MURITA: Tak Mudah Mengubah Pola Pikir Warga Gampong, Terutama Kesetaraan Gender

“Saya ingin melakukan perubahan. Meskipun hanya perempuan desa, saya punya keinginan untuk tahu lebih yang sedalam-dalamnya. Saya sampaikan pada Pak Keuchik(Kepala Desa), pembangunan bukan hanya untuk sebagian kelompok saja. Perempuan, laki-laki dan anak-anak, semuanya harus bisa ikut merasakan. Ini ilmu yang saya dapat dari pelatihan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender
(PPRG).”

15328397_10207781699684074_1481757152_nIbarat buah yang masih mengkal. Demikianlah Murita menganalogikan kiprahnya sebagai aktivis perempuan. Ia memang tergolong ‘baru’ menjadi aktivis perempuan sejak awal tahun 2015 bersama Flower Aceh. Namun perempuan yang sehari-harinya mengajar les mata pelajaran dan mengaji ini selalu haus akan ilmu.

“Saya ingin melakukan perubahan. Meskipun hanya perempuan desa, saya punya keinginan untuk tahu lebih yang sedalam-dalamnya,” tandas Murita.

Itu pula yang membuat Murita bersemangat bergabung dengan organisasi masyarakat sipil. Ilmu-ilmu baru yang diperolehnya melalui berbagai pelatihan selalu digunakan Murita untuk menghadirkan perubahan dan kemajuan bagi masyarakat, khususnya di gampong (kampung) Aleu Deah Tenguoh, Meuraksa, Banda Aceh, tempat tinggalnya.

Sebagai koordinator program Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) di desanya, Murita bersama dua perempuan lain ikut terlibat aktif dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Gampong. Dalam rapat-rapat bersama aparat desa, Murita telah berani menyuarakan kepentingan perempuan.

“Saya sampaikan pada Pak Keuchik(Kepala Desa), pembangunan bukan hanya untuk sebagian kelompok saja. Perempuan, laki-laki dan anak-anak, semuanya harus bisa ikut merasakan. Ini ilmu yang saya dapat dari pelatihan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender
(PPRG),” kata Murita.

Perempuan kelahiran Banda Aceh, 30 Agustus 1985 ini bersyukur hingga sekarang tidak ada kasus kekerasan terhadap perempuan atau anak di lingkungan desanya. Meski demikian Murita tak alpa membagikan ilmu mengenai penyelesaian konflik sosial berbasis gender pada aparat desa dan kecamatan.

“Jika ada konflik, misalnya kekerasan dalam rumah tangga, harus ada mediatornya supaya kasus itu tidak berlanjut ke perceraian. Juga ke mana korban harus melapor pada jenjang aparat desa,” tambah Murita.

Tak Mudah Mengubah Pola Pikir

Partisipasi aktif Murita mewakili kaum perempuan di desanya tak lepas dari dukungan sang kepala desa. Dulu kaum perempuan di gampong Aleu Deah Tenguoh tak pernah mengikuti rapat-rapat gampong yang berlangsung malam hari. Perempuan dianggap tak pantas berada di luar rumah setelah malam tiba. Namun hal itu pelan-pelan berubah. Murita bersama rekan-rekan perempuannya sudah bisa duduk bersama laki-laki para tokoh masyarakat gampong, berdialog membahas aspirasi warga.

“Pak Keuchik mendorong saya lebih aktif dan terlibat. Katanya, buat apa datang tapi hanya duduk diam di rapat,” ujar Murita. Menurut Murita, dukungan serta penghargaan kepala desa serta aparat desa terhadap dirinya tak lain karena mereka melihat Murita memiliki wawasan dan kapasitas lebih dibandingkan warga gampong pada umumnya. “Saya merasa sangat dihargai dengan ilmu atau kapasitas yang saya miliki dari
pelatihan-pelatihan.”

Ia pun bersyukur selalu didukung penuh oleh sang suami. “Sebagai koordinator BKM saya banyak mengurusi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di gampong. Kadang-kadang ada tamu yang bertamu malam hari ke rumah untuk urusan itu. Suami saya mengizinkan karena tahu tujuannya demi kebaikan dan kemajuan gampong,” kata Murita.

Murita berharap ada banyak perempuan di desanya yang berkeinginan kuat untuk membangun desa dan memotivasi perempuan lainnya. Dalam kesehariannya, Murita menularkan virus perubahan itu melalui dialog dari hati ke hati pada sesama perempuan di gampong.

“Perempuan di sini suka duduk-duduk untuk bicara. Sering mereka berkeluh kesah, lelah mengerjakan urusan rumah tangga sendiri. Dari situ saya masuk, berikan pemahaman soal gender. Kalau ibu repot sedangkan anak rewel dan ada bapaknya sedang nonton televisi, alangkah indahnya kalau si bapak bisa ikut membantu ibu. Saya contohkan dari hal-hal terkecil di rumah,” beber Murita.

Murita jelas merasakan, tak mudah mengubah pola pikir warga gampong, khususnya pemahaman mengenai keadilan dan kesetaraan gender. Akan semangat Murita tetap menyala. “Alangkah indah hidup ini kalau bermanfaat untuk orang lain. Menurut saya, sukses tidak diukur kekayaan dan jabatan. Sukses adalah jika bisa membahagiakan orang di sekitar kita dan bisa sama-sama berbagi.

===

*Sumber: buku “Perempuan Meretas Jalan Damai”, sebuah buku kumpulan pengalaman dari program perempuan, perdamaian, dan keamanan UN WOMEN Indonesia.

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.