Perempuan Tangguh: Mencari Jalan, Membuka Pikiran

Setiap kali Ibu Farhana mengajak ibu-ibu di desa Belanting, kecamatan Sambelie, kabupaten Lombok Timur, ia selalu mendapat pertentangan keras dari para suami yang tidak mengizinkan mereka keluar. Mereka rata-rata beranggapan bahwa istri mereka akan diajari melawan suami mereka, supaya bisa mengalahkan mereka dalam segala hal.

 

Mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat tidaklah semudah membalikkan tangan. Apa yang sudah terbentuk bertahun-tahun dalam diri mereka akan cenderung mereka pertahankan. Termasuk bila kepemimpinan patriarki terlalu kuat dan menomorduakan perempuan. Dominasi laki-laki atau suami akan diterima sebagai suatu kewajaran yang mesti dipatuhi oleh istri.

Hal tersebut dirasakan betul oleh Ibu Farhana (39) ketika mengajak orang-orang bergabung ke dalam kelompok Perempuan Tangguh sebagai program peningkatan kapasitas perempuan. Ketika Ibu Farhana menyampaikan maksud pembentukan ini, tidak sedikit yang mencibir. Anggapan mereka, program ini hanya akan menunjukkan superioritas perempuan di mata laki-laki.

“Ya bisa-bisa nanti perempuan jadi merasa lebih tinggi, lebih hebat dan mengalahkan laki-laki,” kata Ibu Farhana menirukan pendapat salah seorang ibu.

Setiap kali Ibu Farhana mengajak ibu-ibu di desa Belanting, kecamatan Sambelie, kabupaten Lombok Timur, ia selalu mendapat pertentangan keras dari para suami yang tidak mengizinkan mereka keluar. Mereka rata-rata beranggapan bahwa istri mereka akan diajari melawan suami mereka, supaya bisa mengalahkan mereka dalam segala hal.

“Dikiranya kami akan mengajari istri-istri mereka mereka supaya bisa membangkang perintah suaminya,” ucap Ibu Farhana lagi, kali ini mencontohkan pendapat seorang suami.

Barulah setelah diadakan beberapa kali sosialisasi, mereka perlahan-lahan memahami dan memposisikan Ibu Farhana dan kawan-kawan sebagai “pembawa perubahan yang baik”. Baik bagi diri perempuan itu sendiri, bagi keluarga, dan bagi masyarakat. Sosialisasi program Perempuan Tangguh ternyata tidak lagi menemui kendala seperti sebelumnya. Hampir setiap dusun memberi respon yang sangat positif. Sekarang banyak yang ingin menjadi Perempuan Tangguh karena merasa terpanggil sendiri.

Program Perempuan Tangguh terutama berfokus pada pelatihan kesiap-siagaan desa terhadap bencana yang diinisiasi oleh Oxfam bersama mitranya Konsepsi. Dalam hal ini perempuan dianggap lebih peduli dan waspada serta tanggap dibanding laki-laki. Bila terjadi bencana, laki-laki biasanya hanya akan menyelamatkan diri. Sebaliknya, perempuan akan segera mencari dimana dan segera menyelamatkan orang-orang di sekitarnya. Di dalam pelatihan tersebut, diajarkan bagaimana cara menanggulangi bencana, bagaimana perempuan bisa menjaga diri, bagaimana cara penanaman kalau musim hujan.Ibu Farhana juga sehari-harinya menjadi kepala sekolah di sebuah sekolah dasar. Namun sebagai koordinator Perempuan Tangguh, ia harus bisa mengatur waktunya untuk tetap berorganisasi dan keberkegiatan di luar rumah.

Dengan mengambil perwakilan dalam setiap dusun, jadwal pertemuan diadakan sesuai kebutuhan setiap masyarakat. Kadang-kadang bisa tiga sampai empat kali pertemuan dalam sebulan. Setiap permasalahan dan keluhan disitu dibahas bersama-sama. Bila ada yang penting sekali, kadang pertemuan diadakan pula pada hari Minggu pagi. Jadi dalam pertemuan itu juga kadang dibincangkan Pola Hidup Bersih, dan Sehat, dibahas bagaimana cara menjaga kebersihan lingkungan, bagaimana caranya membuang sampah yang benar yakni di tempat-tempat sampah yang sudah ditetapkan. Tapi terkadang sosialisasi juga terlampau jauh disalahpahami masyarakat. Mereka mengira Perempuan Tangguh juga akan membagi-bagikan dana seiring program yang ditawarkan.

“Misalnya kami mengarahkan agar setiap keluarga harus punya jamban karena jamban masih sangat kurang di dusun dan tidak mamadai. Terkadang kalau ada yang mau buang air besar mereka pergi ke sawah, kadang-kadang buang air besar di antara tanaman-tanaman rimbun sehingga tidak kelihatan dia duduk disana,” ucap Nuraini

Pernah diupayakan dana dari Puskesmas sebesar 100 ribu tiap rumah. Dana dipakai untuk membeli semen, pipa, kloset. Selebihnya disiapkan sendiri oleh masyarakat. Tapi banyak yang ogah-ogahan karena maunya semuanya dibiayai. Ada malah yang lebih parah. Semua bahan itu dijual kembali ke orang lain. Karena itu, Ibu Farhanah mengambil “jalur” lain untuk menyadarkan mereka. Ibu Farhanah menekankan berulang akan bahaya penyakit diare yang bisa mengakibatkan kematian.

Ternyata ini berhasil. Banyak yang merasa ngeri dan akhirnya dengan sukarela membangun sendiri jambannya dan memberitahu sebelah rumahnya untuk berbuat sama. Ibu Farhana kini bisa tersenyum lebar melihat pola pikir masyarakat yang meski sedkit demi sedikit menunjukkan titik perubahan yang positif.

===========

Keterangan Penulis: Kisah inspiratif ini ditulis oleh Muhary Wahyu Nurba, Husain Laodet, Stefanus Tupeng, dan Ihwana Mustafa. Tulisan mereka terkumpul dalam buku “Merangkai Karya Membangun Ketangguhan: Kisah Inspiratif Para Perempuan Tangguh”, diterbitkan oleh Oxfam Indonesia, tahun 2004.

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment