Siti Masitoh: Mantan BMI Yang Terus Semangat Belajar Apapun

“Saya ingin terus belajar dan belajar. Saya merasa jiwa saya hampa tanpa pengetahuan, namun saat itu belum ada kesempatan. Saya harus bekerja membiayai sekolah adik-adik, kebetulan juga saya anak pertama dengan dua adik. Jadi waktu saya memang terkuras untuk itu.” (Siti Masitoh)

Dikisahkan oleh Alimah Fauzan*

Itulah salah satu kalimat yang diungkapkan Siti Masitoh, mantan BMI asal Indramayu saat mengobrol panjang lebar tentang pengalamannya sebagai pekerja migran di Malaysia. Tahun 2009, tepatnya di hari Jumat di bulan April, kali pertama berkesempatan menggali kisah yang cukup panjang. Saat itu dia baru saja mendapatkan tropi penghargaan juara II atas karya ilmiahnya yang berjudul ”Islam, Perempuan, dan Ketidakadilan Gender.”

Ya, itu adalah pengalaman pertamanya mengikuti lomba karya ilmiah yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Center for Study Philosophy of Community (UKM CSPC), Fakultas Ushuluddin STAIN Cirebon. Rasa syukur dan bahagia tentu saja tak henti dirasakannya. Bagaimana tidak, bisa meneruskan kuliah di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) saja dia sangat bersyukur, apalagi dengan mendapatkan penghargaan lomba karya ilmiah. Begitu kuat semangatnya untuk belajar, menghantarkannya hingga lulus sebagai sarjana strata 1 (S1) di Institute Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Siti MAsitoh saat bekerja di Malaysia

Mantan Pekerja Migran, Sarjana, Aktivis Sosial, Wira Usaha dan Bertani

Kali pertama menulis kisahnya, Siti Masithoh masih terdaftar sebagai mahasiswi semester tiga Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di ISIF Cirebon. Namun kini dia telah bergelar Sarjana, dia juga menjadi aktivis sosial khususnya untuk isu perempuan dan kesehatan reproduksi (Kespro) di Forum Bayt al-Hikmah Cirebon.

Sebagai mantan pekerja migran atau istilah yang akrab di masyarakat adalah Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia, Masithoh bersyukur tidak pernah mendapatkan persoalan seperti yang dirasakan teman-temannya sesama pekerja migran. Tapi keberuntungan itu bukan berarti tanpa pengorbanan dan usaha. Sebelum bekerja di Malaysia, Ithoh, demikian sapaan akrabnya, telah bekerja di sebuah pabrik di Batam selama tiga tahun.

”Ketika berangkat ke Malaysia, saya juga benar-benar mengikuti prosedur yang tidak sembarangan. Saya mengikuti beberapa kali tes, hingga akhirnya saya bisa diterima. Saya berangkat dengan legal. Di Malaysia saya sebagai auto checker di bagian HRD (Human Resource Development) di Perusahaan Nippon Elec,” kenang Ithoh.

Pertama kali di Malaysia, dia bertemu dengan teman sesama dari Indonesia yang mendapat masalah. Keberadaan mereka di Malaysia banyak yang ilegal, sehingga mau tidak mau mereka selalu mendapat masalah.

”Apalagi para polisi di Malaysia sangat ketat, mereka bahkan bisa muncul di setiap sudut kota Malaysia. Tentu saja saya sedih dan prihatin. Kepada beberapa teman, saya hanya bisa menengok mereka di penjara. Seakan-akan, di penjara itu hanya dipenuhi oleh orang Indonesia. Memprihatinkan sekali, belum lagi ratusan perempuan pekerja rumah tangga (PRT). Di asrama KBRI, mereka tumplek blek dan semuanya menganggur karena mendapat masalah dengan pekerjaannya,” ungkap dia sambil sesekali mengusap air matanya.

Meski baru pertama kali mendapatkan penghargaan dalam bidang tulis-menulis, tetapi menekuni dunia tulis-menulis sudah lama ditekuninya. Terutama pada saat bekerja di Batam. Dia menjadi salah satu kontributor tabloid Etos. Dia juga aktif sebagai aktifis Remaja Masjid Nurul Islam (RMNI) di Biro Pendidikan Agama dan Bahasa Arab (PAB). Bahkan selama bekerja di Batam dan Malaysia, Ithoh berkali-kali mendapatkan penghargaan the best ten of operator di bagian auto checker PT Nippon Elec. Kini di kampus ISIF Cirebon, selain aktif sebagai salah satu pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), juga sebagai Pimpinan Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) ISIF.

”Kalau di PAB, saya juga aktif mengajar anak-anak TPA di RMNI,” ujarnya. Tiga tahun di Malaysia, Ithoh pun mendapatkan pasangan hidup asal Indonesia. Namun setelah menikah, Ithoh dan suami lebih memilih membuka usaha konveksi di daerah kelahirannya di Indramayu. Kendati begitu, bukan berarti dia merasa puas dengan kondisinya. Dia memiliki keinginan lain yang belum terwujud. Yaitu, kehausannya untuk menguasai ilmu pengetahuan. Dia ingin meneruskan pendidikan ke jenjang tinggi setelah sekian tahun menanti kesempatan itu. Ithoh bahkan tidak peduli dengan posisinya yang sudah menikah, berkepala tiga, dan mantan TKW. Dia hanya ingin belajar, belajar dan belajar.

”Saya merasa jiwa saya hampa tanpa pengetahuan, namun saat itu belum ada kesempatan. Saya harus bekerja membiayai sekolah adik-adik, kebetulan juga saya anak pertama dengan dua adik. Jadi waktu saya memang terkuras untuk itu,” ujar dia.

Tapi keinginan untuk terus belajar dan belajar tidak pernah surut. Hingga akhirnya, atas dukungan sang suami, Ithoh meneguhkan diri untuk mendaftar kuliah S1 di ISIF Cirebon. ”Saya bersama adik perempuan saya kuliah di ISIF, saya mendapatkan banyak kemudahan. Apalagi ISIF memberikan beasiswa. Kemudahan ini semakin memperkuat keinginan saya untuk terus belajar. Pikiran dan wacana saya juga semakin terbuka, terutama hal-hal yang berkaitan dengan wacana gender dan persoalan perempuan. Metode pembelajarannya juga tidak membosankan, menyenangkan, dan membuat kami kreatif. Kami lebih banyak berdiskusi,” papar dia.

Dengan setengah tertawa, dia kembali tersadar bahwa apa yang selama ini dilakukannya di Malaysia adalah bagian dari perjuangan mewujudkan kesetaraan. di mana ketika itu dia bekerja di perusahaan pembuat mesin. Pekerjaan yang dilakukannya adalah pekerjaan yang biasa dilakukan oleh lelaki. Tetapi pada saat itu dia mengerjakan, bahkan dia adalah satu-satunya karyawan perempuan yang memegang tanggung jawab tersebut. Dia mampu bertahan, bahkan prestasi kerjanya pun menjadi kebanggaan tersendiri bagi perusahaannya.

”Ya, jujur saja yang membuat saya menikmati kerja di sana adalah kami dihargai. Saya tidak tahu di perusahaan lainnya, tapi saat aku kerja di sana, saya benar-benar merasakan bagaimana tidak ada sekat antara atasan dan bawahan. Berbeda sekali dengan di Indonesia yang pada umumnya gila hormat,” tandas dia.

Kini, Ithoh telah mendapatkan gelar sarjanannya. Dia juga telah menjadi ibu dari satu putra, menjadi aktivis sosial, wira usaha bersama suaminya, serta bertani mengolah lahan keluarganya. Kini, dia berharap mampu meneruskan pendidikannya hingga ke jenjang Master. Dia sangat tertarik dengan persoalan perempuan. Karya ilmiahnya berjudul ”Islam, Perempuan, dan Ketidakadilan Gender” dan semua karya-karya tulisnya yang lainnya menjadi bukti keprihatiannya atas sekian persoalan yang menimpa kaum perempuan.

 

===================================

*Keterangan Penulis: Alimah Fauzan adalah gender specialist di Institute for Education Development, Social, Religious, and Cultural Studies (Infest Yogyakarta). Kisah tentang Masitoh ini merupakan kelanjutan dari kisah yang sama yang pernah ditulisnya di salah satu media komunitas milik Fahmina-Institute Cirebon pada tahun 2009.

 

About Perempuan Berkisah 174 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply