Menggerakkan Perempuan, Memajukan Daerah

“Saya bilang kepada teman-teman bahwa jangan laki-laki saja yang bisa membuat pupuk organik tapi kita juga bisa. Kita harus mencoba untuk membuat pupuk organik setelah pelatihan yang diberikan oleh pemerintah kemarin. Bahkan uji alatnya kemarin itu kita sudah lolos juga. Dan sekarang saya ingin ada tindak lanjutnya.” (Sakinah)

 

Sakinah (39) adalah sosok perempuan yang selalu ingin berbuat demi kemajuan daerahnya. Ia tidak pernah bisa dikungkung di sebuah tempat dalam suatu waktu yang lama. Ia tidak pernah tinggal bersantai di rumah. Makanya jika diundang untuk menghadiri acara di provinsi ia pasti mengusahakan untuk hadir. Tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana kecintaannya terhadap Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

Kegiatan saya sehari-hari bisa dikatakan sangat padat sekali. Kadang saya ada di sawah untuk irigasi, satu jam kemudian saya sudah di kantor-kantor untuk advokasi. Dalam sehari bisa sampai 3 atau 4 tempat saya hadiri. Saya tidak bisa diam karena selalu ingin melihat Sembalun maju. Selama ini memang yang saya perjuangkan adalah kecamatan Sembalun, itu adalah tujuan saya sejak dulu,” ungkap Sakinah.

Sembari membetulkan letak kacamatanya, ia melanjutkan, “Makanya kalau saya melakukan advokasi ke pemerintah daerah, saya tidak mau masuk ke satu kantor saja. Pokoknya semua departemen yang terkait dan sesuai dengan program-program kami.”

Terkait Program Woman Leadership Strengthening atau Penguatan Kepemimpinan Perempuan oleh Oxfam dan mitranya, Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (KONSEPSI), Sakinah bergerak untuk memberdayakan perempuan terutama mengenai pemenuhan kebutuhan mereka sendiri.

Termasuk memajukan perempuan dengan kapasitas yang mumpuni. Baik dalam hal kepemimpinan juga mengenai ketahanan ekonomi. Sakinah mengupayakan pelatihan keterampilan pengolahan hasil pertanian; misalnya: manisan tomat dan keripik kacang buncis. Tapi Sakinah tidak puas bila hanya sampai pelatihan saja. Hasil pertanian yang melimpah memang musti dibarengi kreativitas tinggi dan perhatian serius dari pihak pemerintah atau swasta agar hasil pertanian yang banyak itu tidak rusak percuma. Oleh karena itu, Sakinah dan petani kentang lainnya bekerja sama dengan sebuah perusahaan makanan besar di Indonesia, Indofood.

Setiap harinya Indofood membutuhkan 400 ton kentang. Kentang-kentang tersebut dikirim ke pabrik Indofood untuk diolah. Dengan kontrol kualitas yang ketat, ada kentang-kentang tidak lolos dan dikembalikan. Meskipun demikian, kentang-kentang ini dapat dimanfaatkan menjadi donat kentang, kripik kentang, stik kentang, dan lain-lain. Adapun yang diolah sendiri oleh warga membutuhkan perpanjangan tangan departemen terkait seperti Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) agar hasil produksi mereka bisa meluas.

Selain kentang, di Sembalun juga banyak hasil pertanian yang lain seperti wortel. Sayur ini tidak hanya dijual sebagai sayur saja tapi juga dibuat menjadi manisan wortel, stik wortel dan lainnya. Ada lagi yg lain, talas dan ubi. “Seperti yang saya katakan, di sini banyak sekali sumber daya yang dapat diolah. Sekarang yang kami butuhkan bukan hanya pelatihan-pelatihan untuk teman-teman perempuan tapi ditindaklanjuti hingga menciptakan pasar. Harapan kami adalah memberdayakan perempuan dan mendapat dukungan dari pemerintah yang ada sangkut pautnya dengan perempuan.”

Misalkan untuk pengolahan, kelompok Perempuan Tangguh berharap pemerintah juga membantu warga ini dari segi modal hingga akses pasar yang lebih besar. Selain pengolahan makanan, Sakinah juga menjajaki pengolahan pupuk dengan memanfaatkan sampah rumah tangga. Selain bisa mengurangi risiko bencana akan banjir jika sampah dibuang ke sungai yang dapat menyebab-
kan banjir, juga bisa sebagai tambahan ekonomi bagi perempuan.

“Saya bilang kepada teman-teman bahwa jangan laki-laki saja yang bisa membuat pupuk organik tapi kita juga bisa,” tutur Sakinah penuh semangat. “kita harus mencoba untuk membuat pupuk organik setelah pelatihan yang diberikan oleh pemerintah kemarin. Bahkan uji alatnya kemarin itu kita sudah lolos juga. Dan sekarang saya ingin ada tindak lanjutnya.”

Sekarang yang kami butuhkan bukan hanya pelatihan-pelatihan tapi ditindaklanjuti hingga menciptakan pasar. Harapan kami adalah memberdayakan perempuan, dan mendapat dukungan dari pemerintah yang ada sangkut pautnya dengan perempuan.(Sakinah)

Bayangkan bila ini semua berjalan. Pupuk organik selain untuk digunakan sendiri juga bisa dijual. Untuk petani kentang, dibutuhkan sampah ratusan ton untuk pupuk, maka panen kentang akan semakin subur. Otomatis pendapatan daerah juga akan meningkat.

“Seandainya itu sudah berjalan dengan baik, bukan tidak mungkin tercapai Lombok Timur yang sejahtera. Dan akan bertambah kekaguman orang-orang bila ternyata di balik ini adalah perempuan yang mengelola itu semua,” tutur Sakinah bersemangat.

=======

Keterangan Penulis: Kisah inspiratif ini ditulis oleh Muhary Wahyu Nurba, Husain Laodet, Stefanus Tupeng, dan Ihwana Mustafa. Tulisan mereka terkumpul dalam buku “Merangkai Karya Membangun Ketangguhan: Kisah Inspiratif Para Perempuan Tangguh”, diterbitkan oleh Oxfam Indonesia, tahun 2004.

About Perempuan Berkisah 174 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply