Perempuan Tangguh dari Petuguran

Kayu-Kayu

Tangannya keras bagaikan kayu Mahoni yang telah berumur ratusan tahun siap untuk ditebang dan dijadikan bahan membuat pintu rumah.

Dikisahkan oleh Hartati*

 

“Andai aku menjadi kayu saja, maka aku tidak perlu bekerja keras mencari sesuap nasi seperti sekarang ini. Aku cukup berdiri kokoh berjejer dengan pohon-pohon yang lain menunggu turunnya hujan sehingga dahaga hilang, karena akar-akarku siap menyedot air yang jatuh ke tanah. Seluruh daun-daunku pun cukup bergelantungan rapi direrantingan, maka matahari akan datang setiap harinya untuk memberiku sinar yang akan aku gunakan untuk membuat makananku lewat proses fotosintesis. Aih”

Cek-cek-cek, dengan kekuatan tangannya dia memotong ranting-ranting kering yang dia temukan di kebun tetangganya. Satu-persatu dia kumpulkan. Keringatnya mengalir membuat rambutnya semakin berantakan dan kumal.

“Biarlah berantakan, aku Cuma perempuan yang sendiri siapa akan peduli dengan penampilanku??”

Dengan kedua tangannya dia bersemangat sekali mengumpulkan kayu bakar, karena terbayang kayunya akan ada yang membeli. Ditatanya rapi kayu-kayu itu, lalu dia ikat dan digendong dipunggungnya yang kekuatannya melebihi truck tronton yang biasa mengangkut beban berat. Mungkin itu persamaannya. Maaf jika sedikit berlebihan, tapi memang dia perempuan yang amat kuat fisiknya hampir menyamai kekuatan fisik laki-laki. “Srek-srek-srek”, kakinya melangkah menginjak dedaunan kering yang ada dijalanan. Sesekali tenggorokannya seperti berteriak, Hauuusss, hauuuusss, hanya air liur yang mampu meredam lolongan tenggorokannya itu.
“Gabruk!!!” Dijatuhkannya kayu itu disamping rumahnya, di sana sudah berbaris rapi kayu-kayu lain seakan senang melihat pemilik kayu pulang. Semua sudah didandani dengan dandanan yang cantik dan rapi, tinggal menunggu orang memilih mereka untuk menjadi kayu bakar ditungkunya.

“Mah, njikotna Wedang bening!!!!” Dalam bahasa Indonesianya ( Mah, ambilkan air putih!!) Dia memanggil anaknya untuk mengambilkan air minum, punggungnya masih direbahkan diatas kayu yang dia gendong dari kebun tadi. “Kiye, ma!!” anaknya memberikan air minum yang dimintanya tadi.

Tenggorokan serasa berenang di gletser-gletser, tubuh bagaikan mencebur ke sungai yang dingin. Aaaaah, segar sekali. Anaknya yang bernama Rohmah, baru lulus Sekolah Dasar kemarin. Seharusnya dia hampir naik kelas 2 Sekolah Menengah Pertama, tapi keadaan ekonomi membuat cita-citanya runtuh seperti atap rumahnya yang sebagian sudah bergelantungan hendak jatuh. Kegiatannya hanya di rumah bekerja membuat bulu mata palsu (idep).
“Nah…Rinah…!!!”ada tetangga memanggil namanya dari depan rumah. Suaranya keras sekali. Bahkan toa di mushola pun kalah saing. Ternyata tetangga itu memesan tiga ikat kayu bakarnya. Dengan penuh senyum diwajahnya diantarkan kayu itu kepada tetangga yang memesannya. Delapan belas ribu, dia kantongi. Beras dua kilo akan dia dapatkan dengan uang itu.

Bersambung

====================

Keterangan Penulis:

*Hartati adalah perempuan asal Petuguran, melalui cerita fiksi ini, dia ingin berkisah tentang para perempuan tangguh di desanya. 

About Perempuan Berkisah 168 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply