Bersama-sama Menyelamatkan Kehidupan

Menyelamatkan satu orang sama halnya menyelamatkan satu kehidupan. Ungkapan inilah yang mendorong Hariatun (24), yang biasa dipanggil Atun, untuk terlibat dalam memperkuat kepemimpinan perempuan dalam Pengurangan Risiko Bencana.

Ketika gempa berkekuatan 5,4 Skala Richter mengguncang sebagian besar wilayah kabupaten Lombok Utara pada tanggal 22 Juni 2013 lalu, saat itulah Atun makin meyakinkan hati untuk membaktikan diri dalam tanggap darurat gempa. Sebagai koordinator Perempuan Tangguh, ia segera melakukan pendataan terhadap fasilitas yang rusak dan juga korban jiwa. Indikator kerusakan dibagi menjadi tiga, yaitu rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan. Selanjutnya mereka mendirikan posko dan tenda di lokasi yang terpapar gempa. Bersama Tim Siaga Bencana Desa (TSBD), ia menyalurkan bantuan kepada korban termasuk mengungsikan keluarga yang rumahnya tergolong rusak berat ke tempat penampungan sementara.

Untungnya tidak ada korban jiwa saat itu. Dan untuk anak-anak, penanganannya lebih kepada menghilangkan trauma (trauma healing) akibat kejadian gempa. Para Perempuan Tangguh dan relawan lainnya mengajak mereka bermain dan bergembira sehingga mereka dapat melupakan kejadian tersebut secara perlahan-lahan. Adapun isu lewat pesan pendek mengenai akan terjadi gempa susulan diredam dengan cara memberi sebanyak mungkin informasi yang tepat mengenai gempa bumi.

Mereka dibagikan poster tentang penanggulangan risiko bencana Awalnya, banyak nada miring yang meremehkan kegiatan para perempuan tangguh ini. Karena mereka perempuan, maka orang-orang sering beranggapan bahwa mereka tidak bisa apa-apa.

“Kalian bisa apa? Paling-paling kalau terjadi gempa justru kalian yang akan ditolong lebih dulu,” ucap Atun menirukan suara sumbang orang-orang. Atun tidak peduli. Bersama sahabatnya yang lain, Hartati (23) dan Raihayati (24), mereka terus bekerja.

Pasca Gempa, Perempuan Tidak Tinggal Diam

Pasca gempa, kelompok Perempuan Tangguh tidak tinggal diam. Atun dan kawan-kawan semakin gencar melakukan sosialisasi dan penyuluhan bagaimana meningkatkan respons atau kewaspadaan terhadap ancaman gempa. Sebanyak 12 dusun yang ada di Desa Pemenang Timur diberi penyuluhan dan simulasi. Kelompok Perempuan Tangguh juga berkonsolidasi dengan kepala desa setempat, menentukan jadwal, membagi anggota Perempuan Tangguh yang akan terlibat dalam sosialisasi. Sosialisasi pengenalan gempa dilakukan terhadap kelompok ibu-ibu dan anak-anak karena keduanya adalah kelompok rentan saat terjadi gempa. Para perempuan tangguh memberikan informasi apa yang harus dilakukan agar rumah aman jika terjadi gempa, seperti posisi lemari, letak barang-barang, dan apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa. Harapannya dengan memberikan informasi mengenai hal-hal yang disebutkan di atas, mereka lebih siap menghadapi gempa.

Awalnya, banyak nada miring yang meremehkan kegiatan para perempuan tangguh ini. Karena mereka perempuan, maka orang-orang sering beranggapan bahwa mereka tidak bisa apa-apa. “Kalian bisa apa? Paling-paling kalau terjadi gempa justru kalian yang akan ditolong lebih dulu,” ucap Atun menirukan suara sumbang orang-orang. Atun tidak peduli.

 

Selain sosialisasi, Perempuan Tangguh juga menyerahkan paket kepada ibu hamil dan menyusui yang berisi popok, selimut bayi, deterjen, pewangi pakaian, sabun mandi, minyak kayu putih, minyak telon, dan bedak. Penyerahan paket ini dilakukan secara bergiliran di 12 dusun tempat dilaksanakan sosialisasi.

“Kami menyerahkan paket sesuai kebutuhan tiap dusun. Misalnya, di Dusun Muara Putat kami berikan 12 paket, di Dusun Karang Baro 6 paket, dan di Dusun Terengan Tanaq Ampar 10 paket,”
jelas Hartati.

“Tentu tidak semua bisa dapat, namun setidaknya kami prioritaskan yang masuk kategori sangat membutuhkan, yaitu ibu dengan kehamilan 8 hingga 9 bulan dan ibu menyusui dengan bayi berumur di bawah satu tahun,” ujar Raihayati.

Tidak mudah memberi pemahaman kepada ibu-ibu akan pentingnya kesiap siagaan terhadap bencana. Mereka rata-rata hanya pasrah dan seakan tidak mau tahu. Untuk itu, Atun dan kawan-kawan memutar otak agar pendekatan mereka sampai. Untungnya mereka telah dibekali teori komunikasi dan berbagai metode pendekatan oleh KOSLATA, lembaga mitra Oxfam dan Yayasan Lembaga Kemanusiaan Masyarakat Pedesaan (YLKMP).

Salah satu metode yang dipergunakan adalah pendekatan bahasa lokal. Misalnya “Ina-ina, ama-ama, lamun terjadi gempa, plinggih slapukne harus selamatan dirik dari bawak bangunan (Ibu-ibu, anak-anak, kalau terjadi gempa, harus hindari berada di bawah bangunan.” Setelah beberapa kali pertemuan, mereka mulai rajin datang dan bertanya seputar cara menyelamatkan diri saat terjadi gempa. Meskipun yang diundang hanya ibu-ibu dan anak-anak, ternyata banyak bapak-bapak yang juga ikut hadir.

Atun dan kawan-kawan mengawal isu penanggulangan risiko bencana ini lebih jauh lagi sehingga masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Tahunan. Melalui RPJMdes dan Rencana Kerja Pembangunan Desan (RKPdes), mereka mendorong pemerintah desa untuk memasukkan isu PRB sebagai bagian rencana pembangunan di desa. Selain itu, mereka mendorong anggaran untuk kesehatan dan pendidikan terkait PRB. Dengan menjadi anggota tim analisis anggaran Kabupaten Lombok Utara, Atun dan teman-teman dapat membantu warga yang membutuhkan layanan kesehatan dengan membantu warga yang sakit mendapatkan pelayanan gratis.

“Kehidupan ini hanya satu kali, jadi harus bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, orang lain. Saya tidak ingin mencari sesuatu yang sia-sia. Setidaknya, ada yang mengenang apa yang pernah saya lakukan” (Hariatun)

Upaya dan capaian Atun dan teman-temannya di kelompok Perempuan Tangguh kini menuai pendapat dan dukungan positif dari berbagai pihak. Baik dari keluarga sendiri maupun dukungan pemerintah desa. Dalam musyawarah desa, posisi Atun sebagai ketua Forum PRB selalu mendapat porsi yang lebih luas untuk berpartisipasi dan mempengaruhi keputusan. Atun pun bertekad meski jika nanti Oxfam tidak lagi memfasilitasi kelompok Perempuan Tangguh, ia akan melanjutkan kerja-kerja sosial ini bersama teman-temannya di kelompok Perempuan Tangguh TSBD di tahun-tahun men-datang. Ia semakin rajin juga memanfaatkan limbah plastik untuk dijadikan anyam-anyaman berupa tas, dompet, atau gelang. Selain itu Atun melatih ibu-ibu agar menjadi perempuan yang mandiri.

“Kehidupan ini hanya satu kali, jadi harus bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, orang lain. Saya tidak ingin mencari sesuatu yang sia-sia. Setidaknya, ada yang mengenang apa yang pernah saya lakukan.”

=====Keterangan Penulis: Kisah inspiratif ini ditulis oleh Muhary Wahyu Nurba, Husain Laodet, Stefanus Tupeng, dan Ihwana Mustafa. Tulisan mereka terkumpul dalam buku “Merangkai Karya Membangun Ketangguhan: Kisah Inspiratif Para Perempuan Tangguh”, diterbitkan oleh Oxfam Indonesia, tahun 2004.

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.