak mau berdampingan dengan tanaman lain. Jadi nilam saja yang tumbuh, lainnya dibabat habis,” ungkap M. Yuzir Hoesein kepala desa Kota Baru Santan yang menjabat hampir 3 tahun itu. Minyak nilam (Patchouli Oil) ini merupakan bahan minyak astiri. Harian Warta Andalas edisi 18 Agustus 1999 menyebutkan, minyak astiri ini berfungsi sebagai bahan utama pembuat kosmetik, sabun, parfum, dan pengharum ruangan. Hampir 90 % minyak astiri di dunia dihasilkan dari Indonesia. Di Indonesia, minyak astiri ini dihasilkan dari empat provinsi, salah satunya Bengkulu.

Untuk mendapatkan minyak nilam dilakukan penyulingan. Satu kali penyulingan menghasilkan 0,75 hingga 1 liter minyak nilam. Namun satu kali suling, membutuhkan satu meter kubik kayu bakar. Di desa ini, awalnya kayu bakar diperoleh dari pohon kopi yang sudah mati. “Kini, kayu kopi susah. Jadi kami ambil kayu hutan,” ujar Hanafi, petani nilam yang tubuhnya legam terbakar matahari. Karena kayu di Bukit Resam yang mulai berkurang menyebabkan sering terjadi longsor. Tanah yang menjadi lumpur akibat longsor seringkali menghimpit padi. “Ini mengganggu tanaman padi kami” , ujar Rohana sambil menunjuk ke Bukit Resam yang menjulang tinggi. Namun demikian, perempuan desa tetap menggarap sawah.

PEREMPUAN MERAPATKAN BARISAN

bb

Berawal pada tahun 2004, setelah dibangunnya madrasah secara swadaya oleh masyarakat Kota Baru Santan, perempuan Kota Baru Santan mulai menjadikan tempat tersebut untuk berkumpul. Bangunan semi permanen itu menjadi tempat diskusi mereka di sore hari. Obrolan-obrolan sore rutin digelar. Diskusi ini membicarakan seputar masalah perempuan seperti, kesehatan, pendidikan dan pengajian. Diskusi ini berkembang seiring dirasakannya manfaat dari berkumpul itu. Banyak hal yang mereka peroleh.

“Paling tidak kami bisa saling berbagi diantara kami,” imbuh Anizar (37) yang menjadi tokoh utama dari berkumpulnya perempuan Kota Baru Santan di bangunan madrasah itu. Madrasah yang berukuran 15×20 m, hanya satu meter berdinding bata yang dibalut dengan semen, selebihnya menggunakan kayu papan. Bangunan ini memiliki dua ruang. Satu ruang belajar dan satu lagi ruang yang ditempati oleh keluarga Anizar. Semula, madrasah itu berfungsi sebagai media belajar anak-anak usia sekolah dasar.

“Di sini mereka belajar mengaji,” lanjut Anizar yang juga menjadi guru sekaligus penanggung jawab kegiatan belajar mengajar di madrasah itu. Biasanya pada pukul 15.00 WIB, sebanyak 20 anak laki-laki dan perempuan dari semua penjuru Kota Baru Santan berbondong-bondong menuju madrasah. Madrasah yang letaknya di tengah-tengah desa yang di bawahnya mengalir air Sungai Pelabi menjadi tempat berkumpulnya generasi penerus Kota Baru Santan.

Pukul 17.00 WIB, aktivitas di madrasah itu biasanya kembali sepi. Anak laki-laki dan perempuan yang berkumpul di sana mulai keluar dari ruang belajar karena waktu belajar sudah habis. Seperti disebutkan di atas, madrasah itu menjadi pusat kegiatan perempuan di Kota Baru Santan. Dengan mulai aktifnya perempuan berkumpul di hari Minggu sore, Anizar yang selalu menggunakan jilbab itu berpikir.

“Kira-kira apa yang harus dilakukan agar perempuan Kota Baru Santan tidak saja berkumpul. Tapi juga melakukan hal yang bermanfaat bagi mereka,” tutur Anizar sambil memperlihatkan senyumannya kepada staf lapangan Yayasan Kelopak. Selanjutnya, Anizar mengajak Yayasan Kelopak turut serta berkumpul di madrasah itu. Dari rumah Datuk, tempat tinggal staf Yayasan Kelopak yang selama ini menetap di Kota Baru Santan, tidak sampai lima menit kami sudah sampai ke madrasah itu. Diskusi pun dimulai. Karena staf lapangan Kelopak semuanya laki-laki maka, diskusi di madrasah itu agak sedikit tersendat.

Diskusi rutin tetap berjalan setiap Minggu sore. Staf Kelopak hanya memandu proses dan menyemangati mereka. Pada akhirnya, mereka menemukan beberapa ide untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan yang dapat mengisi waktu luang mereka. “Bagaimana kalau kita mengembangkan kerajinan bambu. Kan bambu banyak di pinggir sungai. Kita bisa memanfaatkannya”, ujar Rohana yang berkeinginan agar perempuan mengembangkan kerajinan bambu. “Betul kata Rohana. Kita bisa membuat bronang (keranjang),”

ujar Cik Ana menimpali.

v

Dengan potensi bambu yang banyak tumbuh daerah ini bukan tidak mungkin ide yang muncul dari diskusi-diskusi Perempuan Kota Baru Santan ini dapat terwujud. Tanaman bambu memang belum begitu dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Baru Santan. Tanaman ini hanya dimanfaatkan sebagai bahan pembuat pagar rumah. Potensi alam ini terdapat di hampir sepanjang sungai yang melintasi Kota Baru Santan. Karena belum dimanfaatkan, potensi ini belum dapat membantu memberikan arti bagi kehidupan masyarakat Kota Baru Santan. Pemanfaatan bambu yang banyak tumbuh di pinggir sungai harus benar-benar mempertimbangkan aspek lingkungan karena selama ini rumpun bambu tersebut berfungsi sebagai penahan erosi. Pemanfaatan yang berlebihan tentu akan menimbulkan ancaman baru, erosi dan banjir.

Biasanya pada pukul 15.00 WIB, sebanyak 20 anak laki-laki dan perempuan dari semua penjuru Kota Baru Santan berbondong-bondong menuju madrasah. Madrasah yang letaknya di tengah-tengah desa yang di bawahnya mengalir air Sungai Pelabi menjadi tempat berkumpulnya generasi penerus Kota Baru Santan. Pukul 17.00 WIB, aktivitas di madrasah itu biasanya kembali sepi. Anak laki-laki dan perempuan yang berkumpul di sana mulai keluar dari ruang belajar karena waktu belajar sudah habis.

Seperti disebutkan di atas, madrasah itu menjadi pusat kegiatan perempuan di Kota Baru Santan. Dengan mulai aktifnya perempuan berkumpul di hari Minggu sore, Anizar yang selalu menggunakan jilbab itu berpikir. “Kira-kira apa yang harus dilakukan agar perempuan Kota Baru Santan tidak saja berkumpul. Tapi juga melakukan hal yang bermanfaat bagi mereka,” tutur Anizar sambil memperlihatkan senyumannya kepada staf lapangan Yayasan Kelopak. Selanjutnya, Anizar mengajak Yayasan Kelopak turut serta berkumpul di madrasah itu. Dari rumah Datuk, tempat tinggal staf Yayasan Kelopak yang selama ini menetap di Kota Baru Santan, tidak sampai lima menit kami sudah sampai ke madrasah itu.

 

Selain ide untuk mengembangkan bambu, perempuan Kota Baru Santan juga berniat untuk mengembangkan perpustakaan di madrasah. “Perpustakaan menjadi salah satu sarana pengayaan pengetahuan,” ujar Anizar bersemangat menggebu-gebu. Ruang belajar madrasah ini kan masih luas, jadi bisa digunakan sebagai perpustakaan desa. “Walau sederhana, tapi manfaatnya luar biasa,” lanjutnya. Di samping dapat dimanfaatkan oleh perempuan Kota Baru Santan, perpustakaan juga dapat dimanfaatkan oleh kaum laki-laki. Jadi bukan hanya perempuan saja yang mendapat tambahan pengetahuan tapi laki-laki bahkan anak-anak juga harus memanfaatkannya.

Ternyata, sebuah madrasah yang hanya berdinding papan dan memiliki ruangan yang sedikit, dapat dimanfaatkan oleh masyarakatnya sebagai tempat mereka berkumpul. Keterbatasan yang kita miliki bukanlah menjadi penghalang yang berarti. Tinggal apakah kita mau berbuat atau tidak‚ “Itu juga jadi pilihan“ sambung ibu guru madrasah itu.

 

PELAJARAN YANG DIPETIK

Madrasah bagi masyarakat Kota Baru Santan, tidak hanya sebagai tempat belajar mengaji anak-anak mereka. Akan tetapi juga sebagai sarana masyarakat khususnya perempuan untuk juga belajar. Meski tidak ada guru dalam proses belajar ini, pengalamanlah yang ternyata menjadi guru terbaik. Ide-ide untuk menghadapi sulitnya hidup bermunculan di sini seiring rutinnya mereka berkumpul di tempat itu.

Keragaman hayati yang dalam hal ini adalah keragaman hasil kebun ternyata dirasakan manfaatnya ketika harga pasar terus mengalami fluktuasi. Kesadaran akan pentingnya keragaman tersebut muncul dari pengalaman masyarakat sendiri. Pelajaran lainnya yang bisa dipetik adalah bahwa kelompok-kelompok yang sudah terbentuk dengan sukarela seperti kelompok perempuan di madrasah ini bisa dijadikan wadah belajar. Sehingga jika ada program pendampingan baik dari pemerintah maupun dari LSM ke depannya, alangkah layak untuk mulai dari kelompok semacam ini.

====
Keterangan Penulis:
*Tommy Erwinsyah: Tommy lahir di Bengkulu pada 12 September 1980, menamatkan kuliah S1 di Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bengkulu. Sejak 2000 sampai saat ini aktif di Laboratorium Pengembangan Administrasi Pembangunan, Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Universitas Bengkulu. Semenjak 2001 sampai saat ini, Tommy juga aktif di Yayasan Kelopak Bengkulu dan mendirikan Perkumpulan SPORA (Solidaritas untuk Pengelolaan Lingkungan Hidup berbasis Masyarakat) pada tahun 2006. Tulisan ini adalah salah satu pengalaman pendampingannya yang dibukukan bersama kumpulan tulisan lain yang berjudul “Dari Desa ke Desa: Dinamika Gender dan Pengelolaan Sumber Daya Alam”, tahun 2007.
Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
About Perempuan Berkisah 106 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply