Kemana Perginya Baju & Pernak-pernik Plastik Kita?

    Iya, kemana perginya baju-baju kita? Juga beragam pernak-pernik benda-benda lucu yang pernah kita miliki, terutama yang terbuat dari bahan plastik. Apakah kita membuangnya begitu saja? Atau kita kasih ke orang lain? Atau kita tak peduli pada hal-hal remeh semacam ini? Ini kisah tentang bagaimana kita bisa berbuat sesuatu dimulai dari hal terkecil di lingkungan kita sendiri.
    1. Ditulis oleh Amaliyah Herdiyati*

Tidak semua orang mengetahui, tidak semua orang peduli, bahkan sebagian dari mereka acuh tak acuh dengan perubahan iklim. Kita terlalu sibuk memikirkan masa depan hidup kita daripada memikirkan masa depan tempat dimana kita tinggal sekarang. Kita sibuk memikirkan tren mode fashion saat ini dengan membeli semua model baju keluaran terbaru. Kita sering membeli barang-barang yang sebenarnya sama sekali tidak kita butuhkan tanpa pernah mengetahui sebenarnya barang barang yang kita miliki dapat berdampak buruk terhadap lingkungan. Kita dengan semena-mena menggunakan kendaraan tanpa pernah mengetahui bahwa, polusi yang dihasilkan dari kendaraan itu berdampak buruk terhadap atmosfer.

Saya memang belum bisa berkontribusi banyak untuk membuat perubahan baik terhadap lingkungan. Tapi saya berusaha untuk tidak menjadi bagian dari mereka yang merusak lingkungan. Saya berusaha untuk tidak menggunakan tisu terlalu sering atau menggurangi penggunaan kantung plastic. Tapi mungkin hal ini di mata teman-teman aku sangat merepotkan diri sendiri. Salah satu dari mereka bahkan berkomentar bahwa aku terlalu memusingkan hal tersebut. Bagi mereka lingkungan adalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan, tapi menurutku itu sangat penting untuk dipikirkan. Hal ini berdampak langsung dengan tempat di mana aku tinggal sekarang.

Hal yang sangat lucu juga ketika melihat masyarakat yang suka membuang sampah di sungai. Seperti sungai adalah tong sampah besar bagi mereka hingga mereka dengan rasa tak bersalah membuang sampah di sana. Padahal di dalam kehidupan sehari hari seperti memasak, mandi, dan mencuci mereka sangat membutuhkan air. Dan sebagin sumber air itu mereka peroleh dari sungai. Di dalam sungai juga terdapat benyak ekosistem yang jika kita tidak menjaganya, maka ekosistem itu bisa terganggu. Ketika banjir datang, mereka sibuk menyalahkan pemerintah. Bahwa pemerintah tidak bekerja dengan benar untuk menanggulangi banjir, bahwa pemerintah kerjaannya hanya makan gaji rakyat saja. Bahwa banjir adalah masalah yang tak pernah diselesaikan pemerintah. Jika kita mau melihat ke belakang, ini juga menjadi bagian dari kebiasaan kita. Kita juga turut menyumbang pada masalah di lingkungan kita. Kita tak pernah peduli dengan tempat tinggal kita sendiri. Kita hanya mau menempatinya tanpa mau memeliharanya. Mungkin kita berpikir dengan membuang sampah di sungai maka sampahnya akan hanyut tererbawa air dan hilang entah kemana.

Lakukan Sesuatu, Mulai Dari Hal Terkecil

Kawan, padahal sampah-sampai di sungai itu pelahan-lahan akan menumpuk dan menghambat jalannnya air sungai. Anak-anak kecil dengan polosnya mandi di sungai yang airnya tercemar. Kita juga memancing ikan yang makanan tiap harinya adalah kotoran manusia. Kepekaan kita akan lingkungan saat ini sangat memperihatinkan. Benar, kurangnya sosialisasi dan kampanye yang dilakukan pemerintah juga menjadi salah satunya, sehingga masyarakat tidak benar-benar peduli persoalan lingkungan dan dampaknya. Padahal jelas, masalah lingkungan itu tidak bisa dianggap sepele.

Balik lagi ke awal seperti yang saya tulis sebagai judul. Kita masih terlalu suka memikirkan tren fashion saat ini. Hanya dengan membeli semua pakaian keluaran terbaru atau barang-barang lainnya, tanpa memahami limbah yang dihasilkan itu sangat banyak. Saya pernah membaca salah satu artikel hasil penelitian bahwa di Hongkong dalam waktu singkat menghasilkan banyak sekali limbah baju.

Kembali lagi soal baju-baju kita, sesuatu yang paling dekat dan melekat di tubuh kita. Pernah kah kita memikirkan kemana baju baju bekas itu pergi? Apakah mereka akan menghilang begitu saja dari bumi ini setelah kita membuangnya. Tidak. Sampah yang kita buang tidak akan menghilang begitu saja. Kita mungkin bisa saja menyumbangkan pakaian itu kepada orang lain, tapi bukankah orang lan itu juga pasti akan membuang baju tersebut suatu saat nanti. Menyumbangkan baju yang tidak kita pakai mungkin bisa membantu dalam pengurangan limbah baju, tapi bukan berarti kita juga masih bisa membali baju baju sesuka hati. Mulailah memikirkan hal-hal kecil seperti itu.

Saya juga sangat sangat tidak nyaman melihat orang orang yang menggunakan plastic sesuka hati dan membuangnya juga sesuka hati. Kita bisa mengurangi sampah plastic dengan misalnya berbelanja menggunakan tas belanja atau membawa botol air mineral kemanapun kita pergi. Dengan cara itu kita tidak akan membeli sebotol air mineral hanya untuk memuaskan hasrat haus kita.

Teman-teman, mulailah kita memikirkan hal-hal kecil terkait lingkungan. Mungkin hal yang kita lakukan kecil, tapi jika yang melakukan itu ratusan atau bahkan semua orang. Saya yakin itu juga membawa dampak yang sangat besar bagi perubahan lingkungan. Mari tak sekadar mengubah pola pikir, namun benar-benar mampu peka dan bertindak untuk lingkungan di sekitar kita, bahkan hal-hal paling terdekat dan yang melekat di tubuh kita. Mari bertindak dengan sepenuh hati.

========

Keterangan Penulis: Amaliyah Herdiyati merupakan salah satu pegiat peduli lingkungan hidup, saat ini masih kuliah di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sumber gambar: kantong plastik

About Perempuan Berkisah 172 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply