Sebagai Perempuan Mapan, Mengapa Saya Harus Tetap Bekerja?

“Mengapa Kau Bekerja?”

Dikisahkan oleh Zahra Amin*

Pertanyaan di atas sering kali saya terima, ketika mungkin melihat aktivitasku yang menurut mereka aneh. Apa lagi yang dicari, ketika semua kebutuhan ekonomi dan kemapanan finansial sudah terpenuhi. Dengan posisi suami yang sudah ASN, dan usaha bersama keluarga yang merambah di segala lini jasa. Rental mobil dan travel, gambus modern Annahdoh, bengkel mobil, cuci steam mobil dan kursus nyetir mobil di bawah bendera Arridwan Segeran. Karena saya tak mencari itu.

Bagi saya bekerja tidak hanya dia yang berpakaian rapi dan punya kantor. Bekerja adalah menggerakkan cipta, rasa dan karsa agar terus berjalan beriringan dan seimbang. Bekerja juga sama halnya dengan kita memberdayakan diri sendiri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Dengan bekerja, kita bergerak lalu menjadi orang yang berdaya. Kuat secara harga diri dan bebas dalam hal finansial.

Salah satu proses yang sampai hari ini saya maknai, bekerja adalah hobi yang ingin terus disalurkan. Ketika bersama siswa di sekolah, berdiskusi dan berbagi pengetahuan serta pengalaman, itu luar biasa rasanya. Menatap wajah-wajah ingin tahu yang haus ilmu. Wajah yang mungkin sama denganku pada puluhan tahun silam. Wajah yang optimis punya mimpi serta mantap untuk menatap masa depan.

Perempuan Harus Berdaya

Hobi membaca dan menulis yang saling berkelindan erat, rasanya seperti candu yang tak mampu saya kurangi dosisnya. Semakin hari tambah menguat dan bikin sakaw ketagihan. Pun dengan organisasi yang sudah lama saya geluti. Saya hanya senang bertemu dengan banyak orang. Berbagi cerita dan pengalaman, membantu mereka yang membutuhkan uluran tangan. Ya, Karena merekalah, orang-orang di sekitar saya, keluarga dan sahabat yang membuat hidup semakin bergairah dan penuh semangat. Sebab itu saya tahu masih banyak buku yang ingin saya baca, masih banyak hal yang ingin saya tulis, serta masih banyak yang ingin saya lakukan.

Hari ini saya hanya tahu satu fakta bahwa, perempuan harus berdaya jika ingin punya posisi tawar mempengaruhi kebijakan. Perempuan harus punya pengetahuan, banyak membaca dan bisa menulis jika ingin suaranya didengar. Perempuan harus bebas secara finansial jika dia ingin mendapat kepercayaan utuh dari orang lain, atau sistem dan kebijakan negara yang masih melihat daya beli masyarakat sebagai salah satu tolak ukur indeks pembangunan manusia (IPM).

Proses ini saya kira akan terus melaju hingga entah sampai di titik mana ia akan berhenti. Tetapi saya tidak akan bosan untuk mengajak perempuan agar terus bergerak dan berdaya. Karena hanya perempuan yang bisa memahami persoalan yang dihadapi perempuan.

===

Keterangan Penulis: Zahra Amin merupakan seorang pengusaha yang kini tengah aktif di Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) serta kontributor di mubadalah. Sumber tulisan: Zahra Amin

About Perempuan Berkisah 172 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply