Agar Perempuan Dihargai Lingkungan Sekitar

“Jika pengetahuan dan keterampilan diri meningkat, perempuan pun akan lebih dihargai lingkungan sekitarnya.” (Yusdarita)

Yusdarita mulai aktif menjadi fasilitator komunitas dan pendamping korban sejak tahun 2006. Ia merasakan betul, bukan hal mudah mengubah pandangan masyarakat desa terutama kaum laki-laki untuk lebih mengindahkan hak-hak perempuan. Upaya Yusdarita mulai menghasilkan buahnya pada tahun 2010.

“Dulu angka pernikahan dini tinggi sekali di sini. Anak-anak di bawah umur yang tertangkap basah sedang pacaran langsung dinikahkan. Tapi kemudian tahun 2010 kami berhasil membuat mekanisme yang tertulis mengatur pernikahan dini dengan aparatur gampong. Warga dan aparat desa mulai mendukung apa yang kami lakukan,” kata Yusdarita.
sadsaffaPenduduk desa Rembele, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah tempat tinggal Yusdarita terdiri dari suku Aceh, Gayo dan Jawa. Seringkali muncul konflik antarsuku yang diakibatkan kesalahpahaman berlatar budaya.
“Pada masa konflik bersenjata dulu di sini konfliknya bukan hanya konflik vertikal antara pemerintah dengan masyarakat. Melainkan juga konflik horizontal antar masyarakat sendiri,” ungkap Yusdarita.
Oleh karena itu, Yusdarita sangat merasakan manfaat pelatihan peningkatan kapasitas mengenai resolusi konflik dan mekanisme gampong damai. Sebagai aktivis perempuan senior, ia mendorong kader-kader muda baik perempuan maupun laki-laki di desanya mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut.
wqeqw
Menurut pengalaman Yusdarita, jika pengetahuan dan keterampilan diri meningkat, perempuan pun akan lebih dihargai lingkungan sekitarnya. Perempuan menjadi lebih percaya diri terjun sebagai pengambil kebijakan yang akan berdampak positif pada perjuangan hak-hak perempuan itu sendiri. “Di mukim Kecamatan Bukit ada dua tuhapeut perempuan termasuk saya. Sebagai tuhapeut mukim, saya bisa ikut mendorong kepala desa mengubah aturan yang merugikan perempuan. Misalnya dulu korban perkosaan pasti akan diusir dari desa karena dianggap membawa petaka. Tapi sekarang korban perkosaan dan keluarganya sudah boleh tetap tinggal di desa,” kata Yusdarita.
=================
Sumber tulisan dan foto: buku “Perempuan Meretas Jalan Damai”, sebuah buku kumpulan pengalaman dari program perempuan, perdamaian, dan keamanan UN WOMEN Indonesia.

Kisah Lainnya...

Leave a Reply