Kisah Dua Perempuan Yaman di Tengah Konflik

Shameah dihadapkan dengan waktu-waktu tersulit dalam hidupnya. Ia menggendong anaknya paling muda dan mendorong yang lainnya untuk tetap bergerak. Itu bukan pertama kalinya, Shameah harus melarikan diri dari kekerasan. Tampaknya konflik terus mengikuti mereka kemanapun pergi. Sebagai dampaknya, anak-anaknya tak ada yang bersekolah. Dalam kehidupan yang tidak menentu dan kebutuhan yang tetap, Shameah hanya meminta sesuatu yang sepertinya sederhana: “Perdamaian dan keamanan adalah dua hal yang saya inginkan buat saya dan keluarga,” katanya.

Dikisahkan oleh Nuha, Oxfam Yaman

Bagi kebanyakan orang, gagasan soal hak perempuan di Yaman adalah satu hal yang saling bertentangan. Mereka berpikir perempuan Yaman adalah pihak yang terkalahkan, tersisihkan dan penurut. Namun hal ini sangat jauh dari kenyataan sehari-hari.

Pekan lalu, saya bertemu Shameah, di Amran, wilayah utara Yaman. Shamea barangkali berusia pertengahan tiga puluhan, dan tidak berpendidikan. Disebabkan, suaminya, yang memiliki kebutuhan khusus, dia juga tidak bekerja. Dia punya delapan anak dan dia menggantungkan hidup pada anaknya yang berusia 14 tahun untuk mendapatkan uang untuk membeli makanan bagi keluarga itu.

Anak Shameah biasa bekerja mengumpulkan khat- semacam tanaman lokal yang memabukkan– untuk petani khat. Namun saat tak ada pekerjaan, dia–bersama saudara dan saudarinya yang lain– pergi mengemis di jalanan.

Shameah baru saja meninggalkan wilayah Saada ketika saya bertemu dengannya. Apa yang terjadi adalah sebuah mimpi buruk. Empat hari sebelumnya, selebaran dijatuhkan dari udara. Penduduk Saada diminta untuk mengevakuasi diri dalam 15 jam karena kota tersebut ditetapkan sebagai zona militer dan akan dihancurkan menjadi puing-puing.

Kini tinggal terserah dia dan keluarganya untuk melarikan diri dari rumah. Kelangkaan bahan bakar berarti mereka harus berjalan selama berjam-jam sebelum mereka bisa mendapatkan bus yang menuju ke arah manapun, dan dalam kasus ini, bus itu menuju Amran.

“Itu merupakan waktu-waktu tersulit dalam hidup saya,” katanya. “Saya menggendong anak saya paling muda dan mendorong yang lainnya untuk tetap bergerak,” sambungnya.

Itu bukan pertama kalinya, Shameah harus melarikan diri dari kekerasan. “Tampaknya konflik ini mengikuti kami kemanapun kami pergi,” katanya. Sebagai dampaknya, anak-anaknya tak ada yang bersekolah.

Dalam kehidupan yang tidak menentu dan kebutuhan yang tetap, Shameah hanya meminta sesuatu yang sepertinya sederhana: “Perdamaian dan keamanan adalah dua hal yang saya inginkan buat saya dan keluarga,” katanya.

Bertemu Shameah membuat saya teringat pertemuan pertama saya dengan Oxfam di Yaman. Itu adalah bagian dari proyek kerja untuk kepemimpinan perempuan di Hodedia di bagian barat laut Yaman.

Hari itu, saya bertemu Samia. Dia berusia awal 30-an, seorang ibu rumah tangga, tinggal dengan lima anak di lingkungan Mohamasheen. Itu adalah sebuah lingkungan keluarga miskin. Suaminya adalah pengemudi taksi dan pendapatan harian mereka per hari hanya kurang dari US$5. “Saya pikir saya bisa berbuat lebih ketimbang hanya duduk-duduk di rumah,” katanya.

Mata Samia terbuka dan mulai menjelaskan bagaimana setelah dia bergabung dengan proyek itu, dia mulai mengelola keuangan di rumah termasuk uang yang disisihkan untuk pendidikan anak-anaknya. Dia bercerita pada saya tentang bisnis yang dimulai dari sebuah goresan, bagaimana dia berkeliling ke desa-desa terdekat untuk menjual hasil kerajinan tangan. Suaminya sangat mendukungnya. Dia menolong untuk menjaga pembukuan dan menjaga anak-anaknya saat dia bepergian.

“Tak ada yang bisa menghentikan saya sekarang. Saya mampu, saya kuat,” ujarnya berulang-ulang saat perbincangan.

Sejak konflik di Yaman dimulai pada akhir Maret, saya kerap kali memikirkan Samia. Apa yang dia lakukan sekarang? Negara tengah kehabisan bahan bakar, listrik, air dan suplai obat-obatan selama tujuh pekan. Apakah dia masih mengelola dana itu? Apakah uang yang dia tabung untuk pendidikan anak-anaknya masih bisa disisihkan? Bagaimana suaminya menghadapi situasi kelangkaan bahan bakar? Apakah dia masih bisa menjalankan taksinya? Dari mana mereka mendapatkan pendapatan?

Saya membayangkan Samia tidak bepergian ke desa-desa di sekitar tempat tinggalnya lantaran tidak aman dan tidak ada bahan bakar sama sekali. Mungkin dia masih mengerjakan kerajinan tangan di rumah dengan harapan situasi keamanan akan meningkat dan bisnisnya akan bisa dijalankan kembali.

Tetapi bahkan ketika konflik berakhir, siapa yang akan membeli hasil kerajinan tangannya ketika jutaan rakyat Yaman tak memiliki penghasilan apapun untuk beberapa pekan dan terus berjuang untuk bertahan hidup di tengah situasi yang mereka sebut sebagai bencana kemanusiaan. Perempan “mampu” dan “kuat” yang saya temui, mungkin saat ini hanya bisa bergantung pada bantuan kemanusiaan seperti 12 juta warga Yaman lainnya yang saat ini tidak cukup memiliki makanan. Saya hanya berharap dia baik-baik saja.

Saya berpikir tentang semua perempuan yang saya temui hari itu. Saya mengingat antusiasme mereka saat mereka menyadari mereka bisa berupaya mencapai derajat tertentu untuk mengatur kehidupan dan berkontribusi bagi perencanaan masa depan yang cerah bagi mereka, anak-anak mereka, keluarga dan masyarakat.

Tetapi perang ini telah menghentikan segalanya. Saya berpikir tentang Shameah–begitu kuat, tetapi hanya memiliki sedikit pilihan selain berharap untuk perdamaian dan keamanan. Kehidupan telah hancur akibat perang ini dan menghancurkan dekade pembangunan di Yaman. Secara khusus perempuan dan hak mereka menerima pukulan paling berat. (*)

===

Sumber: villagerspot

About Perempuan Berkisah 174 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply