Seksualitas (Kerangka Analisis Gender)

Ruth Dixon Mueller berpendapat bahwa seksualitas mempunyai makna yang berbeda bagi orang-orang yang berbeda dalam konteks yang berbeda pula. Berdasarkan refrensi sosiologi dan antropologi dia mengidentifikasi 4 dimensi seksualitas dan perilaku social yang secara social diorganisasikan sejajar dalam keterhubungannya dengan gender.

Mueller mendefinisikan perilaku seksual sebagai tindakan-tindakan yang bisa diamati secara empiris. Setidaknya, tindakan seks bisa diukur dalam beberapa cakupan sbb: apa yang orang lakukan secara seksual baik dengan pihak lain maupun dengan dirinya sendiri bagaimana seseorang mempresentasikan diri mereka secara seksual dalam hal bagaimana mereka berbicara dan bertindak. Mueller mendefinisikan seksualitas sebagai sebuah konsep yang lebih komprehensif yakni mencakup kapasitas untuk membangkitkan hasrat dan kenikmatan seksual (libido) serta makna-makna sosial personal dan bersama yang melekat pada perilaku seksual dan konstruksi identitas seksual dan gender. Sebagai sebuah konsep biologis yang masuk dalam budaya, seksualitas menjadi sebuah produk sosial yaitu  representasi dan interpretasi dari fungsi natural dalam relasi-relasi sosial yang hirarkis.
Mueller mengkatekorisasikan 4 dimensi seksualitas dalam kerangka kerja gender, yakni: 1) Pasangan Seksual (Sexual Partnership), 2) Tindakan Seksual (Sexual Acts), 3) Pengertian tentang Seks (Sexual Meanings) dan 4) Hasrat Seksual dan Kenikmatan. Dimensi 1 dan 2 berkaitan dengan perilaku dan objektif, sedangkan dimensi 3 dan 4 lebih bersifat psikologis dan subjektif. Setiap elemen saling kait-mengkait dengan dan dibentuk oleh pengalaman gender; sehingga, perbedaan-perbedaan gender (ataupun persamaan-persamaan) dalam perilaku seksual, pengertian dan hasrat dapat dianalisis secara sistematis terhadap kelompok-kelompok social tertentu.
1) Pasangan seksual (Seksual Partnership): apa yang orang perlakukan secara seksual dengan yang lainnya atau dengan diri mereka sendiri. Elemen ini terdiri dari:
– jumlah pasangan seksual, sekarang dan sebelumnya
– waktu dan tenggat waktu relasi seksual seseorang dalam hidupnya
– identitas sosial pasangan
– dalam kondisi apa: pilihan atau keterpaksaan
– kondisi tertentu dan tingkat perubahan
2) Tindakan seksual (Sexual Acts): bagaimana seseorangt mempresentasikan dirinya sendiri secara seksual. Dimensi ini meliputi:
– sifat dari tindakan seksual
– frekuensi tindakan seksual
– dalam kondisi apa: pilihan atau keterpaksaan
Umumnya literatur demografi konvensional lebih terfokus pada reproduksi dan membuat asumsi simplisistik bahwa seks hanyalah mencakup hubungan heteroseksual secara sukarela dengan melakukan penetrasi pada vagina dan ejakulasi. Berbagai gaya intercourse jarang disebutkan, misalnya hubungan oral atau anal pada hubungan heteroksesual dan homoseksual, model-model non-penetrasi dari ekpresi seksual (misalnya masturbasi bersama ataupun sendirian), hubungan dengan binatang, permainan seks dengan anak-anak, perkosaan ataupun hubungan seks yang memaksa dengan cara-cara halus, penggunaan alat-alat atau tekhnik untuk meningkatkan kenikmatan yang bisa saja sangat membahayakan dan praktik-praktik lainnya.
3) Pemaknaan Seksual (Sexual Meanings)
Konstruksi sosial seksualitas merujuk pada proses yang mana pemikiran-pemikiran tentang seks, perilaku dan kondisi tertentu (misalnya, keperawanan) diinterpretasikan dan dilekatkan pada pemaknaan kultural. Dimensi ini mencakup keyakinan kolektif dan individual tentang hakikat tubuh, tentang apa yang dianggap erotis atau tidak menyenangkan, dan tentang apa dan dengan siapa yang pantas atau tidak pantas bagi perempuan dan laki-laki (menurut umur dan karakteritik lainnya) untuk melakukan atau membicarakan tentang seks. Ideologi-ideologi tentang seksualitas dalam sejumlah budaya memberi tekanan pada pertahanan perempuan, serangan laki-laki dan antagonisme bersama dalam perilaku seks, sementara di lain tempat mereka memberi penekanan pada kenimatan resiprositas dan kenikmatan bersama. Secara ringkas, bagian ini membahas tentang:
– seksualitas maskulin/feminin
– persepsi tentang pasangan
– Pengertian tentang tindakan seks
4) Rangsangan Seksual dan Kenikmatan (Sexual Drives and Enjoyment)
Aspek-aspek fisiologis dan sosiopsikologis dari seksual;itas berinteraksi menghasilkan barbagai tingkatan dari kapasitas stimulatif dan orgasmik yang berbeda bagi individu-individu baik secara umum maupun situasional dan yang dapat merubah seluruh jalan hidup seseorang. Dimensi ini mencakup pengetahuan laki-laki dan perempuan tentang kapasitas seksual dan reproduktif dan kemampuan untuk mencapai kenikmatan fisik dan emosional melalui fantasi, hubungan seksual, atau self-stimulation. Bagaimanakah sebenarnya karakter identitas dan response seksual seorang individu? Apakah perempuan dan laki-laki berbeda dalam pendekatan relasi seksual secara umum ataukah praktik-praktik seksual tertentu saja?
Dalam hal apa hubungan seksual menjadi sumber keresahan? Singkatnya, dimensi ini mencakup:
– Pembentukan identitas seksual
– Rangsangan seks yang dikondisikan secara sosial
– Persepsi tentang kenikmatan
Source: “The Sexually Connection in Reproductive Health” by Ruth Dixon-Mueller 1993. Dalam Studies in Family Planning vol. 24 No. 5 Sept/Oct. 1993 pp. 269-280. Population Council, USA
===
sumber: Genderpedia
About Perempuan Berkisah 174 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply