Perempuan Perajin “Baby Fish”: Hanya Mengandalkan Ikan-ikan Waduk Mrica

“Kabar kami sehat bu, yang gak sehat hanya kabar celili-nya karena masih hujan terus.”

Dikisahkan oleh Alimah Fauzan*

Pesan singkat itu menjawab sapaan saya yang bertanya kabarnya pada Jumat (10/11/17). Sulastri (33) adalah salah satu perajin celili di Desa Karangkemiri, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara. Sulastri bukan hanya membuat celili, namun juga menjual dan memasarkan sendiri produknya. Celili yang dimaksud Sulastri adalah nama lain dari gajahmina, kalamence, atau baby fish. Istilah baby fish biasanya saya gunakan untuk menjelaskan kepada teman atau saudara yang bertanya apa itu celili. Ikan-ikan sebagai bahan dasar dari baby fish adalah aseli Waduk Mrica.

Waduk Mrica memiliki nama lain yaitu Bendungan Panglima Besar Jendral Soedirman. Bendungan ini berfungsi untuk membangkitkan listrik tenaga air atau PLTA. Kapasitas listrik di PLTA ini sekitar 184,5 MW. PLTA di sini juga berfungsi untuk memasok energi listrik yang ada di daerah Jawa dan Bali. Peresmian bendungan ini tidak hanya digunakan sebagai PLTA saja, namun juga dimanfaatkan sebagai sarana untuk menstabilkan aliran air irigasi yang dialirkan ke sawah-sawah dan terbentang luas di wilayah Banjarnegara. Desa Karangkemiri merupakan sebuah desa yang dikeliligi oleh Waduk Mrica dan sebagian besar masyarakat Karangkemiri mengambil nilai manfaat dari Waduk tersebut, antara lain Depot Pasir, Perikanan dan Pertanian. Di Waduk Mrica juga membentang sebuah jembatan yang menghubungkan Kadus I dan Kadus II dan kami namakan Jembatan Paris.

Memproduksi Ikan-ikan Berprotein Tinggi

Sulastri, saat ditemui di rumahnya. (2017)

Banyak sekali potensi yang dikembangkan dari Waduk Mrica, misalnya seperti sebagai salah satu tempat pariwisata, depot pasir, bata merah, sarana outbond, dan wisata perahu tongkang. Begitu banyak manfaat waduk mrica bagi masyarakat sekitar. Di tempat tinggal Sulastri misalnya, mereka bukan hanya terpenuhi kebutuhan air minumnya. Sejumlah warga juga memanfaatkan beraga jenis ikan di dalam waduk untuk konsumsi sehari-hari, menjualnya di pasar, serta memproduksi ikan-ikannya menjadi produk makanan yang bertahan lama. Seperti ikan celili yang diproduksi Sulastri dan sejumlah warga Karangkemiri lainnya. Menurutnya, ikan celili merupakan ikan yang memiliki protein paling banyak dari ikan-ikan lain yang ada di waduk.

Membuat dan menjual sendiri produk Gajah Mina bukan sesuatu yang baru baginya. Bahkan, sejak kecil orang tuanya secara langsung telah mengajarkannya bagaimana membuat Gajah Mina.

“Iya, sejak 1992, ibu saya sudah membuat dan menjualnya sendiri. Jadi saya meneruskan bisnis orang tua, karena sejak kecil memang sudah terbiasa ikut bantu ibu jualan,” ungkap Sulastri.

Meskipun distribusi produk baby fish buatannya sudah ke luar kota, namun dia masih menjual dengan jumlah terbatas. Dia hanya menjual ke luar kota pada orang-orang tertentu yang sudah dikenalnya. Mereka yang membeli baby fish buatannya cukup beragam, ada yang menjualnya kenmbali, ada yang untuk konsumsi pribadi, ada pula yang memproduksi baby fish menjadi produk makanan yang lain, lalu menjualnya kembali. Misalnya ada yang membuatnya lagi untuk rempeyek, untuk dibuat produk ikan balado, atau dijual seperti produk aslinya.

Musim Hujan, Produksi Ikan Semakin Berkurang

Sulastri saat perjalanan mengantarkan pesanan baby fish

Saya sendiri sudah merasakan bagaimana enak dan gurihnya rasa baby fish buatan Sulastri. Selain saya, hampir semua teman yang membeli baby fish buatan Sulastri juga merasakan hal yang sama. Biasanya, sekali mereka membeli dan merasakan prooduknya, mereka akan memesan kembali. Sayangnya kita harus bersabar untuk merasakan baby fish buatan Sulastri, khususnya di musim hujan. Hal ini karena terbatasnya ikan yang dihasilkan dari nelayan waduk. Alhasil, produksi baby fish buatannya pun menjadi semakin terbatas.

Saya biasanya beberapa hari atau sepekan sebelum berkunjung ke Desa Karangkemiri, harus terlebih dahulu memesan. Namun di musim hujan seperti saat ini, Sulastri tetap tidak bisa memproduksi baby fish karena memang ikannya terbatas hanya cukup untuk konsumsi pribadi. Hal ini kembali membuat pembeli semakin terbatas. Pelanggan baby fish buatannya sudah semakin berkurang

 

“Kalau musim hujan, dapat ikannya gak banyak. Sekarang juga kami hanya produksi untuk yang sudah pesan saja. Karena ibu sudah pesan sebelumnya, jadi saya hanya membuat untuk ibu saja, ada yang mau beli langsung dan mendadak juga belum saya kasih, masih menunggu ikan lagi,” ungkap Sulastri saat ditemui di rumahnya di RW I, Desa Karangkemiri.

Baby fish buatan Sulastri juga dapat bertahan sampai beberapa bulan. Yang membuat produknya bertahan lama, salah satunya karena dia membuatnya dengan tepung beras dengan kualitas yang baik. Sehingga, produknya tetap renyah, apalagi kalau disimpan di kulkas. Bahan-bahan untuk membuat baby fish yang digunakan oleh Sulastri di antaranya adalah ikan dan tepung beras. Sementara bumbu-bumbunya adalah kunyit, jahe, bawang, ketumbar, serai, dan minyak goreng.

Perempuan Karangkemiri sudah memproduksi ikan ini sudah lebih dari 20tahunan. Produk ini bertahan sampai sekitar 4-5 bulan, tapi jika disimpan di kulkas, bisa sampai 1 tahun. Di Desanya, ada sekitar 7 orang yang juga memproduksi Gajah Mina. Namun jumlah produksi mereka juga tidak begitu banyak. Pertama kali saya mengenalnya dan dia mulai memperkenalkan produknya saat kami terlibat pembelajaran sekolah pembaharuan desa di Sekolah Desa.

Sampai saat ini, para perajin baby fish ini masih mengalami kendala pasang surutnya air waduk, sehingga ikan hasil nelayan waduk masih bersifat musiman. Di samping itu untuk memasarkan produknya, masih mengalami hambatan karena belum adanya wadah atau tempat pemasaran khusus bagi produk tersebut pada saat produksi melimpah. Namun kini warga dan Pemdes dalam proses mengembangkan aset dan potensi desanya, salah satunya adalah para perajin baby fish sebagai sumber daya manusia yang memanfaatkan waduk mrica  sebagai salah satu sumber daya alam (SDA) di desanya.

===

Alimah Fauzan, teman belajar dan berkarya bersama Komunitas Perempuan Pembaharu Desa. Berbagi pengalaman dan pembelajaran pemberdayaan masyarakat di sekolahdesa.or.id . Blog pribadi: alimahfauzan.id . Email: alimah.fauzan@gmail.com. 

 

About Perempuan Berkisah 172 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply