Beras Ubi: Produk Perempuan Tani “Kasih Ibu” Berkhasiat Cegah Penyakit Kronis

Jpeg

Beras ubi adalah salah satu produk yang dihasilkan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) “Kasih Ibu”. KWT “Kasih Ibu” di Desa Tegal Arum, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Propinsi Jambi. Selain menghasilkan ubi menjadi beras, para perempuan di KWT “Kasih Ibu” juga membuat tiwul, dan sejumlah kue terbuat dari ubi. Oyek atau nasi ubi yang dihasilkan dari KWT ini berkhasiat mencegah penyakit kronis seperti diabetes, kolesterol, darah tinggi, dan sejumlah penyakit lainnya.

Dikisahkan oleh Alimah Fauzan*

Saat datang ke sebuah desa, yang paling ingin saya ketahui adalah bagaimana kondisi perempuannya. Apa saja kreatifitas atau produk yang telah mereka hasilkan, entah dari kelompok wanita tani (KWT) ataupun komunitas perempuan lain di desa yang telah melakukan sejumlah pemberdayaan di desanya.

Sekilas Tentang Kelompok Wanita Tani (KWT)

Terkadang pertanyaan-pertanyaan yang muncul di pikiran saya terkait apa yang sudah dilakukan perempuan, di sisi lain semacam tuntutan. Seakan perempuan itu harus melakukan sesuatu di luar peran domestiknya. Seakan mereka harus menghasilkan sesuatu bahkan untuk sekadar dinilai produktif dan memiliki keunggulan di banding perempuan di desa lainnya. Sekali lagi, saya sendiri terkadang sangat keterlaluan dengan pikiran-pikiran tersebut.  Bahkan tuntutan bukan sekadar menghasilkan produk material, namun juga kiprah mereka di lingkungannya.

Seakan hanya perempuan yang harus melakukan kerja-kerja yang awalnya hanya bersifat suka rela ini. Jika mau menggali soal peran, tentu saja perempuan memiliki peran ganda. Seperti perempuan tani misalnya, peran ganda mereka di mana? Sebagai ibu rumah tangga dan sebagai tenaga kerja dan usaha taninya. Dengan peran tersebut perempuan tani masih memiliki keinginan untuk bergabung dalam KWT, serta melaksanakan kegiatan yang terdapat di kelompok tani. Mereka dituntut untuk terlibat dalam kegiatan kelompok tani dengan mengorbankan waktu, mencurahkan pikiran dan tenaganya.

Kelompok tani merupakan kumpulan dari beberapa orang petani sebagai satu kesatuan yang kompleks di dalam kelompok tani. Diperlukan pengelolaan yang baik melalui kemampuan mengorganisasi dan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan dari kelompok tani tersebut. Berfungsi atau tidaknya suatu kelompok tani tergantung dari partisipasi atau peran serta petani yang tergabung dalam kelompok tani mau dan mampu berpartisipasi secara aktif. Maka kelompok tani tersebut akan dapat bertahan dan memperoleh penghargaan, baik dari pemerintah maupun dari masyarakat. Kelompok tani harus memiliki interaksi yang melembaga. Kehidupan kelompok tani tergantung pada anggotanya, dimungkinkan di antara anggota kelompok tani tersebut akan saling membutuhkan, saling memerlukan sehingga hubungan mereka menjadi sangat akrab, kelompok demikian akan mempunyai ketahanan hidup yang tinggi (Thomas, 2007).

Kelompok tani campuran merupakan kelompok tani yang anggotanya terdiri dari laki-laki dan wanita. Dalam kegiatan kelompok tani sangat dituntut partisipasi dari seluruh anggota, tidak hanya dituntut dari anggota yang laki-laki saja akan tetapi wanita juga. Keikutsertaan wanita untuk berpartisipasi dalam pembangunan adalah suatu tindakan yang efisien, karena tanpa keterlibatan wanita dalam pelaksanaan berarti pemborosan sumberdaya manusia dan memberi pengatuh negatif bagi lajunya pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Kelompok Wanita Tani (KWT) dibentuk sebagai upaya pelibatan kaum perempuan secara langsung dalam usaha-usaha peningkatan hasil pertanian, seperti menjadi bagian dari motivator dalam adopsi dan pengenalan teknologi tani. Peran KWT ini sangat strategis dalam peningkatan produktivitas usaha tani dan berpotensi untuk meningkatkan pendapatan dan ketahanan pangan menuju kesejahteraan rumah tangga petani di pedesaan.

Mengenal KWT “Kasih Ibu”

Kali pertama berkunjung ke Desa Tegal Arum, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, hal pertama yang menarik perhatian saya adalah ketekunan warganya dalam berkebun. Berkebun adalah mata pencaharian utama mereka, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan seorang kepala desa, guru, dan warga dengan profesi apapun akan tetap mempertahankan aktifitasnya di kebun. Kebun apa? Pada umumnya kebun karet dan sawit. Di Tegal Arum memang mayoritas  warganya ada

Beras ubi dijual dalam bentuk kemasan.

lah transmigran dari Jawa, sehingga kebiasaan atau tradisi yang berlaku adalah tradisi Jawa. Sayangnya, dalam kisah kali ini bukan untuk berkisah soal kebiasaan mereka, tapi kreatifitas para perempuan di desa.

Selain berkebun dan bekerja di wilayah publik, para perempuan di Tegal Arum juga tergabung dalam beberapa komunitas perempuan di desa. Baik itu sebagai Kader PKK, Posyandu, organisasi keagamaan seperti muslimat dan fatayat, dan termasuk Kelompok Wanita Tani (KWT). KWT di desa ini ada di setiap dusun dengan nama-nama yang berbeda. Salah satunya adalah KWT Kasih Ibu yang diketuai oleh Dian Kurniasih. Bersama pengurus dan anggota KWT lainnya, Dian Kurniasih menginisiasi pemanfaatan ubi di sekitar rumah masing-masing warga diolah menjadi produk makanan. Salah satu program unggulan mereka adalah beras ubi. Nasi dari beras ubi ini disebut oyek.

Menurut Dian Kurniasih, gagasan memproduksi beras ubi ini tidak muncul begitu saja. Pada awalnya para perempuan di KWT Kasih Ibu menjalankan program di bidang peternakan pada tahun 2014, dengan mencoba beternak kambing dan ikan. Namun program tersebut tidak berjalan lancar karena persoalan kapasitas. Sampai akhirnya muncul gagasan untuk memanfaatkan ubi yang jelas-jelas tumbuh subur di kebun sekitar rumah masing-masing warga.

Ibu Dian Kartika, Ketua KWT Kasih Ibu, bersama produk beras ubi buatannya.

“Setelah kami memahami keuntungan memanfaatkan ubi menjadi beras ubi serta manfaat tumbuhan ini, kami mulai sering memproduksi beras ubi. Hingga kami mulai mengajukan bantuan sejumlah alat. Karena produk beras ubi ini semakin diminati bukan hanya warga di sekitar desa, namun juga di luar desa Tegal Arum,” ungkap ibu Dian saat ditemui di rumahnya pada Sabtu, 11/2/17.

Kini, lanjut ibu Dian, produk beras ubi telah mendapat Perijinan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari Dinas Perindustrian dan Kesehatan Kabupaten Tebo. Sehingga secara rutin produk beras ubi ini tetap dikontrol kualitasnya. Sementara pemasarannya masih di sekitar toko-toko di desa dan sesuai pesanan.

Bagaimana Proses Produksi Ubi Menjadi Beras?

Sebagian orang yang tidak begitu paham, akan menilai bahwa beras ubi yang diproduksi oleh KWT Kasih Ibu ini sama dengan tiwul atau ada juga yang menyebutnya tiwul instan. Namun menurut ibu Dian, ini berbeda dengan tiwul. Karena proses pembuatan dari ubi menjadi beras hingga menjadi nasi ubi berbeda dan cukup panjang, kurang lebih 1 minggu.

Berikut adalah proses produksi dari ubi menjadi beras:

  1. Ubi dikupas terlebih dahulu;
  2. Ubi yang telah dikupas mulai dibersihkan dengan air bersih;
  3. Ubi yang telah dibersihkan dipotong-potong;
  4. Ubi yang telah dipotong selanjutnya direndam dalam air bersih, untuk memudahkan penggantian air bersihnya, maka ubi direndam dalam kondisi terbungkus kantong atau karung yang bersih;
  5. Selama proses perendaman, setiap hari air bersihnya harus diganti sampai tiga kali;
  6. Setelah direndam, baru dipipih, dijemur hingga kering;
  7. Setelah kering, lalu ditumbuk dan diputar-putar di tampah plastik ataupun bambu hingga berubah menjadi bulat-bulat kecil.

Menurut ibu Dian, cuaca mendung akan berpengaruh pada warna beras ubi menjadi agak kekuningan. Berbeda jika cuaca cerah dan panas, maka dapat menghasilkan beras ubi berwarna putih cerah. Lalu bagaimana cara memasak beras ubi?

Berikut adalah cara menanak atau memasak beras ubi hingga menjadi nasi ubi:

  1. Cuci beras ubi tanpa diremas, cukup digoyang-goyangkan saja. Proses mencucinya memang berbeda dengan mencuci beras biasanya;
  2. Setelah dicuci, lalu ditiriskan, lalu dimasak dengan cara dikukus sampai tercium aroma nasi ubinya. Setelah dimasak, rasa nasi ubi ada sedikit rasa manisnya. Hal ini berbeda dengan nasi jagung yang agak sepah.

Manfaat Nasi Ubi

Nasi ubi yang kaya serat mampu melancarkan pencernaan, penangkal racun yang masuk ke dalam tubuh, mencegah diabetes, darah tinggi, kolesterol, dan sejumlah manfaat mencegah penyakit kronis lainnya. Menurut ibu Dian, bahkan salah satu dokter ada yang pernah mengatakan bahwa nasi ubi ini dapat mencegah segala macam penyakit.

====

Keterangan Penulis: Alimah Fauzan adalah gender specialist Infest Yogyakarta. Tulisan ini berdasarkan pengalamannya berkunjung ke Desa Tegal Arum, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Kisah pembelajaran pemberdayaan masyarakat yang ditulisnya dapat dilihat di laman Sekolah Desa

 

 

About Perempuan Berkisah 172 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply