Musrenbang Milik Perempuan Lho!

Keterlibatan perempuan dalam Musrenbang diharapkan tidak hanya menjadi pemanis atau penghidang jamuan rapat, tetapi benar-benar terlibat aktif untuk memperjuangkan kebutuhan kampung karena perempuanlah yang sehari-hari mengikuti perkembangan yang terjadi di masyarakat.

Musrenbang atau Musyawarah Perencanaan Pembangunan sendiri diatur dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Musrenbang, menurut UU ini, adalah wadah bertemunya pemerintah/pemerintah daerah dan masyarakat untuk menyusun rencana pembangunan nasional dan daerah. Pertemuan ini terbuka bagi seluruh warga, baik laki-laki maupun perempuan, untuk memberikan masukan terhadap  rencana pembangunan tersebut berdasarkan kebutuhan desa/kampung/warga. Tujuan  Musrenbang adalah menampung dan menetapkan kegiatan prioritas sesuai kebutuhan masyarakat, yang diperoleh dari musyawarah perencanaan sesuai dengan tingkatan di bawahnya dan menetapkan kegiatan-kegiatan tersebut apakah akan dibiayai oleh APBD (Anggaran Perencanaan Belanja Daerah) atau sumber dana lainnya. Mengenai anggaran/pendanaan tiap kegiatan tersebut harus diketahui oleh masyarakat, karena dalam Musrenbang ada tahapan penyusunan dan pembahasan anggaran.

Untuk melaksanakan Musrenbang, setidaknya 7 hari sebelumnya, undangan harus dibagikan ataupun diumumkan oleh kepala kampung, RT/RW kepada seluruh warga agar warga punya waktu untuk mendaftarkan diri. Tidak berhenti sampai di tingkat desa, masyarakat harus tetap mengawasi pelaksanaan Musrenbang tingkat kecamatan sampai kabupaten agar usulan warga tetap masuk dalam program di dinas atau pemerintah dan tidak dihapus di tengah jalan. Selain itu, karena penentuan jadi atau tidaknya program yang diusulkan warga justru saat Musrenbang di Kabupaten.

Di atas semua itu, yang paling penting dalam proses Musrenbang adalah partisipasi seluruh warga, khususnya perempuan yang selama ini sangat jarang berada di ruang publik. Oleh karena adanya pembedaan gender oleh masyarakat dan dilanggengkan yang menyebabkan hubungan laki-laki dan perempuan menjadi timpang. Hubungan yang timpang tersebut mengakibatkan posisi perempuan yang seharusnya sejajar/setara dengan laki-laki, ditempatkan lebih rendah dari laki-laki dan membuat ruang gerak perempuan menjadi sempit/terbatas. Oleh sebab itu, perempuan hanya ditempatkan untuk kegiatan di dalam rumah (ruang privat), seperti mengurusi rumah tangga, melakukan pekerjaan rumah tangga, dan pekerjaan rumah lainnya. Kalau pun berada di ruang publik, itu hanya membantu pekerjaan suami atau bekerja untuk mencari nafkah untuk membantu suami.

Dalam posisi itu, perempuan tetap tidak memiliki posisi tawar yang baik, seperti mengambil keputusan di keluarga. Perempuan dianggap tidak rasional melainkan emosional, sehingga tidak mampu untuk mengambil keputusan.

Keterlibatan perempuan dalam Musrenbang diharapkan tidak hanya menjadi pemanis atau penghidang jamuan rapat, tetapi benar-benar terlibat aktif untuk memperjuangkan kebutuhan kampung karena perempuanlah yang sehari-hari mengikuti perkembangan yang terjadi di masyarakat.

Musrenbang: Dari Kitong Untuk Kampung

Komik “Musrenbang: Dari Kitong untuk Kampung” adalah judul komik yang berlatar belakang pedalaman Papua. Kampung Kenari adalah kampung kecil di balik perbukitan tanah Papua. Dan hamparan Danau Paniai yang indah merupakan latar belakang cerita komik. Digambarkan dalam komik ini bagaimana kehidupan warga Kampung Kanari yang sangat sederhana. Kesejahteraan warganya masih kurang, banyak anak kecil tidak mendapatkan gizi yang cukup. Begitu pula dengan layanan publik seperti sekolah, puskesmas, jauh dari memadai. Namun, perempuan di desa Kanari merupakan sosok perempuan yang hebat. Selain mengurus rumah tangga, sehari-hari mereja juga bekerja d kebun untuk memenuhi kehidupannya.

Mama Emaria adalah tokoh perempuan yang diceritakan dalam komik tersebut. Cerita bermula dari kepulangan Joan, anak perempuan Mama Emaria yang adalah seorang mahasiswi Universitas Cenderawasih. Joan resah melihat kondisi desanya dimana posyandu tidak aktif dan sekolah tidak ada gurunya. Joan pun bertanya kepada mamanya kenapa hal tersebut bisa terjadi dan kenapa tidak diusulkan melalui musrenbang.

Mendengar teryata ada forum semacam musrenbang, dimana bisa digunakan untuk mengajukan kebutuhan kampungnya, Mama Emaria sangat bersemangat. Akhirnya, dia menyebarkan informasi tersebut kepada warga.

Pelatihan tentang musrenbang pun akhirnya dilaksanakan, walaupun awalnya mendapatkan perlawanan dari laki-laki yang ada di desa tersebut. Di akhir cerita, masyarakat sangat bahagia karena bisa mengikuti proses musrenbang dan mengusulkan apa yang menjadi kebutuhannya.

Meretas Perubahan dari Bawah

Aceh pasca tsunami merupakan latar yang diambil dalam cerita komik ini. Setelah enam tahun pasca tsunami, Gampong Bungong Jeumpa, di dataran rendah Aceh Utara, walaupun tidak parah, namun gampong tersebut juga terkena tsunami. Sarana umum dan rumah penduduk telah dibangun kembali, begitu pun kegiatan ekonomi telah pulih. Namun ada persoalan lain yang luput dari perhatian, yakni sumber air bersih warga yang belum tersentuh perbaikan. Di samping itu, letaknya jauh dari pemukiman warga dan airnya selalu keruh dan kotor.

Selain air besih, layanan pendidikan dan kesehatan di gampong tersebut juga jauh dari memadai. Bangunan sekolah dan polindes yang tidak layak, serta tenaga guru dan petugas medis jumlahnya sangat terbatas. Perbaikan sarana umum pernah diajukan kepada pemerintah desa, namun belum juga diperbaiki.

Keresahan-keresahan tersebut yang mendorong perempuan-perempuan di wilayah ini ingin mengetahui lebih banyak soal musrenbang, setelah sebelumnya hanya mengetahui sekilas tentang itu dari salah satu aktivis LSM. Akhirnya melalui Yusma, salah satu tokoh di komik tersebut, perempuan-perempuan di Gampong tersebut bisa belajar banyak soal musrenbang dan ikut dalam proses musrenbang.

Kesetaraan Gender

Komik ini berbicara mengenai konsep dasar dari gender itu sendiri. Kata gender mungkin selama ini sudah sering didengar melalui banyak media, tetapi sering kata tersebut tidak pernah dipahami. Gender kerap dipahami sebagai jenis kelamin, padahal gender adalah perbedaan sifat dan peran pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh masyarakat. Perbedaan itu diterima dan diyakini benar adanya oleh masyarakat, kemudian keyakinan dan kebenaran itu diproduksi secara massif dalam keluarga, komunitas, maysrakat dan negara, sehingga menjadi langgeng.

Komik ini dibagi menjadi 4 bab; bab 1 bercerita mengenai mengenal gender, bab dua berbicara mengenai Ketidakadilan gender, bab 3 berbicara mengenai strategi untuk perubahan dan bab 4 berbicara mengenai kepemimpinan perempuan.

Ketiga komik tersebut merupakan satu rangkaian, karena ketika berbicara mengenai partisipasi perempuan di dalam musrenbang, masyarakat harus memahami mengenai kesetaraan gender dan penyebab-peyebab mengapa terjadi ketidakadilan gender. Setelah masyarakat mempunyai kesadaran akan kesetaraan gender, maka ruang-ruang partisipasi perempuan baik dalam ranah privat maupun publik dapat terbuka lebar dan tidak ada lagi dikriminasi terhadap perempuan terjadi. *****(NT)

 

Judul                : -Musrenbang: Dari Kitong untuk Kampung
: -Meretas Perubahan dari Bawah
: -Kesetaraan Gender
Tim Kreatif    : Arifadi Budiarjo, dkk.
Editor              : Hegel Terome, dkk.
Penerbit         : Yayasan Kalyanamitra dan OXFAM
Cetakan          : 2010
Halaman       : v+56 hlm, v+64 hlm, v+64 hlm

====

Sumber: Kalyanamitra

About Perempuan Berkisah 174 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply