Dilema Kampung Muluy di Kaki Gunung

Kampung Muluy adalah kampung di kaki Gunung Lumut Provinsi Kalimantan Timur yang masyarakatnya mencoba bertahan dengan kearifan lokalnya demi kelestarian hutan, namun tetap miskin. Bagi masyarakat Muluy yang berjumlah sekitar lima belas keluarga, hutan sama dengan dompet uang. Dari hutan, mereka bisa mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, meskipun tidak selalu dapat mencukupi. Buah-buahan, madu, rotan dan binatang buruan merupakan hasil alam yang bisa dijadikan uang tanpa harus menebang pohon. Selain itu, hutan Muluy juga menyediakan tumbuhan obat, bahan anyaman, sayur-sayuran hingga tumbuhan perlengkapan upacara adat. Yang lebih penting, hutan menyediakan lahan untuk berladang.

Tahun 1999, masyarakat Muluy masih mendiami permukiman di tepi Sungai Muluy, yaitu sebuah sungai yang mengalir dari sela kaki Gunung Lumut. Airnya yang jernih dengan dasar sungai yang berpasir dan berkerikil, ternyata banyak menyimpan butiran emas yang ditambang masyarakat Muluy secara tradisional pada waktu-waktu tertentu dengan cara tertentu pula.

Kini masyarakat Muluy mendiami lima puluh buah rumah kayu beratap seng berukuran 5 x 7 meter, terletak di sebuah bekas tempat penumpukan kayu di sisi jalan HPH (Hak Pengelolaan Hutan) milik PT. Telaga Mas. Pemukiman itu dibangun oleh Dinas Sosial Kabupaten Pasir tahun 2000.

dsafafd

Di selatan kampung nampak puncak Gunung Lumut yang hijau oleh tutupan hutan dan lumut yang senantiasa basah. Dengan ketinggian 1.888 meter dari permukaan laut, Gunung Lumut nampak perkasa. Seakan tugu raksasa yang membatasi langsung tiga kecamatan yaitu kecamatan Muara Komam, kecamatan Long Ikis dan kecamatan Long Kali, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur.

Secara administratif, kampung yang dihuni Suku Dayak Paser ini berada dalam wilayah pemerintahan Desa Swanslutung kecamatan Muara Komam. Berada sekitar 120 kilometer dari Tanah Grogot, ibukota Kabupaten Pasir atau sekitar 250 kilometer dari Samarinda, ibukota Provinsi Kalimantan Timur. Wilayah yang diakui masyarakat Muluy sebagai wilayah adat seluas 14.000 hektar itu cukup untuk membuat 150 buah lapangan golf bertaraf internasional. Sebagian wilayah adat mereka berada dalam kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut yang memilki luas tiga kali lipat dari Kampung Muluy.

Untuk mencapai Muluy dapat ditempuh selama satu setengah jam dengan kendaraan roda dua atau roda empat, menyusuri jalan perusahaan HPH PT. Telaga Mas sepanjang 60 kilometer dari simpang Desa Lembok Kecamatan Longikis. Awalnya akan melalui hamparan kebun kelapa sawit sepanjang delapan kilometer. Lalu hamparan bekas ladang bercampur belukar sepanjang kurang lebih lima kilometer. Selebihnya hanya terlihat hutan lebat, tempat para penyenso (penebang pohon) biasa beraksi.

Sikap yang Unik

Masyarakat Muluy sangat menyadari ketergantungannya terhadap hasil hutan. Ini menjadi alasan utama masyarakat Muluy bersikap tegas terhadap kelestarian hutan. “Kami tidak punya gaji seperti orang perusahaan. Kalau kami tidak masuk hutan, kami tidak dapat uang untuk belanja,” ungkap Jidan (37), tokoh pemuda yang diharapkan kelak bisa menggantikan kepala adat.

Orang yang tidak paham, akan menggolongkan masyarakat Muluy sebagai kelompok terbelakang. Pasalnya, dari 75 jiwa hanya ada satu orang saja yang pernah sekolah sampai tamat sekolah dasar. Tapi kalau ditanya hutan untuk siapa, mereka akan menjawab, “Nté péya lai sori” (untuk anak cucu). Dan itu buka cuma kata-kata di ujung bibir. Buktinya mereka tegas menolak kehadiran tim survei perusahaan kayu dan tambang yang beberapa kali masuk ke wilayah itu sejak tahun 1990 sampai 2000.

Mereka pikir, alih-alih untuk perusahaan, mereka sendiri tidak pernah menebang pohon melebihi kebutuhan membuat rumah dan ladang. Alasan penolakan mereka juga didasari pengalaman buruk masa lalu yang dampaknya
terasa saat ini. Mereka kehilangan kebun rotan karena atas di tinggi digusur oleh PT Telaga Mas yang membangun HTI (HutanTanaman Industri) tahun 1980-an.

Akibatnya mereka tidak bisa lagi mengambil rotan untuk dijual. “Kalaupun ada hanya cukup untuk membuat kerajinan bakul dan gelang,” kata Rukiyah (25) adik Jidan yang terampil membuat anyaman dan gelang rotan. Pengalaman dari tempat lain juga menjadi pelajaran Masyarakat Muluy. Mereka sering melewati Desa Pait yang tak berhutan lagi karena wilayahnya nyaris habis untuk tanaman kelapa sawit. Jangankan untuk mencari bahan bangunan, untuk kayu bakar saja susah.

Hal di atas menunjukkan bahwa meskipun mempunyai pendidikan formal yang rendah, tetapi Masyarakat Muluy mampu berpikir arif berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya alam mereka, dalam hal ini hutan. Dibanding dengan desa-desa lain yang berbatasan, sikap masyarakat Muluy tergolong langka. Saat desa lain berlomba-lomba mengajukan IPPK (Ijin Pengolahan dan Pemanfaatan Kayu) tahun 2001. Masyarakat Muluy justru menetapkan status siaga satu, kalau-kalau ada tim survei yang mencoba nyelonong ke wilayahnya. Demikian juga ketika masyarakat desa lain beramai-ramai memanggul chain saw (gergaji mesin), membuat blambangan (balok kayu), masyarakat Muluy tetap setia dengan ladangnya. Sebagian lagi malahan asyik dengan seppong (alat peniru suara burung) Murainya.

Langkah yang Sudah Diayun

Masyarakat Muluy punya kesadaran tinggi tentang pentingnya hutan. Kesadaran itu didukung sikap kukuh memegang kesepakatan bersama. Sehingga menjadikan masyarakat Muluy tak ubahnya banteng jinak yang ganas. Lembut tapi garang jika sedang marah. Tak ada yang berani membuka ladang dengan luas yang berlebihan apalagi menebang pohon tanpa ijin kepala adat.

Sikap tegas dan konsisten, setidaknya sampai saat ini, yang melekat di setiap warga masyarakat Muluy, sedikit banyak dipengaruhi oleh teman-teman dari Yayasan PADI yang telah mendampingi masyarakat Muluy sejak tahun 1995.

Demikian pula lembaga-lembaga lain atau perorangan yang datang sesudahnya. Selain menambah pengetahuan kepada masyarakat Muluy, mereka juga membantu mengkampanyekan pentingnya kelestarian Hutan Lindung Gunung Lumut bagi kehidupan, termasuk masyarakat luar.

Pemahaman dan pengertian yang ditularkan para pendamping masyarakat tentang manfaat hutan lindung bagi masyarakat Muluy dan masyarakat yang berada di hilir Sungai Telake dan Sungai Kendilo, semakin mengukuhkan sikap masyarakat Muluy yang memang sudah punya kearifan sejak jaman Dato Nalau (nenek moyang).

Langkah pertama yang diayunkan adalah melibatkan masyarakat Muluy dalam setiap pertemuan, seminar, lokakarya dan studi banding yang berkaitan dengan lingkungan dan kelestarian alam dan hutan. Baik skala lokal maupun nasional.

“Itung-itung membuka pikiran. Kita bisa banyak belajar dari orang lain,” kata Jidan yang selalu menjadi wakil Muluy di setiap kegiatan tersebut. Kegiatan pertama yang dilakukan bersama adalah Pemuliaan Benih Lokal. Suatu kegiatan yang dilatarbelakangi kelangkaan benih padi lokal akibat kemarau panjang tahun 1982. Kegiatan ini bertujuan agar benih padi unggul lokal tidak punah.

Di sini peran perempuan dominan sekali. Karena perempuan lebih banyak bekerja mengumpul, menyimpan dan memanfaatkan benih tersebut. Program ini dilaksanakan tahun 1995, didampingi Yayasan Padi dan didukung Yayasan KEHATI (Yayasan Padi dan KEHATI, 1999). Kegiatan selanjutnya adalah Pemetaan Kampung. Suatu upaya untuk mengidentifikasi (menemukan dan mengenali) luas wilayah dan potensi sumberdaya alam dan hutan. Kegiatan ini semakin menyadarkan masyarakat Muluy bahwa mereka punya kekayaan alam dan hutan yang pantas dijaga.

Kegiatan ini dilaksanakan tahun 1999 dalam Program Pefor (People, Forest and Reef) yang didampingi Yayasan PADI atas dukungan BSP Kemala, Jakarta dan Yayasan Pancur Kasih, Pontianak. Kegiatan lainnya adalah pembibitan dan penanaman buah-buahan lokal. Suatu upaya pengayaan lahan dan hutan dengan cara membuat pembibitan dan membagikan bibit yang dihasilkan kepada warga yang bersedia menanamnya di lahan masing-masing. Kegiatan ini dilaksanakan tahun 2000 atas bantuan Perkumpulan PADI dan Yayasan PKM (Pemulihan Keberdayaan Masyarakat) Jakarta.

Penanaman bibit rotan di lahan seluas 50 ha, melibatkan lima puluh orang warga Muluy dari segala umur dan jenis kelamin. Kegiatan ini bertujuan menggantikan kebun rotan yang pernah hilang sekaligus menjadikannya sebagai tabungan. Kegiatan ini dibantu oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Pasir tahun 2004-2005.

Perempuan Tak Cuma Berpangku Tangan

Hutan Muluy Gunung Lumut ibarat gudang harta karun yang harus dijaga. Tidak hanya laki-laki saja yang ngotot mempertahankan kelestarian hutan Muluy. Tapi para perempuan juga sama kerasnya. Rukiyah misalnya, ia paling kesal kalau ada orang yang meremehkan Muluy. Saat musim buah awal tahun 2005 silam, ada pencari buah yang berkata bahwa durian yang ada di hutan Muluy bukan tanaman siapa-siapa. Jadi siapa saja boleh ambil sesukanya. Mendengar itu mata Rukiyah yang rada sipit itu langsung melotot.

“Bungang…!, éna kain bélo ngejaga moné kuli iko témpo ndo kuman bua sio” (Dasar bodoh, [meski durian itu tidak ditanam], kalau kami tidak menjaga mana mungkin buahnya bisa kamu makan sekarang), kata Rukiyah. Maksudnya kalau pohon kayu yang ada di Muluy tidak dijaga, tidak mustahil pohon tersebut akan jadi perabotan. Atau bahkan cuma jadi kayu bakar. Termasuk pohon durian itu.

Keterlibatan perempuan tidak cuma itu. Dalam setiap pertemuan kampung, terutama urusan hutan, kehadiran perempuan sama banyaknya dengan laki-laki. Mereka ikut berpendapat, berargumen dan mengambil keputusan. Mereka sangat lantang bilang setuju atau tidak setuju.

Mereka juga bisa ngobrol seputar kelakuan desa tetangga yang keranjingan menawarkan diri pada investor (pengusaha pemilik modal). Mereka pikir, kalau sampai perusahaan-perusahaan itu menggerayangi hutan tetangga, pasti nanti mereka juga yang bakal repot. Terutama perusahaan tambang batu bara yang anggup menelanjangi hutan sampai ke bawah pusat bumi. Kalau isi perut bumi sudah diobok-obok, tumbuhan mana yang mau tumbuh. Buntut-buntutnya, hutan Muluy juga yang bakal diserbu untuk tempat berladang. Kalau hutan Muluy ikut habis, bisa-bisa anak-cucu tidak sudi lahir di Muluy, karena sudah tak ada lagi jaminan hidup.

Sebagai wakil kelompok perempuan, Rukiyah dan Diana (25), anak Pak Lindung, hampir selalu mengikuti kegiatan yang dilakukan LSM pendamping. Keterlibatannya ini membuat mereka lebih terbuka menyampaikan pendapatnya dalam pertemuan di kampung. Sedangkan dalam pertemuan resmi yang dihadiri oleh pejabat tinggi atau orang dari luar kampung, Rukiyah dan juga kebanyakan perempuan Muluy, masih merasa minder karena masalah bahasa.

“Bélo tau kerko aku diang basa déro éné” (aku tidak mengerti bahasa mereka), ungkap Rukiyah suatu ketika. Perempuan juga berperan penting saat program penanaman bibit buah-buahan lokal.

Setiap perempuan dalam keluarga membantu suaminya menanami bekas ladang. Demikian pula saat diadakan program penanaman rotan. Dari lima puluh orang yang ikut menanam, seperlimanya adalah perempuan Pembagian Peran Laki-laki dan Perempuan. Mungkin masyarakat Muluy tidak menyadari bahwa cara mereka memperlakukan alam dan hutan selama ini, secara tidak langsung telah mendukung kelestarian hutan itu sendiri.

Membuka ladang dengan luasan sekedar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, membiarkan beberapa waktu, kemudian menggilirnya di waktu yang lain, merupakan upaya pelestarian yang di satu pihak dicemooh, dan di lain pihak dipuji. Dicemooh karena masih ada beberapa pihak yang menganggap bahwa melestarikan hutan artinya tidak boleh menebang dan mengambil pohon kayu. Masyarakat Muluy melakukan penebangan pohon dalam membuat ladang, sehingga dianggap merusak lingkungan. Sedangkan pihak yang memuji melihat bahwa meskipun masyarakat Muluy setiap tahun membuka ladang namun kenyataannya hutan yang berada di wilayah kampung Muluy tetap terjaga keberadaannya.

Terlepas dari anggapan di atas, Muluy tetaplah Muluy. Kondisi ekonomi masyarakat yang sangat rendah menuntut setiap anggota keluarga berperan dalam mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Berladang adalah pilihan utama
untuk tetap bertahan. Dalam kegiatan berladang, antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang lebih berhak atau yang lebih bertanggung jawab mengelola ladang. Baik dalam setiap tahapan kegiatan berladang, maupun saat memanfaatkan hasil ladang. Tidak ada aturan yang tegas bahwa laki-laki harus melakukan ini dan perempuan harus melakukan itu. Perempuan boleh melakukan apa yang biasa dilakukan laki-laki, demikian pula sebaliknya. Kondisi ini memberikan peluang bagi perempuan.

Muluy untuk berperan setara dengan laki-laki dalam hal memanfaatkan hutan dan sumberdaya alam lainnya. Yang menjadikannya nampak berbeda adalah peran masing-masing dalam tahapan kegiatan berladang. Ada tahapan kegiatan yang mengharuskan laki-laki berperan lebih besar. Namun ada juga tahapan yang menempatkan peran perempuan lebih banyak. Namun pengambilan keputusan dalam setiap tahapan kegiatan dapat dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan atau bersama-sama.

Misalnya memutuskan letak ladang, luas ladang yang akan dibuka, jenis padi yang akan ditanam, waktu mulai menanam padi, waktu memulai panen hingga urusan pendistribusian hasil panen (Untuk melihat peran perempuan dan laki-laki dalam kegiatan berladang, lihat Kotak 1 dan 2).

Kotak 1

Peran Laki-laki dan Perempuan Dalam Kegiatan Mempersiapkan Lahan Untuk Berladang Kegiatan berladang dimulai dengan mempersiapkan lahan, meskipun tanggung jawab kegiatan ini berada di tangan laki-laki namun perempuan sudah ikut terlibat. Dalam hal menentukan lahan yang akan dijadikan ladang, perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. Perempuan punya hak untuk menentukan di mana ladang tersebut akan dibuat dan berapa luas yang akan dibuka. Namun dalam pekerjaan mempersiapkan lahan seperti menebas, menebang dan membakar, terdapat beberapa perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan. Kegiatan menebas umumnya lebih banyak dilakukan oleh kaum laki-laki. Namun tidak jarang dalam suatu keluarga, suami dan istri sama-sama menebas lahan yang akan dijadikan ladang. Setelah kegiatan penebasan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan menebangi pohon yang berada di lahan yang akan dijadikan ladang.

Kegiatan ini lebih banyak dilakukan oleh laki-laki. Kalaupun perempuan ikut terlibat, biasanya hanya menebang pohon yang kecil-kecil saja. Kurangnya keterlibatan perempuan dalam penebangan lebih dikarenakan kegiatan ini cukup berat dan mengandung resiko yang sangat tinggi. Saat ini dengan adanya gergaji mesin, keterlibatan perempuan semakin berkurang. Karena seluruh kegiatan penebangan dilakukan oleh kaum laki-laki dengan menggunakan gergaji mesin tersebut.

Sementara menunggu waktu pembakaran lahan, laki-laki maupun perempuan, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama mencari buah rotan untuk ditanam di lahan yang akan dibakar. Penanaman buah rotan dilakukan di sekitar tunggul atau batang pohon yang sudah ditebang. Dengan harapan akan memudahkan penyiangan jika rotan tersebut telah tumbuh. Setelah pembakaran lahan biasanya rotan-rotan tersebut mulai bertunas.

Dalam hal menanami lahan dengan rotan, tidak nampak siapa yang lebih berhak untuk memutuskan di bagian mana dari lahan tersebut yang harus ditanami rotan, berapa luas yang akan ditanami rotan, berapa meter jarak tanam dan berapa banyak benih rotan yang harus ditanam. Masing-masing merasa punya hak untuk melakukan keinginannya dan merasa punya hak untuk mengkritik apa yang dilakukan pasangannya.

Selain kegiatan penebangan, pada waktu pembakaran lahan, laki-laki lebih besar peran dan tanggung jawabnya. Namun demikian bukan berarti perempuan tidak berhak untuk menyulutkan api pada lahan yang akan dibakar. Hanya saja pada saat penyulutan api biasanya dilakukan oleh laki-laki. Selain itu keterlibatan perempuan dalam proses pembakaran adalah pada saat membuat sekat bakar di sekitar lahan.

Jika terjadi kebakaran yang diakibatkan oleh api yang menjalar ke luar sekat bakar, maka laki-laki dan perempuan bersama-sama memadamkan api tersebut. Demikian pula jika kebakaran tersebut merugikan pihak lain. Maka pihak yang menyebabkan kerugian, baik suami maupun istri akan bertanggung jawab secara bersama. Proses persiapan lahan selanjutnya adalah memanduk atau membersihkan lahan yang telah dibakar. Kegiatan ini biasanya dilakukan bersama-sama antara laki-laki dan perempuan. Mulai memotong batang pohon yang tidak hangus terbakar, mengumpulkan potongan-potongan kayu menjadi sebuah tumpukan yang siap dibakar dan membakar tumpukan kayu tersebut menjadi sebuah api unggun yang sangat besar.

Setelah kegiatan memanduk selesai, maka lahan tersebut siap untuk ditugal dengan benih padi. Sementara menunggu waktu menugal, kaum perempuan melakukan kegiatan menanam jagung, tebu dan sayuran. Sedangkan laki-laki membangun pondok untuk tempat berteduh. Pada saat yang sama laki-laki juga menanam pisang.

Kotak 2
Peran Laki-laki dan Perempuan Dalam Menanam Padi di Ladang Jika musim hujan tiba, maka dimulailah kegiatan menugal atau menanam padi. Aktivitas ini dilakukan bersama-sama oleh laki-laki dan perempuan. Umumnya kegiatan menugal dilakukan dengan cara Sempolo yaitu gotong-royong bergiliran dengan melibatkan pemilik ladang yang lain yang berada dalam satu hamparan atau dalam satu desa. Dalam kegiatan ini pembagian peran sangat jelas. Laki-laki berperan sebagai Penasok atau pembuat lubang tanam dengan menggunakan tongkat kayu.

Sedangkan perempuan bertugas sebagai Penias atau pengisi lubang tanam dengan benih padi. Meskipun demikian ada juga laki-laki yang menjadi penias namun tidak ada perempuan yang menjadi penasok pada saat sempolo berlangsung. Kondisi ini memang sudah menjadi tradisi masyarakat Paser secara turun-temurun. Sedangkan alasan lain adalah masalah teknis dimana satu orang penasok idealnya harus disertai oleh 2-3 orang penias. Karena jika tidak maka penias akan kewalahan mengisi lubang tanam yang dibuat oleh Penasok. Maka jika Penasok melebihi jumlah ideal maka sebagian laki-laki akan rela menjadi penias. Namun sebalik jika penias melebihi jumlah ideal maka tidak ada perempuan yang akan menjadi penasok.

Salah satu hal penting dalam tahapan ini adalah menentukan jenis padi dan jumlah benih yang akan ditanam di ladang. Di Muluy atau di desa-desa sekitar Gunung Lumut, laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam menentukan jenis padi yang akan ditanam dan berapa banyak padi yang akan ditanam untuk tiap jenisnya.

Masing-masing pihak punya hak untuk tidak setuju terhadap pilihan pihak yang lain. Biasanya benih padi yang dipilih adalah padi yang menghasilkan panen yang cukup tinggi, umur tanaman yang relatif cepat, tahan terhadap hama, tahan terhadap hembusan angin, mempunyai rasa nasi yang enak dan harum serta nilai ekonomis yang tinggi. Biasanya dalam satu keluarga menanam lebih dari satu jenis tanaman padi. Namun yang umum ditanam adalah padi Pulut atau ketan dan Kopas atau padi biasa.

Selain menentukan jenis dan jumlah benih yang akan ditanam, laki-laki dan perempuan juga mempunyai hak yang sama dalam menentukan sumber atau asal benih yang akan ditanam, termasuk cara memperoleh benih tersebut. Umumnya benih padi yang akan ditanam berasal dari hasil panen tahun lalu. Namun jika suatu keluarga tidak mempunyai benih maka ia bisa memperolehnya dari orang lain dengan cara membeli, meminjam atau menukarkan dengan jenis padi yang lain (barter). Tidak ada aturan yang mengikat yang mengharuskan pihak laki-laki saja atau pihak perempuan saja yang berhak dan berwenang untuk mendapatkan benih yang akan ditanam. Namun dalam hal penyimpanan benih biasanya perempuan lebih berperan dibandingkan laki-laki. Dan ini berlaku pula terhadap benih jagung dan benih sayuran.

Pengorbanan yang Harus Dibayar

Seolah demi kelestarian alam, masyarakat Muluy harus terpuruk dalam kemiskinan. Kenyataannya memang masih ada keluarga yang tidak bisa mencukupi kebutuhan makan tiga kali dalam sehari. Anak-anak hanya bisa memakai baju lusuh seadanya. Malah lebih sering tidak memakai baju. Tidak setiap hari pasaran para ibu dapat pergi belanja seperti para ibu yang tinggal di perumahan transmigrasi di Desa Pait. Sebulan sekalipun tidak. Bahkan ada ibu yang seumur hidup belum pernah menginjak pasar.

Belum lagi urusan pendidikan, kesehatan, hiburan, agama dan urusan batin lainnya. Kawin misalnya, sejak tahun 1999–2005 hanya ada dua orang jejaka Muluy yang bisa menikah. Bukannya orang Muluy tidak mau punya pasangan hidup. Tapi untuk menikah perlu biaya jutaan rupiah. Bandingkan dengan desa tetangga, Rantau Buta yang penduduknya cuma delapan belas jiwa lebih banyak dari Muluy. Dalam waktu tiga kali musim panen (2001-2003), telah menikahkan warganya sebanyak tujuh pasang. Tentu saja jadi tanda tanya besar jika ada orang punya harta berharga tapi kekurangan uang. Kemungkinannya cuma dua. Pertama, barangnya tidak laku karena terlalu mahal dan kemungkinan kedua adalah barang itu tergolong haram.

Masyarakat Muluy tidak berani menjual harta mereka (kekayaan sumberdaya hutan, seperti kayu), karena mereka sadar bahwa harta itu bukan milik mereka sepenuhnya. Harta itu titipan Tuhan untuk anak-cucu mereka. Fasilitas umum yang ada misalnya sekolah, tempat ibadah, balai pertemuan, listrik, rumah, penampung air dan kakus merupakan bantuan Pemerintah Kabupaten Pasir, perusahaan kayu dan LSM lokal. Masih beruntung kalau musim hujan karena bisa mandi dengan air penampungan. Kalau tidak ada hujan warga Muluy harus jalan kaki ke sungai sejauh satu setengah kilometer. Lalu bagaimana kalau semua fasilitas bantuan tersebut sudah rusak nantinya?

Lebih separo masyarakat Muluy tidak sempat mencicipi bangku sekolah. Yang sempat sekolah terpaksa berhenti sekitar 30 tahun yang silam. Karena mereka harus pindah dari pemukiman yang lama di Desa Swanslutung ke pemukiman sekarang. Menurut Pak Lindung (70), kepala adat Muluy, letak sekolah yang berjarak 20 km dari pemukiman, membuat pendidikan anak-anak terputus. “Tak ada anak-anak yang sanggup berjalan kaki sejauh itu setiap hari. Kalau dititipkan di tempat orang lain, kita harus menyediakan ongkos,” katanya. Untunglah sekolah sudah dibangun. Meski berstatus SD (Sekolah Dasar) kunjung yang cuma punya tiga ruang kelas dan satu guru, tapi anak-anak sudah bisa sekolah lagi meski tidak memakai sepatu dan baju seragam.

Mereka juga kesulitan ketika membutuhkan layanan kesehatan. Seperti dialami almarhum Madi (20) yang mengalami penyakit paru-paru basah sejak awal 2003 lalu. Sampai akhir hayatnya ia tidak pernah mendapatkan penanganan serius dari dokter atau rumah sakit manapun. “Kami tidak punya uang untuk membawanya berobat. Kami hanya bisa membelikan obat yang dijual di warung,” kata keluarga Madi saat itu. Tiga buah TV dan VCD player yang terdapat di tiga rumah penduduk merupakan perlengkapan mewah yang dimiliki masyarakat Muluy. “TV itu milik pembeli besi tua, TV itu kubawa karena ia tidak bisa membayar harga besi tua yang kami kumpulkan dari bekas bengkel perusahaan,” kata Jiham.

Sebuah TV 21 inch yang dipajang di ruang kelas bangunan SD yang belum terpakai, merupakan TV umum yang disumbangkan oleh pemerintah kabupaten. Sedangkan TV yang lain diperoleh dari hasil penjualan Burung Murai yang dikumpulkan dari beberapa orang. Tape rekorder atau radio yang dimiliki masyarakat Muluy tidak lebih banyak dari jari sebelah tangan. “Kami beli tape itu waktu gaharu masih banyak. Sekarang pohon gaharu sudah habis. Apalagi orang dari selatan ikut juga mencari, ” kata Jahan.

Tiga buah sepeda motor bekas yang dipakai bergantian, hanya digunakan untuk mengangkut padi ke penggilingan yang berjarak 20 km dari pemukiman. Sesekali dipakai pula untuk membeli keperluan dapur di Pasar Simpang. Untuk pergi keluar kampung masyarakat Muluy lebih banyak menumpang kendaraan perusahaan kayu. Menurut Pak Lindung, sekitar tahun 1990-an, kalau mau pergi ke pasar Simpang perlu waktu satu hari. Mereka menggunakan gerobak kayu beroda tiga berukuran sekitar 100x150x50 cm yang mereka buat sendiri.

Terkenal dengan sebutan ‘Bemo Muluy’ meskipun bentuknya tak ada mirip dengan bemo yang sebenarnya kecuali jumlah rodanya. Sekali berangkat bisa sampai lima buah. Sebuah gerobak dikawal satu keluarga, 1-5 orang laki-laki dan perempuan. Kalau turun gunung, ‘bemo’ tersebut ditumpangi beramai-ramai. Tapi kalau naik gunung, ramai-ramai pula mendorongnya.

Pertanyaan yang Belum Terjawab

Suatu saat, bukan mustahil hutan Gunung Lumut akan tinggal dongeng pengantar tidur. Ikut punah menyusul ‘bémo’ mereka yang legendaris itu. Lantaran tak kuasa lagi menahan himpitan ekonomi dan pengaruh budaya konsumtif bisa jadi kayu-kayu di hutan ditebangi untuk dijual. Sampai kapan mereka sanggup bertahan? Apa yang akan terjadi jika Pak Lindung, Jidan, Rukiyah atau Diana sudah meninggal? Apakah adik-adik, anak-anak atau cucu mereka masih sanggup meneruskan mandat yang begitu berat? Bagaimana kalau mereka menganggap bahwa harta titipan ini, sebagai warisan yang boleh dibagi, dikuasai dan digadaikan?

Mungkin ada pilihan yang bisa ditawarkan. Misalnya bikin peternakan lebah madu jenis unggul (Apis mellifera) yang memang biasa dibudidayakan di Indonesia. Sehingga tidak selalu berharap pada madu alam yang berada di pohon Lomu, Puti dan Bilas yang menjulang tinggi, setinggi resiko yang harus dihadapi saat memanjatnya.

Pilihan lain adalah belajar membangun rumah burung Walet (Collacalia fuciphaga) pada teman-teman yang ada di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah yang merupakan sentra budidaya Walet. Sarang Walet yang terbuat dari air liur (saliva), bisa membantu menyembuhkan penyakit paru-paru, panas dalam, melancarkan peredaran darah dan menyehatkan stamina. Selain itu bisa juga mengatasi sakit ‘mata’ (mata pencaharian) karena khasiat harganya yang tinggi (Menteri Negara Riset dan Teknologi, 2005).

Berdasarkan analisa budidaya burung Walet di daerah Jawa Barat tahun 1999, dengan luas bangunan 10×15 sampai 10×20 meter persegi, dan populasi 500 ekor Walet dan Sriti, akan menghasilkan 1 kilogram sarang Walet (sarang putih) dan 15 kilogram sarang Sriti (sarang hitam) setiap panen. Panen dapat dilakukan empat kali setahun atau 20 kali selama lima tahun. Harga sarang Walet 17 juta rupiah per kilogram. Harga sarang Sriti 3 juta rupiah per kilogram. Berdasarkan perhitungan itu, diperoleh pendapatan Rp 400 juta selama lima tahun. Setelah dikurangi biaya produksi selama lima tahun sebesar Rp 64.600.000, maka akan diperoleh keuntungan sebesar Rp 335.400.000 selama lima tahun. Atau Rp 5.590.000 setiap bulan.

Memang membutuhkan modal awal yang sangat besar. Untuk rumah Walet
dan perlengkapan sekitar Rp 23.500.000, lalu ditambah biaya kerja dan biaya
lain sebesar Rp 1.076.667 setiap bulan. Hingga mencapai Rp 64.600.000 selama 5 tahun. Belum lagi jika dinilai dengan harga sekarang. Tentu modal yang harus disiapkan lebih banyak lagi. Namun rasanya masih belum seberapa jika dibandingkan dengan kerugian yang ditanggung manusia jika hutan Gunung Lumut menjadi rusak. Tidak mustahil banjir yang melanda Kecamatan Long Kali Kabupaten Pasir akhir tahun 2001, akan terulang lagi.

Semua Orang Punya Harapan

Kalau ditanya keinginan Pak Lindung, Jidan, Rukiah atau warga Muluy lainnya, mereka akan menjawab dengan nada yang sama, “Kalau bisa, sekali lagi kalau bisa, kami mau punya uang untuk belanja. Mau jalan-jalan sambil lihat kampung orang.” Suatu keinginan yang wajar. Karena semua orang ingin hidup sejahtera. Memang, uang bukan yang utama tapi penting. Sungguh suatu dilema yang amat berat bagi masyarakat Muluy. Di satu sisi ada harapan dan keinginan untuk meningkatkan pendapatan, tetapi di sisi lain harus tetap melestarikan hutan.

Masyarakat Muluy sedang mencari sumber pendapatan tambahan yang tidak merusak hutan. Usaha ini memerlukan dukungan baik dari pemerintah, LSM pendamping, maupun pihak-pihak lain yang mempunyai perhatian.

Ucapan Terimakasih
Penulis menyampaikan terimakasih kepada Masyarakat Kampung Muluy yang sudah banyak berbagi cerita. Kepada teman-teman di Yayasan PADI Indonesia, terimakasih banyak karena sudah banyak membantu hingga tulisan ini selesai. Selain itu, kami sampaikan juga terimakasih kepada CIFOR dan MFP yang sudah mewujudkan tulisan ini menjadi sebuah buku.

===

Tentang Penulis:

Amin Jafar lahir pada 18 Agustus 1968 di Samarinda, Kalimantan Timur. Setelah tamat SLTA di Balikpapan tahun 1988, Amin tidak meneruskan ke perguruan tinggi, tapi justru kembali berbaur dengan masyarakat di Penajam, Kalimantan Timur, tempat ia dibesarkan. Tahun 1999, Amin bergabung dengan Yayasan PADI Indonesia sebagai fasilitator masyarakat hingga 2002. Amin Jafar yang gemar berkebun ini akhirnya kembali ke Penajam dan bekerja sebagai pekerja lepas. Tulisan ini adalah salah satu pengalaman pendampingannya yang dibukukan bersama kumpulan tulisan lain yang berjudul “Dari Desa ke Desa: Dinamika Gender dan Pengelolaan Sumber Daya Alam”, tahun 2007.

Sumber gambar: Fendy

About Perempuan Berkisah 168 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply