Bersama Menempa Diri agar Lebih Mandiri

“Pulang dari mengajar saya langsung turun ke sawah dan kebun. Saya tidak mau ada waktu saya terlewatkan sedikitpun. Prinsip saya, jangan biarkan waktu melindas kita. Kita harus bangkit dan berbuat sesuatu bagi lingkungan kita.”

Sedikit sulit menggambarkan pekerjaan sehari-hari Sulniyati (35). Ia seorang ibu rumah tangga, guru, petani, kader posyandu, Ketua muslimat desa Sembalun Bumbung, dan ketua komunitas perempuan, serta ketua Pokja 1 di PKK Desa. “Pulang dari mengajar saya langsung turun ke sawah dan kebun. Saya tidak mau ada waktu saya terlewatkan sedikitpun. Prinsip saya, jangan biarkan waktu melindas kita. Kita harus bangkit dan berbuat sesuatu bagi lingkungan kita.”

Di Tim Siaga Bencana Desa Bencana Desa (TSBD), Sulniyati dikenal paling lincah dan supel ke setiap orang. “Saya suka di TSBD karena pada dasarnya TSBD adalah bagian daripada relawan desa yang tidak mendapatkan suntikan dari pihak mana pun. Kita banyak bergembira dan berbagi. Istilahnya, lebih banyak memberi daripada menerima.”

Lewat wadah ini, Sulniyati mampu menggerakkan timnya untuk melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah desa, masyarakat kelompok perempuan dan kelompok pemuda. Kegiatan-kegiatan untuk pengurangan risiko bencana, pembuatan bronjong untuk mencegah terjadnya luapan air dari sungai, perlindungan mata air. Sulniyati dan anggota TSBD lainnya juga melakukan reboisasi agar bisa mengurangi potensi terjadinya banjir.

“Bila melirik ke belakang ke tahun 2006, kita belum tahu apa-apa tentang bencana,” ucap Sulniyati, “Di tahun 2006 itu terjadi banjir besar-besaran sehingga mengakibatkan korban dua orang. Fasilitas sawah dan kebun sekitar dua hektar ikut rusak. Pada saat itu belum terbentuk TSBD dan perempuan-perempuan yang memiliki pengetahuan tentang bencana yang bisa membantu masyarakat” tambah Sulniyati. Suaranya nyaring dan tegas.

Sumiati (34), anggota Perempuan tangguh ikut bicara. “Saat itu lampu mati total sekitar pukul dua malam. Komunikasi terputus karena juga HP belum ada. Jadi kita semua menyelamatkan diri sendiri dan mengevakuasi diri sendiri ke tempat yg lebih tinggi. Betul-betul kita hanya bisa pasrah dan mengikuti perasaan dimana tempat yang aman. Ilmu siaga bencana belum kami miliki.”

Menurut Sulniyati, ilmu kesiap-siagaan bencana begitu besar manfaatnya dimana TSBD sejauh ini sudah luar biasa karena mereka mengaplikasikan semua pengetahuan dan keteramplan yang dimliki ke dalam kehidupan sehari-hari. Kami memberikan pengetahuan kepada kelompok perempuan melalui Posyandu, kelompok pengajian.

“Awalnya kami khawatir, jika program yang kami lakukan sudah selesai maka semua kegiatan TSBD akan berhenti juga. Maka yang kami lakukan agar TSBD dan Perempuan Tangguh terus berlanjut adalah menciptakan usaha-usaha rumah tangga seperti membuat dodol tomat, dodol strawberry dan keripik kentang. Semua industri ini, bahan bakunya dapat diperoleh dari desa kami yang seringkali berlebih pada musimnya. Ada juga pohon Asitaba yang daunnya bisa jadi teh.

Oxfam dan KONSEPSI telah membantu kami mulai dari cara pembuatannya hingga pemasarannya.” Tutur Sulniyati. Semangat kebersamaan yang selalu bermuara pada kesenangan dan kegembiraan, menjadi motivasi kami dan akan selalu kami jaga sampai kapanpun.” Tambahnya.

Beruntunglah semua anggota Perempuan Tangguh ini yang mana rata-rata adalah seorang ibu rumah tangga, mendapat dukungan sepenuhnya dari suami mereka tercinta. Meskipun begitu, tugas keluarga adalah hal utama. Sebagaimana yang dikatakan Qonita, anggota termuda dari Perempuan Tangguh di Sembalun Bumbung ini, “relawan itu berangkat dari panggilan jiwa. Jadi, intinya relawan itu hidupnya untuk orang lain. Prinsip saya sederhana, bergabung dengan perempuan tangguh adalah salah satu metode penempaan diri sehingga lebih mandiri dan menjadi baik dari sebelumnya.”

===========

Keterangan Penulis: Kisah inspiratif ini ditulis oleh Muhary Wahyu Nurba, Husain Laodet, Stefanus Tupeng, dan Ihwana Mustafa. Tulisan mereka terkumpul dalam buku “Merangkai Karya Membangun Ketangguhan: Kisah Inspiratif Para Perempuan Tangguh”, diterbitkan oleh Oxfam Indonesia, tahun 2004.

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.