Solidaritas untuk Intan dan Korban Teror Bom Gereja di Samarinda

Pernyataan Sikap

Aliansi Damai Tanpa Diskriminasi

Solidaritas untuk Intan dan Korban Teror Bom Gereja di Samarinda

Dengan ini kami dari Aliansi Damai Tanpa Diskriminasi menyatakan, mengutuk dan mengecam kejadian bom di Samarinda, 13 November 2016, yang memakan korban meninggalnya seorang anak balita, Intan Olivia, berusia 3 tahun. Beberapa orang anak lainnya juga kena luka bakar parah karena bermain di depan Gereja Oikumene, Samarinda, saat bom molotof dilemparkan.
Ada begitu banyak korban kekerasan dan korban terror di penjuru Indonesia dari Aceh sampai Papua. Kekerasan terjadi di mana-mana dan kita mengutuk semua jenis kekerasan yang terjadi, termasuk kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Dalam banyak konflik dan teror, perempuan dan anak lebih sering menjadi korban, seperti yang telah terjadi di Samarinda.

Anggota Aliansi Damai Tanpa Diskriminasi sangat prihatin dan berharap agar masyarakat bisa tenang, membangun dialog, dan merasa empati pada korban, serta melihat ke depan bagaimana kita bisa bekerjasama membangun perdamaian dengan masyarakat dari berbagai golongan dan kepentingan. Kami juga berharap pemerintah serius menanggapi isu ini dan menyelesaikan tuntas masalah hukum terkaitnya untuk memberikan rasa keadilan pada korban dan keluarganya.

Kami dari kelompok ini menuntut:

1. Pemerintah Republik Indonesia (RI) khususnya Bapak Presiden Joko Widodo untuk memberikan arahan kepada kabinetnya agar bekerja untuk mendukung penegakan perdamaian dan keberagaman. Hal ini sesuai hak manusia untuk hidup dengan kedamaian dan toleransi sesuai dengan UU HAM dan UUD 1945.
2. Pemerintah RI khususnya Kepolisian Republik Indonesia untuk mengusut tuntas sampai ke akar permasalahan terkait kasus bom dan terror yang dilakukan di Gereja Oikumene pada 13 November 2016, termasuk menindak tegas atau memberikan hukum sesuai aturan terkait kepada pelaku.

3. Pemerintah RI khususnya Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk memastikan agar hak-hak warga negara untuk beribadah sesuai kepercayaan masing-masing dapat ditegakkan dan akan dilindungi di seluruh Indonesia dan menindak tegas semua kelompok atau organisasi yang melanggar hak-hak warga negara untuk hidup nyaman dalam keberagaman.

4. Pemerintah RI khususnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementeriannyauntuk melakukan pendidikan HAM dan keberagaman untuk membangun toleransi dari usia dini dengan komprehensif sesuai tahap pertumbuhan anak.

5. Masyarakat Indonesia, organisasi-organisasi terkait, komunitas dan pengurus masyarakat yang ada, untuk menghormati perbedaan, keberagaman dan menjunjung tinggi pedoman Bhinneka Tunggal Ika dan toleransi dalam hidup kesehariaan, sesuai dengan apa yang sudah dicantumkan dalam Pancasila dan UUD 1945.

6. Masyarakat dan organisasi sipil bersama untuk membangun diskusi dan dialog lintas agama dan budaya untuk menciptakan kondisi lintas pemikiran yang beragam dan penuh toleransi dalam berbagai kegiatan keseharian.

Jakarta, 15 November 2016

Aliansi Damai Tanpa Diskriminasi

Kontak Person:

Kate Walton
Olin Monteiro : olin.monteiro@gmail.com
Helga Worotitjan : Helga.inneke@gmail.com

============

Sumber info: Jurnal Perempuan

About Perempuan Berkisah 169 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply