PEREMPUAN WELO: “Tangguh Bukan Lagi Mimpi” (Bagian 1/2)

“Aksi penanaman bambu ini membuktikan bahwa kaum perempuan di dusun ini bisa berbuat sesuatu untuk kepentingan seluruh warga. Kami menanam bambu sepanjang seratus meter di pinggir kali untuk mencegah pengikisan tanah di bibir kali.”

(Agnes Bulu Tukan)

Welo adalah salah satu dusun di Desa Painapang, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sekitar dua jam perjalanan bersepeda motor dari Welo. Dalam bahasa Lamaholot, bahasa dari kelompok suku yang mendiami Pulau Flores bagian Timur dan Lembata, Welo adalah lubang di pinggir laut atau pinggir pantai dengan pusaran yang selalu memunculkan air yang tidak pernah akan habis. Ada ungkapan yang berbunyi, “welo bego wai mata” yang berarti air yang muncul di pinggir pantai yang tidak pernah habis.

Dusun yang subur ini bisa ditempuh selama 45 menit dari Kota Larantuka dengan motor ojek dengan tarif Rp 50 ribu. Kendaraan umum yang melewati wilayah ini jasuh lebih lambat karena kondisi jalan yang sangat buruk, banyak lubang menganga yang membentuk kolam kotor saat musim hujan. Bus atau truk kayu yang mengangkut penumpang dan barang menempuh perjalanan selama satu jam dengan tarif Rp 20 ribu.

Langit senja Dusun Welo pada Senin (13/1) tampak pekat. Hujan seakan siap ditumpahkan saat mengunjungi Dusun ini. Warga kembali dari ladang dengan bawaan di kepala dan bahu. Sebagian warga kembali dari kuburan. Seorang tokoh adat dusun ini, Theodorus Tana Ruron (85) baru saja dimakamkan. Duka masih menggantung di hati. Tapi bebera-pa perempuan tangguh dan staf YPPS mengitari Kali Lumbele yang dalam bahasa setempat berarti kali yang besar.

Deretan dua ribuan anakan bambu yang ditanam Kelompok Perempuan Tangguh pada 28 Desember 2013 lalu mulai bertunas berwarna kehijauan. Anakan bambu itu tumbuh dengan subur di pinggir Kali Lumbele. Akar-akar pohon bergelantungan di bibir kali yang tidak pernah kering ini. Dinding kali yang dibentuk terjangan banjir bandang itu ibarat pisau yang mengikis hamparan daratan sekaligus memperluas kali tersebut. Kikisan dinding itu akan semakin mempersempit hamparan daratan. Ribuan mete dan kelapa milik warga terancam hilang.

Di tengah fakta miris yang menggelisahkan warga ini, ada harapan yang bersemi di antara tunas-tunas bambu yang masih belia ini. Harapan itu menyeruak dari kesadaran kelompok Perempuan Tangguh Welo yang difasilitasi oleh YPPS dan Oxfam. Optimisme itu tumbuh dari perbincangan kritis ala kampung yang dibangun para pendamping untuk menggali kesadaran kaum perempuan
setempat untuk berpartisipasi dalam jejaring pemberdayaan perempuan Dusun Welo untuk kehidupan yang lebih baik.

Perempuan Tangguh adalah kumpulan perempuan Dusun Welo yang peduli dengan bencana banjir bandang. Kelompok ini merupakan leburan dari beberapa kelompok kecil yang terkait dengan usaha pengembangan ekonomi seperti kelompok Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) dan kelompok “Mama Sayang” yang merupakan himpunan perempuan-perempuan yang mengambil peran sebagai kepala keluarga karena suami merantau. Kelompok perempuan ini menyebut dirinya “janda sementara” yang didampingi oleh Delegatus Sosial (Delsos) Gereja Keuskupan Larantuka.

Kelompok Perempuan Tangguh ini pun disatukan dengan kelompok kerja (Pokja) yang diasuh oleh Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga (PKK) Dusun Welo. Awalnya, kelompok ini lebih berorientasi ekonomi. Usaha simpan pinjam misalnya, membantu perempuan-perempuan ini mengatasi kesulitan ekonomi meski wawasan dan kreativitas masih terbatas dalam mengembangkan ekonomi. Pokja ini membentuk badan pengurus yang terdiri dari Marde Werang sebagai ketua, Theresia Teniban Ruron sebagai bendahara dan Agnes Bulu Tukan sebagai pengawas Pokja.

Tahun 2012 Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) Larantuka masuk dan mendampingi Kelompok Perempuan Tangguh ini dengan program pengurangan risiko bencana. Pertemuan rutin digelar bersama pendamping dari YPPS. Dalam pelaksanaan program ini, warga Welo membentuk Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) yang melibatkan Kelompok Perempuan Tangguh sebagai penggerak bagi warga Welo. Kelompok perempuan ini menginspirasi perempuan lain yang belum terlibat dan kaum lelaki untuk berpartisipasi dalam gerak pembangunan di dusun ini. Diskusi bertukar pikiran berlangsung dalam berbagai kegiatan kelompok ini seperti “Sabtu Bersih” yaitu program Pokja untuk membersihkan tempat-tempat umum desa pada setiap hari Sabtu seperti jalan desa, balai desa, gereja, sekolah dan pembersihan kali.

Diskusi yang digagas YPPS bersama Kelompok Perempuan Tangguh ini bermuara pada fakta bencana banjir bandang yang selalu melanda warga desa ini setiap kali musim hujan. Kelompok perempuan ini akhirnya sepakat untuk menanggulangi bencana banjir dengan melakukan aksi penanaman bambu di sekitar pinggiran Kali Lumbele untuk mencegah abrasi. Aksi ini dibantu oleh kaum lelaki. Mereka memotong bambu, membentuk stek bambu, mencangkul lahan persemaian dan membentuk bedeng, menyemaikan stek bambu, menyiram dan merawat bakal bambu tersebut selama dua bulan. Jumlah stek bambu yang disemaikan kurang lebih 3 ribuan.

Setelah tunas-tunas menyembul dari stek bambu di bedeng persemaian, Kelompok Perempuan Tangguh melakukan aksi penanaman pada 28 Desember 2013 dengan menanam kurang lebih seribu anakan bambu di sepanjang pinggir kiri- kanan Kali Lumbele.

“Aksi penanaman bambu ini membuktikan bahwa kaum perempuan di dusun ini bisa berbuat sesuatu untuk kepentingan seluruh warga. Kami mena-nam bambu sepanjang seratus meter di pinggir kali untuk mencegah pengikisan tanah di bibir kali. Kami memilih bambu karena akarnya bisa mengikat dan menahan tanah akibat pengikisan banjir bandang. Kami berusaha agar kegiatan ini melibatkan semua perempuan di desa ini,” kata Agnes Bulu Tukan, guru honorer di SDI Welo yang berperan sebagai motivator perempuan di Welo.

(Kisah ini bersambung ke: bagian 2)

===========

Keterangan Penulis: Kisah inspiratif ini ditulis oleh Muhary Wahyu Nurba, Husain Laodet, Stefanus Tupeng, dan Ihwana Mustafa. Tulisan mereka terkumpul dalam buku “Merangkai Karya Membangun Ketangguhan: Kisah Inspiratif Para Perempuan Tangguh”, diterbitkan oleh Oxfam Indonesia, tahun 2004. Kisah inspiratif mereka akan dibagi di Perempuan Berkisah sampai 2 bagian. Halaman: 6-14.

 

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.