Fera Nuraini: Mantan Pekerja Migran yang Berdaya Lewat Pangan Lokal

Siapa di antara kita yang pernah mendengar atau bahkan sudah merasakan Tiwul? salah satu makanan tradisional yang terbuat dari olahan singkong. Makanan ini sangat unik, selain rasanya yang sangat khas, Tiwul juga bisa dijadikan sebagai makanan pengganti nasi. Sayangnya, kisah kali ini bukan tentang Tiwul, namun tentang sosok bernama Fera Nuraini, salah satu mantan pekerja migran yang telah berdaya dengan memproduksi pangan lokal yaitu Tiwul, Gatot dan Nasi Jagung instan. Bagaimana kisah inspiratif Fera sebagai mantan pekerja migran, hingga sukses berinovasi memproduksi tiwul, gatot, dan nasi jagung instan? termasuk tantangan dan strategi yang dihadapinya? mari kita belajar dari kisah inspiratif Fera.

Dikisahkan oleh Nisrina Muthahari*

Fera Nuraini

Mayoritas pekerja migran perempuan di luar negeri bekerja di sektor domestik yang rentan dengan berbagai persoalan. Di masa pra penempatan, pekerja migran rentan ditipu oleh calo atau sponsor, pembebanan biaya berlebih hingga trafficking. Pekerja migran domestik di negara penempatan rentan dengan eksploitasi berupa pembebanan jam kerja berlebih, pembatasan komunikasi, pembatasan hak libur dan ibadah, gaji tak dibayar hingga penyekapan oleh majikan. Kerentanan posisi pekerja migran salah satunya disebabkan keterbatasan informasi yang mereka terima.

Sebelum berangkat ke negara penempatan, seringkali pekerja migran tidak mendapatkan informasi memadai dari calo, Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) atau pemerintah yang berkepentingan. Fera Nuraini, mantan pekerja migran Hong Kong dihadapkan pada hal yang sama, ia minim menerima informasi mengenai negara tujuan dan hak kewajiban sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT). Bekerja pada majikan pertama, ia tidak bisa bebas menjalankan haknya untuk beribadah. Padahal dalam peraturan di Indonesia atau pun di Hong Kong, pekerja migran berhak untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama nya masing-masing.

“Dua tahun pertama bekerja adalah ujian paling berat. Salat dan ngaji menjadi suatu kemustahilan. Keadaan baru berbalik setelah saya ganti majikan baru,” ujar Fera Nuraini.

Selama bekerja di Hong Kong, Fera cukup aktif menulis di blog dan sejumlah media online, salah satunya isu buruh migran di web www.buruhmigran.com

Fera bekerja sebagai pekerja migran di Hong Kong sejak tahun 2005 hingga 2015. Ia sempat merasa Hong Kong merupakan tempat yang nyaman dan sempat merasa ketakutan ketika ia berpikir untuk penisun dari profesinya. Namun, ia akhirnya memutuskan untuk pulang ke tanah air dan membangun usaha untuk bekal di hari tua. Selama bekerja di Hong Kong, Fera juga aktif menulis, salah satunya melalui blog pribadinya serta sejumlah portal terkait isu buruh migran dan budaya lokal.

Berawal dari Rasa Kangen Makanan Tradisional

Pengalaman pernah jauh dari kampung halaman membuat Fera merindukan makanan-makanan tradisional seperti tiwul, gatot dan nasi jagung ketika berada di negeri beton. Belajar dari pengalaman rindu pada makanan tradisional, ia menggeluti produksi tiwul, gatot dan nasi jagung instan di rumahnya di Desa Kunti, Kecamatan Sampung, Ponorogo.

Ia memilih usaha produksi makanan tradisional tersebut karena prosesnya tidak terlalu ribet. Selain itu, ia melihat potensi di desanya yang melimpah dengan bahan baku pembuatan tiwul, gatot dan nasi jagung. Fera mengamati, bahan baku ketela sering dibeli murah para tengkulak, ia kemudian berpikir mengolah ketelah agar bernilai jual lebih tinggi. Dalam proses produksi ia menemui kendala ketika kondisi cuaca tidak menentu sehingga makanan produksinya kerap telat dikirimkan.

Tiwul, Gatot, dan Nasi Jagung Instan produksi Fera Nuraini

“Produksi tiwul, gatot dan nasi jagung instan harus dikeringkan dengan maksimal agar awet selama enam bulan hingga setahun. Sementara saya masih mengandalkan panas matahari untuk proses pengeringannya,” ucap Fera Nuraini.

Dari produk tiwul, gatot dan nasi jagung instan, proses pembuatan paling lama adalah nasi jagung. Dari jagung kering, Fera harus menggiling kasar dan merendam jagung semalaman. Setelah tiris, ia harus menggiling jagung menjadi tepung halus. Tepung yang telah halus, dicampur air sedikit demi sedikit, lalu dikukus dan dikeringkan. Proses pembuatan gatot berbeda lagi, dengan bahan dasar gaplek, ia harus merendamnya selama dua malam untuk kemudian dipotong-potong, dikukus dan dikeringkan selama 3-4 hari.

“Proses pembuatan tiwul lebih mudah lagi, dari gaplek yang telah dipuyoni, dikukus kurang lebih satu jam dan dikeringkan,” ujar Fera.

Awal memulai usaha, Fera menarget pasar bagi makanan yang diproduksinya adalah orang-orang yang jauh dari kampung halaman, khususnya para BMI di luar negeri. Ia aktif memasarkan produknya di media sosial Facebook dan Instagram untuk menjaring pembeli. Selain itu ia aktif berjualan di grup-grup WhatsApp buruh migran dan tak malu untuk memperkenalkan produknya pada teman-teman buruh migran. Fera bertekad untuk untuk membesarkan usahanya dengan mencari izin PIRT agar produknya bisa diterima pasar luas. Sebelum mencari PIRT ia akan berusaha untuk memperbanyak produksinya, karena selama ini permintaan pasar dengan stok yang dimiliki belumlah sebanding. Meski usaha yang digeluti Fera baru berjalan 6 bulan, tapi ia menikmati setiap proses yang dijalaninya.

==========

Keterangan Penulis:

*Nisrina Muthohari adalah salah satu aktivis perempuan aseli dan tinggal di Yogyakarta. Saat ini Nisrina bekerja untuk Infest untuk isu pekerja migran. Nisrina juga aktif menulis kisah inspiratif dan pembelajaran pemberdayaan pekerja migran di beberapa negara penempatan. Kisah ini merupakan salah satu tulisannya di web www.buruhmigran.or.id.

 

 

About Perempuan Berkisah 172 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply