PEREMPUAN WELO: Kelompok Perempuan Tangguh, Inspirasi Perempuan Peduli Desa (2/selesai)

“Dulu, saya dan kaum perempuan di dusun ini hanya duduk saja di dalam rumah dan tunggu hasil undian lotre untuk memastikan giliran mendapatkan uang dalam kelompok Mama Sayang ini…” (Theresia Bota Buan).

 

Theresia Bota Buan (63) adalah anggota Kelompok PerempuanTangguh. Suaminya telah lama merantau. Ia adalah salah satu dari “janda sementara” yang memikul tanggung jawab sekaligus sebagai ibu dan bapak dalam keluarganya. Awalnya, ia masuk dalam kelompok “Mama Sayang” yang digagas oleh Delsos Keuskupan Larantuka yang bergerak dalam usaha simpan pinjam. Kelompok ini tetap eksis hingga saat ini.

“Dulu, saya dan kaum perempuan di dusun ini hanya duduk saja di dalam rumah dan tunggu hasil undian lotre untuk memastikan giliran mendapatkan uang dalam kelompok Mama Sayang ini. Ibu Agnes mengajak saya untuk bergabung dalam Kelompok Perempuan Tangguh ini. Saya mengalami kebersamaan yang luar biasa dalam kelompok ini. Saya bisa mendapatkan pengetahuan baru dalam pembicaraan bersama. Pola pikir saya semakin berkembang dan saya mendapatkan wawasan baru dalam mengembangkan hidup ekonomi saya, bersiap menghadapi banjir Saya bisa mendapatkan jalan keluar dari masalah-masalah yang saya hadapi dalam hidup berkeluarga,” ujarnya.

Keberadaan Perempuan Tangguh semakin kuat memberikan inspirasi bagi ibu-ibu di Dusun Wello untuk berperan bersama. Kegiatan mereka menyatu dengan kegiatan-kegiatan yang ada di Dusun dan dilakukan secara mandiri. Mahilede Keheket Tukan adalah Ketua Tim Penggerak PKK Dusun Welo, menuturkan “saya bangga dengan keberadaan Kelompok Perempuan Tangguh sebagai pemberi motivasi bagi kaum perempuan yang menggerakkan kaum perempuan berperan aktif dalam pembangunan di dusun ini. Pokja Dusun Welo memiliki program Sabtu Bersih yang digabungkan dengan kegiatan kelompok Perempuan Tangguh. Kami membersihkan tempat-tempat umum di dusun ini. Kaum perempuan menggalang kekuatan bersama untuk lebih peduli dengan
keadaan di dusun kami ini. Wawasan kami kaum perempuan semakin terbuka luas khususnya dalam mengelola keluarga. Kami menanam bambu di pinggir Kali Lumbele karena banjir bandang itu mengikis tanah dan merusak kehidupan warga di sini,” ungkapnya.

Adalah mama Agnes Bulu Tukan, seorang Guru honorer SDI Welo. Dialah yang dipercayakan sebagai koordinator Perempuan Tangguh Dusun Welo. Ia adalah perempuan yang sudah memberikan inspirasi dan mendorong kaum perempuan di Dusunnya untuk bergerak bersama dalam mengambil peran aktif untuk upaya PRB. Ia pernah mengikuti lokakarya yang dilaksanakan oleh Oxfam di Denpasar-Bali dan diakuinya sebagai awal baginya untuk mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana perempuan dapat berperan aktif dan menjadi penggerak di tengah masyarakat. Menurutnya, perempuan di Welo awalnya tergabung dalam Pokja yang terbatas pada usaha simpan pinjam. Rata-rata pendidikan kaum perempuan adalah sekolah dasar.

Pengetahuan dan wawasan sangat terbatas. Perasaan minder, tertutup dan tidak percaya diri sangat mendominasi kaum perempuan. Tapi pendampingan dari YPPS mengubah perempuan di dusun ini. Perubahan itu tampak secara nyata dalam keterlibatan dan partisipasi dalam proses pembangunan, baik di dalam keluarga maupun di dalam masyarakat dan gereja.

“Kehadiran YPPS sangat membantu perkembangan taraf pikiran dan hidup warga di sini. Dulu, hanya ada simpan pinjam. Sekarang, perempuan bisa membentuk kelompok pilih mete yang seharinya dibayar Rp 30 ribu per anggota kelompok. Uang itu menjadi milik kelompok dan berputar di dalam kelompok tersebut. Hal ini sangat membantu meringankan kesulitan ekonomi di dalam keluarga. Ada saling berbagi gagasan baru di dalam kelompk perempuan ini. YPPS bersama perempuan tangguh menggagas dan membentuk Tim Siaga Bencana Desa yang diikuti dengan pelatihan-pelaihan, baik di Larantuka maupun di Bali yang memperluas wawasan kami khususnya dalam pengurangan risiko bencana. Kami mendapat inspirasi untuk tidak melihat bencana banjir bandang semata sebagai bencana yang merusak hidup tapi dapat dikurangi dampaknya melalui aksi penanaman bambu. Bencana sesungguhnya bisa dicegah sejak dini,” kata Agnes.

Menurutnya lagi, YPPS tidak hanya bergerak dalam upaya pengurangan risiko bencana saja tetapi juga menginspirasi dan membuka ruang bagi perempuan untuk berlatih menyampaikan pikiran dan pendapat, betapa pun kecil dan sederhana. Ada upaya membuka diri terhadap pengetahuan baru yang memperkaya wawasan kaum perempuan. Pendampingan ini berperan dalam melatih semangat menjadi pemimpin dalam diri perempuan untuk mempromosikan kegiatan-kegiatan di masyarakat umum demi mempengaruhi orang lain.

“Kaum perempuan mendapatkan banyak pengetahuan baru yang membantu perkembangan diri dan pikiran kaum perempuan di sini. Masing-masing kamu juga saling berbagi pengetahuan satu sama lain. Aksi penanaman bambu di pinggir kali desa ini merupakan sosialisasi diri dan potensi kaum perempuan di dusun ini. Kaum perempuan dusun ini membuktikan diri bisa melakukan sesuatu yang berdampak luas bagi seluruh dusun ini. Kami bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi semua warga di sini. Di dalam prosesnya, ada kerja sama, keterbukaan satu sama lain,saling memberi dan menerima pendapat orang lain. Kami juga membuktikan bahwa kerja tidak hanya melulu karena uang tapi sebagai ekspresi potensi yaitu partisipasi dalam pikiran dan tindakan konkret bagi seluruh warga,” tambahnya lagi.

Hendrik Hoga Hekin (53) adalah Kepala Dusun Welo yang telah mengabdi selama 15 tahun. Ia bersaksi tentang kisah sukses pendampingan YPPS yang tidak hanya menyentuh kaum perempuan tapi seluruh Warga Welo. Sebelumnya, orang Welo kurang memiliki pengetahuan khususnya dalam pengurangan risiko bencana. Tapi sejak tahun 2012, YPPS membuka wawasan penduduk
untuk mencegah bahaya banjir bandang melalui aksi konkret penanaman bambu yang ramah lingkungan. Aksi ini murni swadaya kaum perempuan yang dibantu kaum lelaki. Semua bahan berasal dari Welo.

“Kami merasakan dampak kehadiran dan pendampingan YPPS. Seluruh warga disadarkan akan bahaya banjir yang bisa dicegah dengan aksi pengurangan risiko. Semua sumber daya datang dari dusun ini. Hal ini membuktikan bahwa kekuatan lokal bila digerakkan oleh pengetahuan baru akan membantu memberdayakan warga di sini khususnya kaum perempuan. Warga terdorong untuk mengurangi risiko bencana melalui aksi menjaga dan merawat lingkungan hidup. Ada pengetahuan praktis menyelamatkan barang berharga ketika banjir bandang. Kami punya “Tas Siaga Bencana” untuk menyimpan barang-barang berharga seperti sertifikat, KTP, ijazah, buku bank dan sebagainya. Kami juga melakukan penghijauan hutan di Bukit Barahia yang menjadi sumber bencana banjir bandang bagi dusun ini. Kami tinggal menunggu hujan untuk melakukan reboisasi ini di Bukit Barahia dan mata air Wai Taha,” kata Hendrik.

Perkuat Kapasitas dan Mencerahkan Warga

Saat ini rencana ini telah berhasil dilakukan dengan melibatkan masyarakat, perempuan tangguh dan TNI dari Kodim Larantuka.Program pendampingan Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) bersama Oxfam di Dusun Welo dalam upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) akan berakhir pada Maret 2014 dan Penguatan Kepemimpinan Perempuan dalam PRB pada Februari 2014. Berbagai kegiatan dan aksi nyata telah tercatat dalam gerak pembangunan dan pemberdayaan kaum perempuan.

Warga Welo telah mengalami dampak baik selama pendampingan ini, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga dan sosial. YPPS telah membuka ruang partisipasi warga khususnya kaum perempuan dalam ranah pikiran dan aksi nyata. Kelesuan dan apatisme warga perlahan terkikis. Kali Lumbele telah ditumbuhi tunas-tunas stek bambu muda. Banjir bandang diantisipasi oleh Kelompok Perempuan Tangguh Dusun Welo dengan penghijauan. Pengetahuan siaga bencana telah menjadi bekal dalam menghadapi bencana banjir bandang.

Bagaimana kelanjutan program ini pasca berakhirnya program pendampingan ini? Agnes Bulu Tukan mengatakan, program ini telah menyatu dalam keseharian orang Welo. YPPS telah menguatkan kapasitas dan mencerahkan kesadaran warga khususnya kaum perempuan agar menjadi tangguh dalam menghadapi gempuran bencana alam.

“Kami telah membuktikan bahwa kaum perempuan memiliki kekuatan untuk membangun desa kami sendiri. Perempuan Welo memiliki kebenaran baru yaitu bicarakan apa yang dirasakan. Tangguh bukanlah lagi mimpi, perempuan bisa dalam segala hal, baik di rumah maupun di tempat umum,” ujarnya lagi.

Rencana tindak lanjut adalah kembali melakukan reboisasi Bukit Barahia yang selama ini menjadi sumber longsor dan memproduksi material banjir bandang yang menggenangi Dusun Welo. Aksi perawatan lingkungan ini akan dilaksanakan selama tahun 2014 saat musim hujan tiba. Selain itu kaum perempuan bersama pemerintah Dusun Welo telah merancang aksi penanaman bakau untuk mencegah ancaman abrasi yang terus saja mengikis daratan dan mempersempit bibir pantai Welo.

Anggota Kelompok Perempuan Tangguh Dusun Welo, Lusia Bunga yang akrab disapa Mama Ayang menyatakan tekad kaum perempuan dan warga Dusun Welo untuk terus melanjutkan program pendampingan ini meskipun YPPS dan Oxfam akan berhenti memfasilitasi mereka. Tragedi banjir bandang telah membuahkan kesadaran untuk selalu siaga menghadapi ancaman bencana
alam. “Biar kami tidak banyak omong, tapi Kelompok Perempuan Tangguh tetap jalan. Kami sudah punya aksi nyata,” tegasnya.[]

===========

Keterangan Penulis: Kisah inspiratif ini ditulis oleh Muhary Wahyu Nurba, Husain Laodet, Stefanus Tupeng, dan Ihwana Mustafa. Tulisan mereka terkumpul dalam buku “Merangkai Karya Membangun Ketangguhan: Kisah Inspiratif Para Perempuan Tangguh”, diterbitkan oleh Oxfam Indonesia, tahun 2004. Kisah inspiratif mereka akan dibagi di Perempuan Berkisah sampai 2 bagian. Halaman: 6-14.

About Perempuan Berkisah 174 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply