Kisah Perempuan Berantas Kemiskinan di Desa Kumuh Nelayan

Berpendidikan rendah dengan akses terbatas membuat Masnu’ah tak pernah berani memimpikan hal besar. Namun, kegelisahannya memuncak karena menyaksikan kemiskinan dan belenggu budaya partiarki di desanya dan membulatkan tekad untuk mengubah para perempuan Dusun Moro, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

 

“Saya sangat paham kondisinya karena hidup di sini dan mengalaminya juga. Para istri nelayan hidup susah dan sering menjadi korban kekerasan suami, diperlakukan seenaknya seperti barang,” ujar perempuan yang hanya mengenyam pendidikan SD ini beberapa waktu lalu.

Kesempatan datang akhir tahun 2005. Melalui koperasi beras hasil iuran swadaya seribu rupiah dan jimpitan beras, ia membentuk kelompok Puspita Bahari. Kelompok ini lahir semata untuk membantu mendorong peningkatan ekonomi keluarga nelayan.

“Modal awal satu juta rupiah untuk membeli beras, tapi bangkrut. Tidak mudah mengajak mereka karena suami tidak mengizinkan keluar rumah. Saya tidak dipercaya, jadi harus aksi,” katanya.

Tak menyerah, meski sering menuai jalan buntu. Kemiskinan yang mendera keluarga nelayan yang menempatkan perempuan dalam posisi marjinal justru memicunya. Mas’nuah pun tergerak mengajak istri nelayan membuat produk olahan seperti kerupuk, keripik, dan abon berbahan baku ikan murah. Juga merangkul para suami dengan menjadi mediator bantuan tiga kapal untuk melaut dari Dompet Dhuafa yang disalurkan lewat LBH Layar Nusantara dan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), dan bergabung dalam forum masyarakat peduli lingkungan lewat Program Peduli Penghijauan Mangrove.

“Selama ini banyak ikan terbuang sia-sia diolah dan dijajakan ke pasar, koperasi, warung. Selain itu juga mengelola sampah untuk mengurangi kekumuhan desa nelayan,” jelas perempuan yang keberhasilannya ini diganjar penghargaan Kusala Swadaya sebagai kelompok perempuan nelayan yang berhasil mengatasi kekumuhan di perkampungan nelayan.

Tekadnya bulat, ia bahkan rela berkeliling desa mengajak warga menekan budaya konsumtif dengan menabung dengan datangi tiap rumah untuk mengambil tabungan. “Seribu hingga lima ribu per minggu. Harus mengalah,” ujar perempuan yang memiliki 100 nasabah ini.

Tak hanya peningkatan kesejahteraan, Masnu’ah juga memberdayakan kesetaraan gender, penyuluhan kesehatan reproduksi, HIV AIDS, dan KDRT yang menjadi masalah krusial di desanya.

Tapi jalan berliku tetap dihadapi, termasuk ketika mendapat ancaman dan kecaman dari warga, keluarga dan bahkan suaminya sendiri. “Saya pernah diancam ketika mendampingi istri nelayan korban KDRT ke pengadilan. Berat dan sulit karena tidak ada dukungan, bahkan dari suami,” kenang istri Su’udi ini.

Kini, Mas’nuah bisa tersenyum. Dusun Moro, Demak berubah lebih baik dan tertata. Keinginan mengajak para perempuan nelayan menjadi agen perubahan membuahkan hasil. “Meski ada saja yang tidak percaya dan mengawasi. Bahkan mengolok-olok dan melecehkan. Yang penting tujuan benar dan bisa membantu seseorang,” yakinnya.

Mas’nuah juga membuat jaringan dan persaudaraan nelayan se-Indonesia untuk membantu menangani permasalahan nelayan dan studi banding untuk perempuan nelayan di Aceh, Sumatera, Tuban.”Selain di Bau-Bau, kami juga membebaskan nelayan Rembang yang disandera di Sumatera. Dan membantu ABK nelayan Jateng yang berada di Balikpapan,” kata Masnu’ah lagi.

Atas usahanya itu, Masnu’ah menjadi satu-satunya perempuan Indonesia yang menerima penghargaan Honouring 100 Women to Mark 100 Years of Womens Resistence for Rights, Empowerment and Liberation dari Asian Rural Womens Coalition (ARWC) atas kontribusinya memperjuangkan hak-hak dan kepentingan perempuan pedesaan di Asia, dan dipilih mengikuti pelatihan pemberdayaan untuk masyarakat pesisir di Bangkok. “Itu sangat luar biasa dan membanggakan,” tukasnya sambil tersenyum.

13 lebih perjuangannya dirasa belum cukup karena masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk perbaikan masyarakat wilayah pesisir. Semangatnya menular kepada Mohamad Vicky Alansyah (18), anak semata wayangnya yang kini menjadi bagian dari 11 anak miskin berprestasi yang mendapat beasiswa dari Universitas Internasional Batam. “Sekarang saya berani mimpi dan ingin anak menjadi orang hebat seperti orang yang saya temui,” ucapnya.

===

sumber tulisan: ayo kita bisa

Kisah Lainnya...

Leave a Reply