Perempuan Pendobrak dari Kaki Lembah

Budaya patriarki di kehidupan masyarakat Bima pada umumnya memang masih kental, dalam segala hal menyangkut hajat hidup selalu menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Namun perempuan sendiri tak pernah risau dengan posisi mereka berada di mana. Sikap itulah yang justru menjadikan perempuan termotivasi untuk bisa lebih tangguh, mengambil peran yang tak kalah penting dengan tugas kaum laki-laki.

Memasuki wilayah kelurahan Ntobo yang berbatasan langsung dengan wilayah hutan produksi, yakni kawaean yang telah membri kehidupan dari generasi ke generasi baik masyarakat pinggir hutan sekitar kelurahan Ntobo maupun masyarakat yang berada di kelurahan lain, yang menjadikan sebagai lahan tegalan mereka. Dahulu mata air yang ada di Kelurahan Ntobo sangat berkecukupan, ada tujuh titik yang dimanfaatkan untuk pengairan lahan persawahan dan sebagai sumber air bersih. Akan tetapi potret sumber air yang berlimpah itu pun mulai menipis dengan maraknya aksi illegal loging. Pohon-pohon lebat di wilayah hutan tidak lagi berfungsi baik sebagai benteng yang meminamalisir adanya banjir bandang.

Secara geografis, letak Lingkungan Busu kelurahan Ntobo berada di bahagian paling timur Kota Bima. Lingkungan pemukiman yang berada di tengah lembah ini memiliki karakter khas. Kelurahan Ntobo terletak di Kecamatan Raba Kota Bima dengan topografi berbukit, wilayah ini 80% merupakan wilayah dataran tinggi dan 20% dataran rendah serta berbatasan dengan wilayah lain yakni sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Jatibaru Kecamatan Asakota, Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Kumbe Kecamatan Raba, sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Rite Kecamatan Raba dan Sebelah timur berbatasan dengan hutan tutupan Maria Kecamatan Wawo Kabupaten Bima.

Perubahan Pola Pikir Masyarakat

“Saya melihat banyak anak-anak balita tidak memiliki tempat bermain yang layak. Saya berharap mereka anak usia dini di lingkungan Busu bisa mendapatkan hak pendidikan yang sama denga anak-anak lain yang ada di kota ini” (Astuti)

Cerita mengenai perempuan tangguh di Kelurahan Ntobo bukanlah sesuatu yang baru. Dalam sejarah budaya masyarakat Bima, perempuan umumnya memiliki peran ganda dalam kehidupan sosialnya. Selain berada pada posisi kelas dua, perempuan hanya diberi peran di dapur untuk melayani dan mengurus suami serta anak-anak. Namun sejalan dengan perkembangan jaman, banyak perempuan kini menjadi sejajar dengan kaum laki-laki. Meningkatnya pola pikir masyarakat, adanya kemudahan akses fasilitas dan pendidikan yang sudah semakin memadai, menjadi beberapa faktor pendorong kesetaraan tersebut.

Di lingkungan Busu, Kelurahan Ntobo,kesejajaran posisi perempuan mulai berubah dengan ditandai oleh berbagai keberhasilan dan kesuksesan mereka di berbagai bidang. Kelurahan yang berada di ujung timur kota Bima itu kini perlahan beranjak dari ketertinggalan. Gairah kemandirian warga yang digerakkan oleh kaum perempuan telah memberi warna tersendiri sehingga dapat mengubah cara pandang terhadap kaum perempuan itu sendiri dari cap perempuan adalah warga kelas dua. Perubahan ini dapat terlihat dari adanya kemudahan mereka mengakses informasi dan teknologi, yang akhirnya memberi peluang bagi kaum perempuan untuk mengambil bagian dalam pengembangan diri. Kaum perempuan di kelurahan Ntobo dari segi tingkat pendidikan tidak kalah dengan kaum laki-laki.

Masyarakat Bima atau Dou Mbojo juga mengenal istilah Weha Rima dalam budaya mereka, yang aritnya saling membantu untuk menyelesaikan pekerjaan secara bergantian bersama-sama, contohnya pada saat musim tanam atau musim panen. Para perempuan Bima menghayati istilah ini dalam kehidupan sehari-hari mereka sehingga mengakar kuat dalam kepribadian mereka.

Astuti, perempuan berusia 27 tahun, adalah sosok perempuan tangguh yang telah menjadi pemantik bagi perempuan lain di lingkungannya. Ia mampu menggerakkan masyarakat bukan hanya dalam kegiatan gotong royong, tetapi juga dalam kegiatan sosial lainnya. Jauh sebelum program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang dilaksanakan oleh LP2DER (Lembaga Pengembangan Partisipasi Demokrasi dan Ekonomi Rakyat) bersama Oxfam, ibu yang memiliki satu anak ini telah banyak memberi sumbangsih tenaga dan pikiran bagi perempuan di lingkungan Busu.

Astuti berperan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, baik gotong royong sampai urusan dapur ketika “Mbolo Rasa” (rapat warga) dan lain sebagainya. Bahkan sebelum terlibat dalam program ini, Astuti punya mimpi untuk membangun Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi anak-anak di lingkungannya.

“Saya terinspirasi kerena melihat banyak balita tidak memiliki tempat bermain yang layak. Saya berharap mereka bisa mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan anak-anak lain yang ada di kota ini,” kata Astuti sembari menebar senyum.

Setelah Astuti melakukan pendataan anak usia dini dan membangun komunikasi secara intens dengan pemerintah di lingkungannya seperti Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) hingga ke Lurah Ntobo. Ia juga mengumpulkan warga untuk membicarakan mimpi besarnya. Gayung bersambut, warga secara gamblang menyatakan kesepakatannya. Namun tidak semudah seperti diangankan, membangun PAUD tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Berbagai cara dilakukan oleh Astuti untuk memecahkan kebuntuan itu. Salah satunya adalah melakukan diskusi dengan beberapa sumber yang sebelumnya telah memiliki pengalaman dalam membangun PAUD. Di sanalah ia menemukan jalan, dan dikenalkan dengan bebeberapa koneksi yang ada di pemerintahan. Dan pada akhirnya, Astuti dapat melakukan dialog langsung dengan Walikota Bima saat kunjungan kerjanya di Kelurahan Ntobo. Ia bersyukur karena berhasil mendapatkan bantuan dana sebesar Rp 10 juta.

Penguatan Kapasitas Perempuan Desa

Hal lain yang sangat berharga bagi perempuan tangguh adalah berkesempatan membagi pengetahuan tentang hak-hak perempuan. Memberikan dukungan kepada perempuan lain agar bisa melakukan apapun, bermimpi untuk mewujudkan kehidupan mereka yang lebih baik.

Tidak berhenti di situ saja, Kelurahan Ntobo membentuk Kelompok Perempuan Tangguh pada awal tahun 2013. Beberapa perempuan yang memiliki potensi sebagai pemimpin di kelurahan ini ikut bergabung, termasuk Astuti. Para perempuan tangguh ini merupakan aktor penting yang merupakan anggota Tim Siaga Bencana Kelurahan (TSBK). Sejak Program PRB hadir di Kelurahan Ntobo pada bulan September 2012 lalu, kiprah perempuan mulai nampak dan menunjukkan eksistensinya di tengah kehidupan sosial. Oxfam lewat mitranya, LP2DER di Bima pun telah melakukan berbagai kegiatan antara lain pendampingan, memfasilitasi warga, baik penguatan kapasitas maupun pelatihan-pelatihan terkait penguatan kader TSBK khususnya kapasitas perempuan tangguh.

Di samping mendapatkan penguatan kapasitas terkait program TSBK, para perempuan tangguh ini juga dibekali berbagai metode dasar melakukan advokasi dan negoisasi dengan berbagai pihak sampai ke tingkat pemerintah. Pelatihan-pelatihan keterampilan lainnya diadakan untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam untuk dapat dikelola dan dimanfaatkan dengan maksimal, dimana diharapkan dapat berguna bagi masyarakat. Misalnya pelatihan pembuatan pupuk organik dilakukan karena bahan baku sampah organik bisa didapatkan dari kelompok petani ternak sapi di lingkungan Busu.

“Pendanaan pelatihan pembuatan pupuk organik itu didukung oleh pemerintah,” ujar Aan Suryani, salah seorang perempuan tangguh. Setelah pembuatan pupuk organik, kelompok Perempuan Tangguh segera membuka jaringan dengan instansi-instansi pemerintah terkait. Antara lain melakukan negoisasi dengan dinas pertanian agar pupuk organik yang dihasilkan itu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Harapannya masyarakat bisa terbantu ketika kekurangan pupuk saat musim tanam.

Meskipun begitu, ada kendala yang harus mereka hadapi. Produksi pupuk dalam bentuk cair dan padat tersebut tergantung dari bahan baku dasarnya, yaitu kotoran sapi. Sementara, sampai saat ini mereka hanya mendapatkan bahan baku ini dari satu kelompok ternak saja.

“Jika persediaan kotoran sapi lebih banyak, maka produksi pupuk pun akan banyak,” Aan berandai-andai. Dia juga menambahkan bahwa jika kekurangan pupuk bisa diatasi dan dengan harga pupuk yang terjangkau, maka akan dapat membantu para petani untuk meningkatkan produksi pertanian mereka dengan biaya produksi yang lebih rendah.

Keberadaan perempuan tangguh memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Busu. Banyak hal yang membuat bangga sekaligus bisa menjadi inspirasi bagi perempuan lainnya untuk sama-sama melakukan sesuatu yang bermakna. “Kami merasa berguna ketika bisa berbuat sesuatu, misalnya melakukan sosialisasi risiko bencana khususnya kepada ibu-ibu, remaja masjid, siswa dan warga pada umumnya,” tambahnya lagi.

Biasanya dari setiap kesempatanan pertemuan TSBK dalam kegiatan sosialisasi PRB, perempuan tangguh dapat memanfaatkan waktu untuk menyampaikan agenda-agenda lain kepada warga. Misalnya sosialisasi Program Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dari Dinas Kesehatan (Dinkes). Adanya kegiatan seperti itu juga karena Perempuan Tangguh Kelurahan Ntobo telah dipilih menjadi mitra oleh Dinkes Kota Bima. Selain itu kelompok Perempuan Tangguh juga telah melakukan advokasi untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat ke pemerintahan kota Bima, antara lain berupaya mengadakan mesin penggiling jerami untuk pembuatan pupuk organik. Di samping itu juga mereka memfasilitasi pengrajin tenun Busu dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bima untuk mendapatkan bantuan seperti alat tenun, benang, serta pembinaan terkait menajemen penjualan, membuka pangsa pasar dan lain-lain. Hasilnya adalah tenunan pengrajin Busu kini telah mampu menembus pasar di luar Bima.

“Pengalaman yang luar biasa yang kami rasakan setelah menjadi perempuan tangguh yakni melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah masyarakat setelah kami mampu merebut perhatian Pemerintah Daerah khususnya SKPD 1 dengan secara langsung dapat membantu warga baik material maupun dalam bentuk pembinaan lainnya. Hal lain yang sangat berharga bagi perempuan tangguh adalah berkesempatan membagi pengetahuan tentang hak-hak perempuan. Memberikan dukungan kepada perempuan lain agar bisa melakukan apapun, bermimpi untuk mewujudkan kehidupan mereka yang lebih baik,” kata Astuti.[]

====

Keterangan Penulis: Kisah inspiratif ini ditulis oleh Muhary Wahyu Nurba, Husain Laodet, Stefanus Tupeng, dan Ihwana Mustafa. Tulisan mereka terkumpul dalam buku “Merangkai Karya Membangun Ketangguhan: Kisah Inspiratif Para Perempuan Tangguh”, diterbitkan oleh Oxfam Indonesia, tahun 2004.

1) Satuan Kerja Perangkat Daerah

About Perempuan Berkisah 174 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply