Menengok Kebun Toga Desa Transmigran Jawa di Propinsi Jambi

“Ketika pohon terakhir ditebang, Ketika sungai terakhir dikosongkan, Ketika ikan terakhir ditangkap, Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.”

― Eric Weiner, The Geography of Bliss: One Grump’s Search for the Happiest Places in the World

Dikisahkan oleh Alimah Fauzan*

Kalimat inspiratif yang popular dikutip sejumlah aktivis peduli lingkungan hidup ini, terus terngiang di ruang pikir. Di setiap perjalanan menuju sebuah desa, saya tak henti memerhatikan suasana di kanan kiri jalan dusun. Hadir di sebuah desa berarti tidak sekadar mengenal sumber daya manusia (SDM) penghuni desa, lebih dari itu, ada kekuatan sumber daya alam (SDA) desanya yang juga memiliki peran sentral terhadap keberlangsungan hidup mereka. Belum lagi kekuatan lainnya seperti kekuatan social, kelembagaan, keuangan, infrastruktur, juga spiritual-budaya yang terkadang luput dari perhatian kita.

Ketika datang di sebuah desa yang baru saya kunjungi, hal pertama yang selalu membuat saya penasaran adalah bagaimana aktifitas perempuannya. Saya selalu berkeyakinan, ketika saya mampu menguak kondisi perempuan di sebuah wilayah, maka semua hal penting lainnya akan terkuak dengan mudah. Karena para perempuan biasanya akan bicara tentang banyak hal. Mereka tidak sekadar memikirkan persoalan pribadinya, kebutuhan dasarnya, namun juga anak-anaknya serta lingkungan sosial di sekitarnya. Ia akan bicara mengenai anak-anaknya, usahanya, lingkungannya, dan banyak hal lagi. Namun ini hanya cara saya saja yang paling memungkinkan sesuai kapasitas saya saat berada di desa. Sekilas memang terkesan agak bias sebenarnya, seakan hanya melulu bicara perempuan. Karena sebenarnya, “perempuan” di sini bukan sekadar jenis kelamin, namun juga bisa sebagai “perspektif” dan kunci menguak kehidupan di sebuah tempat atau wilayah.

Nah kali ini, saya ingin berbagi pengalaman saya bersama para perempuan di desa-desa yang pernah saya kunjungi. Dari sejumlah desa tersebut, yang cukup menarik perhatian saya adalah Desa Transmigran Jawa di Propinsi Jambi, tepatnya di Desa Tegal Arum, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo. Tapi di cerita saya kali ini saya akan focus bercerita tentang kebun Toga yang dikelola para perempuan dan pemudanya.

Tegal Arum: Sebuah Nama dan Pengharapan

Desa Tegal Arum adalah salah satu desa transmigran Jawa di Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Propinsi Jambi. Sebelum saya bercerita tentang kebun tanaman obat keluarga (Toga) di Desa Tegal Arum, sayang sekali jika kita luput mengenal Desa Tegal Arum sendiri. Jadi di bagian ini, mari saya hantarkan untuk sekilas mengenal desanya dulu. Apa yang saya ceritakan di sini berdasarkan pengamatan dan cerita yang digali oleh para pemuda, perempuan, dan perangkat desanya tentang sejarah desa mereka.

Munculnya desa-desa transmigran termasuk Desa Tegal Arum, ini tidak terlepas dari program pemerintah Indonesia yang menginisiasi program transmigrasi di masa Orde Baru (Orba). Program ini dicanangkan oleh Persiden Suharto pada tahun 1977. Animo masyarakat yang ingin mengadu nasib di tanah seberang saat itu begitu banyak untuk ikut dalam program transmigrasi. Menurut hasil penggalian data sejarah Desa Tegal Arum, para warga yang akhirnya tiba di Desa Tegal Arum yang saat itu masih bernama “Unit 5”, mulai berangkat pada Kamis Pon 24 Maret 1977. Rombongan ini berangkat dari berbagai daerah rata-rata naik bus menuju kota Semarang, setelah menginap semalam, esok harinya mereka naik kereta api bertolak menuju Pelabuhan Tanjung Priuk Jakarta. Dari Tanjung Priuk, rombongan transmigrasi kemudian diberangkatkan dengan menggunakan Kapal Vande Bori menuju pelabuhan Teluk Bayur (Padang) dan singgah di Pelabuhan Panjang, Teluk Keceng, Tanjung Karang. Setelah menginap di Padang selama satu malam, kemudian rombongan transmigrasi diberangkatkan kembali menggunakan bus menuju Rimbo Bujang. Setibanya di Rimbo Bujang, rombongan transmigrasi ditampung beberapa waktu untuk menunggu jemputan yang menuju ke arah unit lima dan proses penjemputan menggunakan mobil truk dan setibanya di unit lima pada Selasa Kliwon 5 April 1977 jam 3 sore.

Di antara transmigran yang datang dari Jawa, mereka tersebar di beberapa desa, salah satunya adalah “Unit Lima”, atau yang kini bernama Desa Tegal Arum. Nama Tegal Arum sendiri dihasilkan berdasarkan kesepakatan Musyawarah Desa (Musdes), sebuah forum tertinggi di tingkat Desa. Proses menyepakati nama pun tak hanya sekali dua kali pertemuan kemudian muncullah sebuah nama desa. Tidak, tidak demikian, karena ternyata haru melalui musyawarah panjang dan berkali-kali, belum lagi perdebatan-perdebatan yang cukup kencang tentang nama yang cocok untuk desa mereka. Hingga akhirnya, disepakatilah nama desa yang di “unit lima” ini dengan nama “Tegal Arum”. Makna “Tegal” berarti hutan yang mana pada saat itu masih hutan belantara, sementara “Arum” berarti wangi. Ada banyak beragam mimpi warganya dalam sebuah nama yang tak sekadar nama, namun juga inspirasi dan harapan bagi penghuni desa dan anak cucunya kelak.

Siapa Warga Tegal Arum?

Tim Pembaharu Desa Tegal Arum (sumber: sekolahdesa.or.id)

Dalam sejarah munculnya Desa Tegal Arum, saya hanya membahas munculnya nama dan maknanya. Namun sebelum ada kesadaran menyepakati sebuah nama, ada sejarah panjang munculnya desa ini. Menurut para tokoh sejarah maupun tokoh adat yang saat ini masih hidup dan mampu digali informasinya, warga Desa Tegal Arum awalnya adalah sebuah rombongan transmigran. Mereka, para transmigran ini datang ke unit lima (5) yang berasal dari beberapa daerah di Pulau Jawa seperti daerah Pati, Jepara, Tegal, Kebumen, Klaten, Wonogiri, Solo, Yogja, Magelang, Salatiga, dan Purwodadi.

Para transmigran dari sejumlah daerah di Jawa itu terus bekerja keras. Di antara mereka ada yang kembali lagi ke daerah asalnya, namun banyak juga yang tetap bekerja keras dan bertahan hingga sukses sampai sekarang. Kepala Desa sementara yang ditetapkan saat itu adalah bapak Soehadi. Dia adalah pejabat sementara Kepala Desa yang ditunjuk oleh tokoh-tokoh masyarakat pada saat itu. Para tokoh masyarakat itu kemudian berkumpul lagi dan bermusyawarah untuk membahas pemberian nama desa di unit lima, yaitu Desa Tegal Arum seperti yang sudah saya bahas di paragraph sebelumnya.

Mata pencarian warga Desa Tegal Arum pada umumnya adalah petani, tapi itu dulu sebelum PTP masuk dan mengajak masyarakat  untuk menanam karet. Saat ini masih ada beberapa petani di Desa ini, meskipun tidak banyak petani di desa ini, namun pembinaan pertanian di desa ini cukup baik. Artinya tidak mustahil jika jika kelak mereka memproduksi sayuran dan bahan pangan yang baik dan berkualitas.

Dari sekian peristiwa penting lainnya, kini tahun 2017, Desa Tegal Arum yang kini dipimpin oleh Bapak Rohmad Annas sebagai Kepala Desa (Kades), telah mendapatkan penghargaan sebagai Desa Terbaik dalam Lomba Desa mulai dari Tingkat Kecamatan, Kabupaten, hingga Provinsi Jambi. Banyak factor yang membuat Desa ini menjadi Juara dalam Lomba tersebut, namun factor yang cukup penting dari semua factor itu adalah partisipasi wargannya, atau kekompakan warganya dalam membangun desa, serta transparansi dan akuntabilitas pemerintah desanya.

Kebun Toga dan Pengelolaannya

Di desa Tegal Arum, 80% warganya berkebun, biasanya warga mengelola perkebunan karet dan kelapa sawit. Perkebunan karet ada atau ditaman sejak zaman masuknya transmigrasi kedesa Tegal Arum yang pembibitanya bekerja sama dengan PTP dengan sistem pinjam dengan sertifikat tanah, dan dekaran utang itu udah lunas dan sertifikat sudah dikembalikan. Hampir semua perkebunan karet yang ditanam sudah dalam kondisi rusak, dan sebagian perkebunan sudah ditanami ulang oleh pemiliknya. Ada beberapa hal yang membuat perkebunan rusak, di antaranya terkena jamur akar putih yang terus menyebar tanpa ada pengendalian. Selain itu dikarenakan ketidaktahuan cara pembasmian dan pencegahanya. Sebenarnya hal ini bisa di siasati dengan sosialisasi atau penyuluhan dari PPL melalui kelompok tani, baik itu pemilihan bibit unggul, cara penanaman, cara perawatan dan cara pengendalian hama atau pun jamur yang merusak pohon karet. Sedangkan untuk kelapa sawit permasalahanya pada pemupukan, karena mahalnya pupuk dan kelangkaan pupuk. Untuk mengatasi ini, desa biasanya meminta bantuan pupuk kepada dinas pertanian maupun itansi terkait. Selain itu permasalahanya adalah rendahnya harga jual getah karet, seharusnya hal ini bisa di kendalikan dengan cara membentuk kelompok lelang untuk penjualanya. Karena Perkebunan adalah penghasilan pokok warga Desa Tegal Arum, hasil perkebunan sangat mempengaruhi kebutuhan warga Tegal Arum. Jadi jika perkebunan di desa Tegal Arum ini baik, maka akan meningkat pula penghasilan warganya.

Selain berkebun karet, warga Tegal Arum juga beternak, berkebun singkong, buah naga, dan sejumlah tanaman obat keluarga (Toga). Toga pada umumnya dikerjakan secara berkelompok. Toga adalah tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat. Taman obat keluarga pada hakekatnya adalah sebidang tanah, baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan. Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat disalurkan kepada masyarakat, khususnya obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Budidaya tanaman obat untuk keluarga (Toga) dapat memacu usaha kecil dan menengah di bidang obat-obatan herbal sekalipun dilakukan secara individual. Setiap keluarga dapat membudidayakan tanaman obat secara mandiri dan memanfaatkannya, sehingga akan terwujud prinsip kemandirian dalam pengobatan keluarga.

Di sejumlah desa pada umumnya, kebun Toga biasanya dikelola oleh kelompok perempuan di desa. Namun kebun di desa ini dikelola secara kolaboratif oleh Pemdes dan warga, khususnya para Pemuda Pemudi Penggerak Desa dan Kelompok Perempuan di Desa ini. Tentang Pemuda Desa Tegal Arum, saya sudah pernah menuliskan kiprah mereka dalam pembangunan desa di media online sekolahdesa yang berjudul Pemuda Penggerak Desa, Bertani dan Mengabdi . Sementara para perempuan di desa ini, pada umumnya aktif di kegiatan social di desa, di antaranya melalui kegiatan rutin di PKK. Mereka juga sudah menyadari tentang pentingnya kesehatan, serta tentang persalinan yang harus dilakukan di Puskesmas. Selebihnya, mereka aktif dalam kegiatan organisasi keagamaan serta mengembangkan ketrampilan mereka membuat barang-barang yang dimanfaatkan dari bahan-bahan yang ada di desa. Profesi mereka beragam, ada yang sebagai buruh tani, pegawai negeri, pedagang, dan ada juga yang mempunyai keteampilan sebagai penjahit dan makanan ringan. Home Industries  di Desa ini juga sangat membantu pendapatan para perempuan yang bekerja secara penuh di rumahnya, hal ini juga sangat membantu untuk mengurangi angka pengangguran di desa.

Di luar aktifitas rutin mereka terlibat aktif dalam kegiatan yang diinisiasi Pemdes, para perempuan di setiap dusun maupun di tingkat RT pada umumnya mengelola kebun tanaman obat keluarga (Toga). Tahun 2017, kebun Toga di desa ini tidak hanya terdapat di lingkungan RT maupun Dusun, namun kini sudah ada di tingkat Desa. Pengelolaannya Toga pun dilakukan secara partisipatif antara Pemdes dan warganya, terutama kolaborasi yang dilakukan oleh kelompok perempuan dan para pemuda pemudinya. Mereka membentuk kepengurusan, termasuk mengatur siapa yang bertanggung jawab untuk menyiram tanaman tiap pagi dan sore dan seterusnya. Tidak heran, meskipun usia Kebun Toga ini masih tergolong muda, namun tanaman obat di kebun ini cepat sekali tumbuh dan menghijau.

Toga di kebun ini juga sudah mulai dimanfaatkan masyarakat di desa. Kebun yang dibangun di atas Tanah Kas Desa (TKD) ini tidak sekadar kebun Toga, namun juga tempat yang asyik untuk bersantai, selain luas juga ada fasilitas yang asyik, misalnya untuk berdiskusi merencanakan kegiatan dan sejumlah rencana pemanfaatan kebun Toga untuk beragam momen. Kebun Desa Tegal Arum ini terletak tepat di samping Kantor Desa Tegal Arum dan beberapa fasilitas umum lainnya. Kekompakan warga dan pemerintah desa ini cukup mendapat banyak perhatian dan inspirasi dari desa-desa lainnya. Termasuk perhatian dari pemerintah daerah. Tidak heran, Desa Tegal Arum tahun ini menjadi Juara I dalam Lomba Desa mulai dari tingkat Kecamatan, Kabupaten, hingga se-Provinsi Jambi. Desa yang kompak antara Pemdes dan warganya, desa dengan semangat belajar untuk perubahan yang lebih baik lagi, desa yang tidak sekadar kaya data, namun juga partisipatif dan transparan. Saat main ke desa-desa adalah saatnya belajar dari para warganya, termasuk belajar dari Desa Tegal Arum dengan segala kreativitas warganya, produk-produk kreasi warganya, serta beragam aset sosial dan spiritual budayanya.[]

 

====

*Tulisan ini berdasarkan pengalaman Alimah Fauzan  selama melakukan pengorganisasian Perencaaan Apresiative Desa (PAD) di 3 Desa di Kabupaten Tebo, yaitu Desa Tegal Arum, Desa Tirta Kencana, dan Desa Teluk SIngkawang. PAD ini merupakan salah satu tahapan kegiatan yang dilaksanakan Institute of Education Development, Social, Religious and Cultural Studies (Infest Yogyakarta ) atas kerjasama Pemkab Tebo dan Pemdes Teluk Singkawang, Tegal Arum, dan Tirta Kencana. Program ini didukung oleh Making All Voices Count (MAVC) HIVOS. Keterangan dalam tulisan ini juga berdasarkan informasi dari penuturan dan data sejarah desa yang tertuang dalam dokumen rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDesa) Tegal Arum. Pengalaman ini juga telah dipublikasi di media online sekolahdesa.

57
About Perempuan Berkisah 172 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply