Inong Balee: Salah Satu Bentuk Gerakan Perempuan Aceh

Salah satu bentuk perlawanan perempuan Aceh atas derita yang dihadapinya melalui Inong Balee. Inong Balee menurut bahasa Aceh, sebenarnya bukanlah tentara perempuan. Melainkan perempuan yang telah ditinggal suaminya atau janda. Suaminya itu meninggal dunia, bisa karena ditembak atau mendapat perlakuan keras dari pihak militer atau kepolisian Indonesia. Hal ini yang menyebabkan mereka akhirnya menjanda.

Fenomena Inong Balee ini muncul sekitar tahun 1989, saat “Operasi Jaring Merah” atau OJM diberlakukan di Daerah Istimewa Aceh–sebelum otonomi khusus diberikan kepada Aceh- -. Operasi ini digelar karena adanya penyerangan-penyerangan secara sporadis terhadap pos-pos polisi atau tentara di beberapa wilayah Aceh. Dari penyerangan itu, bukan cuma senjata api yang hilang. Nyawa aparat keamanan juga banyak yang ikut melayang. Pelakunya tentu saja aktifis bersenjata yang menginginkan kemerdekaan dan lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

OJM lebih banyak difokuskan kepada kegiatan intelijen. Penangkapan, kekerasan sampai pembunuhan dilakukan. Dampaknya, tentu saja memunculkan rasa tak simpatik di kalangan masyarakat Aceh. Karena rasa itu, kaum muda dan tua bergabung dengan GAM. Para janda yang suaminya hilang atau meninggal dunia akibat perlakuan aparat, akhirnya ikut pula bergabung. Dendam kesumatlah yang memotivasi mereka. OJM justru malah memperbesar jumlah mereka. Aksi penyerangan dan sabotase terhadap fasilitas militer dan kepolisian, justru makin intensif. Dinilai kurang cocok, akhirnya OJM dihentikan. Namun, operasi ala militer itu cuma berhenti tak lama.

Era orde baru pun berganti menjadi era reformasi. Pada 1999, di Aceh lagi-lagi diberlakukan operasi militer dan mendapat cap baru menjadi Daerah Operasi Militer (DOM). DOM ternyata setali tiga uang. Tak jauh berbeda dengan OJM. Aksi kekerasan yang terjadi pun tak kalah serunya. Di sana-sani meninggalkan kekerasan dan menghilangkan nyawa. Di sana-sini pula menimbulkan dendam. Sebutan Inong Bale yang tadinya untuk janda, kini beralih. Kaum perempuan muda Aceh yang simpatik terhadap penderitaan rakyatnya sendiri, akhirnya ikut bergabung. Mereka memberikan segala kekuatan untuk mendukung perjuangan yang mereka yakini itu. Tak jarang, bergabung karena pelecehan atau diperkosa aparat. Julukan Inong Bale sebagai tentara perempuan itu diberikan Panglima GAM Tengku Abdullah Syafei. Tetapi nama itu sempat diganti menjadi Laskariyah dengan arti yang sama sebagai tentara wanita GAM. Nama itu diberikan Panglima GAM Wilayah Jeunib yakni Tengku Darwis Jeunib. Sebutan itu berubah dan kembali ke julukan seperti sebelumnya. Dari Inong Bale menjadi Laskariyah dan kembali jadi Inong Bale. Jumlah mereka tak ada yang pasti.

Mediang Tengku Abdullah Syafei sempat mengklaim jumlah Inong Bale sekitar 2.000 orang. Klaim itu tak jauh berbeda dengan yang dikatakan juru bicara GAM Tengku Sofyan Daud. Namun, sumber Satgas Intelijen Komando Operasi (Koops) TNI di Lhokseumawe, Aceh Utara, menyebutnya sekitar 200- 300 orang. Keberadaan mereka tersebar seantero Tanah Rencong. Keberadaan mereka memang tak perlu diragukan. Dalam penyergapan yang menewaskan tujuh anggota marinir di perbukitan daerah Matang Kumbang, Jeumpa, Bireuen, ditemukan mayat perempuan. Senapan laras panjang juga ditemukan di dekat dirinya. Baik pihak Koops TNI dan GAM, sama-sama mengklaim mayat wanita itu adalah tentara wanita GAM.

dara-21-inong-balee-army-tna-aceh-25

 

Potret Seorang Pejuang Inong Balee
Kisah berikut merupakan salah satu penuturan yang disampaikan oleh salah seorang mantan Inong Balee. Kisah ini memberikan gambaran bagaimana latar belakang dan apa saja hal-hal yang dilakukan semasa berkativitas dalam Inong Balee. Sebut saja namanya Adek. Perempuan yang dilahirkan pada tanggal 3 oktober 1984 ini dilahirkan di Blang Bintang. Pada tahun 1999 beliau sudah senang mengikuti kegiatan-kegiatan sosial dan mengikuti beberapa kegiatan –kegiatan yang dilakukan GAM. Pada usianya yang ke-15, beliau merasa terketuk hatinya untuk ikut bergabung bersama GAM.

Dalam pikirannya sebagai anak aceh, ada ketidakadilan yang diberikan oleh RI. Beberapa ketidak adilan yang dipahaminya diantaranya menyangkut penerimaan pegawai negeri yang lulus, dominasi lebih banyak dari orang jawa maupun orang yang bukan Aceh. Selain itu, belia juga merasakan bahwa tentara yang berasal dari aceh, ketika sudah sampai pada letnan, kerap telah pensiun (baca: dipensiunkan), padahal waktu dinasnya belum berakhir. Sementara tentara yang berasal dari daerah lain tidak demikian.

Demikian pula masalah ekonomi, terjadinya gap perekonomian aceh dengan wilayah lainnya, padahal aceh telah banyak menyumbangkan untuk indonesia ini. Seperti pesawat tempur pertama (saat ini menjadi tugu di Lambaro) ataupun emas di monas, dimana merupakan emas kepunyaan Aceh. Dugaan-dugaan yang dirasakan, tentara yang berasal diluar Aceh takut ketika anak-anak aceh sudah mulai memiliki kekuasaan dan kekuatan. Hal-hal sebagaimana tersebut diataslah yang mendorong Adek dan temen-teman inong bale lainnya tertarik untuk bergabung dengan GAM.

Pada tahun 2000, ketika MoU COHA bergulir, Adek justru mendaftarkan diri menjadi Inong bele. Padahal, jika dilihat dari latar belakang keluarganya, beliau berasal dari keluarga yang mayoritas bekerja di pemerintahan, seperti TNI, kantor gubernur, dll. Bahkan dalam keluarganya, dia merupakan merupakan putri satu-satunya . Sehingga sangat logis kiranya, jika keluarga tidak mengijinkan beliau, ketika Adek meminta ijin bergabung dalam GAM. Tapi adek tetep kukuh dengan pendiriannya untuk ikut bergabung dalam kelompok Inong Bale.

Pada saat beliau berangkat untuk pendidikan di hutan-hutan Pidie, ibunya sempat pingsan, namun demikian beliau tidak menghiraukan dan berkata” Ya Allah, seandainya ini baik bagiku dan bagi Aceh, ringankanlah langkah ku”. Tanpa berat hati dan terpaksa adek pergi untuk menuntut pendidikan militernya, hati kecilnyapun pernah bersumpah ” saya rela mengorban kan jiwa raga dan harta saya demi Aceh ini ” Adek mengikuti pelatihan militer selama 4 bulan, dimana 2 (dua) bulan setengah mengikuti pelatihan militer dan 1 bulan setengah praktek untuk turun kelapangan dan berperang. Kegiatan adek dan temen inong bale lainnya, ba’da sholat subuh sudah berlari 10 km naik turun gunung dilanjutkan latihan-latihan berat lainnya hingga berhenti sampai jam 6. Aktivitas malam diisi dengan mengaji Al-Quran, berdzikir, siraman rohani, serta menggali pengetahuan tentang aceh. Dalam penuturannya juga dikatakan bahwa di dalam Inong Bale, bukan hanya orang aceh saja yang ikut bergabung di dalamnya, namun juga terdapat dari suku lain, seperti suku Batak, Padang dan lain sebagainya.

Dalam proses pendidikan, Adek merasa Abdullah Syafi’i merupakan panglima GAM dan guru di pendidikan militer GAM yang luar biasa. Abdullah sangat menyayangi muridmuridnya termasuk adek. Abdullah pernah berkata dengan adek ” Nak siang malam saya minta dengan tuhan mendingan saya sahid”. ” kenapa teungku bilang begitu” tanya Adek. ”Karena saya takut nanti saya tidak adil”, begitu tutur Abdulah perbincangannya dengan Adek di tahun 2003 . Setelah 4 bulan pendidikan militer di hutan Pidie, waktunya turun ke Banda Aceh, adek dan teman Inong Bale yang lain tidak langsung pulang ke rumah, namun pergi ke asrama dulu guna menghilangkan jejak. Selang beberapa saat baru kemudian pulang ke rumahnya.

Dari semua aktivitasnya selaku Inong Bale, tidak ada seorang tetangga pun yang tahu bahwa adek merupakan salah satu pasukan Inong Bale. Ibu dan keluarganya hanya mengatakan,”Adek sekolah di Jakarta ikut kakaknya” demikian jawaban yang kerap disampaikan ibunya, ketika tetangga bertanya tentang Adek. Sekembalinya dari rumah, beliau dimandatkan menjadi ketua atau Mualim Aceh Besar yang mengajarkan 1500 orang. Seluruh calon pasukan tersebut akan dididik menjadi pasukan Inong Bale. Tidak ada yang menyangka anak usia 17 tahun telah menjadi mualim. Ini dikarenakan sifat adek yang kuat/keras dan berani melawan segalanya. Seperti sumpahnya pada saat masuk menjadi pasukan inong bale. Adek bukan hanya menjadi mualim tapi dia juga ikut dalam beberapa peperangan. Tidak lama kemudian adek menikah dengan seorang anggota GAM.

Setelah menikah dia tidak diam saja sebagai seorang ibu rumah tangga, dia tetep ikut berperang, dan dia pernah keguguran karena berlari dikejar dengan TNI, beberapa perperangan yang pernah diikutinya di antaranya di kawasan Selawah, Siron atau daerah-daerah utara lainnya. Pada tahun 2003 Adek mulai off karena dia telah dikaruniai seorang anak, beliau hanya mengikuti kegiatan sosial walau sesekali kerap ikut berperang juga. Saat ini, Adek aktif dalam partai GAM (partai Aceh –red). Sangat sering waktunya dihabiskan untuk memberikan tenaga dan fikiran-fikirannya di sana, walaupun seringnya tidak memperoleh apa-apa. Hal itu tidak mengendurkan niatnya untuk tetap eksis dan berjuang.

Walau situasi saat ini telah damai, dan Adek telah bergabung dalam partai polirik lokal, namun dalam hati nurani yang paling dalam, sesungguhnya beliau tetap menginginkan kemerdekaan bagi Aceh. Uraian sebagaimana yang dituturkan aktifis Inong Bale tersebut di atas, menggambarkan bahwa seorang perempuan yang sangat teguh kepada pendiriannya. Upaya untuk mendorong adanya ketidak adilan yang terjadi, dijawab dengan keterlibatan dalam menciptakan konflik bersenjata, walau dalam keadaan masih hamil sekali pun. Keteguhan seorang aktifis perempuan juga bisa terjadi perubahan sesuai dengan konteksnya. Pada masa konteks damai, aktifis perempuan ini menjadi salah satu aktifis yang terus melakukan perjuangan. Perjuangan untuk konflik bersenjata pada masa konflik mulai berubah menjadi perjuangan-perjuangan politik, juga terlibat didalamnya, melalui kendaraan politik, partai lokal.[]

=====================================

Sumber: buku “Gerakan Perempuan Aceh untuk Perdamaian”, ditulis oleh Sugiarto A Santoso dan Ferry Yuniver S  didukung oleh MISPI (Mitra Sejati Perempuan Indonesia) UNDP (United Nations Development Programme).

sumber gambar: Inong Balee

About Perempuan Berkisah 174 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply