Arisan Jamban di Tomini Utara

Arisan jamban sendiri sangat sederhana metodenya. Dari 10 KK yang berkomitmen membuat jamban, per bulan mereka menyetor Rp 50.000 ke bendahara untuk selanjutnya diundi siapa yang membuat jamban. Bendahara kemudian akan membelanjakannya sesuai kebutuhan material jamban. Setelah bahan terkumpul, warga akan dikerahkan untuk bergotong-royong membuat jamban.

Dikisahkan oleh Luke Pramudita*

Siang itu, sekitar dua puluh ibu-ibu dan bapak-bapak warga Desa Tomini Utara dan perwakilan pemerintah desa berkumpul. Mereka berkumpul di gedung sekolah Al-Khairat Tomini Utara. Ternyata warga desa sedang mengikuti pemicuan bersama.

Pemicuan bersama adalah suatu proses dalam program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Masyarakat diundang secara partisipatif untuk menyadari masalah sanitasi di lingkungan terdekat mereka. Melalui pemicuan, diharapkan masyarakat merasa jijik bahkan malu tentang kondisi lingkungannya.

Bersama dengan Dinas Kesehatan Parigi Moutong (Parimo), melalui pihak Puskesmas, Wahana Visi Indonesia Kantor Operasional Parimo melaksanakan program STBM dalam rangka menghadirkan kondisi sanitasi yang lebih baik bagi masyarakat.

Dalam proses pemicuan ini, Wahana Visi bekerja sama dengan Puskesmas Tomini dan fasilitator pembuatan jamban, yaitu masyarakat dampingan Wahana Visi Kantor Operasional Palu, Ade (45) dan Kadri (47). Warga antusias mengikuti langkah demi langkah aktivitas pemicuan ini. Mulai dari pembuatan peta desa, penandaan lokasi tempat biasanya warga BAB (Buang Air Besar), penghitungan jumlah feses, pemicuan rasa jijik, hingga edukasi proses masuknya feses ke tubuh manusia melalui aktivitas sehari-hari.

“Sekarang apa yang bisa kita lakukan bersama-sama? Kami dari Puskesmas maupun WVI (Wahana Visi) tidak menawarkan bantuan pembuatan jamban pribadi atau jamban kelompok,” ujar Darmin (40), fasilitator STBM Puskesmas Tomini.

“Sebaiknya memang kita ini membuat jamban pribadi secara mandiri. Bagaimana kalau kita membuat saja arisan jamban?” ujar Jaslim (43), Sekretaris Desa Tomini Utara.

Diskusi pun bergulir hingga disepakati untuk membuat arisan jamban sebesar Rp 50.000 per bulan per keluarga. Dari seluruh peserta yang hadir, baru sepuluh orang yang menyanggupi untuk ikut serta dalam arisan jamban ini. Maka terbentuklah satu kelompok arisan. Awalnya, warga berpikir suatu kemustahilan untuk memiliki jamban sehat dengan biaya sekitar Rp 500.000. Namun sekarang mereka menyadari ada cara murah membuat jamban. Sebelumnya mereka lebih mengenal jamban dengan septic tank berbentuk beton balok yang banyak menggunakan semen dan besi batang.

Proses diskusi diakhiri dengan kesepakatan bahwa esok hari akan dibuat jamban secara gotong-royong di rumah Jaslim. Pagi hari berikutnya, warga sudah berkumpul di rumah Jaslim. Hiruk-pikuk di rumah Jaslim diamati beberapa warga lainnya. Mereka pun penasaran dan bertanya apa yang sedang terjadi. Mendengar penjelasan warga yang sudah mengikuti arisan, beberapa di antara warga jadi berminat ikut arisan jamban.

Arisan jamban sendiri sangat sederhana metodenya. Dari 10 KK yang berkomitmen membuat jamban, per bulan mereka menyetor Rp 50.000 ke bendahara untuk selanjutnya diundi siapa yang membuat jamban. Bendahara kemudian akan membelanjakannya sesuai kebutuhan material jamban. Setelah bahan terkumpul, warga akan dikerahkan untuk bergotong-royong membuat jamban.

Saat ini, kelompok arisan jamban di Tomini Utara sudah berkembang menjadi dua kelompok arisan. Semoga dengan berkembangnya kelompok arisan jamban ini, upaya Tomini Utara untuk menjadi desa STOP Buang Air Besar Sembarangan bisa terlaksana. Lingkungan bersih, warga pun sehat. (K&P)

===========
Tentang Penulis:
*Luke Pramudita adalah Monitoring Evaluation and Learning Coordinator Wahana
Visi Indonesia Kantor Operasional Parimo. Kisah ini telah ditulis di majalah Kasih & Peduli: Volume 28/2013.

About Perempuan Berkisah 174 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply