Kisah Perempuan Raknamo Memantau Anggaran Desa

“Ternyata katong sebagai perempuan tidak selamanya hanya mengurusi dapur, sawah dan anak saja. Katong juga punya andil dalam Anggaran Desa. Katong juga bisa bersuara bagaimana Anggaran Dana Desa itu harus digunakan…”

(Gernelia Ndoki, Kordinator KPPA Desa Raknamo, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur)

Ibu Gernelia Ndoki atau yang biasa dipanggil Mamak La, 38 tahun, adalah salah satu dari sepuluh anggota Kelompok Perempuan Pemantau Anggaran (KPPA) yang dibentuk di desa Raknamo pada tahun 2010 sebagai bagian dari project LISTEN I (Local Initiative to Strengthen and Empower Women) yang dilaksanakan oleh CIS Timor sebagai mitra dan didukung sepenuhnya oleh Oxfam.

Proyek LISTEN memfokuskan pada peningkatan kepercayaan diri dan kapasitas perempuan untuk berpartisipasi dan mempengaruhi proses pembuatan atau pengambilan keputusan yang berkaitan dengan peningkatan penghidupan dan ketahanan perempuan, dengan memperbaiki pemerintahan dilevel desa serta memperbaiki hubungan yang setara diwilayah domestik, publik dan budaya.

KPPA adalah sebuah kelompok perempuan yang awalnya dibentuk di empat  desa model di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan Dan Timor Tengah Utara.  Penentuan desa model ini berdasarkan beberapa kriteria diantaranya jumlah populasi perempuan dewasa lebih banyak. Selain itu  mengalami dampak serius kekeringan dan rawan pangan serta desa yang menerima Anggaran Dana Desa.

KPPA di desa model ini melakukan identifikasi lewat survei mengenai apa yang dilakukan oleh pemerintah desa dan masyarakat dalam dua tahun terakhir yang didanai ADD dan apakah kegiatan tersebut memberikan manfaat buat kelompok perempuan sehingga mereka dapat mengatasi permasalahan prioritas yang dihadapi. Di proyek LISTEN II & III kegiatan kelompok perempuan ini direplikasi di 6 desa lainnya sehingga sampai tahun 2012 ini terdapat 10 desa di NTT yang memiliki KPPA.

 Desa Raknamo sendiri terletak di kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, NTT dengan jumlah penduduk sebanyak 511 KK yang terdiri dari 879 laki-laki dan 887 perempuan. Dari total 511 KK tersebut, terdapat 30 Kepala Keluarga Perempuan (KKP). Menurut mamak La, dengan kondisi dimana jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki tidak menjamin bahwa anggaran yang masuk ke desa dialokasikan untuk kepentingan perempuan. Selain itu masih banyak masyarakat yang sama sekali tidak mengetahui anggaran yang masuk ke desa, berapa jumlahnya serta peruntukkannya.

Kecurigaan dan Cibiran: Tantangan Perempuan Rakmano

Pendapat mamak La ini didasarkan pada hasil temuan survei yang dilakukan oleh KPPA Desa Raknamo pada bulan Desember 2010 kepada masyarakat dan aparat di kelima dusun yang ada di sana dimana pada umumnya ketidaktahuan dan ketiadaan perubahaan yang dialami masyarakat utamanya kaum perempuan disebabkan oleh tertutupnya pihak pemerintah desa soal anggaran serta belum adanya pemerataan soal keterlibatan masyarakat dalam pemberdayaan ataupun kegiatan lainnya yang ada di desa. Hal senada juga disampaikan oleh ibu Milka Yanti Boys yang menambahkan bahwa adanya budaya yang menganggap perempuan tidak tahu apa-apa dan hanya bertugas mengurusi rumah tangga saja sehingga keterlibatan perempuan dalam perencanaan pembangunan desa hampir tidak ada sama sekali.

Perjalanan mamak La dan ibu-ibu lainnya di KPPA dalam menelusuri dan memantau anggaran yang masuk dan dikelola di desa bukannya tidak mendapat tantangan dan hambatan. Kecurigaan dan cibiran menjadi hal yang biasa bagi mereka karena adalah hal yang aneh di desa mereka ketika perempuan ikut mengurusi sesuatu diluar urusan rumah tangga. Bahkan ketika melakukan survei mengenai penguatan kapasitas kelempok perempuan desa tersebut mereka dicap sebagai ‘perempuan kurang kerjaan’ atau dilabeli sebagai ‘wartawan desa’. Namun, berbagai tanggapan negatif yang ketika itu diberikan kepada mereka tidak membuat nyali para ibu-ibu ini menjadi ciut dan langkah mereka terhenti. Para perempuan ini saling berbagi dan menguatkan serta saling mengingatkan bahwa apa yang mereka lakukan ini bertujuan baik dan untuk kepentingan masyarakat desa.

Dukungan yang diberikan para suami kepada mereka dijadikan sebagai motivasi untuk terus berkegiatan dan menyuarakan kepentingan kaum perempuan di desa walaupun kecemasan dan ketakutan sempat dirasakan. Dan terbukti, masyarakat yang tadinya menaruh kecurigaan terhadap aktifitas mereka mulai memahami dan berbalik menyokong KPPA untuk terus memantau anggaran desa mereka serta berperan aktif di setiap pertemuan desa. Dengan adanya KPPA, masyarakat jadi tahu anggaran yang masuk ke pemerintah desa, jumlahnya dan peruntukkannya serta adanya pemantauan dari KPPA membuat pemerintah desa tidak lagi seenaknya menggunakan anggaran tanpa persetujuan masyarakat.

Mamak La dan suami yang sangat mendukung kegiatannya di KPPA
Mamak La dan suami yang sangat mendukung kegiatannya di KPPA

 Desa Raknamo sendiri terletak di kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, NTT dengan jumlah penduduk sebanyak 511 KK yang terdiri dari 879 laki-laki dan 887 perempuan. Dari total 511 KK tersebut, terdapat 30 Kepala Keluarga Perempuan (KKP). Menurut mamak La, dengan kondisi dimana jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki tidak menjamin bahwa anggaran yang masuk ke desa dialokasikan untuk kepentingan perempuan. Selain itu masih banyak masyarakat yang sama sekali tidak mengetahui anggaran yang masuk ke desa, berapa jumlahnya serta peruntukkannya.

Pendapat mamak La ini didasarkan pada hasil temuan survei yang dilakukan oleh KPPA Desa Raknamo pada bulan Desember 2010 kepada masyarakat dan aparat di kelima dusun yang ada di sana dimana pada umumnya ketidaktahuan dan ketiadaan perubahaan yang dialami masyarakat utamanya kaum perempuan disebabkan oleh tertutupnya pihak pemerintah desa soal anggaran serta belum adanya pemerataan soal keterlibatan masyarakat dalam pemberdayaan ataupun kegiatan lainnya yang ada di desa. Hal senada juga disampaikan oleh ibu Milka Yanti Boys yang menambahkan bahwa adanya budaya yang menganggap perempuan tidak tahu apa-apa dan hanya bertugas mengurusi rumah tangga saja sehingga keterlibatan perempuan dalam perencanaan pembangunan desa hampir tidak ada sama sekali.

Perjalanan mamak La dan ibu-ibu lainnya di KPPA dalam menelusuri dan memantau anggaran yang masuk dan dikelola di desa bukannya tidak mendapat tantangan dan hambatan. Kecurigaan dan cibiran menjadi hal yang biasa bagi mereka karena adalah hal yang aneh di desa mereka ketika perempuan ikut mengurusi sesuatu diluar urusan rumah tangga. Bahkan ketika melakukan survei mengenai penguatan kapasitas kelempok perempuan desa tersebut mereka dicap sebagai ‘perempuan kurang kerjaan’ atau dilabeli sebagai ‘wartawan desa’. Namun, berbagai tanggapan negatif yang ketika itu diberikan kepada mereka tidak membuat nyali para ibu-ibu ini menjadi ciut dan langkah mereka terhenti.

Para perempuan ini saling berbagi dan menguatkan serta saling mengingatkan bahwa apa yang mereka lakukan ini bertujuan baik dan untuk kepentingan masyarakat desa. Dukungan yang diberikan para suami kepada mereka dijadikan sebagai motivasi untuk terus berkegiatan dan menyuarakan kepentingan kaum perempuan di desa walaupun kecemasan dan ketakutan sempat dirasakan. Dan terbukti, masyarakat yang tadinya menaruh kecurigaan terhadap aktifitas mereka mulai memahami dan berbalik menyokong KPPA untuk terus memantau anggaran desa mereka serta berperan aktif disetiap pertemuan desa. Dengan adanya KPPA, masyarakat jadi tahu anggaran yang masuk kepemerintah desa, jumlahnya dan peruntukkannya serta adanya pemantauan dari KPPA membuat pemerintah desa tidak lagi seenaknya menggunakan anggaran tanpa persetujuan masyarakat.

Ditambahkan lagi, apa yang  dilakukan di KPPA ternyata juga mendapat tanggapan positif dari luar desa mereka. Kelompok perempuan ini sering mendapat kunjungan dari desa lain dan juga termasuk dari Timor Leste yang ingin belajar dari pengalaman mereka memantau anggaran desa. Selain itu mereka juga diundang ke berbagai pelatihan dan workshop,  melakukan wawancara interaktif dengan Ketua DPRD NTT secara live di RRI dan melakukan pertemuan dengan Sekda guna membicarakan permasalah dan kebutuhan mereka di desa. Ya, perlahan tapi pasti perubahan memang sedang berlangsung di desa Raknamo.

=====

Sumber: OxfamIndonesia

Teks dan Foto: Ni Nyoman Marthani/Oxfam

About Perempuan Berkisah 174 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply