Kehidupan Perempuan Setelah Kehilangan Suami

Dalam sejumlah budaya, menjadi janda sarat dengan makna pengucilan, kerawanan, dan penganiayaan. Namun, para perempuan yang kehilangan suami ini mulai melawan.

Dikisahkan Oleh Cynthia Gorney*

 

1. KEMBALI KE KEHIDUPAN

Vrindavan, India

Lama sebelum matahari terbit, para janda di Vrindavan bergegas berjalan melalui gang gelap tak beraspal, berusaha menghindari genangan lumpur dan kotoran sapi. Di trotoar, setiap pagi para sukarelawan menyalakan tungku gas propana berukuran besar dan menyeduh teh di dalam wadah. Para janda itu tahu mereka harus tiba pagi-pagi sekali. Jika datang terlambat, bisa-bisa mereka tidak kebagian teh. Atau, makanan semacam jipang mungkin sudah habis di tempat pembagian sembako berikutnya, beberapa gang jauhnya dari situ.

Hari sudah pukul 5.30 pagi, udara subuh terasa dingin, bulan sabit berwarna perak. Beberapa orang janda menyelimuti diri dengan kain sari berwarna, tetapi kebanyakan mengenakan sari putih. Di India, sari putih adalah penanda paling pasti wanita yang suaminya telah meninggal, mungkin belum lama, mungkin juga sudah puluhan tahun yang lalu.

Tak seorang pun pernah menghitung dengan cermat jumlah janda di Vrindavan. Ada laporan yang memperkirakan dua ribu atau tiga ribu orang, sementara laporan lain mengatakan 10.000 orang atau lebih. Kota itu dan kota-kota di sekitarnya dipenuhi kuil untuk memuja dewa Hindu Krishna dan sejumlah ashram tempat bhajan—lagu pujian—dilantunkan sepanjang hari oleh para janda miskin yang berdampingan memadati lantai. Kesucian bhajan ashram dipertegas oleh nyanyian yang dilantunkan secara berkesinambungan. Meskipun lantunan nyanyian ini biasanya dikumandangkan oleh para peziarah dan imam, dengan melantunkan nyanyian ini berulang-ulang, kadang selama tiga atau empat jam tanpa henti, para janda mendapatkan makanan panas, mungkin juga alas tidur di malam hari.

Seorang janda di India, yang selamanya ditimpa kemalangan setelah suaminya meninggal, “secara fisik masih hidup, tetapi secara sosial sudah mati,” kata psikolog Delhi, Vasantha Patri.

Mereka juga tinggal di tempat penampungan, dan di kamar yang disewa bersama-sama, dan di bawah terpal di pinggir jalan ketika tidak ada tempat menginap yang bersedia menampung mereka. Para janda berdatangan ke Vrindavan dari seluruh India. Kadang mereka tiba dengan didampingi para guru yang mereka percayai. Kadang keluargalah yang mengantarkan mereka, menyerahkan janda ke ashram, atau meninggalkan begitu saja di sudut jalan.

Bahkan kerabat yang tidak mengantarkan janda, dapat berperilaku sangat jelas setiap hari bahwa peran janda tersebut di antara keluarganya telah berakhir. Seorang janda di India, yang selamanya ditimpa kemalangan setelah suaminya meninggal, “secara fisik masih hidup, tetapi secara sosial sudah mati,” kata psikolog Delhi, Vasantha Patri. Ia menulis tentang nasib para janda India. Jadi, karena Vrindavan dikenal sebagai “kota janda”, yang menyediakan makanan panas dan persahabatan dan tujuan hidup yang bermakna, para janda itu juga ada yang datang sendirian, naik bus atau kereta api, seperti yang telah berlangsung selama beberapa generasi. “Tak seorang pun dari kami yang ingin kembali ke keluarga,” seorang wanita tua kurus bernama Kanaklata Adhikari menyatakan dari tempat tidurnya di ruang penampungan, yang ditempatinya bersama tujuh janda lainnya. “Kami tidak pernah berbicara dengan keluarga sendiri. Para janda yang tinggal di sinilah keluarga kami.”

Sari putihnya tersampir dengan longgar di kepalanya. Di India, mencukur rambut seorang wanita yang baru menjanda sudah lazim, untuk mengumumkan berakhirnya daya tariknya sebagai wanita. Janda Adhikari tampaknya belum lama ini sudah dicukur lagi rambutnya. “Saya tetap seperti ini karena rambut saya adalah milik almarhum suami saya,” katanya. Kecantikan wanita terletak pada rambut dan pakaiannya. Setelah suami saya tidak ada lagi, untuk apa semua ini?

Berapa usianya kini?

“Sembilan puluh enam.”

Dan berapa usianya saat suaminya meninggal?

“Tujuh belas.”

Saya berada di vrindavan karena saya dan fotografer Amy Toensing sedang mengunjungi komunitas luar biasa yang terdiri atas para janda. Kami melakukan hal ini selama kurun waktu satu tahun, di tiga bagian dunia yang sangat berbeda. Bukan duka pribadi yang hendak kami telusuri, melainkan cara masyarakat memaksakan identitas baru pada wanita yang suaminya telah meninggal: paria, dikucilkan, dianggap mengganggu, martir, mangsa.

Ketika pada 2011 PBB menetapkan 23 Juni sebagai Hari Janda Internasional, penjelasan resminya amat memilukan: bahwa di banyak budaya, para janda begitu rentan—terhadap tradisi penganiayaan, kemiskinan, akibat pascaperang yang menewaskan suami mereka.  Kondisi menjanda itu sendiri harus dianggap sebagai potensi bencana terhadap hak asasi manusia. Di Bosnia dan Herzegovina, kami menghabiskan waktu selama satu bulan, di satu-satunya tempat penampungan tunggal di dunia yang dihuni para janda perang.

“Dalam kitab Weda, tidak pernah dinyatakan bahwa janda harus menjalani kehidupan sederhana,” katanya. “Ada kalimat yang menyatakan: Hai wanita. Mengapa kamu menangisi lelaki yang sudah meninggal? Bangkitlah, sambut tangan lelaki lain yang masih hidup, dan mulailah kehidupanmu yang baru.”

Para janda ini menghabiskan waktu selama dua dekade untuk mencari dan memakamkan lebih dari 7.000 orang korban pembantaian, kebanyakan berupa sisa jenazah yang tidak utuh. Di Uganda kami mengenal frase “warisan janda”, yang untuk warga Uganda bukan berarti harta yang diterima janda. Melainkan, bahwa keluarga suami sang janda secara ilegal merampas semua harta warisannya, menganggap bahwa mereka mewarisi diri sang janda juga, sebagai mitra seks atau istri untuk kerabat mana pun yang akan mereka pilih.

Dan di Vrindavan, kami mengajukan pertanyaan kepada Laxmi Gautam, seorang pekerja sosial, apa yang akan ia ubah jika dia diberi wewenang untuk melindungi kaum wanita dari jenis penghinaan ini. Ternyata, dia pernah membayangkan, hal yang akan dilakukannya. “Saya akan menghapus kata ‘janda’ dari kamus,” katanya. “Begitu suaminya meninggal, istrinya mendapatkan sebutan ini. Istilah ini. Dan ketika istilah itu sudah menempel, hidupnya pun mulai ditimpa berbagai masalah.”

“Dalam kitab Weda, tidak pernah dinyatakan bahwa janda harus menjalani kehidupan sederhana,” katanya. “Ada kalimat yang menyatakan: Hai wanita. Mengapa kamu menangisi lelaki yang sudah meninggal? Bangkitlah, sambut tangan lelaki lain yang masih hidup, dan mulailah kehidupanmu yang baru.”

Karena terisolasi dan tidak terlihat, sungguh sulit menghitung jumlah janda di dunia; pengumpulan data paling ambisius berasal dari Loomba Foundation, yang memberikan dukungan internasional bagi para janda. Baru-baru ini, lembaga ini memperkirakan jumlah janda sekitar 259 juta, dengan peringatan tentang betapa buruknya sejumlah negara melacak keberadaan dan kebutuhan janda warganya.

Seorang janda tidak boleh berpakaian warna-warni atau membuat dirinya cantik, karena itu tidak pantas untuk peran barunya sebagai sosok yang harus berkabung seumur hidup. Seorang janda hanya boleh menyantap makanan hambar, dalam porsi kecil, karena rasa lezat dan bumbu dapat membangkitkan gairah yang sama sekali tidak boleh dialaminya lagi. Semua ini ketentuan Hindu yang semakin memudar, sebagian besar ditepiskan oleh warga India berpendidikan karena merupakan peninggalan masa lalu, tetapi masih dianggap serius di beberapa desa dan keluarga konservatif. Meera Khanna, penulis Delhi yang bekerja untuk organisasi advokasi janda yang bernama Guild for Service, mengamati bahwa stigma janda bukan berasal dari Weda, kitab suci umat Hindu, tetapi dari generasi yang memegang teguh tradisi yang bersifat menindas.

“Dalam kitab Weda, tidak pernah dinyatakan bahwa janda harus menjalani kehidupan sederhana,” katanya. “Ada kalimat yang menyatakan: Hai wanita. Mengapa kamu menangisi lelaki yang sudah meninggal? Bangkitlah, sambut tangan lelaki lain yang masih hidup, dan mulailah kehidupanmu yang baru.”

Kami merencanakan kunjungan ke Vrindavan dan Varanasi, kota di barat laut Kolkata yang juga menarik ribuan janda. Hal ini bertepatan dengan kampanye sederhana: saat berlangsung festival perayaan, para janda boleh ikut merayakan. Di seluruh India, liburan Diwali dan Holi adalah kesempatan bagi masyarakat untuk bersukacita. Di dalam Diwali terdapat hadiah, cahaya benderang, dan kembang api; Holi dilakukan di jalanan sehingga orang dapat “bermain Holi,” sebagaimana kata orang India, saling melemparkan bubuk warna-warni dan menyemburkan air.

Bagi wanita yang diharapkan menjalani sisa hidupnya dalam martabat yang diredam, jenis kegembiraan semacam ini sama sekali tak pernah dianggap dapat diterima. “Setelah menjadi janda, Anda tidak diizinkan terlibat dalam keriaan apa pun,” kata pekerja amal Vinita Verma. “Tetapi, kami ingin para wanita ini menjadi bagian dari masyarakat. Mereka memiliki hak penuh untuk menjalani kehidupan mereka.”

Verma adalah wakil presiden Sulabh International, organisasi India yang memberikan layanan dukungan dan tunjangan bulanan berjumlah kecil kepada para janda di tempat penampungan di Vrindavan dan Varanasi. Beberapa tahun silam—mula-mula dengan perasaan ragu dan kemudian dengan skala lebih berani—Sulabh mulai menyelenggarakan acara Diwali dan Holi untuk janda di kedua kota itu.

Pada 2015, perayaan hari raya di “kota para janda”, seperti Vrindavan dan Varanasi yang kadang diberi label begitu di media, sengaja diselenggarakan di luar ruangan. Tidak muncul tuntutan pembatalan di media India. Saat saya dan Toensing berada di India, satu-satunya keluhan yang kami dengar tentang rencana perayaan bagi para janda ini adalah bahwa memang perayaan itu dibuat menarik, tetapi tidak banyak mengubah keadaan.

“Perubahan nyata harus datang dari masyarakat yang memunculkan mereka,” kata Gautam, pekerja sosial yang ingin mencoret kata “janda” dari kamus. Saat saya bertanya apa label yang mungkin lebih sesuai bagi para wanita ini, tampak jelas bahwa dia juga sudah memikirkan hal itu. “Ibu,” katanya. “Jika dia bukan seorang ibu, dia seorang putri, mungkin saudari. Dia juga istri. Hanya saja suaminya sudah meninggal.”

Hal yang juga tampaknya perlu diingat: Para janda Vrindavan juga bisa menjadi galak. Ketika saya tiba pada November 2015, Diwali baru akan dimulai, dan pada suatu sore saya mengikuti Verma saat dia mempersiapkan acara Sulabh, yang mencakup seribu kain sari baru untuk para janda. Mereka juga boleh menyimpannya sebagai hadiah—dalam warna apa pun yang mereka inginkan.  Sari adalah hadiah dari Sulabh, dan sebuah toko di Vrindavan menumpuknya sebagai pajangan. Para janda dalam program amal dijadwalkan tiba berkelompok dalam waktu beberapa jam. Mereka akan memeriksa dan memilih seperti yang biasa dilakukan pembeli sari India yang mahir.

Di dalam toko sari itu, saya dan juru bahasa saya memperhatikan kelompok pertama para janda yang bergegas menuju tumpukan, melihat-lihat kain sari, lalu memanggil pelayan toko. “Saya lebih suka sari yang di rak lain,” kata seorang wanita. “Bolehkah kami memilih dari rak itu?”

Tidak bisa, kata si pelayan toko menjelaskan, yang di rak itu untuk dijual. “Hmph,” kata salah seorang janda. “Kualitasnya kurang bagus,” kata janda yang lain. “Tolong geser sedikit,” kata janda yang lain, dan janda yang disikutnya berkata, mengapa dia harus bergeser—ruangannya cukup lega. Dibutuhkan waktu lebih lama dari yang diperkirakan agar semuanya terlayani, dan saya melihat empat orang janda berjalan keluar tanpa membawa sari baru, saling menggerutu. “Seolah-olah waktu kita tidak berharga,” kata salah seorang di antara mereka.

Prosesi Diwali dan pesta kembang api di sungai seharusnya berlangsung dengan meriah, penuh nyanyian dan kembang api, serta sari berwarna putih dan aneka warna lain. Banyak fotografer berita India hadir. Asap berputar-putar, kembang api membuat sungai tampak menyala merah muda, lampu minyak yang mengambang menampilkan lingkaran bercahaya di air yang bergerak-gerak. Meskipun ini semua serba indah, kenangan paling mengesankan di Vrindavan bagi saya adalah pemandangan empat janda bermartabat yang meremehkan sari hadiah mereka dan berjalan meninggalkan toko. Mereka berdiri berdekatan, dibungkus kain sari putih yang menandakan mereka janda, tertawa terkekeh-kekeh, dan ketika mereka meninggalkan trotoar bersama-sama untuk menyeberang jalan yang ramai, kendaraan berhenti untuk membiarkan mereka lewat.

 

2. MENGUBUR MASA LALU

Tuzla, Bosnia dan Herzegovina

Ketika panggilan telepon pertama diterima dari pusat identifikasi forensik, Mirsada Uzunović sedang berada di rumah bersama putranya yang berusia 13 tahun. Dia pun berusaha keras untuk bisa tetap tenang. Suara di ujung telepon terdengar lembut. Sisa-sisa jenazah Ekrem, suami Uzunović, telah diidentifikasi oleh pengujian laboratorium, kata suara itu. Sisa-sisanya… sedikit. Sebuah tengkorak yang sudah tidak utuh. Tidak ada bagian tubuh lainnya. Jika Uzunović menginginkan tengkorak itu dikuburkan, di permakaman baru, hal itu bisa diatur.

Tidak usah.

Selama tiga bulan dia tak memberi tahu siapa pun. “Malam hari adalah saat terberat. Saya sendirian, merenung. Dari sosok pria berperawakan besar yang saya kenal, hanya tersisa sebagian tengkorak. Saya tak bisa membayangkan. Baiklah, mereka membunuhnya. Tetapi, mengapa jenazahnya tak dikuburkan? Bagian tubuh-nya berserakan. Saya tak tahu di mana. Di mana tulang belulangnya? Di manakah dia?”

Panggilan telepon pertama itu ia terima pada 2005, satu dekade setelah pasukan Serbia Bosnia menewaskan lebih dari 7.000 pria muslim Bosnia. Jumlahnya masih tetap diperdebatkan. Akan tetapi, inilah jumlah yang tercatat di Mahkamah Internasional—selama satu minggu dari tiga tahun perang Bosnia. Dari 11 Juli hingga 19 Juli 1995, banyak pria tewas di dalam dan di dekat Srebrenica, kota di tepi timur negara Balkan, Bosnia dan Herzegovina. Ekrem Uzunović mengenakan celana panjang hitam dan kaos oblong saat terakhir kali dia melihatnya. Di ranselnya ada sebongkah roti yang dipanggangnya pagi itu. Ekrem membungkuk mencium putra mereka, berbalik, lalu berlari.

Putranya berusia dua tahun. Ekrem 27 tahun. Di Tuzla, di kota tempat Uzunović dan banyak janda perang Srebrenica lainnya dimukimkan kembali, kini ada kantor berkamar dua. Hingga ke langit-langit, dinding bagian dalam kamar itu dipenuhi foto pria Bosnia berambut gelap seperti Ekrem. Semuanya sudah tewas atau diperkirakan tewas. Tumpukan album menyimpan ribuan foto lainnya. Dalam berbagai foto itu juga tampak anak laki-laki yang baru memasuki usia remaja dan beberapa pria yang tampaknya cukup tua untuk menjadi kakek Ekrem. Uzunović: “Di setiap halaman rumah ada kejadian yang sama—kaum pria melarikan diri dari rumah mereka. Kaum wanita dan keluarga menangis meratapi mereka, dan para pria itu tidak bereaksi atau berbuat apa pun. Mereka terus berjalan ke arah hutan, tidak sekali pun menengok lagi ke belakang. Ada suasana murung, dengan hutan di belakangnya. Deretan pria berjalan berbarengan.

Kami bertemu pada Juli, di dalam rumah di bukit Tuzla, tempat tinggal Uzunović dan putranya. Setiap 11 Juli, antara lain karena upaya gigih jaringan wanita Bosnia yang berduka, dilakukan pemakaman berkelompok. Penguburan satu per satu peti mati yang berisi sisa-sisa jenazah pria Srebrenica korban perang, yang berhasil diidentifikasi pada tahun sebelumnya dan disetujui oleh keluarganya untuk dikuburkan. Hal ini dilakukan di permakaman luas di bukit yang diperuntukkan hanya bagi mereka. Enam ratus peti mati pertama dikuburkan pada 2003.

“Saya sudah menunggu terlalu lama,” kata Uzunović. “Saya tidak dapat menunggu lebih lama lagi.” Tahun ini, di acara penguburan Potočari, dia akan menguburkan suaminya.

Pada pekan pertama Juli 2015, acara ulang tahun ke-20 penguburan itu akan diselenggarakan beberapa hari lagi. Uzunović kini berusia 41 tahun. Dia telah menghadiri banyak sekali acara penguburan 11 Juli: kakaknya, kakeknya, tiga orang paman, empat orang sepupu, para pria dari keluarga Ekrem, suami para janda lainnya. Setiap tahun sampai tahun ini, dia mengatakan bukan Ekrem, belum; ketika pusat forensik menelepon kedua kalinya pada 2007 dan memberitahukan bahwa tulang pinggul dan tulang paha suaminya telah diidentifikasi, Uzunović masih tetap menolak menguburkan suaminya. Baginya masih belum cukup banyak bagian tubuh suaminya untuk dikuburkan.

“Selama ini saya memikul beban amat berat,” kata Uzunović kepada saya dan juru bahasa saya, sambil menuangkan kopi bosnia yang pekat, ke cangkir kami. Dia tampak lelah, tetapi tenang. “Saya sudah menunggu terlalu lama,” kata Uzunović. “Saya tidak dapat menunggu lebih lama lagi.” Tahun ini, di acara penguburan Potočari, dia akan menguburkan suaminya.

Dalam bahasa bosnia, kata untuk janda adalah udovice. Namun, di organisasi kerja sama yang mereka dirikan, para janda korban perang Bosnia ini disebut žene, yang artinya perempuan.  Snaga Žene, misalnya:  Kekuatan Wanita. Pada musim panas 1995 itu, orang yang melewati pusat olahraga Tuzla dapat langsung melihat para žene Srebrenica yang dipindahkan ke Tuzla dengan truk barang, sementara suami, anak, saudara, dan ayah mereka mati ditembak. Para pria berkata: Apabila berhasil selamat, saya akan ke pusat olahraga; temui saya di sana—dan selama berminggu-minggu para wanita terus berdiri di luar, berharap. “Sungguh tak terbayangkan bagi mereka,” kata Presiden Snaga Žene, Branka Antić-Štauber, seorang dokter Tuzla. “Untuk memahami cakupannya, bahwa sejumlah besar orang dibunuh dalam waktu beberapa hari.

Pemimpin Serbia asal Bosnia, yang khawatir bahwa kuburan massal itu kelak ditemukan, memerintahkan ribuan mayat digali dan dikuburkan kembali di pedesaan. Peralatan besar menyebabkan mayat yang membusuk itu tercerai-berai. Di samping akibat pascaperang yang mengerikan ini, yang biasanya dialami para janda yang tinggal di kawasan konflik dunia—trauma, perkosaan, isolasi, kemiskinan—beban baru ditambahkan: Sisa-sisa jenazah pria Srebrenica, jika hendak dikuburkan kembali dan diratapi di kuburan perseorangan, harus diidentifikasi sepotong demi sepotong.

Deteksi forensik, kegiatan melelahkan untuk mencocokkan tulang dan bagian tubuh dengan sampel DNA dari keluarga, dilaksanakan oleh organisasi pascaperang Bosnia yang disebut International Commission on Missing Persons. Tuntutan untuk dilakukannya pencatatan—dorongan untuk ditetapkannya satu pemakaman khusus; pencarian foto dari semua pria yang hilang; demonstrasi bulanan yang bersikeras agar sisa-sisa jenazah setiap korban tewas perang ditemukan, para pembunuhnya diadili, dan kata “genosida” selamanya melekat pada pembunuhan Srebrenica—dilancarkan oleh kaum wanita.

Terdapat 6.241 kuburan yang sudah selesai sebelum tibanya jenazah terakhir ini. Peti mati hijau baru tampak berderet di dalam pusat memorial—dalam Islam, hijau adalah warna keramat—berjumlah 136. Sisa-sisa jenazah Ekrem Uzunović terdapat di dalam peti mati 59. Dan pada pagi hari pemakaman yang hangat tak berawan itu, Mirsada Uzunović menemukan batu nisan bertuliskan nama suaminya, makam yang baru digali. Kerabatnya membawa kursi lipat, dan sejenak dia duduk di salah satu kursi dan menerima orang dengan sopan, pelukan mereka, ucapan simpati yang mereka gumamkan. Doa dan suara monoton terus dilantunkan, dan terdengar suara kemarahan yang bising saat perdana menteri Serbia, yang menghadiri upacara 11 Juli untuk pertama kalinya, hendak meletakkan karangan bunga di sembarang batu nisan. Terdengar cemooh yang mengancam sehingga para pengawalnya cepat-cepat menggiringnya ke mobil yang menunggu.

