Pembuat Lubang Sampah Kolektif

Kegiatan membuat lubang sampah kolektif dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam diri kaum perempuan untuk berperan lebih aktif di lingkungan sekitar. Kelompok Perempuan Tangguh ini menghadirkan kesadaran kolektif warga akan pentingnya kebersihan dan sanitasi desa. Perempuan Tangguh tampil dan hadir sebagai kekuatan besar bagi pembangunan dan pengembangan desa ini. Meski dengan sarana dan fasilitas yang terbatas, kaum perempuan telah menunjukkan dirinya sebagai sebuah kekuatan dalam masyarakat yang diperhitungkan dalam pembangunan. Perempuan telah berbuat sesuatu yang berguna untuk masa depan desanya.

 

Perempuan di Desa Pajinian tidak hanya kreatif mengembangkan dana bergulir dalam wadah Komunitas Basis Gerejani (KBG) tapi juga peka dan peduli dengan sanitasi lingkungan. Kesadaran ini lahir dari kajian kritis perempuan tangguh bersama Yayasan Pengembangan dan Pengkajian Sosial (YPPS). KBG yang merupakan struktur paling dasar dalam Gereja Katolik menjadi ruang bagi kelompok Perempuan Tangguh untuk mendiskusikan berbagai permasalahan dan program pembangunan di Desa Pajinian.

Biasanya, setelah kegiatan gereja berupa doa dan ibadat, kelompok ini membicarakan dan mengkaji berbagai masalah yang muncul di desa. Melalui pembicaraan usai kegiatan gereja ini, sampah muncul sebagai persoalan kolektif. Sampah yang dibuang di sembarangan tempat, selain merusak keindahan dan menjadi sumber penyakit tapi juga menjadi salah satu penyebab banjir di desa hampir setiap tahun.

Gotong Royong Membuat Lubang Sampah

Delapan kelompok Perempuan Tangguh ini mencari solusi dengan menghadirkan program bersama membuat lubang sampah secara kolektif. Setiap KBG Perempuan Tangguh secara bergotong royong menggali lubang sampah dengan lokasi di sekitar rumah yang dibantu oleh kaum lelaki. Kelompok ini menginspirasi dan mengajak kaum lelaki berpartisipasi dalam kegiatan pembuatan lubang sampah ini.

“KBG 8 membuat 10 lubang sampah untuk menampung sampah dari setiap rumah. Lubang-lubang sampah itu berada di antara rumah-rumah warga. Dua atau tiga rumah bisa memiliki satu lubang sampah secara bersama. Saat bekerja, kami menggunakan alat-alat seadanya seperti linggis, tofa, cangkul dan sebagainya. Kami dibantu oleh laki-laki di KBG ini. Pekerjaan menggali lubang sampah ini biasanya berat sehingga dilakukan oleh laki-laki. Kelompok Perempuan Tangguh membantu dengan mengangkut tanah, memindahkan batu dan sebagainya. Kelompok Perempuan Tangguh menyediakan makanan dan minuman untuk memperlancar kegiatan tersebut,” kata nya Fransiska Prada, salah satu anggota KGB 8.

Fransiska menambahkan, pembuatan lubang sampah merupakan terobosan baru desanya yang diinisiasi oleh kelompok perempuan tangguh dilaksanakan dengan tujuan menghadirkan kebersihan desa. Warga diimbau untuk tidak membuang sampah di sembarangan tempat, khususunya di lokasi-lokasi umum yang mengganggu kebersihan desa.

“Penggalian lubang sampah dibantu oleh para suami dari anggota kelompok ini. Di desa ini, kalau kaum perempuan memulai satu aktivitas, pasti ada lelaki yang datang membantu. Ibaratnya, kalau ada gula pasti ada semut. Kelompok Perempuan Tangguh menjadi daya tarik sendiri bagi para suami dan kaum lelaki lainnya. Maka pekerjaan penggalian lubang sampah yang berat itu bisa diselesaikan dalam sekejap,” katanya.

Yosefina Kleden mengatakan, pembuatan lubang sampah ini membangun kesadaran warga untuk menjaga kebersihan lingkungan dan membangkitkan kesadaran kaum perempuan yang secara budaya telanjur dianggap hanya bergerak seputar dapur dan kehidupan rumah tangga.

“Saya menyaksikan perubahan besar dalam diri kaum perempuan di desa ini untuk hadir dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Kegiatan seperti ini meningkatkan rasa percaya diri dalam diri kaum perempuan untuk berperan lebih aktif di lingkungan sekitar” (Yosefina Kleden)

Kegiatan seperti ini meningkatkan rasa percaya diri dalam diri kaum perempuan untuk berperan lebih aktif di lingkungan sekitar. Kelompok Perempuan Tangguh ini menghadirkan kesadaran kolektif warga akan pentingnya kebersihan dan sanitasi desa. Kami membuktikan bisa berbuat sesuatu untuk seluruh desa ini. Perempuan Tangguh tampil dan hadir sebagai kekuatan besar bagi pembangunan dan pengembangan desa ini.

“Meski dengan sarana dan fasilitas yang terbatas, kaum perempuan telah menunjukkan dirinya sebagai sebuah kekuatan dalam masyarakat yang diperhitungkan dalam pembangunan. Kami telah berbuat sesuatu yang berguna untuk masa depan desa ini,” ujarnya.

Aksi Pengurangan Risiko Bencana

Kepala Desa Pajinian Siprianus Tapo mengatakan, kehadiran YPPS dan Oxfam dengan program dana bergulir berbasis KBG dan aksi pengurangan risiko bencana perempuan tangguh melalui pembuatan lubang sampah secara kolektif telah mendorong para perempuan di desa kami untuk ikut memainkan peran secara aktif dalam pembangunan di Desa Pajinian.

“Setelah YPPS masuk ke desa ini, banyak kajian dan analisa yang membantu warga membangun desanya dengan lebih aktif. Kami bisa mengatasi kelesuan ekonomi dengan adanya dana bergulir. Kebersihan dan keasrian desa tampak karena dampak dari penggalian lubang sampah yang menyadarkan warga untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat. Perempuan Tangguh melakukan banyak aktivitas yang kreatif untuk meningkatkan ekonomi dan mengembangkan potensi. Perempuan Tangguh menjadi salah satu modal dalam mengembangkan desa ini. Kegiatan Perempuan Tangguh ini disatukan dengan program desa dan kegiatan gereja. Ada sinergi untuk membangun wajah desa ini,” katanya.

Sekretaris Desa Pajinian, Yoseph Kopong mengatakan, Desa Pajinian memiliki banyak kesulitan tapi bisa diselesaikan secara bersama dengan melibatkan banyak komponen. Kelompok Perempuan Tangguh adalah salah salah satu aset desa yang telah menunjukkan peran dalam membangun desa.

“Semua warga berpartisipasi aktif dalam pembangunanmengawetkan dan memasarkan hasil kreasi kelompok perempuan tangguh ini. Pengetahuan baru ini akan memotivasi kaum perempuan di desa ini untuk hidup lebih baik lagi. Perempuan di desa ini kekurangan sarana dan prasarana dalam mengembangkan potensinya. Misalnya, untuk memasak minyak yang dilakukan secara manual. Kita harapkan suatu saat ada bantuan misalnya mesin pemarut kelapa untuk memperlancar usaha memasak minyak kelapa. Selain itu, warga memerlukan pengetahuan terkait pengolahan sampah plastik agar menjadi potensi untuk mengembangkan diri dan hidup kelompoknya. Seminar atau pelatihan tentang pengolahan sampah plastik akan menambah wawasan kaum perempuan dan menjadi peluang baru untuk meningkatkan taraf ekonominya,” kata David Sanga Lamawatu.

Kendala yang dihadapi tidak menyurutkan niat kelompok Perempuan Tangguh Desa Pajinian untuk mengembangkan dana bergulir dan usaha-usaha kreatif lainnya demi mengembangkan potensi diri dan membangun desanya.

“Program YPPS ini telah menghadirkan pengetahuan dan kesadaran baru dalam diri kami kaum perempuan di desa ini. Program pendampingan ini telah menjadi bagian dari diri kami. Kami akan tetap berjuang untuk menjadikan program ini bagian dari hidup kami. Pengetahuan yang kami miliki akan terus kami kembangkan,” kata Marselina Anu.

Kepala Desa Siprianus Tapo mengatakan, program dampingan YPPS ini akan menjadi program desa ke depan. Kajian dan analisa yang dilakukan kelompok perempuan tangguh akan terus dikembangkan dengan tetap membuka ruang bagi kaum perempuan untuk terlibat dalam pembangunan di desa.

“Kesadaran warga yang telah terbangun ini menjadi kekuatan bagi warga untuk membangun desa ini. Kami belajar dari program ini bahwa proses pembangunan mesti dimulai dengan diskusi bersama masyarakat termasuk kelompok perempuan untuk menghadirkan rasa memiliki desa ini. Rakyat benar-benar dilibatkan secara aktif dalam seluruh proses pembangunan di desa ini. Kami mengharapkan agar pendampingan ini terus dilanjutkan dengan kegiatan kreatif lainnya. Program ini sangat membantu warga di desa ini,” tambahnya lagi. []

===========

Keterangan Penulis: Kisah inspiratif ini ditulis oleh Muhary Wahyu Nurba, Husain Laodet, Stefanus Tupeng, dan Ihwana Mustafa. Tulisan mereka terkumpul dalam buku “Merangkai Karya Membangun Ketangguhan: Kisah Inspiratif Para Perempuan Tangguh”, diterbitkan oleh Oxfam Indonesia, tahun 2004.

Kisah Lainnya...

Leave a Reply