Seorang imam meminta hadirin untuk memberikan penghormatan. Pemakaman pun hening tanpa suara. Peti hijau pertama tampak di bawah bukit, dipanggul oleh pengusung jenazah. Imam memanjatkan doa untuk jenazah itu, dan ribuan orang di lereng bukit membungkuk bersama-sama. Uzunović tidak berdoa. Dia bangkit dari kursinya, menyalakan rokok, duduk di tanah di samping liang lahat yang kosong, dan menunggu. Biarkan orang lain berdoa, pikirnya. Dia telah memanjatkan begitu banyak doa, dan hanya untuk Ekrem-lah dia akan berdoa: Kamu meminta saya untuk menjaga keselamatan putra kita. Sekarang usianya sudah 22 tahun. Dia sudah kuliah. Dia ikut memanggul peti matimu. Dia akan membantu menurunkan peti itu ke liang lahat dan menutupinya dengan tanah, lalu, akhirnya, kamu dapat berbaring dengan tenang.

 

3. MENEGAKKAN HUKUM

Distrik Mukono, Uganda

Pada suatu pagi di pertengahan musim panas, pengacara bernama Diana Angwech mengatur dua berkas tebal di pangkuannya, mempelajarinya. Ruang sidang yang sudah dimodifikasi itu berjarak sekitar satu jam berkendara dari ibu kota, Kampala. Di dalam, di lantai beton, tampak beberapa bangku kayu menghadap meja hakim, yang di atas permukaannya yang bersih hanya ada kalender, Quran, dan Alkitab tua yang diikat dengan tali.

Seorang penjaga di pintu menepi, dan orang-orang melangkah masuk, mengisi deretan bangku di samping dan di belakang Angwech. Janda Clare Tumushabe memangku putrinya yang berusia dua tahun, bungsu dari enam bersaudara. Dulu Tumushabe adalah wanita yang lebih pemalu, tetapi kepalanya sekarang berdiri tegak saat ia mengamati ruang sidang di sekelilingnya; ia tengah mengandung anak ini ketika suaminya meninggal—sakit kepala parah, rumah sakit tidak mampu menolongnya—dan Tumushabe belajar cara berbicara dengan jelas dan penuh semangat tentang apa yang terjadi berikutnya.

Dia dipanggil—saat sedang berkabung dan hamil—untuk menghadiri pertemuan dengan anggota keluarga dan klan suaminya. Mereka mengatakan anak-anak sekarang bukan miliknya, tetapi milik mereka; memerintahkannya agar tidak menggarap semua tanaman di halaman rumah, karena tanaman itu juga bukan lagi miliknya; dan kepadanya diperkenalkan kakak iparnya—kakak sulung suaminya, 20 tahun lebih tua darinya—yang akan pindah ke rumahnya dan menjadikannya sebagai istri ketiga.

Rumah dan lahan seluas sekitar satu hektare yang diwarisi suami Tumushabe dari ayahnya harus diserahkan sepenuhnya kepada mereka, begitu kata keluarga suaminya itu. Sebagai janda, Tumushabe, menurut tradisi, pada hakikatnya merupakan bagian dari properti.

“Jika Anda janda, nasib Anda buruk. Anda terkutuk. Andalah yang bersalah jika suami Anda mati. Bisa jadi suamilah yang memiliki beberapa rumah, beberapa istri, bahwa dialah yang menularkan HIV. Namun, saat dia meninggal, Andalah yang bersalah. Anda yang membunuhnya.”

Tumushabe menjawab bahwa semua itu omong kosong. Keluarga suaminya mengatakan bahwa jelas sekali dia telah menyihir dan membodohi suaminya. Tumushabe memanggil polisi. Dia memanen tanaman dan menebang beberapa batang pohon untuk dijadikan kayu bakar. Ancaman semakin gencar; kata makian dilontarkan kepada anak-anaknya. Suatu hari seorang lelaki dari keluarga suaminya muncul di halaman rumahnya dan berteriak bahwa hari ini Tumushabe akan mati, dan karena saat itu tangan Tumushabe ditebas dengan panga—parang Afrika yang bilahnya besar—Diana Angwech melaporkan penyerangan itu dengan menuntut salah seorang dari penyiksanya ke pengadilan.

Kita harus menyesuaikan diri dengan lingkungan, begitu kata Angwech dan rekan-rekannya yang terus mengingatkan kami, saat saya dan Toensing mengikuti mereka menjelajahi sejumlah desa di Uganda bagian tengah: Kita harus bersimpati, memberi nasihat, berusaha memberi pencerahan kepada polisi dan sesepuh desa. Menghadiri acara pertemuan masyarakat untuk menjelaskan bahwa mengintimidasi seorang janda baru agar menyerahkan rumah keluarganya itu dilarang, sekalipun yang mengintimidasi itu keluarga iparnya sendiri. “Orang-orang terkejut—’Ya ampun, ini sebenarnya salah?’” kata seorang pengacara bernama Nina Asiimwe, mengingat-ingat kembali ceramah terbuka pertama yang disampaikannya setelah bergabung dengan para profesional Uganda lainnya di kantor International Justice Mission (IJM) di Kampala, organisasi yang mempekerjakan Angwech. “Mereka pikir hal itu normal. Memang tidak adil, tetapi normal. Disetujui oleh masyarakat.”

Bayangkan warga Uganda ini sebagai pasukan pembela janda: pengacara, pekerja sosial, dan penyidik ​​pidana yang menggunakan sistem peradilan negara mereka sendiri untuk membatalkan asumsi lama tentang wanita yang kehilangan suami. IJM adalah organisasi nirlaba berpusat di AS yang mendukung advokasi hukum di negara lain untuk korban miskin yang mengalami penganiayaan kekerasan, dan agenda karyawannya di Kampala cukup moderat. Mereka menyelenggarakan program percontohan di distrik luas yang kebanyakan merupakan pedesaan di timur ibu kota. Program itu menyediakan pengacara gratis dan pekerja sosial untuk membantu korban kejahatan yang dikenal di seluruh Afrika timur dan selatan sebagai “perampasan properti”—memeras warga, dengan ancaman lisan atau serangan fisik, agar menyerahkan kepemilikan tanah.

Dengan alasan yang sudah kuno maupun modern, para janda adalah pihak yang paling sering menjadi korban perampasan properti di kawasan dunia ini. Lebih dari dua pertiga warga Uganda yang berjumlah 39 juta orang menanam sendiri setidaknya beberapa jenis pangan. Mereka memiliki rumah sendiri, dan lahan yang menjadi bagian rumah itu masih tetap menjadi jaminan kuat atas ketahanan pangan yang penting: Makanan untuk anak-anak, kayu bakar untuk memasak, tanaman untuk dijual ke pasar. Karena kuburan sering berada di dekat rumah, orang yang mengurus  properti keluarga juga memiliki sejarah, kehormatan, dan status leluhurnya. Dan pesatnya pertumbuhan penduduk Uganda, bersama dengan bermunculannya perbankan hipotek, meningkatkan nilai tanah.

Ini adalah hal-hal yang tidak mudah diakui oleh masyarakat tradisional Uganda kepada para janda. Konstitusi, yang ditulis ulang pada 1995 dan menjadi sumber kebanggaan nasional, menjanjikan kesetaraan gender. Statuta modern secara eksplisit menurunkan hak waris kepada istri dan anak perempuan. Namun, dalam praktiknya, terutama di daerah pedesaan yang merupakan sebagian besar Uganda, secara luas masih dianggap bahwa hanya kaum lelaki yang harus memiliki atau mewarisi tanah. Bahwa menjadi janda berarti berakhirnya legitimasi sosial wanita, dan terserah pada keluarga dan klan suaminya untuk memutuskan apa yang terjadi selanjutnya. Siapa yang akan mendapatkan properti, yang akan mengambil anak-anak, yang akan berhubungan seks dengannya. “Ditambah stigma,” kata Asiimwe. “Jika Anda janda, nasib Anda buruk. Anda terkutuk. Andalah yang bersalah jika suami Anda mati. Bisa jadi suamilah yang memiliki beberapa rumah, beberapa istri, bahwa dialah yang menularkan HIV. Namun, saat dia meninggal, Andalah yang bersalah. Anda yang membunuhnya.”

Jadi, dengan para janda sebagai klien, para pendukung IJM di desa-desa dan ruang pengadilan di Distrik Mukono Uganda memiliki tujuan luhur yang berani: menyiarkan ke seluruh Mukono, dan mungkin ke seluruh Uganda dan sekitarnya, gagasan bahwa merebut rumah dan kebun para wanita ini—serta serangan, ancaman, pemalsuan, dan pelecehan lisan yang sering membebani ini—bukan saja salah, tetapi bisa dihukum oleh pengadilan. Diplomasi amat penting; dalam beberapa kali rapat desa, Asiimwe menyapa sesepuh sebagai “ayah saya”, “ibu saya.”

Namun, upaya mereka sering tidak memadai, ia menegaskan, dan ketua dewan dapat dibeli atau diancam. Dalam bahasa Luganda, yakni bahasa pribumi utama di daerah itu, ia meminta pendengarnya mengingat kemungkinan masa depan seorang janda yang diusir dari rumahnya oleh para perampas harta yang mengacung-acungkan panga: Keluarganya mungkin tak bersedia menerimanya kembali, karena mereka tak mampu atau tak lagi menganggap janda itu sebagai keluarga. Janda itu dapat dibiarkan telantar, mungkin dipaksa melacur.

Penerimaan masyarakat ternyata sangat lambat. Mantan perwira polisi nasional yang kini memimpin penyelidikan IJM Distrik Mukono mengatakan bahwa teman-teman di kepolisian awalnya bingung saat ia mulai rajin mendatangi kantor polisi di desa, mengajar polisi untuk mengumpulkan bukti perampasan properti dan menangani secara serius ancaman kekerasan terhadap janda yang mencoba melawan.

Ancaman itu begitu gamblang dan meluas, bahkan kadang diarahkan ke para penyidik ​​kasus; itu pula sebabnya mengapa IJM meminta agar nama para penyidik ​​tidak dipublikasikan. Dan kasusnya sendiri dapat sangat kompleks. Uganda mendukung beberapa cara untuk memiliki tanah, baik tanah di masa sebelum penjajahan maupun di zaman modern, sehingga dapat sulit membuktikan siapa yang memegang hak kepemilikan bahkan sebelum suami meninggal.

Orang Uganda jarang menulis surat wasiat karena dapat menimbulkan sengketa yang bisa berujung pada kematian. Hubungan kohabitasi (hubungan seksual tanpa menikah) sudah lazim, meskipun bukan pernikahan legal; banyak wani-ta yang menganggap diri mereka sebagai istri ternyata bukan, dalam hal urusan warisan. “Tetapi, saya percaya ada harapan,” kata pengacara dan direktur penanganan kasus Alice Muhairwe Mparana kepada saya dan Toensing pada bulan Juni yang lalu. “Kami belum berhasil 100 persen, tetapi kami telah memulainya.  Tahun ini kami sudah memenangi sembilan perkara.”

Beberapa tuntutan yang berhasil selama paruh pertama 2016: pengusiran yang melanggar hukum, memasuki halaman orang lain tanpa izin yang termasuk tindakan pidana, mencampuri urusan orang lain, yang berarti tanpa izin ikut campur dalam urusan orang lain. Tanggal 23 Juni menandai Hari Janda Internasional yang keenam, dan di kota terbesar di Mukono, alun-alun berumput yang menghadap ke gedung pengadilan diizinkan untuk digunakan merayakan peringatan khusus, dilengkapi mikrofon, ratusan kursi lipat, dan area tempat duduk bertenda yang dibatasi tali; dengan rambu bertuliskan “Janda Terhormat”. Orang-orang penting naik ke panggung untuk berbicara: kepala polisi, misalnya; dan hakim kepala; dan Clare Glorious Tumushabe, yang menggunakan waktu paling banyak di depan mikrofon.

Dengan bantuan juru bahasa, Tumushabe berkata, dia tetap menghuni rumah keluarganya. “Saya hanya mencintai satu orang pria,” dia berseru dalam bahasa Luganda, suaranya melengking seperti suara pendeta, dan para Janda Terhormat mengelu-elukannya. “Saya berkata pada klan suami saya, ‘Bagaimana mungkin kalian memberikan saya kepada pria lain? Saya tidak menikah dengan seluruh klan.’”

Tiga bulan kemudian, saya dan Toensing menerima kabar: Penyerang Tumushabe dinyatakan bersalah atas dakwaan “serangan yang menyebabkan cedera tubuh” dan menjalani hukuman penjara satu tahun. Tumushabe dan para penasihat hukumnya gembira. Namun, saudara-saudara suaminya murka, dan kepala penyidik mencemaskan sang janda dan anak-anaknya. “Kami memperketat penjagaan keselamatannya,” katanya. “Dan kami menjelaskan kepada masyarakat agar mereka memahami posisi Tumushabe. Dia hidup terkurung di tempat tinggalnya. Namun, dia wanita tangguh dan kuat.”

========

Keterangan Penulis: Cynthia Gorney adalah salah satu wartawan dan fotografer, ini adalah salah satu tulisan Cythia Gorney di nationalgeographic , tulisan-tulisan Cynthia Gorney lainnya dapat dilihat dalam link berikut :  nationalgeographic. 

About Perempuan Berkisah 168 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply